PROSIDING TAHUN 2009

BIDANG BIOLOGI PERIKANAN

BI-01

SEBARAN DAN KEBIASAAN MAKAN BEBERAPA JENIS IKAN DI DAS  KAPUAS KALIMANTAN  BARAT

Susilo Adjie 
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang

Abstrak

Sungai Kapuas merupakan sungai terbesar di Kalimantan Barat, memiliki tipe ekologi yang kompleks mulai dari hulu sampai ke muara dan memiliki keanekaragaman hayati tinggi terutama keanekaragaman ikannya. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang sebaran jenis ikan, pakan alami dan habitat dari  beberapa jenis ikan. Metoda penelitian  dilakukan dengan survei dan observasi selama 3 kali pada bulan April, Juli dan Desember 2007 di Daerah Aliran Sungai Kapuas bagian tengah, hulu sampai stasiun sekitar Danau Sentarum, Leboyan, Danau Empangau, Jongkong dan sungai Sibau Hulu. Pengambilan data dilakukan pada 12 stasiun pengamatan. Parameter yang diambil adalah diversitas dan sebaran ikan, pakan alami (food habits), habitat dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran ikan semah (Tor sp.) di hulu sungai yang berarus deras. Ringo (Datnoides microlepis)  tersebar dari kawasan Semitau, Danau Sentarum hingga Danau Empangau. Ikan tabirin (Belodonthicthys dinema), hampir tersebar di semua stasiun pengamatan dan ikan entukan (Thinnichthys thynoides) paling dominan di danau-danau. Berdasarkan pengamatan pakan alami, ikan semah merupakan ikan omnivora, sedangakan ikan tabirin dan ikan ringo merupakan ikan karnivora. Ikan entukan sebagai ikan pemakan plankton (plankton feeder).

Kata kunci: Sebaran, kebiasaan makan ikan, habitat, DAS Kapuas.

BI-02

BIOLOGI REPRODUKSI  IKAN  DI SUNGAI MARO, MERAUKE, PROPINSI PAPUA

Hendra Satria

Abstrak

Penelitian biologi  reproduksi di Sungai Maro, Kabupaten Merauke – Papua dilakukan pada bulan April, Juli dan Desember 2007. Metode yang dilakukan dengan metode survei dan Wawancara. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dan informasi biologi reproduksi ikan khususnya jenis-jenis ikan yang berada bagian hulu Sungai Maro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan sembilang (Neosilurus sp) dan tulang (Nematalosa flyensis) multispawner dan  memijah 3 kali dalam setahun yaitu pada bulan Maret, Juli dan Desember. Ikan tulang (Nematalosa flyensis)  paling sedikit  memijah  2 kali dalam setahun, yaitu pada bulan Maret dan Desember .Sedangkan ikan mata bulan (Megalops cyprinoids) diduga memijah satu kali dalam setahun, yaitu pada bulan Maret. Ikan kaca (Parambassis gulliveri), bulanak (Mugil sp) dan pisang (Thryssa rastrosa)  diduga memijah pada bulan Juli. Reproduksi  ikan  sembilang, tulang, mata bulan, kaca, bulanak dan pisang di Sungai Maro,  pada ukuran ukuran yang cukup besar dan tidak dijumpai jenis ikan yang telah matang gonada pada ukuran yang kecil. Ukuran terkecil  jenis ikan yang telah matang gonada  pada ikan bulanak  rata-rata PT  24,5 cm dan  Bobot 226 gram, sedangkan ukuran terbesar pada ikan sembilang  dengan PT rata-rata 42,74 cm dan  Bobot rata-rata 600,67 gram.
           
Kata kunci :  Sungai Maro, reproduksi ikan.  

BI-03

STUDI KEBIASAAN MAKANAN IKAN BONTI-BONTI (Paratherina striata) DI DANAU TOWUTI, SULAWESI SELATAN

Syahroma Husni Nasution
Pusat Penelitian Limnologi-LIPI,
Jl Raya Jakarta-Bogor Km. 46, Cibinong 16911 Telp. 0218757071, Fax. 0218757076,
E-mail: syahromanasution@yahoo.com

Abstrak

Ikan bonti-bonti selain endemik, statusnya tergolong vulnerable species dan hanya terdapat di Danau Towuti dan Mahalona. Diperkirakan populasi ikan tersebut cenderung menurun, ditengarai karena kegiatan penangkapan yang intensif, sehingga perlu diupayakan kegiatan pengelolaan dengan cara konservasi agar keberlanjutan populasinya tetap terjaga. Dalam kegiatan konservasi tersebut sangat diperlukan informasi mengenai aspek biologis diantaranya adalah kebiasaan makanan ikan. Penelitian dilakukan di perairan Danau Towuti,  Sulawesi Selatan selama 12  bulan dari bulan Mei 2006 hingga April 2007. Contoh ikan diperoleh menggunakan jaring insang eksperimental dengan ukuran mata jaring ⅝, ¾, 1, dan 1¼ inci di lima stasiun. Dilakukan pengukuran panjang, pembedahan ikan contoh, pengukuran panjang saluran pencernaan dan identifikasi makanan. Dianalisis indeks bagian terbesar (Index of Proponderance/IP) dan perubahan pola kebiasaan makanan.  Makanan yang ditemukan dalam lambung ikan bonti-bonti terdiri dari lima kelompok, yaitu Insekta, Crustacea, Bacillariophyceae, potongan ikan, dan makanan yang tidak dapat diidentifikasi. Komposisi makanan dari kelompok Insekta menunjukkan bahwa  kelompok makanan ini dimanfaatkan oleh ikan bonti-bonti sebagai makanan utama. Nilai IP kelompok Insekta berkisar antara 32,69%- 56,37%.  Makanan pelengkap ikan bonti-bonti adalah kelompok ikan dan Crustacea dengan nilai IP masing-masing berkisar antara 10,28-24,43% dan 3,93-8,57%. Pada ikan bonti-bonti jantan dengan meningkatnya ukuran ikan, terjadi perubahan pola makan dari memakan Insekta menjadi memakan ikan kecil dengan porsi lebih besar. Model keeratan hubungan antara frekuensi kelompok Insekta dan kelompok ikan kecil (dalam isi lambung ikan jantan)  dengan ukuran ikan jantan cukup erat (r=0,72 dan r=0,92). Pada ikan bonti-bonti betina dewasa terjadi peningkatan porsi memakan Insekta lebih besar dibandingkan pada ikan ukuran anakan. Namun model keeratan hubungan antara frekuensi kelompok insekta dan kelompok ikan kecil (dalam isi lambung ikan betina)  dengan ukuran ikan betina kurang erat (r=0,36 dan r=0,06).

Kata kunci:Kebiasaan makanan, Index of Proponderance, ikan bonti-bonti, Danau Towuti.

BI-04

PERBEDAAN MORFOLOGIS POPULASI IKAN RINGGO (Thynnichthys thynnoides Bleeker, 1852)
ASAL SUMATERA DAN KALIMANTAN

Ni’am Muflikha dan Arif Wibowo
Balai Riset Perikanan Perairan Umum-BRKP
E-mail : niammuflkhah@yahoo.co.id

Abstrak

Penelitian ini dilakukan tahun 2008 di Perairan Umum Danau Teluk Jambi (populasi Sumatera) dan Danau Empangau Kalimantan Barat (populasi Kalimantan). Tujuan penelitian adalah mendeterminasi perbedaan morfologi ikan Ringgo asal Sumatera dan Kalimantan. Hal ini dilatarbelakangi oleh kesulitan dalam membedakan kedua populasi ketika bercampur dalam program breeding. Untuk mengetahui perbedaan kedua populasi dilakukan koleksi sebanyak 30 sampel ikan Ringgo dari Kalimantan dan 30 dari Sumatera yang diambil secara acak yang dikumpulkan secara langsung di lapangan maupun dari pedagang pengumpul yang telah diketahui lokasinya. Karakter morfologis yang diamati adalah morfometrik dan selanjutnya dilakukan analisis secara statistik untuk mengetahui perbedaan diantara kedua populasi yang diamati. Pengukuran morfometrik dilakukan pada 22 karakter morfologi bentuk badan, pada bagian sisi sebelah kiri tubuh ikan menggunakan digital kaliper dengan ketelitian sampai 0.10 mm. Data morfometrik dikumpulkan dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan paket program STATISTICA 6.0 untuk mengetahui hubungan antara spesies atau lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan analisis karakter morfometrik populasi ikan Ringgo asal Sumatera dan Kalimantan berbeda secara morfologi. Perbedaan morfologis terlihat jelas pada perbandingan (dalam presentase terhadap SL, panjang standar/panjang baku) antara Panjang Dorigin dan  Panjang Dasar Sirip Dorsal, Panjang Dorigin dengan Tinggi Badan Maksimal pada Anus dan Panjang Dorigin dengan Panjang dasar sirip anal.

Kata kunci : Ikan Ringgo, morfometrik, populasi, Sumatera dan Kalimantan.

BI-05

ELASMOBRANCHII DI PERAIRAN SUNGAI MUSI: JENIS, SEBARAN DAN KARAKTER BIOLOGI

Husnah
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang
Jl. Beringin No.308 Mariana, Banyuasin III, Kab. Banyuasin
E-mail : samhudi_husnah@yahoo.com

Abstrak

Di dalam taksonomi ikan, ikan Elasmobranchii termasuk dalam kelas Chondroichtyes yang dikenal dengan ikan yang memiliki kerangka  tubuh berupa tulang rawan. Kelompok ikan ini dapat hidup pada berbagai habitat baik di laut, muara sungai atau di perairan tawar. Sedikitnya, 171 jenis ikan Elasmobranchii ditemukan di dunia berasal dari perairan tawar dan muara sungai yang terdiri dari 68 genus dan 34 famili. Keanekaragaman dan kelimpahan ikan Elasmobranchii air tawar dan muara sungai tertinggi ditemukan di negara-negara tropis. Sampai saat ini informasi mengenai karakteristik biologi, distribusi dan status penangkapan ikan Elasmobranchii sebagian besar adalah ikan Elasmobranchii yang hidup di perairan laut sedangkan untuk perairan tawar dan muara sungai masih terbatas. Dibandingkan dengan Elasmobranchii di laut, Ikan Elasmobranchii perairan tawar dan muara sungai sangat sensitif terhadap perubahan fisika dan kimia air dan ikan ini sangan rentan terhadap kegiatan manusia. Sungai Musi memiliki keankeragaman ikan yang tinggi. Sedikitnya lebih 234 jenis telah ditemukan di bagian hulu hingga hilir dari sungai ini. Ikan Elasmobranchi merupakan salah satu kelompok ikan yang ditemukan di sungai ini dan studi mengenai jenis, sebaran dan karakteristik biologi ikan Elasmobranchii di Sungai Musi belum banyak dilakukan. Peningkatan pemanfaatan lahan di sepanjang dan di dalam perairan Sungai Musi dikhawatirkan dalam jangka panjang dapat mempengaruhi keberadaan dan kelestariannya.  Makalah ini merupakan hasil penelitian dan studi pustaka mengenai jenis, sebaran dan karakteristik biologi  Elasmobranchii.

Kata kunci: Elasmobranchii, Sungai Musi, karakteristik biologi, sebaran ikan. 

BI-06

UKURAN POPULASI EFEKTIF DAN SEJARAH POPULASI IKAN SEMAH (Tor soro, Valenciennes, 1842)

Arif Wibowo dan Subagja
Balai Riset Perikanan Perairan Umum-BRKP
E-mail : wibarf@yahoo.com

Abstrak

Penelitian dilakukan selama tahun 2008 di perairan umum Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Jawa barat. Tujuan penelitian adalah mendeterminasi ukuran populasi efektif dan sejarah populasi Ikan Semah (Tor soro). Pada studi ini, 269 nukleotida DNA sekuense dihasilkan dari daerah Cyt B genome DNA mitokondria ikan semah (n=9). Data molekuler digunakan untuk mengamati ukuran populasi efektif (Nef) menggunakan formula theta (Ǿ) = 2 NefV (Tajima, 1993). Theta (Ǿ) (per DNA sekuense) diduga dari hubungan infinite-site equilibrium diantara jumlah segregating sites dan ukuran sampel menggunakan metode jarak dalam ARLEQUIN 4.01. Dalam persamaan V = mµ, m adalah panjang sekuense dan µ adalah tingkat mutasi pergenerasi, yang diperoleh dengan mengalikan waktu generasi (14 untuk Tor soro dengan tingkat mutasi pertahun (λ). Pada studi ini kami mengaplikasikan tingkat substitusi DNA mitokondria pada ikan white sturgeon Acipenser transmontanus (1.09 – 1.31 x 10-7 substitusi/situs nukleotida/tahun). Sejarah Populasi ikan Semah, diamati melalui module pertumbuhan atau penurunan populasi dalam paket software DnaSP3.51 untuk menghasilkan suatu plot mismatch distribution. Hasil penelitian mengungkapkan ukuran populasi efektif (Ne) ikan Semah di alam berjumlah berkisar antara 4494 sampai 8414 individu. Ukuran populasi efektif dari populasi ikan Semah yang ada saat ini cukup mampu bertahan dari prespektif permasalahan genetik. Analisis module pertumbuhan atau penurunan populasi menginformasikan bahwa populasi ikan Semah mengalami sejarah ekspansi populasi. Sejarah ekspansi populasi ikan Semah mengindikasikan suatu kemungkinan re-ekspansi dimasa yang akan datang dari populasi yang ada saat ini. Sehingga terdapat kesempatan potensial bagi populasi ikan Semah untuk pulih, tetap eksis dan memberikan manfaat dimasa yang akan datang.

Kata kunci : Ikan Semah (Tor soro), Cyt B mtDNA, ukuran populasi efektif dan sejarah populasi.

BI-07

POLA LINGKARAN PERTUMBUHAN OTOLITH DAN ASPEK BIOLOGI REPRODUKSI IKAN Puntioplites sp. DAN Puntioplites BuluDI PERAIRAN SUNGAI SIAK PROVINSI RIAU

Fajar Kesuma, Chaidir Pulungan, Windarti, dan Ridwan Manda Putra
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau

Abstract

This research was conducted from January to March 2009. It  aims to understand the growth rings pattern in the otolith and reproductive biology of Puntioplites sp  and Puntioplites  bulu that are known as ‘ tabingal fish”. Forty seven  fishes were collected and it consist of Puntioplites sp(39 fishes) and Puntioplitesbulu (8 fishes). Growth rings pattern in the otolith was studied by shaving the otolith, following methods described by Windarti (2007). The number of rings were counted and their pattern were described. Reproductive biology of the fishes, however was studied by identifying the fish gonadal maturity level. Results shown that  growth ring pattern in the otolith is varied, the rings are consisted of thick and thin rings. Many fishes have several thick rings around the nucleus of the otolith, while few fishes have thin rings around the nucleus. These data shown that many fishes faced growth related problems when they are young as it is indicated by the presence of thick rings around the nucleus. It is predicted that small/young fish may not be able to tolerate water quality changing due to the presence of pollutant. Data on reproductive biology also shown that there is no fish with mature gonad. The gonad of almost all fishes coud not be identified. Among the fishes captured, only one fish showing gonad development, it is in the 2nd of maturity level. The rarity of fish with developing gonad may be due to sampling times, that are not concidence with the spawning time of the fishes. However, decrement of water quality that is caused by pollutant may negatively affect the reproductive biology of the fishes.

Keywords : Puntioplites sp. and Puntioplites bulu, otolith, growth ring, reproductive biology, Siak River.

BI-08

KEBIASAAN MAKANAN IKAN TILAN (Mastacembelus erythrotaenia, Bleeker 1850) DI SUNGAI MUSI

Syarifah Nurdawati 1, M. F. Rahardjo 2, dan Wahyu Yuliani 2
1)Balai Riset Perikanan Perairan Umum
2)Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, FPIK-IPB

Abstrak

Ikan tilan (Mastacembelus erythrotaenia) merupakan ikan ekonomis penting yang keberadaan populasinya telah menurun. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji kebiasaan makanan ikan tilan (Mastacembelus erythrotaenia, Bleeker 1850) di Sungai Musi. Pengambilan contoh ikan dilakukan satu bulan sekali dari bulan Desember 2007 sampai Juli 2008 dengan menggunakan alat pancing, sondong, jaring kantong, rawai dan belat. Jumlah ikan tilan yang tertangkap sebanyak 1001 ekor. Analisis makanan dilakukan dengan menggunakan indeks bagian terbesar. Berdasarkan analisis tersebut, makanan utama ikan tilan adalah ketam (Sesarma eydouxi). Dengan demikian ikan tilan termasuk krustasivora yang selektif. Makanan utama tersebut selalu berlaku pada setiap bulan di semua  stasiun. Informasi ini dapat dipergunakan sebagai dasar pertimbangan dalam pengelolaan, pengembangan budidaya dan usaha konservasi.

Kata kunci : Mastacembelus erythrotaenia, kebiasaan makan, sungai. 

BI-09

ASPEK BIOLOGI IKAN BREK (Puntius orphoides C.V.) DI SUNGAI KLAWING PURBALINGGA, JAWA-TENGAH

Suhestri Suryaningsih1) dan Suwarno Hadisusanto2)
1)Prodi Biologi-Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada
2)Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada

Abstrak

Ikan brek (Puntius orphoides C.V.) banyak diperjual belikan di wilayah eks-Karesidenan Banyumas, namun sampai saat ini belum menjadi ikan budidaya. Melihat minat masyarakat terhadap ikan ini, memberikan peluang untuk mendomestikasi dan membudidayakannya agar permintaan dapat  terpenuhi, sekaligus mempertahankan eksistensinya di sungai sebagai habitat aslinya. Usaha domestikasi dan budidaya dapat dilakukan apabila telah tersedia informasi yang berkaitan dengan aspek biologinya. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui berbagai aspek biologi ikan brek di Sungai Klawing, Purbalingga, Jawa Tengah ini dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2008, dengan metode survey dan menggunakan teknik “simple random sampling”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seks rasio ikan brek jantan dan betina secara total adalah 1 : 1,78. Fekunditas ikan brek berkisar antara 5.145-30.711 butir, dengan kisaran diameter telur 421-442, pola pemijahan adalah total spawner. Indeks Gonado Somatik pada ikan jantan berkisar 0,630-8,576 sedangkan pada ikan betina berkisar 0.999-10,796. Faktor kondisi kan brek jantan 1,01-1,56 sedangkan pada ikan betina 1,20-1,66.

Kata kunci : Aspek reproduksi, brek (Puntius orphoides C.V.)

BI-10

KUALITAS DAN LINGKUNGAN PERAIRAN SUNGAI KELEKAR DI INDERALAYA KABUPATEN OGAN ILIR

Elva Dwi Harmilia
Balai Riset Perikanan Perairan Umum
Jl. Mariana No. 308 Telp. (0711) 537194 Palembang
E-mail: elvabrppupalembang@yahoo.com

Abstrak

Penelitian kualitas air dan lingkungan perairan sungai Kelekar yang merupakan bagian dari perairan umum tempat hidup dan berkembang biak beberapa jenis ikan rawa. Penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi dari aspek lingkungan (habitat-kualitas air) dan jenis ikan sebagai sumberdaya perikanan di sungai Kelekar Inderalaya. Metode penelitian dengan survey lapangan, pengambilan sampel air, pengumpulan data jenis ikan tertangkap dari nelayan dan habitat ikan. Penelitian  dilaksanakan sebanyak  3 kali dari bulan Januari sampai  Mei 2009, penelitian meliputi  kualitas air,  lingkungan dan jenis ikan tertangkap. Hasil  penelitian menunjukan bahwa secara umum kualitas air di sungai Kelekar cukup baik untuk mendukung kehidupan ikan dan jenis biota lainnya. Lingkungan menunjukan yang masih bersifat alami dengan banyak tumbuhan sebagai tempat ikan memijah dan mencari makan. Jenis ikan yang tertangkap dari 34 jenis dan yang dominan adalah jenis ikan rawa lebak sebanyak 12 jenis.

 

BI-11

DIFERENSIASI GONAD IKAN NILEM (Osteochilus hasselti C.V.) PADA FOTOPERIODE YANG BERBEDA

Aulidya Nurul Habibah, Soeminto, dan Gratiana E. Wijayanti
Laboratorium Struktur dan Perkembangan Hewan, Fakultas Biologi
Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Abstract

Gonadal differentiation is an important stage in gonadal development. Photoperiod is known become an environmental aspect which can enhance gonadal development by suppressing the production of melatonin. This research was aimed to evaluate the effect of photoperiod on gonadal development and length of photoperiod capable of stimulating the gonadal differentiation in juveniles nilem fish. The research was conducted experimentally applying completely randomised design with 4 treatments and 3 replicates. The tested photoperiod were 14L:10D, 16L:8D, 18L:6D given for 10 weeks. The control fish were reared with natural light. The data consisted of body lenght, body weight, ratio of gonadal volume and body volume associated gonad were collected on week: 0, 2nd, 4th, 6th, 8th, 10th. Fish were fixed in Bouin for one week, then were processed with paraffin embedded method, cut serially at 7 mm and stained with haematoxylin-eosin. The gonadal and body volume were estimated using Cavalieri’s Principle. The data were analysed using Anova Two Way. Histologycal features showed that the gonad were still indifferent up to week 8th. The sign of differentiation into testes was observed on week 10th. The propotion of differentiated gonad on week 10 th was higher on 18L:6D group followed by control, 14L:10D, 16L:8D. This results indicated that long photoperiod enhance gonadal differentiation in the nilem. 

Keywords: Gonadal development, juvenile nilem fish, photoperiod.

BI-12

GROWTH OF Ambassis gymnocephalus (PISCES: CHANDIDAE) BASED ON DAILY OTOLITH INCREMENTS

B. Grace Hutubessy
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura
Jl. Mr. Chr. Soplanit, Kampus Poka Ambon 97233
Telp. 0911 3325010; Fax. 0911 3286108
E-mail: grace.hutubessy@yahoo.com

Abstract

Otolith growth increments was used to determine growth pattern of glassy perch, Ambassis gymnocephalus. This species occurred in estuarine waters and is categorized as truly estuarine dependent species. A, gymnocephalus was collected by using beach seine at the mangrove area of Lateri Village, Ambon Bay. Microstructure of sagittae showed the growth increments which was deposited on a daily basis. The age of fish ranged between 59 to 265 days old. Plot of length at age data showed that growth curve tended to be asymptotic and the von Bertalanffy growth function was used for the analysis. The growth equation for A. gymnocephalus was Lt = 59.35  {1 – exp (-0.0086 (t – 8.35) } with coefficient determinant R2 = 0.988. 

Keywords:  Otolith, growth increments, estuary; growth.

BI-13

TROFIK LEVEL KOMUNITAS IKAN DI EKOSISTEM TERUMBU KARANG
KEPULAUAN SERIBU

Sriati1), Sutrisno Sukimin2), Vincentius P. Siregar3), Sam Wutuysen 4) dan Adriani Sunudin 5)
1Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran
2SEAMEO-BIOTROP; Dept. MSP Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor
3SEAMEO-BIOTROP; Dept. ITK Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor
4Pusat Penelititian Oceanologi  LIPI
5Dept. ITK Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor

Abstrak

Pendekatan trofik level dapat digunakan untuk mengevaluasi kesehatan dan kondisi ekosistem, sehingga merupakan mata rantai awal yang penting dipertimbangkan untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya perikanan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran ikan berdasarkan trofik level sebagai indikator ekosistem. Pengamatan dilakukan pada dua lokasi yaitu Karang Lebar dan Karang Congkak, menggunakan metode pencacahan visual dengan transek garis. Jenis ikan di lokasi Karang Congkak pada kedalaman 10 m memiliki rentang trofik level yang lebih lebar dibanding 3 m, namun trend sebaran ikan pada trofik level di dua kedalaman tersebut sama.  Sedangkan di Karang Lebar, tidak terdapat perbedaan yang nyata antara dua kedalaman, baik berdasarkan kepadatan maupun trend dominasi ikan pada trofik level. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa trend sebaran ikan berdasarkan trofik level berbeda diantara lokasi, namun pada masing-masing lokasi memiliki trend trofik level yang sama berdasarkan kedalaman. Pada lokasi dengan kondisi karang yang baik menunjukkan rentang trofik level yang lebih lebar dan adanya pergeseran dominasi kelimpahan berdasarkan kedalaman. Ikan dengan trofik level tinggi lebih banyak berada pada kedalaman 10 m.

Kata kunci:  Trofik level, komunitas ikan, terumbu karang, Kepulauan Seribu.

BI-14

KUALITAS AIR DAN  HUBUNGAN PANJANG-BERAT BEBERAPA JENIS IKAN  YANG TERTANGKAP NELAYAN DI PERAIRAN MUSI BAGIAN TENGAH

Samuel
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang

Abstrak

Kajian kualitas air dan hubungan panjang-berat beberapa jenis ikan di perairan Musi bagian tengah telah dilakukan sebanyak 3 kali survei yaitu bulan Maret, Juli dan Oktober 2006 yang mewakili musim peralihan dari musim hujan ke musim kemarau, musim kemarau dan musim hujan. Hasil analisis beberapa parameter kualitas air, menunjukkan perairan Musi bagian tengah daerah penangkapan ikan konsumsi oleh nelayan masih dalam kondisi yang baik untuk mendukung kehidupan ikan dan organisme air lain sebagai makanannya. Hasil analisis hubungan panjang-berat dari 15 jenis ikan yang tertangkap nelayan, 80% atau 12 jenis ikan, mempunyai sifat pertumbuhan yang isometrik (berdasarkan dari uji-t) yaitu nilai parameter b tidak berbeda dengan 3, yakni kecepatan pertumbuhan berat sebanding dengan kecepatan pertumbuhan panjang.

Kata kunci: Kualitas air, hubungan panjang-berat, Ikan air tawar, Perairan Musi bagian tengah. 

BI-15

FILOGENI IKAN SEMAH (Tor soro, Valenciennes, 1842) BERDASARKAN PARSIAL SEKUENSE CYt B DNA MITOKONDRIA

Arif Wibowo, Ali Suman dan Safran Makmur
Balai Riset Perikanan Perairan Umum-BRKP
E-mail : wibarf@yahoo.com

Abstrak

Penelitian dilakukan selama tahun 2008 di perairan umum Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Jawa barat. Tujuan penelitian adalah mendeterminasi pola filogeni Ikan Semah (Tor soro) yang merupakan kompenen penting bagi sistematika dan konservasi efektif bagi spesies ini. Tulisan ini merupakan studi pendahuluan yang berupaya untuk memberikan kejelasan dari prespektif molekular dari kerancuan taksonomi genus Tor (khususnya Tor soro). Hal ini perlu dilakukan, mengingat genus Tor merupakan genus yang populasinya di alam sudah langka dan mempunyai nilai ekonomis, nama ilmiah mana yang akan dipakai, sehingga peraturan dibuat akan tepat dengan jenis yang dimaksud. Metode penelitian menggunakan purposive sample. Sirip ekor dikoleksi dan diekstraksi dengan menggunakan metode sambrook. Primer didesign menggunakan paket program PRIMER 3. Parsial sekuense Cyt b DNA mitokondria (269 bp) yang mengkode 132 asam amino diperoleh dari amplifikasi PCR dari 3 individu ikan semah Tor soro dan 52 individu kerabat ikan semah (genus Tor) yang diperoleh dari gene bank NCBI. Runtutan basa nucleotida disejajarkan dengan Clustal W dan ditranslasi ke dalam bentuk asam amino. Analisis Filogeni dilakukan menggunakan Neighbor-joining (NJ) possion correction dengan bootstrap 10.000 dalam paket program MEGA 4.0. Hasil penelitian mengungkapkan Pada Cytb Ikan Semah dan kerabatnya dari 132 asam amino, terdapat 95 (70.89%) situs variabel dan 92 (68.65%) parsimoni informatif. Tor soro  adalah sinonim dari Tor tambra dan Tor khudree. Sedangkan jenis Tor malabaricus merupakan satu monophyletic group. Tor duorenensis dan Tor tambroides, bukan merupakan sinonim dari Tor soro, keduanya meupakan satu monophyletik group, sinonim dari Tor duorenensis adalah Tor putitora. Jarak genetik antara Tor soro dengan Tor tambra paling kecil (d=0.0-0.12), (d= 1.70) dengan Tor mlabaricus dan terjauh dengan Tor duorenensis, Tor putitora  dan Tor tambroides (d=2.69). Dengan menggunakan tingkat evolusi yang sama perbedaan waktu pemisahan diantara Tor berkisar sampai antara 2.6 - 5 juta tahun yang lalu.

Kata kunci : Ikan Semah (Tor soro), Cyt B mtDNA, filogeni. 

BI-16

BIOLOGI DAN PERTUMBUHAN IKAN GURAME (Osphronemus gouramy) DI SUNGAI KAMPAR PROVINSI RIAU

Siti Nurul Aida
Balai Riset Perikanan Perairan Umum, Palembang.
E-mail: idabrppu@yahoo.com / sitinurul_brppu@yahoo.com

Abstrak

Ikan Gurame (Osphronemus gouramy) merupakan salah satu ikan yang bernilai ekonomis penting di sungai Kampar provinsi Riau. Hasil studi biologi dan pertumbuhan ikan Gurame (Osphronemus gouramy) menunjukkan bahwa ikan Gurame termasuk ikan herbivora berdasarkan indeks preponderance dengan pakan alami berasal dari fragmen tumbuhan sebagai pakan utama dengan indeks preponderance 68 %, fragmen crustacea 1%, insecta 4,41%, annelida 2,26%, ikan 2,27% sebagai pakan pelengkap, dan pakan tambahan lainnya yang tercerna dan tidak teridentifikasi 12 %, seresah 11,55%. Indeks kepenuhan lambung 15,06 %, Faktor kondisi 1,37, terdapat 8 interval kelas panjang dan berat, dan pola pertumbuhan allometrik positif dengan persamaan y= 0,0091x3,2796.

Kata kunci: Gurame, biologi, pertumbuhan, Sungai Kampar.
 

BI-17

Profil Reproduksi Puntius spp. SEBAGAI DASAR Konservasi

Sugiharto1), Antoni Suyudi Thaher2), dan W. Lestari1)
1)Dosen Tetap Fakultas Biologi, Unsoed Purwokerto
2)Perikanan dan Ilmu Kelautan, Fakultas Sains dan Teknik, Unsoed

Abstrak

Puntiusspp. adalah salah satu ikan asli yang menempati Sungai Serayu. Ikan ini secara tradisional diambil bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan protein tetapi juga sebagai kebutuhan ekonomi. Kegiatan penangkapan ikan di sungai ini tampaknya menjadi salah satu ancaman lainnya untuk keanekaragaman ikan. Karena itu, untuk keperluan penentuan profil reproduksi dari Puntius untuk membangun strategi konservasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan biologi reproduksi dari ikan Puntiusspp. yang terdiri dari sex ratio (SR), faktor kondisi (FK), Gonadosomatic Index (GSI), Tingkat Kematangan Gonad (TKG), Fekunditas, ukuran telur (UT) dan untuk mengevaluasi kualitas air Sungai Serayu sebagai habitat Puntiusspp.. Metoda Simple random sampling yang digunakan dengan 15 titik sampling di Sungai Serayu. Pengambilan ikan dan air sampel dilakukan dua kali selama dua musim. Data parameter reproduksi yang dianalisa menggunakan F tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sungai Serayu terdapat ikan P. orphoides (47 orang) dan P. javanicus (72 individulas). Profil reproduksi dari P. orphoides ditunjukan oleh SR (1.5: 1), Fekunditas (13,050 - 51,169 telur), UT (303,75-1002 .38 μm). P. javanicus sementara oleh SR (1.3: 1), Fekunditas (6955 - 158,789 telur), UT (70,88 - 992,25 μm). Parameter dari GSI dan FK menunjukkan tidak berbeda antara kedua ikan dari semua titik sampling. Kemudian  TKG bahwa ikan-ikan yang tertangkap belum mencapai tingkat kematangan gonad, sehingga belum dapat dikategorikan sebagai ikan parsial spawner. Parameter kualitas air dari Sungai Serayu menunjukkan kondisi perairan sungai masih mendukung ikan untuk bereproduksi.

 
Kata kunci: Puntius spp., profil, reproduksi, perlindungan, Sungai Serayu.