PROSIDING TAHUN 2009

BIDANG PENANGKAPAN

PK-01

KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN IKAN DENGAN JERMAL
DAN BUBU WARING DI SUNGAI KAPUAS KALIMANTAN BARAT

Asyari
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang
E-mail : asyari_muaka@yahoo.com

Abstrak

Jermal dan bubu waring banyak digunakan oleh masyarakat nelayan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas untuk menangkap ikan dari berbagai ukuran untuk pakan ikan toman dalam keramba.Akibatnya banyak ikan kecil atau benih dari berbagai jenis ikan tidak sempat menjadi besar dan berkembang biak. Penelitian tentang komposisi hasil tangkapan ikan dengan jermal dan bubu waring di Sungai Kapuas Kalimantan Barat telah dilakukan pada bulan April dan Juli (musim hujan dan awal musim kemarau) 2007 dengan metoda survey. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive (dipilih) di dua lokasi: di Sungai Tawang (anak sungai Kapuas) yaitu di Desa Sungai Gandal dan Nanga Tengkidap dan kawasan Danau Sentarum yaitu di Danau Sambar (Desa Sambar Indah) dan Danau Leboyan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis dan komposisi hasil tangkapan ikan dengan jermal di Desa Sungai Gandal didapatkan 17 jenis ikan dengan berat total 75 kg/hari. Hasil tangkapan yang dominan adalah ikan nuayang (Pseudeutropius brachypopterus) 17,4%, jenis seluang (Rasbora. spp) 16,1% dan lais-laisan (Kryptopterus. spp) sebesar 13,4%. Untuk bubu waring di Nanga Tengkidap sebanyak 19 jenis ikan dengan berat total 115 kg/hari, yang dominan adalah ikan nuayang 15,7%, ikan lais-laisan 12,2% dan jenis seluang 11,3%. Hasil tangkapan ikan dengan alat tangkap jermal di Danau Sambar adalah sebanyak 25 jenis ikan dengan berat total 90 kg/hari, didominasi oleh ikan nuayang, bilis (Clupeichthys bleekeri) dan  miadin (Osteochilus intermedius). Sedangkan di Danau Leboyan dengan alat tangkap bubu waring adalah 28 jenis ikan dengan berat total 150 kg/hari. yang dominant tertangkap adalah miadin, nuayang dan entukan (Thynnichthys thynnoides).

Kata kunci : Komposisi, jermal, bubu waring, Sungai Kapuas.  

PK-02

KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN UDANG PEPE (Metapenaeus ensis)
DENGAN ALAT TANGKAP TUGUK TANCAP (Filtering Device)
DI ESTUARIA BANYUASIN SUMATERA SELATAN

Khoirul Fatah dan Asyari
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang
Jl. Beringin No 308 Mariana Telp (0711) 537194
E-mail : asyari_muaka@yahoo.com

Abstrak

Perairan estuaria merupakan wilayah pertemuan air tawar dari sungai dengan air laut. Dan sangat dipengaruhi oleh air tawar dan air laut, sehinga mempunyai dinamika perairan yang unik, mempunyai karakteristik habitat yang khas dan dinamis, keanekaragaman hayati tinggi, aktivitas perikanan tangkap dengan bermacam jenis alat tangkap cukup berkembang. Penelitian ini untuk mengetahui spesifikasi, cara operasi dan hasil tangkapan udang pepe (Metapenaeus ensis) dilakukan dengan metode survey pada tahun 2007 di perairan estuaria Banyuasin, Sumatera Selatan. Teknik pengambilan data hasil tangkapan dilakukan dengan pengambilan langsung dilapangan dan pencatatan yang dilakukan oleh responden. Data hasil tangkapan dibuat tabulasi data kemudian dibuat dalam bentuk grafik. Hasil penelitian menunjukan bahwa alat tangkap tuguk tancap adalah alat tangkap statis yang tersusun atas dua komponen, kerangka kayu nibung dan jaring kantong berbentuk kerucut, bersifat pasif, di pasang memotong aliran air di badan sungai untuk menghadang dan menyaring udang pepe berserta ikan yang hanyut bersama arus air pasang atau surut. Alat tangkap ini beroperasi 5 sampai dengan 6 jam dalam sehari baik pada waktu pasang maupun surut. Satu unit tuguk terdiri dari 6 tuguk yang tersusun berbaris memotong arus sungai. Udang pepe yang tertangkap mempunyai ukuran 1 s.d. 3 cm dan mempunyai berat dalam 100 gr terdiri dari 200 ekor dan rataan hasil tangkapan udang pepe tertinggi yaitu pada bulan September mencapai 18,367 kg/unit/hari dengan jumlah 36733 ekor dan terendah pada bulan Mei yaitu 5,75 kg/unit/hari dengan jumlah 11500 ekor. Sedangkan komposisi tertangkap udang pepe juga tertinggi pada bulan September 18,08 % dan yang terendah pada bulan Mei yaitu 4,53 %.

Kata kunci : Tuguk tancap, udang pepe, estuaria.

PK-03

UPAYA, KELIMPAHAN DAN KOMPOSISI JENIS IKAN DAN UDANG YANG TERTANGKAP GUMBANG (FILTERING DEVICE) DI PERAIRAN ESTUARIA SUNGAI KAMPAR PROVINSI  RIAU

Rupawan
Balai Riset Perikanan Perairan Umum
Jalan Beringin N0.308 Mariana  (30763) Palembang
Email : rpw_brppu@yahoo.co.id

Abstrak

Perairan estuaria merupakan zona campuran massa air laut dan air tawar. Secara ekologi mempunyai karakteristik yang khas dan dinamis dengan keanekagaman dan kelimpahan sumberdaya ikan yang tinggi. Pemanfaatan sumberdaya ikan melalui aktivitas penangkapan sangat berkembang, menggunakan beberapa jenis alat tangkap diantaranya “Gumbang”. Alat tangkap “Gumbang” menangkap dengan cara menghadang dan menyaring ikan dan udang yang hanyut bersama arus air pasang atau surut. Penelitian untuk mendapatkan data informasi upaya penangkapan, kelimpahan dan komposisi hasil tangkapan “Gumbang” telah dilakukan diperairan estuaria sungai Kampar pada tahun 2008. Penelitian dilakukan dengan metoda survei yaitu pengamatan lapangan, wawancara dan nelayan enumerator untuk pencatat hasil tangkapan harian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya penangkapan (trip harian) berkisar 15–30 trip per bulan atau rata-rata 25,11±3,0 trip/bulan, sepanjang tahun. Kelimpahan hasil tangkapan 9,65±2,28 kg/unit/ trip terdiri dari kelompok ikan 6,99 kg (72,43 %), kelompok udang 2,58 kg (27,57%). Jenis ikan dan udang yang tertangkap berjumlah 28 jenis terdiri dari 23 jenis ikan dengan pesentase jumlah ekor (37%) yang didominasi ikan Lome (Harpodon nehereus) dan 5 jenis udang dengan persentase jumlah ekor (63%) yang didominasi Udang Duri (Aphases sp). Kisaran nilai parameter fisika-kimia air lokasi operasional  Gumbang ;  salinitas: 12 – 17,5 ppt, pH: 7,0 -7,5, kecerahan air : 50-71 cm, kecepatan arus air 0- 0,525 m/detik, kedalaman 7,5 – 11,0 meter.

Kata kunci : Upaya, kelimpahan, komposisi jenis, gumbang, estuari Kampar.  

PK-04

VARIASI MUSIMAN HASIL TANGKAPAN IKAN TONGKOL
(Euthynnus sp.; Fam. SCOMBRIDAE) DI LAUT JAWA

Suwarso
Balai Riset Perikanan Laut
Jl. Muara Baru Ujung, Komplek Pelabuhan Samudera Jakarta 14440 Tlp.: 085216980875
E-mail: swarso@yahoo.co.id

Abstrak

Ikan tongkol (Euthynnus sp.) adalah ikan kosmopolitan sebagai anggota komunitas ikan pelagis hampir di seluruh perairan. Di Laut Jawa, ketika hasil tangkapan jenis-jenis dominan ikan pelagis kecil oleh pukat cincin semakin mengalami penurunan (1995-2005), hasil tangkapan ikan tongkol menunjukkan peningkatan, seiring dengan perubahan dominasi spesies ikan pelagis. Kapal penangkap yang digunakan relatif kecil (<10 GT) dan beroperasi di zona tradisionil. Kajian tentang fluktuasi hasil tangkapan ikan tongkol (Euthynnus sp.) di perairan Laut Jawa berdasarkan data hasil tangkapan per kapal alat tangkap gill net yang mendarat di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan selama tahun 2006 sampai 2008. Dari total 296 unit kapal yang aktif melakukan penangkapan, jumlah trip kapal gill net yang mendarat antara 36-122 trip/bulan. Ikan tongkol tertangkap sepanjang tahun dengan hasil tangkapan berfluktuasi secara musiman. Laju tangkapan ikan tongkol antara 350 kg/trip sampai 5,1 ton/trip (rata-rata 2,5 ton/trip); hasil tangkapan maksimum dapat mencapai 20 ton lebih. Puncak musim tangkapan terjadi dua kali dalam setahun, yaitu pada akhir musim barat (antara bulan Januari-Maret) dan pada awal musim peralihan (Agustus-September); pada puncak musim timur (Juni) laju tangkapan (kg/trip) rendah. Sebaran nilai-nilai statistik dan trend hasil tangkapan mengindikasikan suatu sistim perikanan yang masih menguntungkan secara ekonomi dan biologi.

Kata kunci: Perikanan gill net, hasil tangkapan, ikan tongkol, Laut Jawa.

PK-05

POTENSI DAN PEMANFAATAN IKAN PELAGIS KECIL
DI KABUPATEN KEBUMEN

Andi Satriawan, Suradi Wijaya Saputra dan Anhar Solichin
Universitas Diponegoro, Jl. Prof. H. Soedarto, SH Tembalang
Telp. /Fax.(024) 7474698; Semarang – 50275

Abstrak

Ikan pelagis kecil merupakan salah satu potensi sumberdaya yang penting pada perikanan laut. Diperlukan studi tentang sumberdaya ikan pelagis, yang diharapkan dapat membantu dalam pembuatan suatu konsep pengelolaan sumberdaya ikan yang berbasis lingkungan dan berkelanjutan. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah mendapatkan informasi potensi dan kelimpahan ikan pelagis kecil ditinjau dari indeks produksi per satuan usaha (CPUE), aspek biologi meliputi struktur ukuran ikan yang tertangkap, faktor kondisi, ukuran pertama kali tertangkap, dan komposisi jenis ikan pelagis kecil yang tertangkap, serta prinsip-prinsip pengelolaan ikan pelagis kecil di Kabupaten Kebumen. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September  selama 30 hari di ketiga TPI Kabupaten Kebumen yaitu TPI Argopeni, TPI Karangduwur, dan TPI Pasir. Metode yang digunakan adalah survei untuk mendapatkan data primer dan sekunder. Pengambilan data primer dilakukan dengan mencatat dan mencari informasi secara langsung di tiga TPI Kabupaten Kebumen. Data primer yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu komposisi, jumlah, dan berat ikan pelagis kecil yang tertangkap, alat tangkap yang digunakan, trip, hasil tangkapan per trip ,dan nilai produksi per trip, dan ukuran ikan yang tertangkap (panjang-berat). Data sekunder yang diperoleh dari Laporan Tahunan TPI di Kebumen, dan Laporan Tahunan Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Kebumen. Data sekunder ini diantaranya meliputi data produksi ikan-ikan pelagis bulanan dan tahunan selama 11 tahun (1998-2008). Analisa data primer untuk panjang-berat menggunakan regresi sederhana menyangkut kondisi ikan dan faktor kondisi menyangkut bentuk tubuh ikan, Lc menggunakan kurva logistik baku menyangkut ukuran peretama kali tertangkap. Analisa data sekunder menggunakan CPUE tahunan menyakut indeks kelimpahan. Hasil penelitian menunjukkan tiga jenis ikan pelagis kecil dominan yaitu ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta), Selar Bentong (Selar crumenophthalmus),dan ikan Lemuru (Sardinella lemuru) memiliki panjang pertama kali tertangkap 216,5 mm 177 mm, dan 164,5 mm. Ikan dalam kondisi kurang pipih, pertumbuhan bersifat allometrik negatif. CPUE menunjukkan Ikan Pelagis Kecil masih kurang optimal pemanfaatannya.

Kata kunci: Aspek biologi, produksi per satuan usaha (CPUE), pelagis kecil.

 


PK-06

EFEKTIVITAS PENANGKAPAN IKAN KERAPU DENGAN ARTIFICIAL BAIT

Fitri, A.D.P.1), A. Purbayanto2), dan J. Santoso3)
1)Jurusan Perikanan, FPIK-UNDIP
2)Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, FPIK-IPB
3)Departemen Teknologi Hasil Perikanan, FPIK-IPB
E-mail : aristi_dian@undip.ac.id; purbayanto@yahoo.com; joko2209@yahoo.com

Abstrak

Penggunaan umpan dalam operasi penangkapan ikan berfungsi untuk menarik perhatian ikan sehingga dapat meningkatkan efektivitas penangkapan. Pembuatan artificial bait (formulasi umpan buatan) bertujuan untuk dapat menggantikan peran umpan alami yang dianggap semakin berkurang ketersediaannya di alam dan musiman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat efektivitas formulasi artificial bait pada bubu terhadap tangkapan ikan kerapu. Formulasi artificial bait yang digunakan selama penelitian, terdiri dari: jenis A (fish oil 15%) dan jenis B (fish oil 35%). Sebagai pembanding digunakan umpan alami, yaitu: ikan, udang dan gonad bulu babi. Data yang diperoleh meliputi jumlah, berat tubuh dan panjang tubuh ikan kerapu. Efektivitas penangkapan ikan kerapu pada malam hari lebih tinggi dibandingkan pada siang hari. Formulasi artificial bait jenis B memiliki nilai efektivitas penangkapan lebih tinggi dibandingkan umpan alami (gonad bulu babi). Dapat dikatakan bahwa formulasi artificial bait jenis B dapat mensubstitusi umpan alami (gonad bulu babi)

Kata kunci:  Efektivitas penangkapan, ikan kerapu, formulasi artificial bait.

PK-07

DINAMIKA PEMANFAATAN DAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA
IKAN LEMURU DI SELAT BALI

Hakim Miftakhul Huda dan Yesi Dewita Sari
Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
E-mail : hamihud@yahoo.co.id & yesidewita@yahoo.com

Abstrak

Ikan lemuru di Selat Bali merupakan komoditas perikanan yang memberikan kontribusi terbesar dalam jumlah produksi perikanan di Selat Bali. Akan tetapi, beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan lemuru di Selat Bali telah mengalami gejala overfishing. Sehingga jika tidak segera dilakukan pengelolaan yang tepat akan mengancam kelestarian lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dinamika pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya ikan lemuru di Selat Bali. Metode penulisan didasarkan atas hasil survai dan sintesa penelusuran literatur-literatur yang tersedia terkait dengan fokus kajian di atas. Sedangkan analisis dilakukan secara deskriptif-intepretatif berdasarkan tabel maupun hasil diskusi dengan responden. Dalam perjalanannya, pemanfaatan sumberdaya ikan lemuru di Selat Bali dihiasi dengan berbagai konflik pemanfaatan, pelanggaran penggunaan alat tangkap, pelanggaran daerah penangkapan dan upaya penangkapan yang tidak terkendali. Menurut Gulland (1983), opsi strategi pengelolaan yang bisa dilakukan dalam rangka menjaga kelestarian sumberdaya ikan lemuru di Selat Bali adalah pembatasan alat tangkap, penutupan daerah penangkapan ikan, penutupan musim penangkapan ikan, pemberlakuan kuota penangkapan ikan, pembatasan ukuran ikan yang menjadi sasaran dan penetapan jumlah hasil tangkapan setiap kapal. Berdasarkan strategi pengelolaan tersebut maka diperlukan kajian lebih lanjut untuk teknis operasionalnya dan didukung dengan payung hukum yang kuat.

Kata kunci : Dinamika pemanfaatan dan pengelolaan, sumberdaya ikan lemuru, Selat Bali.

PK-08

PENGARUH WARNA BUBU TERHADAP HASIL TANGKAPAN
IKAN KARANG POTENSIAL BUDIDAYA DI PERAIRAN PULAU
PODANG-PODANG KABUPATEN PANGKEP SULAWESI SELATAN

Abdul Malik Tangko
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros

Abstrak
           
Penelitian dilakukan di perairan Pulau Podang-Podang Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan menggunakan  9 buah bubu yang terbuat dari kawat berukuran panjang, lebar dan tinggi  masing-masing 100 x 40 x 60 cm. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh warna bubu terhadap jumlah dan berat hasil tangkapan ikan karang. Sebagai perlakuan digunakan 2 macan warna bubu  yaitu bubu yang dicat dengan warna merah dan bubu yang dicat dengan warna hitam dengan pilox, sedangkan  sebagai kontrol digunakan bubu tanpa diberi warna, dan setiap perlakuan terdiri dari tiga ulangan yang dirancang  menggunakan rancangan acak kelompok. Hasil analisis ragam terhadap hasil tangkapan ikan karang menunjukkan bahwa perlakuan warna bubu  merah dan warna bubu hitam berbeda tidak nyata (P>0,05), begitu pula keduanya berbeda tidak nyata terhadap hasil tangkapan bubu kontrol. Namun secara angka jumlah dan berat hasil tangkapan ikan karang tertinggi terjadi pada perlakuan bubu berwarna merah dan terendah terjadi pada bubu tanpa diberi warna (kontrol).

Kata kunci:  Warna bubu, hasil tangkapan, ikan karang, perairan, Sulawesi Selatan.

PK-09

KAJIAN PERIKANAN JARING GRANDONG DI KOTA PEKALONGAN

Ika Andriani, Abdul Ghofar, dan Suradi Wijaya Saputra
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro Semarang

Abstrak

Jaring Grandong merupakan modifikasi dari Gill net yang mulai digunakan oleh nelayan di Kota Pekalongan pada tahun 2005. Informasi mengenai jaring Grandong tersebut masih kurang, sehingga diperlukan suatu kajian untuk memperoleh informasi mengenai deskripsi hasil tangkapan dan efektifitas upaya penangkapan dengan jaring Grandong. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status jaring Grandong, komposisi jenis ikan dan ukuran panjang tertangkap, kecenderungan CPUE, serta musim penangkapan ikan hasil tangkapan jaring Grandong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan metode pengambilan sampel random sampling method. Materi yang digunakan adalah ikan hasil tangkapan jaring Grandong yang didaratkan di PPN Pekalongan. Data primer berupa ukuran panjang ikan, meliputi 5 individu tiap spesies selama 31 hari. Sedangkan data sekunder berupa data produksi dan jumlah upaya penangkapan jaring Grandong selama kurun waktu tiga tahun terakhir (2006-2008) yang diperoleh dari PPN Pekalongan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2008 di TPI PPN Pekalongan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa jaring grandong merupakan modifikasi Gillnet. Diperoleh sampel ikan jaring Grandong sebanyak sembilan spesies berjumlah 890 ekor. Ukuran rata-rata panjang ikan yang tertangkap yaitu ikan Tongkol (Euthynnus sp.) 240-470 mm (83,69%), ikan Tengiri (Scomberomerus sp.) 400-750 mm (3,30%), ikan Cucut (Carcharhinus sp.) 250-1380 mm (1,26%), ikan Layaran (Istiophorus sp.) 700-1600 mm (1,98%), ikan Remang (Congresox sp.) 1000-1300 mm (2,07%), ikan Manyung (Netuma sp.) 380-700 mm (5,58%), ikan Kakap Merah (Lutjanus sp.) 260-450 mm (0,79%), ikan Bawal Hitam (Parastromateus sp.) 200-300 mm (0,99%), dan ikan Pari (Dasyatis sp.) 250-500 mm (0,33%). Ukuran panjang rata-rata ikan tersebut termasuk layak tangkap dengan menggunakan jaring Grandong yang berukuran 4 inch. CPUE jaring Grandong selama tiga tahun (2006-2008) cenderung menurun. Musim penangkapan ikan Tongkol (Euthynnus sp.) adalah bulan Januari, ikan Tengiri (Scomberomerus sp.) bulan Mei, ikan Cucut (Carcharhinus sp.) bulan April, ikan Layaran (Istiophorus sp.) bulan Mei, ikan Remang (Congresox sp.) bulan Nopember, ikan Manyung (Netuma sp.) bulan Juni, ikan Kakap Merah (Lutjanus sp.) bulan Januari, ikan Bawal Hitam (Parastromateus sp.) bulan Maret, dan ikan Pari (Dasyatis sp.) bulan September.

Kata kunci: Jaring Grandong, komposisi jenis ikan, panjang ikan, CPUE, musim penangkapan ikan.

PK-10

KOMPOSISI DAN BIOMASA IKAN ESTUARINE DI TANGERANG

Karsono Wagiyo
Peneliti pada Balai Riset Perikanan Laut
E-mail: K_Giyo@yahoo.co.id

Abstrak

Estuarine merupakan daerah ekoton yang subur dan berfungsi sebagai daerah asuhan berbagai jenis ikan. Estuarine di Tangerang mengalami tekanan ekploitasi tinggi sehingga komposisi dan biomasa ikan perlu diketahui untuk pengelolaan sumberdaya secara lestari. Pada tahun 2008 telah dilakukan penangkapan untuk mengetahui komposisi dan biomasa dengan menggunakan boat seine net (bondet) pada 2 kondisi tidal dan musim berbeda pada 6 estuarine di Tangerang. Hasil penelitian ditemukan 59 jenis. Jumlah jenis pada saat surut lebih rendah dibandingkan saat pasang dan pada musim peralihan I lebih tinggi dibandingkan musim peralihan II. Komposisi berdasarkan komunitas, ikan demersal meliputi 34,36 % berat dan 37,86 5 ekor. Ikan pelagis meliputi 31,38 % berat dan 23,62 % ekor. Non ikan 44,22 % berat dan 50,29 % ekor. Komposisi berdasarkan orientasi; pada musim peralihan I terdiri dari obligate 54 %, temporal 30 % dan opurtunis 16 %. Pada musim peralihan II; obligate 33,05 %, temporal 65,55 % dan opurtunis 0,01 %. Biomassa ikan terkecil 0,0019 kg/m². ditemukan pada musim peralihan I saat pasang, terbesar 0,052 kg/m², ditemukan pada musim peralihan II pada saat surut. Biomassa rata-rata pada saat surut 0,023 kg/m²dan saat pasang 0,11 kg/m². Kepadatan terbesar 560000 ekor/1000 m² pada musim peralihan II pada saat surut, terkecil 90 ekor/1000 m² pada musim peralihan satu pada saat pasang. Kepadatan rata-rata saat surut 17000 ekor/1000 m² dan saat pasang 2000 ekor/1000 m².

Kata kunci : Estuari, ikan, komposisi, biomassa dan Tangerang.

PK-11

PERKEMBANGAN HASIL TANGKAPAN ARMADA PUKAT CINCIN
PEKALONGAN YANG BEROPERASI DI LAUT CINA SELATAN

Achmad Zamroni
Balai Riset Perikanan Laut Jakarta
E-mail : ironzammiden@yahoo.com

Abstrak

Pukat cincin merupakan alat tangkap yang mempunyai peranan penting dalam pengusahaan sumberdaya perikanan di Laut Jawa, terutama daerah Pekalongan. Armada pukat cincin mengalami perkembagan yang sangat pesat sejak tahun 1976, sehingga daerah penangkapannya juga menjadi semakin luas dan mencapai perairan Laut Cina Selatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengemukakan perkembangan hasil tangkapan dan upaya dari armada pukat cincin yang mendarat di PPN Pekalongan dengan daerah operasi di Laut Cina Selatan dari tahun 2003 – 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa spesies ikan Layang (Decapterus spp.) merupakan spesies yang dominan tertangkap, yaitu lebih dari 60% dari total hasil tangkapan tiap tahun. Jumlah trip tiap tahunnya cenderung mengalami penurunan yang cukup signifikan, terutama setelah terjadinya kenaikan harga BBM pada bulan November 2005. Penurunan jumlah trip ini berbanding terbalik dengan lama hari di laut yang justru mengalami peningkatan menjadi sekitar lebih dari 60 hari. Laju tangkap terus mengalami penurunan dari 858,4 kg/hari pada tahun 2004 menjadi sebesar 470,6 kg/hari pada tahun 2007. Fluktuasi laju tangkap tahunan menunjukkan bahwa laju tangkap tertinggi terjadi pada musim timur.

Kata kunci : Pukat cincin, Laut Cina Selatan, jumlah trip, laju tangkap.

PK-12

HUBUNGAN TINGGI AIR DENGAN KEGIATAN PENANGKAPAN IKAN

DI RAWA BANJIRAN SUNGAI MUSI SUMATERA SELATAN

Khoirul Fatah
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang
Jl. Beringin No 308 Mariana Telp (0711) 537194

Abstrak

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dinamika tinggi air dengan kegiatan penangkapan ikan di rawa banjiran Sungai Musi dilakukan dengan metode survei. Pengamatan dilakukan terhadap alat tangkap, waktu pengoperasian dan hasil tangkapan di 6 perairan yang ditentukan secara purposif. Hasil peneltian menunjukkan di Lebung Pasunde digunakan 4 macam alat tangkap, Lebung Jawi Rangkang digunakan  5 macam alat tangkap. Di Sungai Sumeler digunakan 4 macam alat tangkap, di Sungai Jawi digunakan 5 macam alat tangkap, di Lebak Sungai Mati digunakan 3  macam alat tangkap dan di Lebak Patra digunakan  2 macam alat tangkap. Urutan alat tangkap yang digunakan telah mengikuti pola dinamika tinggi air begitu juga hasil tangkapan per orang per bulan. Sedangkan dilihat dari hasil tangkapan tertinggi dari ketiga tipe rawa banjiran (lebak, lebung dan sungai) yaitu tipe sungai merupakan tipe yang paling tinggi produktivitas hasil tangkapannya baik di rawa banjiran bagian tengah maupun hilir. Puncak penangkapan tipe sungai di rawa banjiran bagian tengah yaitu bulan Agustus mencapai kisaran 2034 kg/orang/bulan dan di rawa banjiran bagian hilir bulan September mencapai kisaran 18394,3 kg/orang/bulan.

Kata kunci  : Rawa banjiran, alat tangkap, dinamika tinggi air. 

PK-13

STUDI KEBERLANJUTAN PERIKANAN GILL NET
DI PERAIRAN RAWAPENING KABUPATEN SEMARANG
(APLIKASI PENDEKATAN RAPFISH)

Ari Wisnu Sanjaya1, Imam Triarso2; Asriyanto2; dan Bambang Argo Wibowo2
1 Mahasiswa Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan FPIK, UNDIP
2 Staf Pengajar Program Studi PSP, Jurusan Perikanan, FPIK, UNDIP

Abstrak

Keberlanjutan (Sustainabiity) merupakan kata kunci dari pembangunan perikanan di seluruh dunia. Namun, keberlanjutan agak sulit untuk dianalisis, khususnya ketika dihadapkan pada kondisi mengintegrasikan seluruh informasi data baik ekologi, ekonomi dan sosial. Hingga saat ini, informasi dasar bagi formulasi kebijakan pembangunan keberlanjutan subsektor perikanan tangkap di Indonesia masih banyak didasarkan pada hasil pengkajian stok sumberdaya (stock assessment) spesies target. Pendekatan stock assessment  ini sangat membutuhkan informasi yang subtansial, survey independen dan model yang rumit serta banyak dinilai tidak cukup memadai untuk menilai kelestarian sumberdaya sangat bersifat multi-dimensi. Oleh karena itu penelitian ini mencoba menggunakan pendekatan lain berupa metode Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH). RAPFISH adalah suatu metode atau pendekatan berbasis statistik multidimension scalling (MDS), yang berdasarkan hasil penelitian di beberpa negara telah diketahui dengan cepat, mudah dan akurat serta mampu mengukur secara multi-dimensi status keberlanjutan perikanan tangkap. Kegiatan penelitian ini dilakukan mulai sepanjang pertengahan Desember 2008 hingga Januari 2009 di Rawapening Kabupaten Semarang. Pemilihan lokasi dan jenis perikanan tangkap ini dilandasi oleh penurunan jumlah produksi dan banyaknya jumlah alat tangkap gill net yang beroperasi di daerah tersebut. Hasil analisis ordonasi RAPFISH menunjukkan status keberlanjutan perikanan gill net baik jaring kerep dan jaring arang di Rawapening relatif sama. Perbaikan status keberlanjutan perikanan gill net berdasarkan analisis leverage di dalam metode RAPFISH terindikasi berpengaruh besar didalam menentukan status keberlanjutan perikanan tangkap tersebut.

Kata kunci : Keberlanjutan Perikanan, RAPFISH, multi-dimensi, gill net (jaring kerep dan jaring arang), Rawapening.

PK-14

KAJIAN PENGELOLAAN PENANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN UMUM
DARATAN (STUDI KASUS PADA PERAIRAN SUNGAI DAN
RAWA BANJIRAN DI KABUPATEN OGAN KOMERING ILIR)

Maulana Firdaus dan Hakim Miftakhul Huda
Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan (BBRSEKP)
Jl. KS. Tubun Petamburan VI Jakarta 10260.
E-mail : kusukadia_mak@yahoo.com

Abstrak

Teknis pemanfaatan sumberdaya pada perairan umum daratan (sungai dan rawa banjiran) tidak hanya digunakan untuk kegiatan penangkapan ikan tetapi juga untuk kegiatan pertanian dan peternakan. Secara umum kegiatan penangkapan pada perairan umum daratan di Propinsi Sumatera Selatan telah mengalami lebih tangkap (over fishing). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengelolaan kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan di perairan umum daratan (sungai dan rawa banjiran). Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan analisis deskriptif analitik. Berdasarkan hasil dari penelitian, studi literatur dan diskusi dengan responden diketahui bahwa kegiatan penangkapan di sungai dan rawa banjiran berdasarkan  musimnya, oleh Fatah dan Gaffar (2007) dikelompokkan menjadi empat bagian, yaitu ketika air besar, air mulai surut, air surut dan air mulai naik. Alat tangkap yang digunakan bersifat Multy Gears. Pengaturan alokasi hak penangkapan ikan pada perairan sungai dan rawa banjiran di Kabupaten Ogan Komering Ilir diatur dengan sistem lelang berdasarkan peraturan daerah. Dalam peraturan tersebut siapapun yang memanfaatkan lebak lebung harus melalui mekanisme lelang yang dilakukan oleh pemerintah dan dikenal dengan istilah lelang lebak lebung.

Kata kunci : Pengelolaan, perikanan tangkap,  sungai dan rawa banjiran.

PK-15

KARAKTERISTIK HASIL DAN OPERASIONAL PENANGKAPAN
JARING DOGOL DI TELUK JAKARTA

Karsono Wagiyo
Peneliti pada Balai Riset Perikanan Laut
E-mail: K_giyo@yahoo.co.id

Abstrak

Jaring dogol merupakan  alat tangkap aktif utama di Teluk Jakarta. Data dan informasi karakteristik hasil dan operasional penangkapan jaring dogol sangat diperlukan untuk pengelolaaan sumberdaya perikanan di Teluk Jakarta yang lestari. Penelitian dilakukan pada bulan Juli (Musim Timur)  dan Oktober (Musim Peralihan II) tahun 2005. Data diperoleh dengan observasi on board pada perahu nelayan. Hasil Penelitian, pada Musim Timur didapatkan hasil tangkapan rata-rata per tawur 7000 gr dan pada Musim Peralihan II 7700 gr dengan keanekaragaman 1,37 dan 1,25. Ada 23 familia hasil tangkapan jaring dogol, didominasi oleh Leiognathidae 44,10 % pada Musim Timur,  61,07 % pada Musim Peralihan II. Ukuran ikan; demersal mempunyai modus pada kelas panjang total 7,6-8,0 cm dan berat 8,1-9,0 gram. Ikan pelagis mempunyai modus pada kelas panjang total 6,6-7,0 cm dan berat 2,0-2,5 gr. Non ikan (rajungan) mempunyai modus pada kelas panjang karapas 6,1-6,5 cm dan berat 13,1-16 gr. Daerah penangkapan terletak pada posisi geografis antara  05°56’462”S  s.d.  05°57’232”S dan 106°55’113”E  s.d 106°56’161”E. Karakteristik armada terbuat dari kayu  dengan ukuran panjang 10 m, lebar 4 m dan dalam 1,2 m. Mesin penggerak utama 30 PK dan pengerak  gardan 15 Pk. Jaring dogol terbuat dari bahan PE, terdiri dari bagain Sayap (18 m) dan badan dengan kantong (15 m). Mata jaring bagian sayap 8 inchi, bagian badan mulai dari 6 inci dan akhir 1 inchi pada bagian kantong. Penangkapan  jaring dogol berhenti pada musim barat dengan puncak musim pada peralihan I. Operasional penangkapan dengan dogol dilakukan oleh 5-7 orang ABK dengan sistem harian. Dalam sehari dilakukan tawur 10-20 kali dengan lama tawur 15-20 menit.

Kata kunci : Jaring dogol, tangkapan, komposisi, operasional, Teluk Jakarta. 

PK-16

HASIL TANGKAPAN IKAN DARI  BEBERAPA ALAT TANGKAP
DI SUNGAI BENGAWAN SOLO

Susilo  Adjie
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang

Abstrak
           
Penelitian hasil tangkapan beberapa alat tangkap dan kegiatan penangkapan ikan di Bengawan Solo telah dilakukan dari bulan Mei sampai bulan Desember 2004. Penelitian dilakukan dengan metode survei pada 4 stasiun pengamatan di Sungai Bengawan Solo yaitu Waduk Gajah Mungkur dan Bendung Colo (bagian hulu), Cemeng (Bagian tengah) dan Ngablak (bagian hilir). Hasil tangkapan dan jenis ikan yang tertangkap didapatkan dari nelayan yang dipilih sebagai  responden dan dibahas berdasarkan musim dan stasiun. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ikan tebaran seperti Patin jambal(Pangasius hypophthalmus), Nila (Oreochromis niloticus) dan Tawes (Barbonymus gonionotus)dominan tertangkap di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Ikan Sapu-sapu (Liposarcus pardalis) ditemukan di daerah Solo – Sragen. Sedangkan di Bagian hilir antara daerah Bojonegoro sampai Lamongan tertangkap jenis ikan lokal antara lain  Jambal (Pangasius djambal), Lumbet (Cryptopterus spp), Tagih (Mystus nemurus), Wagal (Pangasius micronema). 

Kata kunci : Jenis ikan, hasil tangkapan, Sungai Bengawan Solo. 

PK-17

KEMAMPUAN MEMBEDAKAN BESARNYA DIAMETER LINE PADA
ALAT TANGKAP HAND LINE DARI IKAN SARDIN (Sardinella sp.)

Welem Waileruny
Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNPATTI, Ambon. (Telp (0911) 342769;  081310082742;
E-mail:  wim.waileruny@advance-maluku.com

Abstract

The way by which fish captured using hand line is affected by the fish activity surround the line itself. It is due to pelagic fishes has ability to distinguish color and size of an object in the surroundings. The objective of this research was to measure vision ability of sardine fish (Sardinella sp) to  differentiate the line diameter of a hand line fishing gear. The experiment was arranged into four units of hand line with different line diameter. The analysis showed that the sardine fish have excellent sense of vision and they were able to detect the difference of line diameter up to 0.01 mm. 

Keywords: Sardin, hand line, diameter line, capture.

PK-18

HASIL TANGKAP  IKAN  DAN AKTIVITAS ALAT TANGKAP
TUGUK LAYANG DI HILIR SUNGAI MUSI SUMATERA SELATAN

Emmy Dharyati
Balai Riset Perikanan Perairan Umum
Jl. Mariana No. 308 Telp. (0711) 537194 Palembang
E-mail: emmy-perikanan@yahoo.co.id

Abstrak

Sungai Musi yang padat dengan alat tangkap yang beroperasi sehingga dapat membuat rusaknya sumberdaya perikanan dan transportasi terhalang dengan hadirnya  bermacam jenis alat tangkap. Alat tangkap yang menonjol adalah alat tangkap Tuguk layang, keberadaan alat tangkap ini yang  berpindah pindah. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan data hasil tangkapan  jenis ikan/udang, aktivitas penangkapan dan cara kerja alat tangkap. Penelitian aktivitas alat tangkap tuguk layang dilakukan dihilir sungai Musi pada bulan Juli, September, Desember 2006 dan Januari 2007, dengan cara melakukan pengamatan langsung di perairan hilir Sungai Musi, wawancara dan sampling ikan/udang. Parameter yang diamati meliputi hasil tangkap,  komposisi jenis ikan/udang yang tertangkap, cara operasi alat tangkap dan musim penangkapan. Hasil penelitian menunjukan bahwa komposisi jenis ikan terdapat 26 jenis ikan dan udang dan hasil tangkap alat tuguk layang yang dominan adalah jenis ikan bilis (Rasbora lateristriata) mencapai 94% dengan upaya  penangkapan setiap 3-5 hari/minggu pada waktu musim tangkap. Laju tangkap ikan bilis pada musim kemarau dibulan Juli adalah 13,125 kg/jaring-tuguk/hari, September adalah 17,2 kg/jaring-tuguk/hari, Desember adalah 12,125 kg/jaring-tuguk/hari dan pada musim hujan di bulan Januari sebesar 23,9 kg/jaring-tuguk/hari. Hasil tangkapan ikan bilis dijual kepasar Jaka Baring Palembang dan sebagian diasinkan. Alat tangkap Tuguk layang tergolong masih tradisonal dan penempatan alat tuguk yang berlapis-lapis menganggu lalulintas kendaraan air karena penyempitan badan sungai.

Kata kunci : Hasil  tangkapan, komposisi jenis ikan dan aktivitas alat tangkap.

                                                                                                      

PK-19

HUBUNGAN MUSIM DENGAN KEGIATAN PENANGKAPAN IKAN
DI DANAU SENTARUM KALIMANTAN BARAT

Agus Djoko Utomo
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang

Abstrak

Perairan Danau Sentarum merupakan perairan rawa banjiran (flood plain) secara ekologis sangat dipengaruhi oleh musim, saat kemarau banyak mengalami kekeringan dan saat musim penghujan tertutup air. Danau Sentarum merupakan kawasan konservasi lahan basah yang dikelola oleh Departemen Kehutanan, sebagian besar banyak terdapat tumbuhan hutan rawa. Penelitian dilakukan pada tahun 2007 mewakili musim kemarau dan musim penghujan. Aktivitas penangkapan ikan  makin intensip saat musim air mulai menyurut hingga musim kemarau.  Alat tangkap yang digunakan kebanyakan jenis perangkap (traps ) antara lain jermal (fyke net), Blad bambu (barrier traps), bubu waring (wing traps). Produksi perikanan tangkap cukup tinggi, mencapai puncaknya saat musim kemarau.  

Kata kunci: Musim, penangkapan, danau, rawa banjiran. 

PK-20

PENGGUNAAN RAWAI MINI BERUMPAN BENANG SUTERA PADA
BERBAGAI UKURAN MATA PANCING DI PERAIRAN NUSA PENIDA

Supardjo S. D., Arief Wujdi, dan Suwarman P.
Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pancing (hook rate) pancing rawai mini berumpan benang sutera pada berbagai ukuran mata pancing dan konstruksinya. Penelitian menggunakan metode percobaan, rawai mini dirancang dengan menggunakan 3 buah nomor mata pancing sebagai perlakuan, yaitu nomor 14, 15 dan 16 dengan umpan sama dari benang sutera. Masing-masing perlakuan berjumlah 50 mata pancing. Penangkapan ikan dilakukan 7 kali pada bulan Januari sampai dengan Februari 2009. Analisis data menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), kemudian dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beda nyata pada mata pancing nomor 14 dan 15. Mata pancing nomor 15 memiliki nilai laju pancing yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Laju pancing pancing nomor 14, 15 dan 16 berturut-turut adalah adalah 23,43 (82 ekor/29,75 kg); 55,14 (193 ekor/64 kg) dan 42,86 (150 ekor/48,025 kg). Konstruksi rawai mini terdiri dari tali utama, tali cabang, pancing, umpan benang sutera, tali pemberat dan pemberat.

Kata kunci : Rawai mini, benang sutera, ukuran mata pancing, laju pancing.

PK-21

PERIKANAN  PUKAT BAWAL DI KEPULAUAN DERAWAN
KABUPATEN BERAU, KALIMANTAN TIMUR

Siti Nuraini
Balai Riset Perikanan Laut Jakarta
E-mail: nurainist@yahoo.com

Abstrak

Ikan bawal, Pampus spp. merupakan komoditas ekspor yang bernilai sangat tinggi. Penelitian ini dilakukan di perairan Kepulauan Derawan Kabupaten Berau pada tahun 2006. Pengamatan dilakukan di landing base di Tanjung Batu, Kecamatan P. Derawan, Kabupaten Berau. Hasil tangkapan bervariasi dengan rata-2 hasil tangkapan trip mingguan sekitar 20kg per trip. Jenis ikan lainnya yang seringkali tertangkap yaitu jenis kakap, Lutjanus spp.; kuwe, Caranx spp.; Tenggiri, Scoberomorus. Hasil analisis diperoleh hubungan panjang total (=TL) dan berat (=W) P. chinensis  mengikuti  persamaan W = 0,153L2,4915. Hal ini menunjukkan bahwa pertambahan berat bawal putih tidak secepat pertambahan panjangnya. Panjang pertama kali tertangkap dengan pukat bawal adalah 19,52 cmTL. Ikan bawal putih yang tertangkap mempunyai ukuran 13 – 30cm panjangnya dan sebagian besar adalah ikan muda atau belum memijah. Komposisi hasil tangkapan dan musim penangkapan dikemukakan sebagai tambahan informasi perikanan ikan. Pukat bawal dalam operasinya menggunakan perahu berukuran panjang 11.5m, lebar 155cm dan tinggi 80cm. Tenaga penggerak pukat bawal yaitu motor Yanmar 15PK dengan bahan bakar solar. Dalam pengoperasiannya sebuah perahu dengan  20 - 40 set (1 set: 30m) dengan mata 6-6.5 inchi dengan 2-3 orang ABK. Penangkapan dilakukan pada siang dan malam hari dengan 2x tawur setiap harinya. Pukat ditebar pada saat surut dan diangkat pada waktu pasang.  

Kata kunci: Perikanan, bawal, Pampus spp, P. Derawan, ikan demersal.

PK-22

KOMPOSISI JENIS DAN HASIL TANGKAPAN IKAN KARANG
DENGAN PANCING ULUR DI KUPANG, NTT

Siti Nuraini
Balai Riset Perikanan Laut, Jakarta
E-mail: nurainist@yahoo.com

Abstrak
           
Ikan karang merupakan sumberdaya ekonomis penting yang merupakan komoditas ekspor. Perubahan komposisi jenis dapat digunakan untuk mengetahui dampak perikanan terhadap komunitas ikan. Data dan informasi pada studi ini diperoleh dari pengamatan di lapang dan dari PPN Kupang. Hasil pengamatan diperoleh hasil tangkapan pancing trip-2mingguan diperoleh sekitar 250kg per trip - 7,912 kg per trip, dengan laju tangkap rata rata sebesar 2,157kg per trip. Jenis yang dominan dari tangkapan trip-2mingguan yaitu kakap merah, Lutjanus spp. (36,6%), kerapu, Epinephelus spp. (16,3%), Kurisi, Pristimoidesspp. (24,7%)dan lencam, Lethrinus spp. (12%). Hasil tangkapan nelayan lokal mingguan berkisar antara 350-500kg per trip. Komposisi tangkapan didominasi jenis lencam babi, Lethrinus elongatus (12,4%), kuwe, Caranx ignobilis (37,5%) dan kakap ayam, Lutjanus rivulatus (6,5%). Produksi ikan karang yang tertangkap dengan pancing ulur pada tahun 2006 sebesar 95,5 ton. Ikan kakap merah yang  tertangkap mencapai 36,6%. Jenis kerapu (Epinephelus spp.) dan kurisi (Pristipomoides spp) masing masing sebesar  13% dan 24% dari total ikan demersal yang didaratkan. Ikan karang yang tertangkap terdiri atas ikan muda yang belum matang telur dan ikan induk

Kata kunci: ikan karang konsumsi, pancing ulur, Kupang.

PK-23

UPAYA DAN LAJU TANGKAP SERTA KOMPOSISI  JENIS IKAN DAN
UDANG YANG TERTANGKAP  HAMPANG (BARRIER TRAPS
DI PERAIRAN ESTUARI SUNGAI KAMPAR PROVINSI  RIAU

Rupawan
Balai Riset Perikanan Perairan Umum
Jalan Beringin No.308 Mariana  (30763 ) Palembang
E-mail: rpw_brppu@yahoo.co.id

Abstrak

Karakteristik habitat perairan estuaria khas dan dinamis dengan keanekaragaman ikan yang tinggi. Aktivitas penangkapan sangat berkembang, menggunakan beberapa jenis alat tangkap salah satu dinatranya diantaranya “hampang”. Penelitian untuk mengetahui upayadan laju tangkap serta komposisi hasil tangkapan “hampang” telah dilakukan di perairan estuari Sungai Kampar pada tahun 2008. Penelitian dilakukan dengan metoda survei, pengamatan lapangan, wawancara dan nelayan enumerator. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya penangkapan (trip harian) antara 8–15 trip/bulan atau rata-rata 12,11± 2,56/trip/bulan, sepanjang tahun. Laju tangkap 11,96±1,95 kg/unit/trip, terdiri dari kelompok  udang 4,10 kg (33,45%) dan ikan 7,58 kg (63,37%). Hasil tangkapan berjumlah 22 jenis terdiri dari 4 jenis udang dan 18 jenis ikan, komposisi berdasarkan jumlah ekor, kelompok udang 39% yang didominasi Udang galah (Macrobrachium rosenbergii), kelompok ikan 61% didominasi ikan Gulamah (Johnius trachycephalus). Kisaran nilai parameter fisika-kimia air lokasi operasional  hampang ; salinitas :1,5 - 7,0 ppt,  pH :7,0 -7,5 dan  kecerahan air: 50 - 71 cm.

Kata kunci : Upaya, laju tangkap, komposisi jenis, hampang, estuari Kampar