PROSIDING TAHUN 2009

BIDANG MSP BIOLOGI A

MSA-01

POTENSI DAN PENGELOLAAN KERANG BATAK (Perna perna)
DI PESISIR PANGANDARAN KABUPATEN CIAMIS: STUDI PENDAHULUAN

Irwan Syadidul Anwar1), Johannes Hutabarat 2), dan Ambariyanto2)
1) SMK Negeri 1 Pangandaran, Jl. Raya Merdeka Pangandaran 46396. Telp. 0265.631050
2) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro, Kampus Tembalang, Semarang.
 Tilp/Fax: 024.7474698

Abstrak

Ketahanan pangan sektor perikanan khususnya kerang berhubungan dengan kelestarian pemanfaatan sumberdaya kerang itu sendiri. Pengelolaan sumberdaya kerang batak (Perna pictus) di Pangandaran dihadapkan pada berbagai masalah yang kompleks. Selama ini pasokan terbesar kerang adalah berasal dari penangkapan dengan pasar lokal berupa wisatawan yang pada musim tertentu sangat banyak. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji potensi dan upaya pengelolaan kerang batak (P. pictus) di Pangandaran Kabupaten Ciamis. Metode yang digunakan adalah Metoda Surplus Production yaitu dengan menganalisis data produksi dan pertumbuhan kerang (Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan Laut, 1998) dan metoda Analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi kerang batak tertinggi selama bulan Agustus 2008-Maret 2009 didaratkan di Rengganis karena merupakan daerah yang paling dekat dengan habitat kerang batak. Pada bulan September 2008 terjadi peningkatan produksi kerang batak karena bertepatan dengan peralihan antara musim kemarau ke musim hujan. Pada peralihan musim tersebut terjadi pemijahan kerang, sehingga banyak ditemukan spat dan kerang ukuran kecil yang terdampar di pinggir pantai. Pengamatan pada 4 stasiun pengamatan menunjukkan bahwa kerang yang tertangkap pada bulan Januari – Maret 2009 bergeser ke arah kelas yang lebih tinggi. Kerang yang tidak tertangkap pada bulan tersebut selanjutnya mengalami pertumbuhan ukuran panjang dan baru tertangkap pada bulan berikutnya. Rata-rata panjang cangkang dari kerang yang diambil secara acak juga menunjukkan angka yang meningkat pada bulan Januari – Maret 2009 yaitu kelas 4, 5 dan 6. Potensi kerang batak di Pangandaran ditunjukan dengan puncak produksi hasil tangkapan yang terjadi pada peralihan antara musim kemarau ke musim hujan (Agustus 2008–Oktober 2009) yaitu sebanyak 860 kg. Pada bulan berikutnya hasil tangkapan semakin menurun (pada bulan Maret 2009 produksi kerang batak hanya 151 kg), sehingga untuk menjamin kontinuitas produksi perlu adanya upaya budidaya. Pengelolaan wilayah pesisir Pangandaran termasuk didalamnya pengelolaan sumberdaya kerang batak masih dalam tingkatan rencana strategis (strategic plan) sesuai dengan tahapan pengelolaan berdasarkan Undang-Undang No. 27 tahun 2007. Upaya pengelolaan penangkapan kerang batak bisa dilakukan melalui pembatasan ukuran penangkapan kerang dan pembatasan waktu penangkapan. Sedangkan upaya pengelolaan budidaya kerang batak dilakukan melalui penetapan dan isolasi zona untuk dijadikan areal budidaya kerang tanpa mengganggu rute pelayaran kapal dan daerah wisata

Kata kunci: Kerang Batak, potensi, pengelolaan, pangandaran.  

MSA-02

PIRAMIDA UMUR DAN PENGELOMPOKAN POPULASI IKAN
BONTI-BONTI (Paratherina striata) SECARA SPASIAL
DI DANAU TOWUTI, SULAWESI SELATAN

Syahroma Husni Nasution
Pusat Penelitian Limnologi-LIPI
Jl Raya Jakarta-Bogor Km. 46, Cibinong 16911 Telp. 0218757071, Fax. 0218757076,
E-mail: syahromanasution@yahoo.com

Abstrak

Ikan bonti-bonti (Paratherina striata) adalah salah satu jenis ikan endemik dan rawan punah yang terdapat di Danau Towuti dan Mahalona. Ikan ini termasuk ke dalam famili Telmatherinidae dan merupakan bagian dari kekayaan sumberdaya hayati dan world heritage.  Dikhawatirkan terjadi penurunan populasi ikan tersebut di alam karena eksploitasi yang meningkat juga karena perubahan kualitas habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji piramida umur dan pengelompokan populasi ikan tersebut sebagai dasar untuk menggambarkan kondisi dan keragaman populasi ikan. Penelitian dilakukan di perairan D. Towuti dari bulan Mei 2006 hingga April 2007 di lima stasiun, yaitu Tanjung Bakara, Inlet D. Towuti, P. Loeha, Outlet D. Towuti, dan Beau. Sampel ikan diperoleh menggunakan jaring insang eksperimen (experimental gillnet) terdiri dari empat ukuran mata jaring yaitu ⅝, ¾, 1, dan 1¼ inci. Pengukuran karakter morfometrik ikan menggunakan metode baku yang mengacu pada Kottelat et al. (1993) yang dimodifikasi dan meliputi 22 karakter. Berdasarkan tipe piramida umur, populasi ikan bonti-bonti di masing-masing stasiun mencirikan piramida umur yang berbeda. Di stasiun inlet D. Towuti dan P. Loeha memperlihatkan tipe piramida umur  dimana populasi ikannya didominasi oleh ikan-ikan muda yang mencirikan pertumbuhan populasi relatif lebih cepat. Di stasiun Tanjung Bakara, outlet D. Towuti, dan Beau, tipe piramida umur cenderung moderat. Hal ini menunjukkan populasi ikan didominasi oleh ikan ukuran sedang, populasi ikan dalam kondisi stabil. Berdasarkan kolerasi terhadap hubungan antara karakter PT dengan 21 karakter morfometrik lainnya  di setiap stasiun, diperoleh 12 karakter yang memiliki nilai korelasi yang kuat. Hasil uji  Ancova model hubungan PT dengan 12 karakter antar stasiun, menunjukkan tidak ada perbedaan karakter morfometrik ikan bonti-bonti antar stasiun baik pada ikan jantan maupun betina.  Berdasarkan uji  Ancova tersebut diasumsikan bahwa ikan bonti-bonti di kelima stasiun merupakan satu kelompok populasi. 

Kata kunci:Piramida umur, pengelompokan populasi, Paratherina striata, Danau Towuti.


MSA-03

INVENTARISASI JENIS PLANKTON DI WADUK MALAHAYU, JAWA TENGAH

Yayuk Sugianti dan Kunto Purnomo
Loka Riset Pemacuan Stok Ikan
Jln. Cilalawi No. 1 Jatiluhur-Purwakarta
E-mail : ysugianti@yahoo.com

Abstrak

Plankton adalah mikroorganisme yang ditemui hidup melayang di perairan, terdiri dari Fitoplankton dan Zooplankton. Peran plankton dalam aspek lingkungan global sangat penting dimana dalam proses fotosintesis, fitoplankton dapat mengikat secara tak langsung gas CO2 (karbondioksida) dari atmosfer, dan menghasilkan oksigen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan menginventarisasi jenis plankton di Waduk Malahayu, Jawa Tengah. Data di ambil di 2 stasiun pengamatan, pada bulan Maret dan Juni 2008. Dari hasil pengamatan didapatkan sebanyak 59 marga plankton yang terdiri dari 52 marga fitoplankton dari kelas Chlorophyceae (29 marga), Cyanophyceae (7 marga), Bacillariophyceae (10 marga), Dinophyceae (5 marga) dan Euglenaphyceae (1 marga). Serta 8 marga zooplankton dari kelas Rotifera (5 marga), kelas Copepoda (1 marga) dan Protozoa (1 marga). Marga Pediastrum dari kelas Chlorophyceae mencapai kelimpahan plankton tertinggi selama pengamatan yaitu sebesar 13958 ind/l. Kelas Chlorophyceae sendiri memiliki persentase kelimpahan plankton paling tinggi dibandingkan kelas-kelas plankton lainnya sebesar 44% dengan rata-rata kelimpahan planktonnya berkisar antara 1006-9772 ind/l.

Kata kunci : Inventarisasi, plankton, Waduk Malahayu.

MSA-04

KOMUNITAS GASTROPODA DI MUARA SUNGAI BOGOWONTO
KABUPATEN KULON PROGO

Niluh Kadek Mega Candra Wati, Namastra Probosunu, dan Retno Widaningroem
Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada
E-mail: probosunu@ugm.ac.id

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa parameter komunitas Gastropoda yang terdapat di perairan muara Sungai Bogowonto Kabupaten Kulon Progo yaitu: keanekaragaman, kepadatan, indeks keanekaragaman, dominansi, heterogenitas dan pola sebaran. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui kandungan gizi yang terdapat pada daging Gastropoda yang dominan di muara tersebut. Penelitian dilakukan di 7 stasion pengamatan dengan pengambilan sampel sebanyak 7 kali ulangan tiap 2 minggu sekali pada bulan November-Februari.  Pengambilan sampel Gastropoda dilakukan dengan menggunakan plot atau kuadrat berukuran 1 X 1 m2. Kandungan gizi yang terdapat pada daging Gastropoda yang dominan dilakukan dengan analisis proksimat. Hasil penelitian menunjukkan Gastropoda yang terdapat di muara Sungai Bogowonto ada sebanyak 10 genera, yaitu: Faunus, Melanoides, Clypeomorus, Cerithium, Terrebralia, Telescopium, Bellamnya, Neritina, Clithon, dan Lymnaea. Hasil penelitian juga menunjukkan kepadatan Gastropoda di muara Sungai Bogowonto = 613 individu/m2 dengan indeks keanekaragaman (Simpson) = 0,2, dominansi = 0,8, heterogenitas = 0,5, serta pola sebaran 70,6 % acak, 23,5 % mengelompok dan 5,9 % seragam. Kandungan gizi yang terdapat pada daging Gastropoda yang dominan yaitu Genus Faunus terdiri dari protein 13,22 %, lemak 0,13 %, serat kasar 3,1% dan karbohidrat 4,47%.  

Kata kunci: Gastropoda, muara, Sungai Bogowonto. 

MSA-05

ASPEK BIOLOGI DAN PRODUKSI IKAN MANYUNG
(Arius thalassinus) DI PERAIRAN PURWOREJO

Dika Kusbianto, Niniek Widyorini, dan Anhar Solichin
Jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. H. Soedarto, SH – Tembalang Telp./Facs. (024) 7474698 Semarang – 50275

Abstrak

Ikan Manyung (Arius thalassinus) merupakan sumberdaya ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis penting dan digemari oleh konsumen. Salah satu faktor yang mempengaruhi produksi ikan Manyung di Perairan Purworejo yaitu tingkat pengupayaan yang kurang optimal. Upaya penangkapan di Perairan Purworejo sangat bergantung kepada cuaca dan sarana prasarana yang masih sederhana. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aspek biologi ikan Manyung meliputi hubungan panjang berat, ukuran rata-rata ikan tertangkap, dan faktor kondisi. Selain itu, guna mengetahui aspek produksi berupa nilai Catch Per Unit Effort (CPUE) selama penelitian. Sampel yang digunakan adalah semua ikan Manyung (Arius thalassinus) yang didaratkan di TPI Jatimalang. Ikan Manyung ditangkap dengan menggunakan alat tangkap gill net. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode survey. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu sampling sensus. Pengumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan dan mencatat data primer yang berupa panjang total, berat tubuh, jumlah produksi, dan upaya penangkapan (trip) ikan Manyung yang didaratkan di TPI Jatimalang selama penelitian. Disertakan pula data sekunder yang berupa data produksi dan nilai produksi ikan Manyung tahun 2002-2007. Pengambilan sampel dilakukan seminggu dua kali selama sebulan yaitu bulan Agustus 2008. Namun, sampel yang diperoleh selanjutnya akan dijumlahkan baik produksi dan upaya penangkapannya sehingga pengolahan data dibuat menjadi seminggu sekali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan Manyung (Arius thalassinus) yang diperoleh sebanyak 71 ekor. Analisis hubungan panjang berat ikan Manyung diperoleh persamaan W = 0,0000427 L2,7509, dimana nilai b < 3, artinya pertumbuhannya bersifat allometrik negatif. Ukuran rata-rata ikan tertangkap berukuran 219 mm. Faktor kondisi 1,025 yang berarti ikan dalam keadaan kurang pipih (kurus). Nilai CPUE yang diperoleh selama penelitian yaitu pada bulan Agustus 2008 dari minggu ke- I sampai ke- IV adalah 0,621; 0,448; 0,434; 0,357 kg/trip.

Kata kunci: Ikan Manyung (Arius thalassinus), Aspek Biologi, Aspek Produksi.

 

MSA-06

POTENSI JENIS ALGAE MAKRO DI BEBERAPA PERAIRAN MALUKU TENGAH  

Frijona F. Lokollo
Program Studi Ilmu Kelautan, Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Pattimura
E-mail: frijona_matulessylokollo@yahoo.com

Abstrak

Penelitian potensi jenis algae makro telah dilakukan pada perairan Ameth, Porto dan Morela. Tujuan penelitian ialah mengetahui komposisi jenis algae makro yang tersebar pada ketiga lokasi yang mewakili perairan Maluku Tengah. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan metode Transek Linier (English, et. al., 1994). Hasil iniventarisasi algae makro berhasil ditemukan 44 jenis algae makro, dengan komposisi kelas C:P:R=18:10:16. Diantaranya terdapat 3 genus algae merah yang merupakan sumber agar: Eucheuma, Gracilaria, dan Hypnea dan 2 genus algae coklat yang merupakan sumber alginat: Sargassum dan Turbinaria. Untuk ketiga lokasi perairan Ameth memiliki potensi jenis algae makro yang tertinggi yaitu 33 jenis, sedangkan untuk perairan Porto dan Morela masing-masing 13 dan 12 jenis.

Kata kunci: Potensi, algae makro, Ameth, Porto, Morela.

MSA-07

STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON DI PERAIRAN PESISIR KABUPATEN BULUKUMBA SULAWESI SELATAN

Makmur, A. Indra Jaya, dan Rachman Syah
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau
Jl. Makmur Dg. Sitakka No. 129 Maros (90512) Sulawesi Selatan, Telp. 0411-371544; 
Fax. 0411-371545; E-mail : andi_asaad1@yahoo.com

Abstrak

Penelitian mengenai struktur komunitas fitoplankton telah dilakukan di perairan pesisir Kabupaten Bulukumba pada Bulan Mei 2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekologis lingkungan perikanan budidaya berdasarkan struktur komunitas fitoplankton pada kawasan pesisir Kabupaten Bulukumba.  Pengambilan sampel  plankton dilakukan dengan cara menyaring air dari dasar perairan sampai ke atas permukaan dengan plankton net no. 25 kemudian dipekatkan sampai 10 ml, diawetkan dengan larutan lugol lalu diidentifikasi. Penentuan indeks biologi plankton meliputi perhitungan nilai indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi. Kelimpahan fitoplankton didapatkan 4 kelas yaitu Bacillariophycae (22 genus); Dinophyceae (5 genus); Ciliata/Ciliophora (2 genus); Cyanophyceae (2 genus).  Hasil analisis mengindikasikan bahwa perairan pesisir Kabupaten Bulukumba dari segi struktur komunitas fitoplankton dalam kondisi antara tercemar berat dan tercemar sedang. Sedangkan tingkat kestabilan struktur komunitas fitoplankton menunjukkan kondisi yang tidak stabil hingga kondisi stabilitas yang sedang. 
Kata kunci : Struktur komunitas, fitoplankton, Kabupaten Bulukumba.

 

MSA-08

KEANEKARAGAMAN JENIS DAN HABITAT IKAN SEMAH DI PROVINSI SUMATERA UTARA

Safran Makmur
Balai Riset Perikanan Perairan Umum

Abstrak

Ikan semah atau ikan ihan, jurung dan batak, merupakan jenis ikan ekonomis penting di Provinsi Sumatera Utara yang populasi dan habitatnya di alam sudah mulai rusak.Riset dilakukan pada tahun 2008. Survey dilakuikan 3 kali di Sungai Bohorok dan Sungai Wampu Kabupaten Langkat. Aek Sirambe Nauli di Balige dan Sungai Asahan di Porsea keduanya di Kabupaten Tobasa. Riset dilakukan melalui pengamatan langsung (survey inventarisasi), studi pustaka dan analisis di laboratorium. Pengambilan sample ikan dari hasil tangkapan nelayan. Jumlah sampel yang diperoleh untuk identifikasi berjumlah total 47 ekor, dari Sungai Bohorok dan Wampu 28 ekor, dari Sungai Asahan Porsea 17 ekor dan dari Aek Sirambe Balige hanya 2 ekor ikan semah. Analisis sampel dilakukan di laboratorium BRPPU yang meliputi pengukuran atau karakterisasi untuk keperluan identifikasi. Pengumpulan data bio-ekologi habitat perairan (fisika, kimia dan biologi) dilakukan dengan cara pengamatan langsung (visual) dan mengambil sampel air dan sampel organisme. Berdasarkan hasil identifikasi di Sumatera Utara terdapat empat jenis atau sepesies ikan semah. Keragaman yang paling tinggi terdapat di stasiun Sungai Bahorok dan Wampu diidentifikasi 4 jenis ikan semah yaitu Tor tambra, T. soro, T. douronensis dan T. tambroides. Sedangkan di Sungai Asahan dan Aek Sirambe Nauli diedentifikasi hanya satu spesies ikan semah yaitu jenis Tor soro. Karakteristik habitat ikan semah di Sumatera Utara mempunyai karakter perairan berarus (mencapai 5 m/dt) dengan dasar berbatu atau berpasir, perairan jernih dan di daerah perbukitan atau pegunungan di hulu sungai. Tanaman riparian yang banyak dijumpai pada habitat ikan semah adalah tanaman perkebunan (kelapa sawit, durian,sukun, jagung) dan tanaman semak (rumput alang alang, sikejut, pakis benalu, dan lain-lain).

Kata kunci : Keanekaragaman jenis, habitat, ikan semah, Sumatera Utara.

MSA-09

KEANEKARAGAMAN SPESIES IKAN DI HILIR SUNGAI UKAI,
ANAK SUNGAI SIAK, RIAU

Chaidir P. Pulungan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau
E-mail : ch.parlindunganp@gmail.com

Abstract

Research on diversity of  fish species present in the downstream of Ukai River, that is affected by high and low tides has been  conducted on July to November 2008. All of fishes collected were caught by gill-net, fish trap and fishhook. The fishes captured are belonged to 27 species, 20 genera, 12 families and 4 orders. The majority (48,1 %) of the fishes is belonged to family Cyprinidae (13 species). Total species  found  in each month varied from 9 to 19  and the highest number of species was found in October. The most common species caught in  September – November was “sipimping” (Oxygaster anomarula) and “pantau juar” (Rasbora duronensis). Species diversityin each month from August to November is moderate. The  diversity indices (H’) values in each manth is ranged from 1,96 – 2,48 and they are not showing any significant difference.

Keyword : Diversity species, Ukai River, dominant species. 

MSA-10

ANALISIS STOK UDANG JERBUNG (Penaeus merguiensis de Man)
DI PERAIRAN PANTAI SELATAN KABUPATEN KEBUMEN

Sekar Purwanti, Suradi Wijaya Saputra, dan Anhar Solichin
Universitas Diponegoro Jl. Prof. H. Soedarto, SH Tembalang
Telp. /Facs. ( 024) 7474698 Semarang – 50275

Abstrak

Salah satu jenis udang yang banyak didaratkan di TPI Kabupaten Kebumen adalah jenis udang Jerbung. Udang Jerbung mempunyai nilai ekonomis tinggi dan merupakan komoditas ekspor. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi aspek biologi udang Jerbung yang meliputi panjang-berat, faktor kondisi, ukuran rata-rata udang Jerbung yang tertangkap, TKG (Tingkat Kematangan Gonad), IKG (Indeks Kematangan Gonad). Selain itu untuk mengetahui CPUE dan prinsip pengelolaan udang Jerbung di perairan Kebumen. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2008 di perairan pantai selatan Kabupaten Kebumen. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Data yang dikumpulkan yaitu data primer dan data sekunder.Data primer didapatkan dengan sampling di lokasi penelitian. Sampel udang Jerbung diambil dari hasil tangkapan nelayan yang menggunakan alat tangkap trammel net. Sampel diambil 10% secara acak sederhana (simple random sampling) dari hasil tangkapan per trip. Data sekunder didapatkan dari laporan bulanan TPI di Kebumen, laporan tahunan Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Kebumen, dan data statistik perikanan tangkap Jawa Tengah. Data sekunder ini diantaranya meliputi data produksi dan jumlah trip udang Jerbung selama 10 tahun (1998-2007). Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang Jerbung betina dan jantan mempunyai nilai b berturut-turut sebesar 2,15 dan 2,00 yang berarti pertumbuhan bersifat allometrik negatif, dan nilai faktor kondisi berturut-turut sebesar 1,042 dan 1,014. Ukuran rata-rata tertangkap yang didapatkan yaitu pada panjang karapas sebesar 43,5 mm, TKG yang paling banyak ditemukan adalah TKG IV yaitu sebanyak 43%. Nilai Indeks Kematangan Gonad (IKG) yang tertinggi sebesar 7,02% pada TKG IV sedangkan yang terendah sebesar 2,04% pada TKG I. CPUE cenderung turun dari tahun ke tahun. Prinsip pengelolaan udang Jerbung sebaiknya dilakukan dengan mengurangi jumlah trip alat tangkap trammel net yang beroperasi di perairan Kabupaten Kebumen.

Kata kunci : Analisis stok, Udang Jerbung, perairan Kebumen.

MSA-11

STRUKTUR MORFOLOGI POPULASI Nerita plicata (MOLUSKA, GASTROPODA) DI TELUK AMBON BAGIAN LUAR

Junita Supusepa
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNPATTI Ambon
Email : naithasupusepa@yahoo.com

Abstrak

Spesies Nerita plicata merupakan salah satu spesies dari kelas gastropoda yang tersebar di daerah intertidal pantai berbatu maupun pantai berkarang dan melimpah didaerah tropis. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat struktur morfologi populasi Nerita plicata di Teluk Ambon luar. Penelitian ini dilakukan di sepanjang perairan Teluk Ambon luar yaitu di Desa Eri dan Desa Latuhalat pada bulan Desember 2008. Sampel Nerita plicata diambil dengan mengunakan frame berukuran 1.5 x 1.5 m secara acak. Karakter morfometrik sampel Nerita plicata dari kedua lokasi terlihat perbedaan baik ukuran  maximum, minimum maupun ukuran rata-rata, panjang-berat (pola pertumbuhan individu) maupun kelompok umur (jumlah juvenil, muda, dewasa dan tua). Di Desa Eri memiliki ukuran cangkang yang relatif kecil dibandingkan dengan Desa Latuhalat. Hal tersebut juga terjadi pada panjang-berat cangkang. Sedangkan untuk kelompok umur berdasarkan jumlah. Di Desa Eri lebih sedikit sehingga kelompok umurnya tidak bervariasi, sedangkan di Desa Latuhalat memilki jumlah organisme yang melimpah dan kelompok umurnya bervariasi. Dari penelitian ini terlihat perbedaan morfometrik dari kedua lokasi walaupun memilki kesamaan jenis spesies.

Kata kunci : Struktur morfologi, Nerita plicata, Teluk Ambon bagian luar.

MSA-12

KEPADATAN DAN PERTUMBUHAN KERANG BAKAU (Polymesoda erosa) DI PERAIRAN BONTANG KALIMANTAN TIMUR

Kisto*, Lachmudin Sya’rani**, dan Azis Nur Bambang**
* Guru SMKN 2 Bontang, Kalimantan Timur
**Manajemen Sumberdaya Pantai, Universitas Diponegoro Semarang
E-mail : kisto_ghifari@yahoo.co.id

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan dan model pertumbuhan kerang bakau (Polymesoda erosa) di perairan Bontang Kalimantan Timur. Kegiatan penelitian dilakukan pada Bulan November 2008 – Januari 2009. Lokasi penelitian dibagi menjadi 3 stasiun dengan pertimbangan vegetasi mangrove, jarak dari garis pantai dan sungai. Sampel diambil dengan metode transek kuadrat (1 x 1 m). Kepadatan diestimasi berdasarkan metode Heryanto et all., (2006) dan perhitungan pendugaan parameter pertumbuhan menggunakan metode Von Bertalanffy, dengan alat bantu program ELEFAN (Electronic Length Frequencys Analysis)I yang terdapat dalam paket program FiSAT (FAO-ICLARM Stock Assessment Tool ) II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan tertinggi pada stasiun I yaitu 2,82 ind/m², sedangkan kepadatan pada stasiun II dan III berturut-turut yaitu 2,19 ind/m² dan 2,44 ind/m². Distribusi morfometri P.erosa pada stasiun I,II dan III berbeda sangat signifikan dengan nilai p < 0.05. Model kurva pertumbuhan Von Bertalanffy P. erosa di perairan Bontang adalah Lt = 111.25 x (1 – exp (-1.20 x { t - 0.257 }). Pada saat penelitian P. erosa di perairan Bontang diduga baru berumur 1 tahun 06 bulan 21 hari. Berdasarkan distribusi panjang cangkang, pada stasiun I dan II diduga menghasilkan dua kelompok umur yang berbeda, sedangkan pada stasiun III menghasilkan tiga kelompok umur.

Kata kunci : Kerang bakau (P.erosa), kepadatan, model pertumbuhan.

MSA-13

STRUKTUR KOMUNITAS MOLUSKA INFAUNA DI TAMBAK MANGROVE
DESA BLANAKAN, KABUPATEN SUBANG, JAWA BARAT

Joni Haryadi1, Adi Basukriadi2, Mufti P. Patria2, Muhadiono3, dan Hadiyanto4
1Pusat Riset Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan, Jakarta
2Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Indonesia, Depok
3Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor, Bogor
4Alumni Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto

Abstrak

Penelitian dilakukan di Desa Blanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat selama bulan Maret-Juni 2008. Desa tersebut memiliki hutan mangrove yang dimanfaatkan untuk beragam jenis tambak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah spesies, jumlah individu, indeks kekayaan jenis (R), indeks keragaman (H’), indeks keseragaman (E), dan indeks dominansi (D) moluska infauna yang hidup di tambak terbuka (TB), tambak tumpangsari (TS), tambak tanah timbul (TT), dan tambak perhutani (TP). Sampel sedimen diambil menggunakan PVC corer berdiameter 7 cm dan tinggi 50 cm. Sampel sedimen disaring menggunakan saringan benthos berukuran 1 mm, selanjutnya moluska infauna yang diperoleh diidentifikasi sampai tingkat spesies. Sebagai variabel pendukung, kondisi air dan sedimen juga dilaporkan pada penelitian ini. Sebanyak 20 spesies moluska infauna telah diidentifikasi di tambak mangrove Desa Blanakan. Tricolia pulloides adalah jenis yang paling dominan dengan jumlah individu mencapai 42,97%. Komunitas moluska infauna paling stabil terdapat di TB dengan nilai R, H’, E, dan D berturut-turut sebesar 1,73; 1,55; 0,86; dan 0,24, sedangkan paling labil terdapat di TP dengan nilai R, H’, E, dan D berturut-turut sebesar 1,86; 1,35; 0,56; dan 0,34. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa faktor lingkungan yang mempengaruhi (p<0,05) struktur komunitas moluska infauna adalah pH, DO, dan C sedimen. 

Kata kunci: Struktur komunitas, moluska infauna, tambak mangrove, Desa Blanakan.

MSA-14

KELIMPAHAN RELATIF, KEANEKARAGAMANDAN DISTRIBUSI PERIFITON
DI DAERAH DATARAN RENDAH SUNGAI SIAK,PROPINSI RIAU

Khoirul Fatah dan Husnah
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang
Jl. Beringin No 308 Mariana Telp (0711) 537194

Abstrak

Perifiton merupakan salah satu organisme produser penting yang berperan terhadap produktivitas primer perairan umum khususnya perairan sungai. Perifiton juga merupakan satu dari beberapa indikator yang digunakan untuk mendeteksi tingkat kesehatan suatu perairan mengingat sifat tumbuhan ini yang melekat pada substrat sehingga organisme ini dapat merekam pasokan limbah ke suatu perairan pada periode tertentu. Sungai Siak adalah satu diantara 4 sungai besar di propinsi Riau yang telah mengalami tekanan lingkungan. Studi bertujuan mengetahui kelimpahan dan distribusi perifiton di sungau Siak yang dilakukan pada bulan Juni, Agustus, dan Oktober 2008. Pengambilan contoh perifiton dilakukan pada 20 stasiun di Sungai Siak mulai dari Kuala Tapung hingga Muara Sungai Mandau.  Perifiton diambil dari bermacam substrat seperti tumbuhan air dan kayu mati. Tumbuhan air yang dipilih adalah tumbuhan yang sudah lama terendam didalam air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas perifiton di Sungai Siak tersusun dari 76 genera  dengan persentase bervariasi berdasarkan bulan dengan persentase masing-masing pada bulan Juni, Agustus dan Oktober adalah 73,68%, 72,37% dan 67,11%.  Ke 76 genera tersebut berasal dari 14 kelas  yaitu Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Ciliatea, Chryssophyceae, Cyanophyceae, Dinoflagellida, Euglenophyceae, Eurotatoria, Heliozoa, Monogononto, Sarcodina, Ulvophyceae, Heterotrichea dan Olygohymenophorea. Nilai indeks keanekaragaman perifiton pada bulan Juni, Agustus dan Oktober bervariasi pada kisaran 1 sampai 3. Nilai indeks ini  menunjukkan bahwa keragaman jenis perifiton di sungai Siak  termasuk kategori sedang, kecuali di stasiun 14  (Indah kiat) pada bulan Agustus mempunyai nilai indeks keragaman mendekati nol yang termasuk dalam kategori rendah dan mengindikasikan perairan pada status tidak stabil atau telah mengalami tekanan lingkungan. Kelimpahan relatif perifiton pada setiap bulan didominasi oleh Euglenophycea (Euglena dan Trachelomonas) dan Bacillariophycea Nitszchia. 

Kata kunci : Sungai Siak, perifiton, kelimpahan, keanekaragaman dan distribusi.

MSA-15

SUATU KAJIAN TENTANG KANDUNGAN PLANKTON DI KAWASAN PERTAMBAKAN KABUPATEN BULUKUMBA SULAWESI SELATAN

AbdulMalik Tangko dan Utojo
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros

Abstrak

Studi telah dilakukan pada kawasan pertambakan di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan pada tahun 2008 bertujuan untuk mengetahui kondisi kandungan plankton dalam rangka mendukung pengelolaan tambak yang berkelanjutan. Pengambilan sampel plankton pada lokasi tambak yang representatif. Plankton dikoleksi menggunakan plankton net no 25  dan sampel plankton dipekatkan dari 100 l menjadi 100 ml kemudian diawetkan dalam larutan MAF. Identifikasi plankton menggunakan mikroskop  yang berpedoman pada buku identifikasi plankton dan perhitungannya menggunakan metode counting cell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan plankton berkisar 10-250 ind/L perstasiun dengan kelimpahan rata-rata 61 ind,/L perstasiun dan jumlah genera pada seluruh stasiun sebanyak 161 dengan rata-rata 3 ind./L perstasiun. Fitoplankton didominasi oleh kelas Bacillariophyceae sebanyak 8 genera.Sedangkan zooplankton didominasi oleh kelas Crustaceae sebanyak 7 genera. Fitoplankton didominasi oleh Nitzschia,Oscillatoria, Melosira, protoperidinium, dan Prorocentrum. Sedangkan zooplankton didominasi Nauplii copepoda  dan Copepoda. Hasil uji indeks biologi plankton menunjukkan bahwa  30 (66,66 %) stasiun tergolong dalam ketegori stabil sedang (moderat), 40 (88,88 %) stasiun yang komonitas planktonnya menyebar secara merata dan 33 (73,33%) stasiun yang tidak terdapat spesies yang mendominasi spesies lainnya. Sedangkan jika berdasarkan rata-rata hasil uji  indeks biologinya, maka kondisi perairan pertambakan di Kabupaten Bulukumba Sulawesi Selatan termasuk dalam ketegori stabil sedang (moderat) dan komonitas planktonnya menyebar secara merata serta  spesies yang mendominasi spesies lainnya jumlahnya sangat kecil.

Kata kunci: Kajian, kandungan, plankton, pertambakan, Bulukumba, Sulawesi Selatan. 

MSA-16

PHYTOPLANKTON COMMUNITY STRUCTURE OF THE MIDDLE PART OF SIAK RIVER, RIAU PROVINCE, INDONESIA

Husnah and Mirna Dwi Rastina
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang
Jl. Beringin No.308 Mariana, Banyuasin III, Kab. Banyuasin.071—7537194/0711-7537205;
E-mail : samhudi_husnah@yahoo.com

Abstract

Planktonic microorganism are important components of biological communities with nutrient cycles, sustaining larger-sized animals at the higher trophic level. Environmental conditions in respective water bodies may largely affect their proportional abundance and species combination. Physical factors (discharge, light, temperature) control plankton communities.  In many cases, the nutrient-enrichment caused by human activity throughout the last decades has significantly changed the phytoplankton biomass and composition. Out of 4 large and long rivers found in Riau province, Siak River is unique inland water system. Its water source mostly come from peat land area and it is faced a  serious threat from human activities such as plantation, rubber remilling, transportation, domestic and chemical industrial wastes. Environment modification and waste loading may alter water qualities and their aquatic community structure including phytoplankton community.  Many studies were conducted in Siak River and they mostly focused on physical and chemical  aspect of water qualities while information on aquatic organisms are limited. Field survey in order to know the structure community of phytoplankton was conducted in the middle part of Siak River basin starting from the tributaty of Tapung Kanan and Tapung Kiri Rivers to the mouth of Mandau River from June to August 2008. Twenty (20) sampling sites were selected with purpossive sampling method based on the the characteristic of microhabitat such as the condition of riparian vegetation, the tributary and industrial area. Phytoplankton sample was collected  by taking l L water in each sampling point by using kemmerer bottle. The samples from different points in each station then mixed compositely in the bucket and about 500 mL  of it collected in 500 mL bottle and preserved with 5 mL lugol solution.  Water sample with volume of 3-L were collected at 1 m depth from the water surface at each of the sampling sites by using Kemmerer water sampler. The water sample was distributed into two bottle of 500-mL plastic bottle and measured in the field for temperature, water current, transparency, pH, total alkalinity, and total hardness. Community structure of phytoplankton in the middle part of Siak River constructed from 46 genus derived from three classes;  Bacillariophycea, Chlorophyceae, dan Cyanophyceae with its composition of  44.19, 41.85, and 18.60% respectively. Percentage of genus among the sampling sites varied along with the activities along the river. Siak river in the degradation processes indicating by diversity index of phytoplankton in the range of 1.0-2.5 and the dominancy of Bacillariophyceae in almost all sampling sites both on June and August.

Keywords: Siak River, plankton, abundance, distribution.

MSA-17

ZOOPLANKTON COMMUNITY STRUCTURE OF THE MIDDLE PART OF SIAK RIVER, RIAU PROVINCE, INDONESIA

Husnah and Akhmad Farid
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang
Jl. Beringin No.308 Mariana, Banyuasin III, Kab. Banyuasin.071—7537194/0711-7537205;
E-mail : samhudi_husnah@yahoo.com

Abstract

Out of 4 large and long rivers found in Riau province, Siak River is unique inland water system. Its water source mostly come from peat land area and it is faced a  serious threat from human activities such as plantation, rubber remilling, transportation, domestic and chemical industrial wastes. Environment modification and waste loading may alter water qualities and their aquatic community structure including zooplankton community. Field survey in order to know the structure community of zooplankton was conducted in the middle part of Siak River on June and  August 2008. Twenty (20) sampling sites were selected with purpossive sampling method based on the the characteristic of microhabitat such as the condition of riparian vegetation, the tributary and industrial area. Zooplankton samples were collected  by taking 50L water in each sampling sites by using 5-L plastic bucket , poured  into plankton net with mesh size of 60 µic bottle, preserved with 10% of formaldehyde and bring to laboratory for identification and counted for its abundance. Water sample with volume of 3-L were collected at 1 m depth from the water surface at each of the sampling sites by using Kemmerer water sampler. The water sample was distributed into two bottle of 500-mL plastic bottle and measured in the field for temperature, water current, transparency, pH, total alkalinity, and total hardness The number of zooplankton genera (genus) recorded  from 20 sampling sites starting from Tapung Kanan to Muara Sungai Mandau  was 41 genera deriving from 6 classes; Mastigophora, Sarcodina, Monogononta,  Ciliata,  Digononta, and  Crustacea. Siak river starting from upper  (Tapung Kana and Tapung Kiri) to down (Muara Sungai Mandau) stream was in degradation procceses indicating by diversity index in the range of 1.5-2.5 and the dominant of Mastigophora in almost samling sites.

Keywords:Siak River, zooplankton, abundance, distribution.

MSA-18

STUDI MORFOMETRI DAN POLA PERTUMBUHANKERANG DARAH Anadara granosa (Bivalvia : Arcidae)DI TANJUNG MAS, SEMARANG

M. Zainuddin1), J Suprijanto2), Ita Widowati2), Ambariyanto2) dan A. Djunaedi2)
*Mahasiswa Ilmu Kelautan FPIK Universitas Diponegoro
** Staf Pengajar Program Studi Ilmu Kelautan FPIK
E-mail : jusup.suprijanto@undip.ac.id

Abstrak

Jenis kerang darah (Anadara granosa) sebenarnya telah lama dimanfaatkan sebagai sumber protein hewani oleh penduduk indonesia. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan protein hewani laut, akhir-akhir ini komoditi tersebut meningkat permintaannya dalam bentuk segar di Tanjung Mas, Semarang. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan data morfometri kerang darah meliputi distribusi panjang, lebar, tebal dan berat total kerang; serta hubungan panjang, lebar, tebal dan berat total untuk mendiskripsikan pola pertumbuhan kerang yang didapat dari Tanjung Mas, Semarang. Hasil ukuran kerang yang didapatkan di Tanjung Mas dengan panjang berkisar 8,4– 38,2 mm, lebar berkisar 11,6 – 36,6 mm, tebal berkisar 7 – 30,5 mm, dan berat total berkisar 1,68– 11,5 gram. Hubungan panjang terhadap lebar cangkang adalah alometri negatif (b= - 0,219; R2 = 0,053; p < 0,05), hubungan panjang terhadap tebal adalah alometri negatif (b = 0,313 ; R2 = 0,274; p < 0,05), hubungan lebar terhadap tebal adalah alometri negatif (b = 0,240 ; R2 = 0,146; p < 0,05), hubungan panjang terhadap berat total kerang adalah alometri positif ( b = 0,334 ; R2 = 0,069; p<0,05 ), hubungan lebar terhadap berat total adalah isometric (b = 0,299 ; R2 = 0,041; p < 0,05), dan hubungan tebal terhadap berat total adalah alometri negatif (b = 0,602 ; R2 = 0,125; p < 0,05).

Kata kunci : Morfometri, pertumbuhan, kerang darah.

MSA-19

PENDUGAAN STOK IKAN DI DANAU EMPANGAU KALIMANTAN BARAT

Agus Djoko Utomo
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang

Abstrak

Danau Empangau 124 ha mempunyai tipe ekosistem rawa banjiran, keanekaragaman jenis ikan tinggi, merupakan danau lindung yang dikelola oleh masyarakat lokal. Kajian stok ikan dengan menggunakan metode akustik dilakukan pada bulan Desember 2006. Desain alur pengambilan data di perairan dengan cara transek zig-zag. Untuk mengetahui komposisi jenis ikan dilakukan pengambilan contoh ikan  dan  pencatatan hasil tangkapan oleh enumerator. Stok ikan di  Danau Empangau ada 5708 individu/ha. Jenis ikan yang mendominansi di perairan Danau Empangau yaitu Entukan (Thynnichthys thynnoides), Umpan (Puntius waandersii), Biawan (Helostoma temminckii).

Kata kunci: Stok ikan, danau rawa.

 

MSA-20

KEANEKARAGAMAN JENIS IKAN DI DANAU TAKAPAN KECAMATAN PAHANDUT, PALANGKA RAYA

Trilianty Lestarisa dan Djoko Rahardjo
Fakultas Biologi Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta

Abstrak

Perairan Danau Takapan merupakan suatu ekosistem yang kaya akan keanekaragaman ikan. Namun selama ini informasi mengenai aspek keanekaragaman hayati, produktifitas primer, tingkat pemanfatan, kualitas air serta kasus-kasus pencemaran masih kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keanekaragaman jenis, komposisi, dan distribusi ikan, mengetahui jenis alat tangkap dan mengetahui hubungannya dengan jenis, komposisi dan jumlah ikan yang ditangkap serta mengetahui status kualitas air Danau Takapan. Penelitian dilaksanakan bulan Juli 2007 di Danau Takapan yang terletak di Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian di Danau Takapan ini dibagi menjadi 3 lokasi, yaitu inlet, tengah, dan outlet. Pengukuran parameter fisik, kimia dan identifikasi jenis ikan dilakukan di Laboratorium Jurusan Perikanan Universitas Palangka Raya, dan Laboratorium Analitik Universitas Palangka Raya. Dari hasil penelitian diperoleh keanekaragaman jenis ikan terdiri dari 27 jenis yang termasuk dalam 1 kelas, 4 ordo dan 13 famili. Ada perbedaan keanekaragaman antar lokasi, keanekaragaman tertinggi terdapat pada lokasi tengah dengan indeks diversitas 6,14 dan indeks diversitas terendah terdapat pada lokasi outlet yaitu 4,59. Terdapat kemiripan struktur jenis ikan yang ditemukan, indeks similaritas lokasi tengah dan outlet (0,74), inlet,outlet (0,63) dan lokasi inlet,tengah (0,59). Jenis-jenis alat tangkap yang digunakan oleh nelayan di Danau Takapan adalah rawai, jaring insang, jala, selambau, rempa dan lalangit. Alat tangkap jenis yang paling banyak digunakan oleh nelayan adalah jaring insang (5 nelayan), dan yang paling sedikit adalah lalangit (1 nelayan). Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan di Danau Takapan, pada umumnya dapat digunakan untuk menangkap semua jenis ikan. Alat tangkap rawai dan lalangit lebih sering digunakan oleh nelayan untuk jenis ikan tertentu dengan ukuran besar. Kondisi perairan Danau Takapan, berdasar kelimpahan fitoplankton tergolong perairan eutrofik dan beberapa parameter fisik dan kimia air masih sesuai untuk pengembangan budidaya perairan.

Kata kunci : Danau Tangkapan, keanekaragaman ikan, indeks diversitas.

MSA-21

ANALISIS STOK UDANG PENAEID DI PERAIRAN PANTAI SELATAN KEBUMEN JAWA TENGAH

Suradi Wijaya Saputra
PS. Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK UNDIP.
E-mail : suradiwsaputra@yahoo.co.id

Abstrak

Perairan pantai selatan Kabupaten Kebumen, sebagai bagian dari Samudera Hindia, mengandung potensi sumberdaya perikanan, diantaranya udang penaeid. Jenis udang penaeid yang dominan tertangkap dan memiliki nilai ekonomis tinggi antara lain udang Jerbung (Penaeus merguiensis), udang Dogol (P. indicus), udang Barat (Metapenaeus sp.), udang Krosok (Parapenaeus sp.), dan udang Rebon (Acetes). Produksi udang penaeid di pantai selatan Kebumen cenderung menurun. Sebagai gambaran, pada tahun 1999 produksinya sebesar 375,68 ton, turun menjadi  126,42 pada tahun 2007. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi lestari udang penaeid di perairan pantai selatan Kebumen, dan merumuskan konsep pengelolaannya agar produksi udang di perairan tersebut dapat maksimum berkelanjutan. Penelitian dilakukan pada bulan September sampai dengan November 2008. Pengambilan sampel dilakukan secara proporsional sebanyak 10% dari hasil tangkapan. Lokasi sampling meliputi TPI Argopeni, Karangduwur dan TPI Pasir, yang merupakan TPI utama di daerah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan per satuan upaya (CPUE) udang penaeid besar (Jerbung, Dogol dan Barat) cenderung naik, dari 2,74 Kg/trip (tahun 1998) menjadi 7,7 Kg/trip trammel net (tahun 2007). Hasil pendugaan produksi lestari berkelanjutan (MSY) udang penaeid besar adalah sebesar 105.628,76 ton per tahun, sedangkan trip yang menghasilkan MSY (fMSY) adalah sebanyak 21.894 trip trammel net. Hal ini menunjukkan bahwa pemanfaatan udang penaeid di perairan Kebumen sudah perlu kehati-hatian. Meskipun demikian, ukuran rata-rata udang yang tertangkap cukup besar dan masih memiliki peluang untuk melakukan reproduksi. CPUE udang penaeid kecil cenderung menurun sejak tahun 1998 sampai dengan 2005, kemudian meningkat lagi sejak tahun 2006. Hasil perhitungan MSY diperoleh nilai sebesar 84.852 Ton/tahun, dengan trip optimum (fopt) sebesar 9.485 trip lampara dasar per tahun. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan udang penaeid kecil sudah jenuh tangkap (fully exploited). Guna menjaga kelestarian stok udang penaeid, maka pengelolaan diarahkan untuk mengurangi jumlah trip penangkapan udang penaeid, terutama alat tangkap lampara dasar.

Kata kunci : Potensi lestari, udang penaeid, perairan selatan Kabupaten Kebumen.

MSA-22

KARAKTERISTIK HABITAT PENYU HIJAU (Chelonia mydas) DAN UPAYA PELESTARIANNYA DI PANTAI CITIREUM, SUKABUMI (JAWA BARAT)

Adriani SN Krismono, Achmad Fitriyanto, dan Amula Nurfiarini
Loka Riset Pemacuan Stok Ikan, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, DKP

Abstrak

Pantai Citireum terletak pada 07°13’29.80 LS dan 106°53’43.05 BT, di desa Gunung Batu, Kabupaten  Sukabumi, Jawa Barat. Pantai Citireum merupakan habitat peneluran penyu hijau (Chelonia mydas). Kondisi habitat peneluran merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi naluri penyu laut untuk mengenali pantai kelahirannya diantaranya kelandaian pantai, substrat pasir, suhu pasir dan vegetasi pantai. Penyu hijau (Chelonia mydas) merupakan satu diantara enam jenis penyu yang ada di perairan Indonesia.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status terkini habitat peneluran penyu hijau dan upaya pelestariannya di pantai Citireum. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei, Juni, Juli dan Agustus 2008. Metode yang digunakan yaitu pengukuran /pengamatan/wawancara secara insitu meliputi habitat peneluran, aspek biologi serta sistim  pengelolaan penyu hijau di pantai Citireum. Hasil penelitian menunjukan bahwa habitat peneluran penyu di pantai Citireum memiliki karakeristik sebagai berikut : kemiringan  pantai berkisar  antara 1,57° – 2.98°, substrat pasir didominasi oleh pasir halus, suhu pasir permukaan berkisar antara 31°C - 38°C dengan rata-rata 33,5°C dan suhu bagian kedalaman sarang berkisar antara 29°C - 32°C dengan rata-rata 30,75°C sedangkan jenis vegetasi yang mendominasi adalah pandan laut (Pandanus tectorius) dan Nyamplung (Calophyllum inophyllum), danBogem(Sonerasia sp).  Beberapa informasi tentang aspek biologi penyu hijau yang diperoleh diantaranya adalah : kehadiran penyu sebanyak 30 induk penyu hijau yang memiliki panjang karapas berkisar antara 89 cm – 123 cm rata-rata 103.72 cm, induk penyu hijau dalam proses reproduksi melalui 6 fase dengan waktu sekitar 3-4 jam , urutan fase tersebut adalah 1.Muncul ke permukaan laut dan memilih lokasi bertelur (Searching phase), 2.Menggali lubang badan dan lubang telur (Digging phase), 3. Bertelur (Lying), 4. Menutup sarang (Covering the nest), 5.Menutup Lubang Badan dan menyamarkan jarak (filling body pit and concealing nect pit), 6. Kembali ke laut (Return to the sea)  Upaya pelestarian penyu hijau di pantai Citireum dilakukan oleh BKSDA(Balai Konservasi Sumberdaya Alam) Cikepuh, sistem untuk penetasan telur penyu hijau adalah semi alami, yaitu memindahkan telur penyu hijau ke sarang buatan (hatchery) selama 60 hari. Berdasarkan hasil penelitian maka pengelolaan penyu hijau perlu lebih ditingkatkan melalui sosialisasi aktif dengan mengikutsertakan masyarakat tentang kesadaran masyarakat betapa pentingnya kelestarian penyu terutama dalam aspek menjaga kelestarian kawasan, sistem penetasan telur, dan pengawasan terhadap predator, serta pencurian telur oleh masyarakat.

Kata kunci : Karakteristik habitat,  penyu hijau, pelestarian, Pantai Citireum. 

MSA-23

PERUBAHAN KOMPOSISI JENIS IKAN PASCA PEMBENDUNGAN WADUK SAGULING DAN CIRATA, SERTA PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN DI WADUK IR H DJUANDA

Didik Wahju Hendro Tjahjo dan Sri Endah Purnamaningtyas
Loka Riset Pemacuan Stok Ikan, Badan Riset Kelautan dan Perikanan
Jl. Cilalawi no 1 Jatiluhur Purwakarta, Jawa Barat
E-mail: didikwht@telkom.net

Abstrak

Pembendungan Waduk Cirata dan Saguling dibagian hulu Waduk Ir H Djuanda, serta pengembangan budidaya ikan dalam KJA merupakan tekanan mendorong perubahan komposisi jenis ikan dalam komunitas ikan tersebut. Beberapa jenis ikan yang mampu menyesuaikan terhadap perubahan lingkungan tersebut akan terus tumbuh dan berkembang, sedangkan jenis ikan yang tidak mampu menyesuaikan perubahan tersebut akan akan tertekan perkembangannya dan bahkan punah. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan mengevaluasi perubahan komposisi jenis ikan dalam komunitas di Waduk Ir H Djuanda pasca pembendungan Waduk Saguling dan Cirata, serta mengembangan budidaya ikan  dalam KJA.  Komposisi jenis ikan dominan sebelum pembendungan Waduk Cirata dan Saguling adalah tagih (Mystus nemurus), jambal (Pangasius pangasius), Tawes (Barbonymus gonionotus) hampal (Hampala macrolepidota), kebogerang (M. negriceps), nila (Oreochromis niloticus), lalawak (B. bramoides), genggehek (Mystacoleucus marginatus), gabus (Channa striata), dan belida (Notopterus chitala).  Pada pasca pembendungan kedua waduk tersebut komposisi jenis ikan relatif sama dengan tahun 1982-1983 hanya mengalami penambahan dua jenis ikan, yaitu betutu (Oxyeleotris marmorata) dan kaca (Parambasis siamensis), serta pengurangan dari jenis ikan tawes dan jambal.  Sedangkan pasca pembendungan kedua waduk tersebut dan pengembangan budidaya ikan dalam KJA komposisi jenis ikan dominan sangat berubah, yaitu Oscar (Amphilophus citrinellus), nila, kebogerang, kongo (Parachromis managuensis), bandeng (Chanos chanos), patin (Pangasionodon hypopthalmus), kaca, hampal,  kepiet dan nilem.

Kata kunci: Komposisi jenis ikan, Waduk kaskade, kantong jaring apung