PROSIDING TAHUN 2011

BIDANG PASCA PANEN

PENERAPAN GOOD MANUFACTURING PRACTICES PADA PENGOLAHAN PRODUK SURIMI BEKU

Nursinah Amir1, Afandy Fausan2
Jurusan Perikanan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin
email : ina_thp@yahoo.co.id
2Afandy, PT. Global Seafood International Indonesia
email : afandyfaras@yahoo.co.id

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) pada pengolahan produk surimi beku.  Penelitian ini dilakukan pada perusahaan pengolahan produk surimi beku bertaraf internasional.  Data diperoleh melalui observasi langsung ke perusahaan tersebut. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk gambar.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan tersebut menerapkan Good Manufacturing Practices yang meliputi lingkungan dan lokasi, fasilitas dan kegiatan sanitasi dengan tersedianya sarana penyediaan air bersih, sarana pembuangan air dan limbah, sarana pembersihan dan pencucian, sarana toilet atau jamban, sarana higienis karyawan, adanya sistem pengendalian hama, terjaminnya higienis karyawan, pengendalian proses, manajemen pengawasan, pencatatan dan dokumentasi

Kata kunci : GMP, produk, surimi beku, sanitasi, higienis

KANDUNGAN 13 JENIS LOGAM BERAT PADA KEKERANGAN DI FLORES TIMUR SEBAGAI BASIS BIOMONITORING DI LINGKUNGAN PERAIRAN

Lisa Fajar Indriana1, Sutrisno Anggoro2, dan Ita Widowati2
email: indria_nalisa@yahoo.com
1Mahasiswa Program Double Degree Beasiswa Unggulan Konsentrasi   Perencanaan Pengelolaan Sumberdaya Kelautan Magister Manajemen Sumberdaya Pantai Universitas Diponegoro
2Staf Pengajar Program Studi Ilmu Kelautan, Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan serta Program DD Beasiswa Unggulan MSDP Konsentrasi Perencanaan dan Pengelolaan Sumberdaya Kelautan Universitas Diponegoro Semarang

Kabupaten Flores Timur mempunyai sumberdaya laut yang melimpah, terutama pada perikanan dan kekerangan. Untuk mendukung kegiatan biomonitoring lingkungan perairan salah satu hal yang dapat dilakukan adalah penelitian kandungan logam berat pada biota kerang. Pengambilan sampel dilakukan pada  bulan Oktober 2009, analisis logam berat menggunakan metode ICP-MS (Inductively Coupled Plasma Mass Spectroscopy) di Laboratorium Pusat Analisis Université de La Rochelle, Perancis. Logam berat yang diamati antara lain Pb, As, Cd, Co, Cr, Cu, Fe, Mn, Ni, Se, V, Zn dan Ag. Lokasi penelitian di kawasan mangrove kabupaten Flores Timur meliputi Mulutbahang pada jenis kerang Isognomon ephippium dan di Lewobunga pada jenis kerang Crassostrea sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan logam berat pada  I. ephippium dan Crassostrea sp mempunyai nilai tertinggi pada logam berat Zn masing-masing sebagai berikut 1686,83±52,26 µg.g-1 berat kering dan 703,88±368,16 µg.g-1 berat kering, sedangkan nilai terendah ditemukan dalam logam berat Pb sebesar 0,26±0,03 µg.g-1 berat kering pada I. ephippium dan 0,15±0,04 µg.g-1 berat kering pada Crassostrea sp.

Kata kunci : logam berat, ICP-MS, Isognomon ephippium, Crassostrea sp, biomonitoring

STUDI IRISAN LAMBUNG TIRAM (Crassostrea glomerata) DARI PERAIRAN YANG MENGANDUNG LOGAM BERAT Pb

Diana Arfiati
d_arfiati@yahoo.com

Perairan sekitar muara sungai atau hilir sungai sering kali mengandung logam Pb akibat dari buangan limbah dari bagian hulu sungai. Hal ini diduga akan berpengaruh pada organisme yang hidup di bagian hilir tersebut. Dalam penelitian ini diamati kondisi lambung dari tiram  jenis Crassostrea glomerata yang hidup menempel pada batu-batu di sekitar muara yang terdeteksi mengandung logam Pb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa irisan lambung tiram yang hidup di perairan mengandung Pb berkisar 0.198 – 0.227 mg/L tidak terlihat adanya perbedaan dengan tiram yang hidup di perairan yang tidak terdeteksi mengandung Pb, meskipun lambung sebagai tempat penyerapan makanan yang pertama pada tiram. Pb yang terbawa bersama makanan tiram ternyata tidak mempengaruhi dinding lambung tetapi diduga ada di organ lain.

Kata kunci : Crassostrea glomerata, logam Pb, irisan jaringan lambung

 

PEMANFAATAN BAHAN ALAMI UNTUK MEMPERTAHANKAN KESEGARAN IKAN KEMBUNG Rastrelliger neglectus

Eko Susanto2, Tri Winarni Agustini1, Fronthea Swastawati, Titi Surti, A. Suhaeli Fahmi, Mahmud Fatta A., M. Khoirun Nafis
Program Studi dan Laboratorium Teknologi Hasil Perikanan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Jl. Prof. Soedarto, SH Tembalang Semarang 50275
Alamat korespondensi Email: 1tagustini@yahoo.com dan 2eko_thp@undip.ac.id

Studi kami memanfaatkan penggunaan daun sosor bebek (Kalanchoe pinnata Lamk.Pers) dan jahe merah (Zingiber officinallevar. Amarum) sebagai pengawet alami pada ikan kembung (Rastrelliger neglectus) yang didinginkan dengan perbandingan ikan dan es yang berbeda. Perlakuan pada penelitian kami adalah pemanfaatan sosor bebek (20 %) dan jahe (9%) yang dididinginkan dengan rasio ikan dan es (1:1 (tanpa penambahan bahan alami), 1:1, 3:1, 5:1 (dengan perlakuan bahan alami) selama 12 hari. Parameter yang diamati adalah perubahan organoleptik, TVBN dan TPC. Berdasarkan parameter yang diamati pemanfaatan kedua bahan alami tersebut memberikan perlakuan terbaik pada rasio ikan dan es 1:1. Kedua bahan alami dapat digunakan sebagai alternatif untuk mempertahankan shelf-life ikan kembung.

Kata kunci : ikan kembung, daun cocor bebek, jahe, bahan alami, shelf-life

PENGARUH JENIS KEMASAN PENYIMPANAN IKAN KEMBUNG (Rastrellinger spp) YANG TIDAK HABIS TERJUAL DALAM MEDIA PENDINGIN ES PLUS GARAM TERHADAP KARAKTERISTIK KESEGARANNYA

Junianto                                                                                
Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran
Email : anto_lisc@yahoo.com
Hp . 085222209359

Penelitian ini bertujuan menentukan jenis kemasan yang paling baik untuk menyimpan ikan kembung yang tidak habis terjual dalam media pendingin es plus garam sehingga karakteristik kesegarannya dapat dipertahankan semaksimal mungkin.  Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari tiga perlakuan yaitu kemasan keranjang bambu, tong plastik polietilen densitas tinggi (HDPE) dan kotak styrofoam.  Pengamatan dilakukan terhadap suhu dalam kemasan yang diukur setiap setengah jam sekali sampai suhu dalam kemasan itu tidak berubah selama penyimpanan, sisa es dalam kemasan setelah  16 jam penyimpanan, sifat indrawi ikan meliputi mata, bau, tekstur, dan warna insang;   pH dan jumlah bakteri insang ikan  diamati pada awal dan akhir pemajangan pertama maupun kedua.  Hasil peneitian menunjukkan bahwa kemasan kotak styrofoam lebih dapat memperlambat peleburan es dibandingkan dengan kemasan keranjang bambu dan kemasan tong plastik HDPE, sehingga kemasan ini lebih baik dalam mempertahankan kesegaran ikan kembung yang tidak habis terjual

Kata Kunci :  kemasan, ikan kembung, pendingin, es plus garam, kesegaran

PEMANFAATAN LIMBAH ALGINAT SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN SELULOSA

Gunawan dan Rodiah Nurbaya Sari
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi - Kelautan dan Perikanan
Jl. KS. Tubun Petamburan VI, Jakarta 10260
Telp. (021) 53650157, Fax. (021) 53650158
Email: gunawan170881@yahoo.co.id/waffen.valky@gmail.com

Selulosa banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri kertas, kemasan, film transparan, film fotografi, plastik biodegradable sampai pembuatan membran untuk keperluan industri. Selulosa biasanya dihasilkan dari tumbuhan berkayu keras. Percobaan pemanfaatan limbah padat hasil pembuatan alginat telah dilakukan untuk menambah sumber bahan baku pembuatan selulosa sekaligus mencari efisiensi proses produksi. Percobaan dilakukan dengan proses alkalinasi limbah alginat menggunakan larutan NaOH dan Na2CO3. Adapun konsentrasi alkali yang digunakan adalah NaOH: 18% dan Na2CO3: 1,5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kedua jenis alkali tersebut menghasilkan kandungan alfa-selulosa yang tidak jauh berbeda, yaitu 59,77% untuk penggunaan NaOH dan 60,48% untuk Na2CO3 1,5%. Namun dari segi efisiensi proses, penggunaan Na2CO3 1,5% merupakan pilihan terbaik karena biaya proses lebih murah (penggunaan alkali lebih sedikit) dan proses yang dilakukan lebih aman.

Kata kunci: alginat, limbah, selulosa, alfa selulosa

PENGARUH PERBANDINGAN TEPUNG TAPIOKA DAN TEPUNG TERIGU SERTA LAMA PENYIMPANAN YANG BERBEDA TERHADAP KUALITAS PRODUK NUGGET IKAN PATIN (Pangasius sp)

Sri Dayuti
Teknologi Industri Hasil Perikanan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang

Produk olahan hasil perikanan begitu banyak di pasaran untuk diversifikasi produk perikanan dan untuk memenuhi kebutuhan protein bagi masyarakat. Produk olahan hasil perikanan salah satunya adalah nugget ikan. Nugget ikan merupakan salah satu produk olahan yang dibuat dari daging giling dengan penambahan bumbu-bumbu dan dicetak, kemudian dilumuri dengan pelapis (coating dan breading) yang dilanjutkan dengan penggorengan. Pada pembuatan nuggetini bahan pengikatnya menggunakan tepung terigu dan tepung tapioka. Suhu penyimpanan produk setelah dilakukan pemasakan perlu diperhatikan karena makin rendah suhu simpan, degradasi zat gizi juga makin lambat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan proporsi tepung terigu dan tepung tapioka yang terbaik serta untuk mendapatkan lama penyimpanan nugget yang terbaik. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen yang bertujuan untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan sebab akibat serta seberapa besar hubungan sebab akibat tersebut dengan cara memberikan perlakuan-perlakuan tertentu pada kelompok percobaan. Hasil penelitian perlakuan terbaik terdapat pada nugget ikan patin dengan perbandingan tepung tapioka dan tepung terigu (35 gram : 15 gram) yang merupakan perlakuan terbaik dari parameter objektif dan subjektif.

Kata kunci : ikan patin, tepung tapioka, tepung terigu

UJI KINERJA ALAT PENGERING MEKANIS TIPE V UNTUK PENGERINGAN RUMPUT LAUT

Luthfi Assadad dan Diini Fithriani
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Email : luthfiassadad@gmail.com – Web : www.bbrp2b.kkp.go.id/mekpro

Telah dilakukan penelitian untuk menguji kinerja alat pengering mekanis tipe V. Alat pengering ini merupakan hasil rancang bangun Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (BBRP2B). Pengujian dilakukan dengan menggunakan energi listrik dan beban berupa rumput laut Euchema cottonii dengan variasi perlakuan suhu pengeringan 40, 60, dan 80oC dengan waktu pengeringan delapan jam. Paramater yang diamati meliputi kondisi alat pengering (suhu udara pengering, kelembapan udara relatif, dan laju aliran udara pengering) dan kualitas produk (kadar air dan kadar abu). Berdasarkan parameter suhu udara pengering, kelembapan udara relatif, dan laju aliran udara pengering; alat pengering menunjukkan kinerja terbaik pada suhu 60oC dengan hasil pengukuran kadar air dan kadar abu sebesar 53,17% dan 22,99%.

Kata kunci : uji kinerja, alat pengering, pengeringan, rumput laut, BBRP2B

Pengaruh Perendaman dan Cara Pengeringan terhadap Sifat Mutu Ikan Semi Basah Siap Olah

Th. Dwi Suyaningrum dan Suryanti
Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi
Kelautan dan Perkanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI Jakarta

Ikan semi basah siap olah merupakan produk baru yang saat ini permintaan pasarnya paling banyak di Jepang.  Pengolahan dilakukan dengan cara sederhana yaitu dengan membelah ikan pada bagian punggung, direndam garam atau cuka kemudian dikeringkan sehingga permukaannya kering, kemudian dikemas satau persatu dengan kemasan vakum. Dengan cara pengolahan seperti itu produk lebih awet dibandingkan dengan ikan basah. Percobaan dilakukan dalam 2 tahap yaitu pendahuluan untuk mencari waktu pengeringan serta konsentrasi larutan perendam yang digunakan. Hasil penelitian terbaik digunakan dalam percobaan utama. Dari percobaan pendahuluan diperoleh  larutan perendam dengan konsentrasi garam 10%  dan asam acetat 2%  dengan campuran gula 5%, MSG 0, 5%.  dan lama pengeringan 5 jam.  Sedangkan variabel lain yang digunakan adalah cara pengeringan dengan sinar matahari  dan pengeringan mekanis.  Pengamatan mutu ikan semi basah dilakukan terhadap sifat organoleptik dengan menggunakan uji pembeda atribut, sifat mutu kimia diamati terhadap proksimat analisis, TVB, pH, dan mutu mikrobiologi diamati terhadap jumlah lempeng bakteri  ikan semi basah  yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan semi basah yang diperoleh dengan perendaman dalam larutan garam dan dikeringkan dengan sinar matahari mempunyai nilai organoleptik  yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Produk yang diolah dengan cara tersebut mempunyai kenampakan yang mengkilap, cemerlang, daging ikan berwarna  putih kemerahan, tekstur padat dan kompak  tidak pecah  dengan bau seperti ikan asin yang sangat segar. Namun dari segi rasa panelis lebih menyukai ikan semi basah yang direndam dalam larutan asam asetat  2%.  Perendaman dalam larutan garam menghasilkan produk dengan  kadar air, TVB dan pH yang lebih tinggi sedangkan perendaman dalam larutan asam asetat menghasilkan produk dengan kadar lemak yang lebih tinggi.  Cara pengeringan tidak berpengaruh terhadap proksimat analisis yang dihasilkan kecuali kadar lemak pada ikan semi basah yang direndam dalam larutan asam asetat dan dikeringkan dalam pengering mekanis.  Pengamatan mikrobiologi menunjukkan bahwa semua produk yang dihasilkan mengandung jumlah bakteri yang cukup tinggi yaitu berkisar   antara 106 – 107 sel/g.

Kata Kunci  : Ikan ekor kuning, ikan semibasah,  cara pengeringan dan sifat mutu

EFEK SITOTOKSIK EKSTRAK SPONS LAUT (Aaptos suberitoides) TERHADAP SEL KANKER PAYUDARA (T47D) SECARA IN VITRO

Awik Puji Dyah Nurhayati1, Rarastoeti Prastiwi2, Sukardiman3 , Tri Wahyuningsih4, Hani Taenia4
1)Biology Department,Mathematic and Natural Science Faculty,Sepuluh November Institute of Technology Surabaya, 2)Biology Faculty ,Gadjah Mada University, Yogyakarta, 3)Pharmacy Faculty, Airlangga University Surabaya, 4)Alumni of Biology Department, Mathematic and Natural Science Faculty, Sepuluh November Institute of Technology Surabaya
awik@bio.its.ac.id, rarastp@yahoo.com, d_hidayati@bio.its.ac.id, sitarina@ugm.ac.id, sukardiman@unair.ac.id

Penelitian ini dilakukan untuk menguji aktivitas sitotoksik ekstrak etanol A. suberitoides dalam penghambat pertumbuhan sel kanker payudara (T47D). Uji sitotoksisitas dengan metode MTT, uji efek penghambatan proliferasi untuk menghitung doubling time dan efek apoptosis dengan pengecatan acrydine orange. Pada uji sitotoksisitas dengan metode MTT diperoleh nilai LC50 153.109 µg/mL, antiproliferasi dengan IC50 194.487 μg/ml dan doubling time pada kadar 194.487 μg/ml. Pada pengamatan morfologi sel menunjukan induksi apoptosis pada sel T47D

Kata kunci: Ekstrak etanol A.suberitoides, sitotoksisitas sel T47D.

PENGARUH PENAMBAHAN  Locust Bean Gum (LBG) TERHADAP Karakteristik Gel Alginat dari Turbinaria decurens

Subaryono dan R. Peranginangin
Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan,
Jakarta

Penelitian tentang pengaruh penambahan locust bean gum (LBG) terhadap karakteristik gel alginat dari Turbinaria decurens telah dilakukan. Penambahan LBG yang dilakukan divariasi sebanyak , 10, 20, 30, 40 dan 50 g∕100 g alginat. Sebagai kontrol digunakan alginat tanpa penambahan LBG.  Parameter yang diamati meliputi kekuatan gel, sineresis, elastisitas dan modulus rigiditas dari gel alginat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan LBG memperbaiki kekuatan gel, menurunkan nilai sineresis gel alginat, meningkatkan elastisitas dan tidak berpengaruh nyata terhadap modulus rigiditas gel alginat. Penambahan LBG 30 g/100g alginat meningkatkan kekuatan gel alginat dari 150.5 g/cm2 menjadi 219.1 150.5 g/cm2, meningkatkan elastisitas dari 7.40 mm menjadi 9.13 mm dan tidak berpengaruh terhadap modulus rigiditas gel alginat. Nilai sineresis gel alginat dapat diturunkan dari 10.73% menjadi 6.21% dengan penambahan LBG sebesar 50 g/100g alginat. 

AKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI GETAH MANGROVE  Excoecaria agallocha TERHADAP Staphylococcus aureus
Dian Puspitasari, Subagiyo dan Ali Ridlo
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegororo

Getah mangrove E.agallocha telah dimanfaatkan secara turun temurun, baik sebagai obat tradisional maupun untuk hal yang lain seperti sebagai racun ikan maupun mengobati perut kembung. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi mengenai  aktivitas antibakteri getah kulit batang mangrove E. agallocha terhadap S. aureus dan golongan senyawa metabolit sekunder yang dimiliki oleh ekstrak getah E.agallocha. Metode yang digunakan adalah experimental laboratories. Tahapan yang dilakukan antara lain ekstraksi, KLT, KKT, uji aktivitas antibakteri dan identifikasi golongan senyawa yang dimiliki oleh ekstrak getah E. agallocha (uji fitokimia). Penelitian ini menggunakan enam perlakuan yaitu kontrol positif, kontrol negatif dan ekstrak n-hexane dengan berbagai konsentrasi (1 µg/disk, 5 µg/disk, 10 µg/disk dan 50µg/disk). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak getah kulit batang E. agallocha dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dengan diameter zona hambatan terbesar (9,78±0,12) mm. Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak ini mengandung golongan senyawa terpenoid.
Kata kunci: Getah E. agallocha, S. aureus, uji fitokimia

OPTIMASI KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN ASAM SITRAT TERHADAP KUALITAS ABON IKAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) MENGGUNAKAN RESPONSE SURFACE DIAGRAM

Siti Muarofatul Aula, Hartati Kartikaningsih, Rahmi Nurdiani
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya Malang
Jl. Veteran, Malang 65145 Telp.: 0341-553512
Email: rahminurdiani@yahoo.com

Abon ikan cakalang merupakan salah satu produk dari pengolahan ikan tradisional yang bernilai gizi tinggi. Biasanya ikan yang digunakan sebagai bahan baku abon bukan ikan yang terbaik kualitasnya. Abon ikan yang diproduksi dari bahan baku yang kurang segar ditandai dengan masih adanya bau amis sehingga menurunkan daya beli konsumen. Asam sitrat dapat dijadikan alternatif untuk mengurangi bau amis abon ikan cakalang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi dan lama perendaman asam sitrat yang optimal dalam menentukan kualitas abon ikan cakalang dengan menggunakan Response Surface Methodology. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan desain percobaan berupa Rancangan Komposit Pusat Metode Permukaan Respon yang terdiri dari 2 variabel: konsentrasi asam sitrat (X1) dan lama perendaman asam sitrat (X2): dan 3 level: yaitu  konsentrasi asam sitrat 2,5% , 5%, 7,5% dan lama perendaman 5 menit, 10 menit, 15 menit. Variabel terikat pada penelitian ini adalah kadar TVB dan TMA, kadar protein, kadar lemak, kadar air, dan kadar abu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi asam sitrat dan lama perendaman mempengaruhi kualitas abon terutama pada kadar TVB dan TMA dengan nilai optimum konsentrasi asam sitrat berkisar pada 3,64 – 6.84% dan lama perendaman 5-13 menit.   

Kata kunci: konsentrasi, lama perendaman, asam sitrat, abon ikan cakalang, Response Surface Methodology

PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN PENSTABIL FIKOKOLOID DAN GUM   
TERHADAP MUTU ES KRIM

Murdinah
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Penelitian pengaruh penggunaan bahan penstabil fikokoloid dan gum terhadap mutu es krim yang dihasilkan telah dilakukan. Formulasi tepung es krim yang digunakan terdiri atas: susu full cream, susu skim, gula pasir, GMS, bahan pengemulsi dan bahan penstabil. Bahan penstabil yang digunakan adalah alginat, iota karagenan, guar gum, gum arabik dan locus bean gum. Parameter mutu es krim yang diamati meliputi pH, total padatan, stabilitas emulsi, kualitas pelelehan dan overrun (derajat pengembangan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bahan penstabil yang digunakan dalam formulasi tepung es krim  berpengaruh terhadap mutu es krim  yang dihasilkan. Jenis bahan penstabil berpengaruh terhadap parameter mutu es krim  yaitu stabilitas emulsi, kualitas pelelehan dan overrun. Mutu es krim yang memiliki nilai stabilitas emulsi tertinggi adalah yang menggunakan bahan penstabil dari gum yaitu guar gum (88,07%) dan dari fikokoloid yaitu alginat (87,98%). Alginat  dapat dipilih sebagai bahan penstabil alami  karena sumber bahan bakunya melimpah di Indonesia dibandingkan guar gum  yang merupakan produk impor.  Karakteristik mutu es krim dengan bahan penstabil alginat memiliki pH 6,88, total padatan 98,60%, stabilitas emulsi 87,98%, kualitas pelelehan 7,39 menit, overrun 6,01%.

Kata kunci: Bahan penstabil, fikokoloid, gum, es krim.

PENGARUH SUHU DISTILASI TERHADAP KUALITAS ASAP CAIR

Rodiah Nurbaya Sari
Balai Besar Riset dan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS. Tubun Petamburan VI, Jakarta Pusat 10260 Telepon: 021-53650157 Fax: 021-53650158
Email: rodiah_ns@yahoo.com

Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh suhu distilasi terhadap kualitas asap cair yang diproduksi dari alat penghasil asap cair skala pilot plant hasil disain Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan dengan menggunakan bahan baku tempurung kelapa. Asap cair diproduksi pada suhu 300, 400 dan 500oC sedangkan proses distilasi pada suhu 85, 105 dan 125oC. Parameter asap cair yang dianalisa adalah rendemen, kadar fenol, total asam dan komposisi kimia.
Hasil menunjukan bahwa asap cair terbaik dihasilkan dari proses pirolisa pada suhu 400oC dengan kadar fenol 4,01±0,03% dan total asam 13,30±0,00%. Rendemen dari proses distilasi pada suhu 85, 105 dan 125oC berturut-turut 1,8±0,0%; 32,9±10,7% dan 45,1±7,6% dengan kadar fenol masing-masing 2,93±0,11%; 3,39±0,00% dan 2,76±0,00% dan total asam 5,47±0,01%; 12,92±0,21% dan 10,15±0,50%. Suhu distilasi berpengaruh pada komposisi kimia asap cair. Meningkatnya konsentrasi guaiakol menyebabkan aroma (odour) menjadi lebih baik begitu juga dengan meningkatnya konsentrasi kelompok keton, warna menjadi lebih kuning kecoklatan. Sementara dengan menurunnya keasaman asap cair menyebabkan kualitas asap cair menjadi lebih baik karena komponen-komponen asam yang ada dapat bereaksi dengan protein dalam produk sehingga kemampuan menahan airnya menjadi menurun akibat proses pemasakan. 

Kata Kunci: tempurung kelapa, pirolisa, asap cair, distilasi            

KANDUNGAN MINYAK PADA MIKROALGA JENIS Dunaliella tertiolecta
DAN Chlorella vulgarisSEBAGAI ALTERNATIF BAHAN BAKU BIODIESEL

Sri Amini dan Rini Susilowati
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
E-mail: aminisri@yahoo.co.id

Penelitian kultur mikroalga jenis Dunaliella tertiolecta dan Chlorella vulgaris pada skala laboratorium dilakukan untuk melihat kandungan minyak pada kedua jenis mikroalga tersebut sebagai alternatif bahan baku biodisel. Kultivasi mikroalga dilakukan pada media air dengan pH 8-8,5 dan suhu media berkisar 26oC, sedangkan salinitas medianya berkisar antara 20 hingga 22 ppt. Selama masa kultur dilakukan pengamatan dan penghitungan kelimpahan sampai mencapai fase konstan yaitu pada hari ke 15. Kelimpahan tertinggi pada kedua spesies mikroalga adalah 2,71 x 106 sel/mL pada D. tertiolecta danuntuk C. vulgaris mencapai 4,26 x 106 sel/mL. Ekstraksi minyak pada kedua spesies mikroalga tersebut telah dilakukan dengan menggunakan pelarut heksan. Hasil ekstraksi minyak pada D. tertiotela mencapai 4,60% (berat kering) dicapai pada umur 5 (lima) hari, sedangkan pada C. vulgaris mencapai 9,80% (berat kering) pada umur 15 hari. Hasil ekstraksi minyak pada kedua spesies mikroalga tersebut menunjukkan perbedaan yang nyata.

Kata kunci: kandungan minyak, Dunaliella tertiolecta, Chlorella vulgaris, biodiesel.

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI EDIBLE FILM DARI GELATIN KULIT NILA MERAH DENGAN PENAMBAHAN PLASTICIZER SORBITOL DAN ASAM PALMITAT

Gandhi Eko Julianto, Ustadi, dan Amir Husni
Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Jl. Flora A4 Bulaksumur
Yogyakarta 55281

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan gelatin edible film menggunakan kombinasi campuran sorbitol dan asam palmitat sebagai plasticizer. Gelatin diperoleh dari kulit kering nila merah (Oreochromis niloticus) dengan perendaman dalam larutan CH3COOH 0,1 N, pH 3 selama 24 jam lalu diekstraksi pada suhu 80oC selama 3 jam. Analisis proksimat gelatin menunjukkan kadar air 5,06%, kadar abu 0,45%, lemak 7,84%, kadar protein 85,703%, rendemen 29,76%, kekuatan gel gelatin nila merah bernilai 301,6 bloom, dan viskositas 6,97 cPs. Gelatin edible film dibuat dengan melarutkan 3g gelatin dalam 100 ml aquades pada suhu 60oC lalu ditambahkan 2 jenis plasticizer dengan konsentrasi yang berbeda. Plasticizer yang ditambahkan pertama kali untuk membuat edible film adalah sorbitol, penambahan sorbitol (0-37.5% dari berat gelatin) bertujuan memperoleh sifat fisik edible film yang cocok sebagai pembungkus. Hasil observasi karakteristik terbaik edible film sebagai pembungkus diberikan oleh konsentrasi sorbitol 37,5% dengan nilai ketebalan 0,1203x10-3m, renggang putus 13,1598 Mpa, dan perpanjangan 4,864 %. Formula edible film penambahan plasticizer sorbitol 37,5% dikombinasi dengan asam palmitat (0-1.5% dari berat gelatin) yang bertujuan meningkatkan sifat hidrofobik edible film. Penambahan asam palmitat efektif menurunkan nilai kelarutan edible film (P<0.05) namun tidak efektif dalam mengurangi nilai transfer uap air (P<0.05).

Kata kunci : Asam palmitat, edible film, gelatin, plasticizer, sorbitol.

FORMULASI SNACK TEPUNG CANGKANG KERANG SIMPING (A. pleuronectes) SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER KALSIUM

Susana Endah Ratnawati1, Tri Winarni Agustini2 dan Johannes Hutabarat2
1Mahasiswa Program beasiswa Unggulan BPKLN-Kemendiknas Pascasarjana Universitas Diponegoro, Program Studi Manajemen Sumberdaya Pantai, Konsentrasi Perencanaan dan Pengelolaan Sumberdaya Kelautan. Jl. Imam Barjo No. 5, Semarang. Telp. 085640608891. Email SOE_SAND@yahoo.co.id
2Staf Pengajar Pascasarjana Universitas Diponegoro, Program Studi Manajemen Sumberdaya Pantai. Kampus tembalang UNDIP Tembalang. Telp. 081325181670. Email tagustini.com

Tepung cangkang kerang simping sebagai solusi pemanfaatan limbah memiliki rasio kalsium dan fosfor yang tidak seimbang sehingga penyerapan dalam tubuh belum optimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji formulasi kalsium dan fosfor tepung cangkang kerang simping dengan jagung dan jawawut serta pengaruhnya terhadap kandungan gizi dan karakteristik snack. Penelitian telah dilakukan pada bulan Desember 2011. Parameter yang diamati meliputi kadar kalsium, fosfor, air, karbohidrat, protein, lemak, abu, serat kasar, hedonik dan fisik produk. Pada hasil menunjukkan rasio perbandingan kalsium dan fosfor 3 : 1 pada snack modifikasi tepung cangkang kerang simping dengan jagung maupun jawawut. Pada formulasi tepung cangkang kerang simping dan jagung dihasilkan cookies dengan kalsium sebesar 349,01 mg/100 g dan fosfor 99,58 mg/100 g, sedangkan ekstrudat menghasilkan kalsium sebesar 582,66 mg/100 g dan fosfor 180 mg/100 g. Pada formulasi tepung cangkang kerang simping dan jawawut dihasilkan ekstrudat menghasilkan kalsium sebesar 950 mg/100 g dan fosfor 280 mg/100 g. Pada fish nugget menghasilkan kalsium sebesar 910,01 mg/100 g dan fosfor 260,03 mg/100 g. Kadar abu tertinggi didapat pada fish nugget fortifikasi tepung cangkang kerang simping dengan jawawut yaitu sebesar 5,92%. Tingkat kerenyahan tertinggi diperoleh pada snack fortifikasi tepung cangkang kerang simping dengan jagung yaitu pada ekstrudat sebesar 8,81 KgF. Pada fish nugget gel strength tertinggi pada formulasi tepung cangkang kerang simping dan jawawut sebesar 27,77  KgF. Snack hasil formulasi berpotensi untuk memenuhi asupan kalsium sehari-hari.

Kata kunci : cangkang kerang simping (A. pleuronectes), snack, kalsium, fosfor

Penelitian pengaruh perendaman dalam larutan NaTRIUM BIKARBONAT(NaHCO3) terhadap mutu filet ikan patin siam (Pangasius hypopthalmus )

Murniyati, Fera Roswita Dewi
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh perendaman dalam larutan Natrium bikarbonat (NaHCO3) terhadap mutu filet ikan patin siam (Pangasius hypopthalmus).  Penelitian dilakukan dengan merendam filet ikan patin siam dalam larutan NaHCO3 dengan konsentrasi 0; 0,3; dan 0,5% selama 15 dan 30 menit. Pengamatan dilakukan terhadap filet ikan patin segar dan matang (dikukus selama 15 menit) yang meliputi organoleptik (warna, bau, rasa dan tekstur), kimiawi (kadar air dan lemak) dan susut bobot selama perendaman. Hasil pengamatan organoleptik warna filet ikan patin segar menunjukkan bahwa perendaman selama 30 menit mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan pada perendaman selama 15 menit. Perendamanan dalam larutan NaHCO3 selama 15 menit menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi maka warnanya semakin kurang disukasi oleh panelis, sedangkan pada perendaman 30 menit warna yang terbaik adalah pada konsentrasi 0,5%. Nilai organoleptik secara keseluruhan menunjukkan bahwa perendaman 30 menit lebih baik dari 15 menit. Untuk rasa dilakukan pengamatan setelah dikukus 15 menit dan hasilnya menunjukkan bahwa perendaman 30 menit adalah lebih baik dari 15 menit. Kadar air filet patin segar pada perendaman 30 menit lebih besar dari 15 menit dan semakin tinggi konsentrasi NaHCO3 kadar air semakin rendah. Sementara kadar lemak filet ikan patin pada perendaman 30 menit lebih kecil dibandingkan 15 menit dan semakin tinggi konsentrasi NaHCO3 maka kadar lemaknya semakin rendah. Pertambahan bobot filet ikan patin pada perendaman 15 menit lebih rendah dibandingkan 30 menit dan semakin tinggi konsentrasi NaHCO3 maka pertambahan bobotnya  semakin kecil.

Kata kunci: filet, patin siam, Natrium bikarbonat

PENDUGAAN KANDUNGAN BETA KAROTEN IKAN LOMPA (Thryssa baelama, Forsskal) DI PERAIRAN PANTAI APUI, MALUKU TENGAH

Meillisa Carlen Mainassy,Jacob L.A. Uktolseja, Martanto Martosupono,
Program Pasca Sarjana Magister Biologi, Universitas Kristen Satya Wacana
Jl. Diponegoro 52-60, Salatiga 50711, e-mail: meilisa_carlen@yahoo.com
Telp (0298) 321212 (hunting), Fax (0298) 321433

Perairan Pantai Apui merupakan salah satu habitat ikan lompa (Thryssa baelama) di Maluku Tengah dari area penyebaran di seluruh dunia. Ikan lompa berpotensi menjadi makanan fungsional sebagai sumber beta karoten. Penelitian ini bertujuan menduga potensi beta karoten ikan Lompa di Perairan Pantai Apui dengan pendekatan dinamika populasi berdasarkan Virtual Population Analysis. Penelitian dilakukan dengan cara menghitung parameter dinamika populasi ikan lompa beserta dengan biomasa. Hasil penelitian menunjukkan dugaan panjang asismtotik (L∞)sebesar 14,63 cm, koefisien pertumbuhan (K)sebesar 0,4/tahun, mortalitas alami (M) sebesar 0,9494/tahun, mortalitas penangkapan (F) sebesar 0,4066/tahun. Kondisi stok ikan masih di bawah tangkap lebih (E = 0,30) dengan potensi biomasa sebesar 62,10 ton/tahun dan hasil panen 6,63 ton/tahun. Kandungan beta karoten sebesar 0,22 μg/g berat basah dengan potensi beta karoten berdasarkan biomasa sebesar 13,67 kg/tahun dan  hasil panen sebesar 1,46 kg/tahun. Perkiraan rata-rata kontribusi kebutuhan vitamin A ikan lompa hanya dari beta karoten untuk penduduk Apui masing-masing salah satu untuk anak usia 1–3 tahun, anak usia 4–5 tahun, ibu mengandung, dan ibu menyusui adalah 28,4%; 25,3%; 14,2%; 8,7% per tahun. Kesimpulan penelitian adalah ikan lompa di Perairan Pantai Apui memiliki potensi kandungan beta karoten yang dapat berkontribusi untuk memenuhi kebutuhan vitamin A  bagi penduduk Apui, sehingga ia dapat menjadi makanan fungsional untuk kesehatan.

Kata kunci: Thryssa baelama, dinamika populasi, beta karoten, makanan fungsional

KARAKTERISASI  ANTIBAKTERI  DARI EKSTRAK KASAR RUMPUT LAUT Gracillaria coronopifolia SEGAR

Hardoko
Fakultas Perikanan dan Ilmu  Kelautan, Universitas Brawijaya.
Email : oko8163@yahoo.com  and  hardoko@ub.ac.id

In general, each  natural antimicrobial agent  possesses specific characteristics. Research aiming  to determine antibacterial properties  of crude extract  of fresh  Gracillaria coronopifolia  has been done.  First, antimicrobial  compound  were extracted using  combination of ethanol-ethyl acetate solvents, evaporated and tested their activity against several bacteria, then checked  their stability  toward pH and temperature.  Result showed  crude extract obtained by using 100% ethyl acetate  has the highest  antibacterial activity  with MIC and MBC values of  0.39% and 1.59%, respectively for Escherichia coli,  0.56% and 2.34% for Bacillus cereus,  0.49% and 1.99% for Staphylococcus aureus.  This crude extract exhibited the best activity  at pH 7.0 and temperature  25.89oC for B. cereus, and pH 6.7 and temperature 40oC for E. coli.  SEM photographic results of the tested bacteria showed  this crude extract damaged the cell wall of E.coli and   B. cereus.

Keywords :  crude extract, MIC, MBC, pH, temperature

REUSES LIMBAH KULIT NILA MERAH SEBAGAI KULIT TERSAMAK MENGGUNAKAN BAHAN PENYAMAK MIMOSA, FORMALIN, DAN SYNTAN UNTUK BAHAN BAKU PRODUK KULIT KOMERSIAL

1Latif Sahubawa dan 2Ambar Pertiwiningrum
1Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian dan 2Fakultas Peternakan
Universitas Gadjah Mada

Penelitian berbasis pada pemanfaatan/penggunaan kembali (reuses) limbah kulit ikan nila merah dari hasil sampingan pengolahan fillet ikan di PT. Aquafarm Surakarta.  Tujuan penelitian adalah: (1) analisis karakteristik fisik-kimia (kelemasan, kekuatan tarik, kekuatan sobek, kemuluran, suhu kerut, kadar lemak/minyak, dan kadar air) kulit nila merah samak mimosa, formalin, dan syntan; (2) kajian efektivitas bahan penyamak ramah lingkungan (mimosa) dibandingkan bahan penyamak kimia (formalin) dan mineral (syntan); serta (3) kajian nilai ekonomi kulit ikan nila merah melalui pengolahan produk kulit komersial.  Metode penelitian yang digunakan yaitu: (1) metode penyamakan, (2) laboratoris, (3) statistik, dan (4) valuasi ekonomi produk kulit.
Hasil analisis nilai parameter fisik-kimia sampel kulit tersamak dari masing-masing perlakuan bahan penyamak (mimosa 20%, formalin 10%, dan syntan 10%) sebagai berikut: (1) Kelemasan tertinggi/ terbaik (5,77 mm) dihasilkan dari perlakuan mimosa 20%, diikuti syntan 10% (5,66 mm), dan formalin 10% (3,76) ; (2) nilai kekuatan sobek tertinggi/terbaik dihasilkan syntan 10% (361,270 N/cm), diikuti mimosa 20% (309,617 N/cm), dan formalin 10% (292,747 N/cm) ; (3) Kekuatan Tarik tertinggi/terbaik  dihasilkan  formalin 10% (1776,01 N/cm2), diikuti  mimosa 20% (1479,35 N/cm2), dan syntan 10% (1442,72 N/cm2 ) ;  (4) Kemuluran terendah/terbaik dihasilkan mimosa 20% (54,67), diikuti formalin 10% (56,00%), dan syntan 10% (66,67%) ; (5) Suhu Kerut tertinggi/terbaik dihasilkan mimosa 20% (100ºC), diikuti syntan 10% (87ºC), dan formalin (78ºC) ; (6) Kadar Air terendah/terbaik dihasilkan formalin 10% dan mimosa 20% masing-masing: 11,66% dan 11,67% dan tertinggi dihasilkan syntan 10% (12,99%) ; (7) Kadar Lemak/Minyak terbaik (rendah) dihasilkan mimosa 20% (10,86%), diikuti formalin 10% (12,68%), dan syntan 10% (14,47).  Kisaran nilai parameter mutu fisik-kimia sampel kulit nila merah tersamak masih berada pada kisaran nilai standar bahan baku produk kulit seperti direkomendasikan pada SNI. 06-4586-1998 (kulit ikan air tawar samak krom) dan IUP.36.
Produk kulit nila merah tersamak (domet wanita dan laki-laki) model biasa (tanpa inovasi) memiliki harga jual relatif rendah (Rp 75.000 – 100.000) sedangkan model produk berbasis inovasi memiliki jual cukup tinggi (Rp 225.000 – 250.000).  Kedua jenis produk, selanjutnya diuji tingkat penerimaan konsumen (18 responden), masing-masing 6 orang mahasiswa, pegawai negeri sipil (PNS) dan pegawai swasta.  Berdasarkan hasil uji, ternyata 13 responden (72,2%) (6 pegawai swasta, 4 PNS, dan 3 mahasiswa) bersedia membeli produk kulit berbasis inovasi (Rp 225.000 – 250.000), dengan alasan: (1) bentuk dan warnanya menarik, (2) ukuran cocok, dan (3) harga terjangkau, sedangkan 5 reponden lain (27,8%) memilih produk biasa (harga Rp 75.000 – 100.000).

Kata Kunci: reuses, limbah, kulit tersamak, nila merah, mimosa, formalin, syntan

PEMANFAATAN DAGING LUMAT IKAN PATIN DAN KEPITING DALAM PENGOLAHAN BURGER DENGAN PERENDAMAN ASAP CAIR

Diah Ikasari dan Ijah Muljanah
Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Salah satu pemanfaatan ikan patin (Pangasius sp) yang potensial untuk dikembangkan di masyarakat adalah dalam bentuk produk olahan berbasis daging lumat, yaitu burger ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan daging lumat ikan patin dan kepiting dalam pengolahan burger dengan perendaman asap cair. Surimi, daging lumat ikan patin dan daging kepiting dicampur dengan perbandingan 50 : 50 : 0% ; 50 : 40 : 10% dan 50 : 30 : 20%, kemudian dicampur bumbu-bumbu sesuai dengan formula dan diaduk hingga homogen. Adonan yang telah homogen kemudian dicetak dalam casing plastik dengan diameter 6-7 cm. Adonan burger ikan yang telah dicetak kemudian direbus dengan suhu awal 40-60°C selama 30 menit dan dilanjutkan dengan suhu 90°C selama 120 menit. Selanjutnya burger didinginkan di atas tumpukan es kemudian direndam dalam larutan asap cair 2,5% selama 20 menit. Sebagai kontrol digunakan burger ikan patin tanpa perendaman asap cair. Burger kemudian dipanaskan dalam oven dengan suhu 75°C selama 2 jam. Pengamatan dilakukan terhadap parameter kimia (air, abu, protein, lemak dan pH), fisik (kekuatan gel) serta organoleptik (mutu hedonik).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air  burger berkisar 60.08–69.14%, kadar abu 3.19–3.46%, kadar protein 16.66-20.06 %, kadar lemak  4.17–6.77 % (bk) dan pH 7.16 –7.68. Penambahan daging kepiting 10 % terhadap adonan burger ikan menghasilkan gel strength yang lebih baik serta bau, tekstur, warna dan rasa yang paling disukai oleh panelis.

Key words : burger, ikan lele, asap cair, daging kepiting

PENGARUH PENGGUNAAN BAHAN BAKU TERHADAP KUALITAS FISH FINGER

Diah Lestari Ayudiarti, Ninoek Indriyati, Ema Hastarini
Balai Besar Riset Pengolahan Produk Kelautan dan Perikanan
e-mail : diah_stari@yahoo.co.id
Penelitian mengenai pengaruh penggunaan bahan baku terhadap kualitas fish finger telah dilakukan. Fish finger merupakan produk yang terbuat dari daging ikan yang digiling dan dipotong-potong kemudian dilapisi dengan batter dan breadcrumbs lalu digoreng setengah matang lalu dibekukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan daging lumatan dan surimi serta campuran keduanya terhadap kualitas produk yang dihasilkan. Fish finger dibuat dengan meggunakan perlakuan bahan baku yang terdiri dari surimi dan daging lumatan dengan perbandingan 100%:0%; 75%:25%; 50%:50%; 25%:75% dan 0%:100%. Produk yang dihasilkan kemudian dianalisis proksimat, sensori dan mikrobiologi. Hasil analisis menyatakan bahwa Fish finger yang menggunakan campuran bahan baku daging lumatan dan surimi dengan perbandingan 75% dan 25% lebih disukai panelis. Produk ini memiliki kandungan kadar air 67,41%, kadar abu 2,21%, kadar lemak 0,15% dan kadar protein 21,33%. Analisis mikrobiologi menyatakan bahwa produk ini memiliki jumlah TPC sebesar 3.37X105 CPU, E.Coli <3 MPN/ml dan salmonella negatif.

Kata kunci : fish finger, surimi, lumatan, kualitas

PENGARUH METODE EKSTRAKSI TERHADAP RENDEMEN  MINYAK DAN KOMPOSISI ASAM LEMAK MIKROALGAE Botryococcus braunii

Diini Fithriani, Sugiyono dan Wahyu Rahmad
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh metode yang paling optimum dalam ekstraksi minyak mikroalga  Botryococcus braunii, dan mengetahui komposisi asam lemak Botryococcus braunii. yang dihasilkan. Dalam penelitian ini dilakukan empat perlakuan cara pemecahan sel sebagai bagian dari proses ekstraksi minyak dengan menggunakan pelarut heksan. Keempat cara pemecahan dinding sel ini meliputi pengempaan/press, penggunaan gelombang mikro (microwave), penggunaan ultrasonik   dan dengan cara pemanasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  metode ekstraksi yang paling optimum  adalah dengan perlakuan pemanasan, yang menghasilkan minyak sejumlah 1,22 % dari biomassa kering. Hasil analisa asam lemak  terhadap minyak yang dihasilkan  pada perlakuan ini menunjukkan total asam lemak sejumlah 93,57%, yang terdiri atas asam lemak jenuh  44,56% dan asam lemak tidak  jenuh  49,01%. Pada perlakuan pemanasan ini diperoleh asam palmitat  36,78 % dan asam oleat 33,71 % .

Kata kunci: pemecahan dinding sel, mikroalgae, Botryococcus braunii, asam lemak 

PENGARUH PERLAKUAN SUHU PEMANASAN RUMPUT LAUT Euchema spinosium TERHADAP KUALITAS SEMI REFINE IOTA CARRAGEENAN (SRCI)

Jamal Basmal
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Jakarta

Percobaan perlakuan pengaruh suhu pemanasan rumput laut E. spinosium dalam pembuatan semi refine iota carrageenan (SRIC) telah dilakukan dengan  variasi suhu pemanasan 40o, 50o dan 60oC dengan  waktu pemasakan selama 2 jam. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan suhu yang tinggi telah menyebabkan terjadinya penurunan nilai kekentalan ATIC. Hasil terbaik diantara perlakuan yang diberikan adalah perlakuan suhu 40oC dengan nilai kekentalan sebesar  77,29 cPs, dengan rendemen sebesar 45,58%, kadar air sebesar 8,27%, dengan kadar abu 24,18%.

Kata kunci: suhu pemasakan, kekentalan dan rendemen.

PENGGUNAAN KALIUM SORBAT SEBAGAI PENGHAMBAT  PERTUMBUHAN KAPANG PADA ABON IKAN LELE

Ninoek Indriati,  Ajeng Kurniasari Putri
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Jl. KS Tubun Petamburan VI Jakarta 10260
Email: bbrppb@yahoo.co.id

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi mengenai kemampuan K-sorbat sebagai penghambat pertumbuhan kapang serta pengaruhnya terhadap kandungan nutrisi pada abon ikan lele. Penambahan K-sorbat dengan konsentrasi 0; 0,1 dan 0,3% dilakukan pada saat proses pengolahan abon ikan lele. Pengamatan dilakukan setiap 2 minggu selama penyimpanan 10 minggu dengan parameter organoleptik, mikrobiologi dan kimia. Hasil pengamatan organoleptik menunjukkan kecenderungan yang hampir sama antara perlakuan dan kontrol, sehingga penambahan K-sorbat tidak mempengaruhi keterterimaannya pada panelis. Nilai kadar air untuk masing-masing perlakuan mengalami peningkatan selama masa penyimpanan. Hasil analisa TBA abon ikan selama masa penyimpanan berkisar antara 0,085–0,17 µmol/mg atau antara tidak tengik sampai dengan sedikit tengik. Penambahan K-sorbat tidak menyebabkan perbedaan yang nyata terhadap nilai angka lempeng total. Sedangkan nilai Total Kapang menunjukkan perbedaan hanya pada penyimpanan sampai minggu ke-2, setelah itu terjadi penurunan tetapi tidak berbeda nyata diantara perlakuan.

Kata kunci : Abon ikan lele, kalium sorbat, kapang

ANALISIS KROMATOGRAFI GAS TERHADAP EKSTRAK PIGMEN KLOROFIL DAN KAROTEN DARI TEPUNG RUMPUT LAUT ULVASP.

Nurhayati dan Rinta Kusumawati

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar pigmen klorofil dan karoten rumput laut Ulva sp. baik secara kualitatif maupun kuantitatif menggunakan analisis kromatografi gas. Ekstraksi pigmen klorofil dan karoten dari tepung rumput laut Ulva sp. mengacu pada metode Hujaya yang telah dimodifikasi, ekstrak yang diperoleh kemudian dikarakterisasi dan ditentukan kadarnya menggunakan metode kromatografi dengan alat kromatografi gas. Karakterisasi dilakukan dengan cara membandingkan kromatogram hasil analisis ekstrak pigmen terhadap kromatogram pigmen standar dalam pelarut metanol. Karakteristik kimiawi terhadap tepung rumput laut Ulva sp. menunjukkan kadar air, abu, dan garam masing-masing sebesar 16,88; 16,05; dan 0,63%. Hasil penelitian berupa padatan pigmen telah diperoleh dengan rendemen crude klorofil dan crude karoten berturut-turut sebesar 0,68 dan 0,79%. Analisis terhadap puncak dan waktu retensi kromatogram ekstrak pigmen terhadap standar mengidentifikasi adanya kandungan klorofil a dan b dalam crude klorofil dengan kadar masing-masing 0,66%-b dan 0,57%-b; serta kandungan leucopen dalam crude karoten dengan kadar 0,57%-b.

Kata Kunci: Ulva sp., ekstraksi, pigmen, karoten, klorofil.

KAJIAN PROSES PENGASAPAN IKAN DI SENTRA PENGASAPAN IKAN BANDARHARJO, KOTA SEMARANG

Dina Fransiska

Sentra pengasapan ikan Bandarharjo sudah lama dikenal warga kota Semarang dan sekitarnya. Saat ini terdapat 47 rumah pengasapan yang aktif berproduksi dengan jumlah pekerja sebanyak 160 orang dengan kapasitas produksi berkisar 7-10 ton/hari. Di sentra industri pengasapan ikan kelurahan Bandarharjo terdapat perbedaan kapasitas pengolahan pengasapan, yang didasarkan pada jumlah ikan yang diolah yaitu kapasitas 50-200 kg, 200-500 kg, dan 500-1000 kg. Perbedaan kapasitas tersebut diikuti oleh perbedaan tenaga kerja, luas area pengasapan, jumlah tungku, dan jumlah cerobong. Para pengrajin ikan asap di sentra pengasapan ikan asap Bandarharjo belum memperhatikan mutu produk. Rendahnya kualitas ikan asap Bandarharjo mengakibatkan ikan ini hanya dijual di pasar-pasar tradisional kota semarang dan sekitarnya. Hasil analisis uji organoleptik ikan asap pada kriteria kenampakan masih belum memenuhi standar SNI 2725.1:2009, namun dari segi bau, rasa, dan tekstur sudah memenuhi standar serta tidak ditemukan adanya jamur dan lendir. Nilai kadar air yang masih belum memenuhi standar yaitu 69,78% yang seharusnya adalah maksimal 60%. Uji mikrobiologi ikan asap meliputi TPC yaitu (8.85x105)–(9,4x105), uji salmonella negative dan E.coli sebesar 4-2.4 x 102 apm/g 105.

Kata kunci: pengasapan, Bandarharjo, ikan asap
KARAKTERISTIK  MUTU DENDENG SURIMI IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypophthalmus)

Suryanti
Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
E-mail: rivaravi@yahoo.com

Dendeng sebagai produk olahan daging tradisional umumnya terbuat dari filet daging.  Kandungan lemak daging yang cukup tinggi menyebabkan dendeng dapat diolah dari daging lumat yang telah melalui proses pencucian.  Daging lumat yang telah dicuci secara berulang-ulang dengan tujuan agar sebagian besar darah, pigmen dan lemak hilang, serta diberikan bahan tambahan makanan untuk meningkatkan sifat elastisitas gel disebut surimi.  Daging ikan patin siam banyak mengandung asam lemak tidak jenuh yang tinggi yang mudah teroksidasi dan dapat mengakibatkan bau tengik pada produk olahan ikan yang dihasilkan.  Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui karakteristik mutu dendeng yang terbuat dari surimi ikan patin siam (Pangasius hypophthalmus).  Hasil penelitian menunjukkan kandungan proksimat dendeng surimi ikan patin siam sebesar 11,97% kadar air; 31,29% kadar protein; 2,81% kadar lemak, 7,07% kadar abu; dan 35,47% kadar karbohidrat.  Hasil analisis mikrobiologi dendeng surimi ikan patin siam yaitu analisa angka lempeng total (ALT)  sebesar 1,56 X 104 a dan tidak terdapat kapang. Dendeng surimi ikan patin siam memiliki sifat tekstur yaitu kekuatan tarik sebesar 77,13 kgf/cm2  dan elongasi  sebesar 79,18%.

Kata kunci : dendeng surimi, ikan patin siam.

PEMBUATAN BIODIESEL DARI LIMBAH PENGOLAHAN FILLET PATIN (Pangasiussp.)

Tri Nugroho Widianto dan Luthfi Assadad
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Email : trinugrohowidianto@yahoo.com

Telah dilakukan penelitian pembuatan biodiesel dari minyak hasil ekstraksi limbah industri fillet ikan patin. Pembuatan biodiesel dilakukan melalui beberapa tahap proses yaitu esterifikasi dua tahap, transesterifikasi, pencucian biodiesel dan pemanasan. Pengujian biodiesel yang dilakukan mengacu pada SNI 04-7182-2006 dengan parameter pengujian meliputi densitas, viskositas kinematik, kadar gliserol, bilangan asam, bilangan iod, kadar abu sulfat, kadar air dan sedimen, residu karbon, kandungan sulfur dan titik nyala. Hasil pengujian menunjukkan bahwa biodiesel yang diperoleh mempunyai densitas 0,8615 g/mL, viskositas kinematik 3,5548 cSt, kadar gliserol 0,0757%w, bilangan asam 0,1169 mg KOH/g, bilangan iod 72,72 g I2/100g, kadar abu sulfat 0,00%w, kadar air dan sedimen <0,05%w, residu karbon 0,007%w, kandungan sulfur 298 ppm, dan titik nyala 177oC. Dari keseluruhan parameter pengujian, hanya parameter kandungan sulfur yang nilainya tidak memenuhi standar, yaitu di atas 100 ppm.

Kata kunci : biodiesel, limbah, patin, SNI 04-7182-2006

UJI PENGERINGAN RUMPUT LAUT (E.cottonii) MENGGUNAKAN MODEL ALAT PENGERING TIPE V DENGAN MENGGUNAKAN SUMBER PANAS GAS ELPIJI

Bakti Berlyanto Sedayu, Jamal Basmal, dan Susiana Melanie
Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
email: bhekit_06@yahoo.com

Pengeringan rumput laut secara konvensional di bawah sinar matahari yang umum dilakukan oleh petani memiliki beberapa kelemahan, diantaranya yaitu ketergantungan oleh keadaan cuaca dan juga ketidakseragaman mutu produk yang dihasilkan. Pada penelitian ini, dilakukan uji pengeringan rumput laut menggunakan alat pengering tipe V dengan sumber panas gas (elpiji).  Sebelum dikeringkan, rumput laut segar dikempa menggunakan hydrolic-press guna mengurangi kadar air awal, kemudian dikeringkan menggunakan alat pengering tipe V pada suhu ruang plenum berkisar antara 70-90°C selama 7 jam. Hasil penghitungan selama pengeringan didapatkan laju pengeringan rata-rata sebesar 8,6%/jam, energi panas yang digunakan sebesar 70.420 Kj, efisiensi panas pengeringan sebesar 39% dan laju bahan bakar sebesar 0,2 Kg/jam. Untuk mencapai kadar air rumput laut kering komersial (30-35%) dengan mengunakan alat pengering dibutuhkan waktu selama 6 jam.

Kata kunci : alat pengering tipe V , rumput laut, E. cottonii, gas elpiji

PENGARUH PENGGUNAAN NATRIUM SULFIDA (Na2S) PADA PROSES PENGAPURAN TERHADAPMUTU KULIT TERSAMAK  IKAN KAKAP PUTIH (Lates calcarifer)

Nurul Hak
Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
Email : haq_collection@yahoo.com

Telah dilakukan penyamakan kulit ikan kakap putih (Lates calcarifer) dengan variasi natrium sulfida pada proses pengapuran yaitu 3%, 2%, 1% dan 0% natrium sulfida yang dilakukan bersama-sama dengan 3% Kalsium hidroksida. Hasil kulit tersamaknya di uji mutunya secara organoleptik dan meliputi berdasarkan kekuatan tarik (SNI.06-1795-1990), kemuluran (SNI.06-1795-1990), kekuatan jahit (SNI.06-1117-1989) dan suhu kerutnya (SNI.06-7127-2005). Hasil penelitian menunjukkan secara organoleptik perlakuan tanpa menggunakan natrium sulfida menghasilkan kulit tersamak lebih kaku atau kurang lemas dibanding yang menggunakan natrium sulfida. Penggunaan 3% natrium sulfida  memberikan karakter yang paling lemas dibandingkan yang menggunakan 2% dan 1%, dan sudah dapat memenuhi SNI.06-4263-1996 Kulit Motif Fancy dari Kulit Sapi untuk Barang Jadi, dengan kekuatan tarik 260,18 kg/cm2, kekuatan jahit  183,18 kg/cm, suhu kerut  89oC  dan secara organoleptik berisi, liat dan lemas, kecuali pada nilai kemulurannya yang melebihi nilai maksimum 70%.

Kata Kunci  : Natrium sulfida, kulit tersamak, kakap putih

EKSTRAK SEREH DAPUR (Cymbopogon citratus ) SEBAGAI PENGHAMBAT PERTUMBUHAN JAMUR PADA IKAN PINDANG

Jovita Tri Murtini, Farida Ariyani dan Fairdiana Handayani
Peneliti Pada Balai besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
E-mail: jovita.tri@gmail.com

Sereh dapur (Cymbopogon citratus)biasanya digunakan masyarakat untuk bumbu masak atau untuk ramuan jamu tradisional. Sereh dapur juga dapat digunakan untuk pengawetan. Pada penelitian ini, ekstrak sereh Cymbopogon citratus digunakan sebagai pengawet pada pengolahan pindang. Jenis sereh yang akan digunakan pada penelitian ini adalah ekstrak sereh citrates (C. citratus). Kegunaan minyak sereh sitratus sangat banyak antara lain untuk anti jamur, anti bakteri, obat-obatan tradisional dan lain-lain. Pengolahan ikan pindang dengan cara sebagai berikut : ikan setelah dicuci bersih diletakkan di atas naya selanjutnya direbus dalam ekstrak sereh (0, 20 dan 40%) yang diberi garam, kemudian direbus selanjutnya ikan pindang ditiriskan kemudian disimpan pada suhu ruang. Pengamatan dilakukan setiap 12 jam sampai ditolak panelis dengan parameter organoleptik, mikrobiologi (ALT dan kapang) dan kimia (proksimat, TVB dan kadar air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa  20% dan 40% ekstrak sereh untuk merebus ikan tongkol masih dapat menghambat pertumbuhan kapang pada pindang ikan tongkol.

Kata kunci: ekstrak sereh, kapang, pindang, penyimpanan suhu ruang

KARAKTERISTIK GELATIN TULANG TUNA

Tazwir dan Diah Lestari Ayudiarti
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Penelitian ekstraksi gelatin dari tulang ikan tuna secara asam telah dilakukan. Gelatin yang dihasilkan kemudian dikarakterisasi sifat fisiko-kimia dan mikrobiologi lalu dibandingkan dengan standar gelatin dan gelatin komersial. Hasil analisa menunjukkan gelatin dari tulang tuna memiliki kadar air  6,08%, kadar abu 1,02%, kadar protein 88,53% dan kadar lemak 1,02%. Sedangkan sifat fisiknya, kekuatan gel 151,8 gr bloom, viskositas 5,57 cPs,  titik gel  9oC , titik leleh 25,3oC, titik isoelektrik 7,67 dan derajat putih 33,7%. Sementara itu, nilai TPC gelatin 4,5x104 koloni/gr dengan kandungan E.coli dan Salmonella negatif. Sifat kimia, fisik, dan mikrobiologi gelatin tulang ikan tuna telah memenuhi standar mutu gelatin pangan dan farmasi.

Kata kunci: tuna, proses asam, dan karakteristik.

AKTIVITAS SITOTOKSIK DAN FRAKSINASI SENYAWA AKTIF DARI KAPANG MFB-08-09 YANG DIISOLASI DARI RUMPUT LAUT Halymenia durvillae

Muhammad Nursid, Ekowati Chasanah dan Thamrin Wikanta
Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
E-mail: mnursid@yahoo.co.id

Kapang laut merupakan salah satu golongan mikroba yang mampu menghasilkan beragam senyawa aktif.  Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui aktivitas sitotoksik dari kapang MFB-08-09 serta fraksinasi senyawa aktif yang terkandung di dalamnya telah dilakukan.  Kapang MFB-08-09 diperoleh dari permukaan rumput laut merah Halymenia durvillae yang diambil dari pantai Binuangeun, Banten. Identifikasi terhadap kapang MFW-08-09 dilakukan secara molekuler melalui PCR dengan menggunakan primer ITS1 dan ITS4.  Uji antitumor dilakukan dengan metode MTT (3-(4,4-dimethylthiazol-2-yl)-2,5-diphenyl-tetrazolium bromide) dengan menggunakan sel kanker payudara T47D.  Profil metabolit yang dihasilkan dilihat dengan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dan kromatografi lapis tipis (KLT).  Fraksinasi senyawa aktif dilakukan dengan kolom vakum silika gel. Hasil identifikasi molekuler memperlihatkan bahwa kapang MFB-08-09 merupakan kapang Aspergillus sp. dengan tingkat kemiripan sebesar 99%. Hasil uji MTT menunjukkan bahwa ekstrak miselium memiliki aktivitas sitotoksik yang lebih kuat dibanding dengan ekstrak broth dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 55,6 µg/ml dan 222,8 µg/ml.  Kromatogram KCKT memperlihatkan bahwa senyawa yang terkandung dalam ekstrak miselium dan broth merupakan campuran senyawa yang sangat beragam.  Hasil fraksinasi terhadap ekstrak miselium memperlihatkan bahwa senyawa aktif yang terkandung di dalamnya merupakan golongan senyawa non polar dan memiliki perpendaran yang kuat di bawah UV 254 nm sehingga diperkirakan memiliki ikatan rangkap terkonjugasi.

Kata kunci : aktivitas sitotoksik, fraksinasi, kapang laut, Aspergillus sp.

KUALITAS BIODIESEL DARI MINYAK IKAN LEMURU

Putri Wullandari dan Sugiyono
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
E-mail: utides@gmail.com

Telah dilakukan penelitian mengenai pengolahan biodiesel dari minyak ikan lemuru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas biodiesel yang dihasilkan dari minyak ikan lemuru dibandingkan dengan standar (SNI 04-7182-2006). Metode pembuatan biodiesel mengacu pada Pinto et al. (2005) dengan cara esterifikasi menggunakan methanol dan katalis asam sulfat dan  transesterifikasi menggunakan methanol dengan katalis KOH. Pada penelitian ini proses esterifikasi dilakukan 2 kali dilanjutkan dengan transesterifikasi berdasarkan pada hasil terbaik penelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas biodiesel dari minyak ikan lemuru sebagian besar sudah sesuai dengan standard yang diukur dengan parameter kualitas biodiesel, yaitu densitas pada suhu 40°C (0,8745 g/ml), viskositas kinematik pada suhu 40°C (2,971 cSt), kadar gliserol (0,0133 %w), bilangan asam (0,286 mg KOH/g), kadar abu sulfat (0), kadar air dan sedimen (< 0,05 %v), dan titik nyala (170°C).

Kata kunci : biodiesel, minyak ikan lemuru, kualitas biodiesel, esterifikasi, transesterifikasi

AKTIFITAS PROTEASE EKSTRASELLULER KHAMIR LAUT TERHADAP PROTEIN IKAN PEPEREK (Leiognathus sp)

Sukoso, Muhamad Firdaus, Shafi Dhaifatul M
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya,
Jalan Veteran,  Malang.
 Email: mrsukoso@yahoo.com

PENGGUNAAN NaCl DENGAN KONSENTRASI YANG BERBEDA SEBAGAI PREBLENDING PADA PENGOLAHAN SOSIS IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus sp)

Happy Nursyam
Universitas Brawijaya

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perlakuan preblending dengan cara penambahan NaCl yang  terbaik dalam  menghasilkan sosis ikan kakap merah yang berkualitas. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan faktor dan variabel ikan kakap merah tanpa penambahan NaCl sebagai control (0%), dengan penambahan NaCl 1%, 2%, dan 3%. Pengamatan dilakukan terhadap kadar protein, lemak, air,  abu, WHC, tekstur, SEM dan organoleptik (rasa, warna, tekstur, bau).  Dari hasil penelitian didapatkan bahwa penambahan konsentrasi NaCl yang berbeda memberi pengaruh yang nyata terhadap kadar air, kadar protein, kadar abu, kadar lemak, nilai tekstur, nilai WHC dan nilai organoleptik sosis ikan kakap merah.  Sosis yang diberi penambahan konsentrasi NaCl sebesar 1% merupakan perlakuan yang terbaik, yaitu memiliki kadar air sebesar 58,69%; kadar protein 11,46%; kadar abu 4,57%; kadar lemak 19,90%; nilai tekstur 6,17 N dan nilai WHC 0,3%. Kualitas organoleptik dengan range 1-5 diperoleh nilai warna sebesar 3,95 (agak terang), tekstur sebesar 3,70 (agak keras), rasa sebesar 2,55 (netral) dan bau sebesar 3,15 (agak menyukai). Hasil foto SEM menunjukkan bahwa sosis dengan perlakuan prelending NaCl 1 % memberikan tekstur yang kompak. Disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut tentang penggunaan kadar NaCl antara 1 % sampai dengan 2 %..

PENANGANAN  PANEN  BIOMASSA MIKROALGAE LAUT JENIS CHLORELLA SP. DAN  SPIRULINA PLAENSIS SEBAGAI BAHAN PAKAN DAN PANGAN

Sri Amini  dan  Ijah Muljanah
Balai Besar Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Jakarta

Penelitian penanganan panen biomassa mikroalgae Laut Jenis Chlorella,sp dan  Spirulina platensis sebagai  Bahan Pakan dan Pangan telah dilakukan dilaboratorium Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi  Kelautan dan Perikanan. Penelitian meliputi pertumbuhan kultivasi Chlorella,sp dan  Spirulina platensis  yang dikultivasi didalam bak fiber ukuran 0,5 ton menggunakan air laut kadar garam 15 ppt ditempatkan diluar ruangan dengan cahaya matahari dan diaerasi terus menerus untuk menghomogenkan sel-sel dan media kulturnya. Hasil laju pertumbuhan dari kedua jenis mikroalgae tersebut tertinggi terdapat pada jenis Spirulina platensis k = 1,82  pada umur 3 hari.  Penanganan pemanenan biomassa    Chlorella,sp.  dilakukan menggunakan flokulan Na OH dan  Spirulina platensis  menggunakan fillterbag.Sebagai bahan baku pakan dan pangan biomassa mikroalga harus   mempunyai pH 7,0.  Pengeringan biomassa  kedua jenis mikroalga tersebut dilakukan  menggunakan matahari, ruang AC , freeze dryer  dan  spray dryer dengan hasil produksi biomassa kering tidak berbeda nyata. Produksi 1 ton biomassa  Chlorella,sp dan  Spirulina platensis dari  media air laut, diperoleh hasil  1 kg biomassa basah dan 300 gram  biomassa kering. Kandungan biokimia  mikroalgae  hasil panen meliputi lemak,protein,karbohidrat dan  gula tertinggi terdapat pada jenis Spirulina platensis ( lemak 2,06 %, protein 40,63 %, karbohidrat 23,30 % dan   gula 4,78% ). Sedangkan kandungan asam lemak tidak jenuh   tertinggi terdapat  pada Spirulina platensis .

Kata Kunci : Chlorella,sp , Spirulina platensis, pertumbuhan,  panen, pengeringan,  biokimia.

DETEKSI KEBERADAAN SPESIES DINOFLAGELLATA PENYEBAB HARMFUL ALGAL BLOOMS (HAB) di lokasi budidaya kerang hijau (Mytilus viridis), kamal muara, jakarta UTARA

Riani Widiarti*, Mulyani**, Jane Sarah Giat’’
*Staf Pengajar dan Peneliti di Laboratorium Biologi Kelautan Departemen Biologi, FMIPA UI Depok
**Mahasiswa Departemen Biologi, FMIPA-UI Depok
Email: rianiwid@yahoo.co.id

Dinoflagellata merupakan salah satu anggota kelompok fitoplankton, yang selain merupakan produsen primer utama di lingkungan perairan, juga dapat menyebabkan Harmful Algal Blooms (HAB). Istilah HAB mengacu pada suatu fenomena dimana peningkatan populasi alga di perairan laut atau payau dapat menyebabkan kematian masal ikan, kontaminasi produk laut oleh toksin, dan mengubah ekosistem sekitar menjadi suatu keadaan yang dianggap berbahaya oleh manusia. Penelitian terhadap keberadaan spesies dinoflagellata penyebab HAB telah dilakukan pada bulan Juli 2010, di lokasi budidaya kerang hijau (Mytilus viridis) Kamal Muara, Jakarta Utara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi keberadaan spesies dinoflagellata penyebab HAB, dan memperoleh informasi awal mengenai potensi dampak HAB pada lokasi budidaya tersebut. Sampel dinoflagellata diambil menggunakan plankton net dengan ukuran mata jaring 20 mm yang ditarik secara vertikal dari kedalaman 2 meter. Selain itu dilakukan pula pengukuran terhadap parameter lingkungan dan uji awal toksisitas kerang hijau dari perairan sekitar. Hasil penelitian menunjukkan ditemukannya spesies dinoflagellata penyebab HAB di perairan lokasi budidaya kerang hijau walaupun dalam jumlah yang tidak melimpah (blooming), yang didominasi oleh Ceratium furca dan Prorocentrum micans (penyebab Red Tide), serta Dinophysis spp. (penyebab Diarrhetic Shellfish Poisoning). Hal tersebut menunjukkan bahwa keberadaan spesies tersebut di lokasi penelitian berpotensi membahayakan kesehatan manusia, usaha budidaya, maupun ekosistem sekitar. Oleh sebab itu, perlu dilakukan monitoring secara berkala di lokasi budidaya kerang hijau Kamal Muara, Jakarta Utara, sebagai upaya membentuk suatu sistem peringatan dini guna mencegah dampak negatif yang mungkin ditimbulkan.
                     
Kata Kunci : dinoflagellata, harmful algal blooms, kerang hijau, Kamal Muara.

KARAKTERISTIK TEPUNG ATC RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii DENGAN PERLAKUAN SUHU EKSTRAKSI  DAN UMUR PANEN BERBEDA
Mahbub Labiq Furada, Widodo Farid Ma’ruf, Eko Nurcahya Dewi
Program studi Teknologi Hasil Perikanan, Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu proses ekstraksi dan umur panen rumput laut K.alvarezii terhadap karakteristik tepung ATC yang dihasilkan. Materi yang digunakan diambil dari perairan Bandengan, Jepara. Perlakuan yang diberikan berupa perbedaan suhu ekstraksi 700 C dan 800 C dan perbedaan lama umur panen rumput laut 35, 40 dan 45 hari. Rumput laut K.alvarezii diekstrak dengan menggunakan larutan KOH 6% selama 4 jam. Rumput laut yang telah diekstrak berupa ATC chips dinetralkan pH-nya dan kemudian dilakukan penjemuran. ATC chips yang telah kering digiling dan disaring dengan saringan ukuran 40 mesh kemudian dilakukan pengujian karakteristik berupa rendemen dan kekuatan gel. Uji kekuatan gel dilakukan menggunakan alat texture analyzer. Hasil uji rendemen menunjukan bahwa penggunaan suhu ekstraksi 800 C menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dibanding suhu 700 C, terjadi peningkatan prosentase rendemen ATC bersamaan dengan bertambahnya umur panen. Hasil uji kekuatan gel menunjukkan bahwa penggunaan suhu ekstraksi 700 C menghasilkan kekuatan gel yang lebih tinggi dibanding suhu 800 C, kekuatan gel tertinggi didapatkan pada umur panen rumput laut 40 hari.
Kata Kunci : K.alvarezii, Suhu Ekstraksi, Umur Panen, Karakteristik ATC