PROSIDING TAHUN 2009

BIDANG REKAYASA B

RB-01

PENGARUH SAPONIN TERHADAP RAJUNGAN (Portunus pelagicus)

Muhammad Tjaronge dan Suharyanto
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau
Jln. Makmur dg. Sitakka 129, Maros 90512
Sulawesi Selatan

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh saponin terhadap rajungan terutama tingkah laku, ketahanan dan sintasan. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium basah Instalasi tambak percobaan Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Marana, Maros selama lima hari. Media percobaan yang digunakan adalah akuarium berukuran 60 x 40 x 40 cm3 diisi dengan air tambak bersalinitas 30 ‰ sebanyak 15 L dilengkapi dengan aerasi kuat. Perlakuan yang diaplikasikan adalah dosis saponin yang berbeda yakni A: 10 mg/L, B: 20  mg/L, C: 30 mg/L dan D: 40 mg/L, masing-masing dengan 3 kali ulangan. m3. Rajungan yang berasal dari pembesaran di tambak digunakan untuk penelitian ini berukuran lebar karapas dan bobot rata-rata masing-masing adalah  70 + 0,2 mm dan 60 + 0,3 g, Setiap akuarium ditebar sebanyak lima individu rajungan dan 5 individu ikan mujair (Tilapia mosambica). Variabel yang diamati adalah tingkah laku, sintasan dan parameter kualitas air. Untuk menganalisis data sintasan digunakan analisis ragam dengan pola rancangan acak lengkap. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari dengan dosis 15% dari total biomass. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rajungan lebih tahan terhadap saponin dari pada ikan mujair. Rajungan tahan terhadap saponin sampai dengan 40 mg/L selama empat hari. Saponin dapat digunakan langsung untuk memberantas ikan-ikan liar dalam budidaya rajungan di tambak tanpa mempengaruhi rajungan itu sendiri.

Kata kunci: Saponin, rajungan, sintasan.

RB-02

PERTUMBUHAN DAN SINTASAN SPAT TIRAM MUTIARA
(Pinctada maxima): PENGARUH PEMELIHARAAN DI HATCHERYVS. LAUT

Apri I. Supii dan Sudewi
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol
PO Box 140 Singaraja 81101, Bali
E-mail: s_u_dewi@yahoo.co.id

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan dan sintasan spat tiram mutiara Pinctada máxima yang dipelihara pada lingkungan yang berbeda: di hatchery (tangki 500 L) dan di laut (KJA). Pemeliharaan selama 7 minggu dengan ukuran awal panjang cangkang 3-5 mm. Dari hasil penelitian mengindikasikan bahwa pertumbuhan dan sintasan spat tiram mutiara tergantung kondisi lingkungan pemeliharaan. Pertumbuhan spat yang dipelihara di laut  lebih tinggi daripada di hatchery. Pemeliharaan di laut menghasilkan panjang dan lebar cangkang 24,66 mm dan 20,30 mm dengan laju pertumbuhan spesifik (SGR : Specific Growth Rate) panjang dan lebar cangkang berturut-turut 3,181 %/hari dan 2,991 %/hari. Sementara untuk spat yang dipelihara di hatchery, panjang dan lebar cangkangnya lebih rendah yaitu 13,31 mm dan 10,96 mm dengan laju pertumbuhan spesifik berturut-turut 2,562 %/hari dan 2,372 %/hari. Sebaliknya, sintasan yang lebih tinggi diperoleh pada pemeliharaan di hatchery. Sintasan di hatchery mencapai 61,17% sedangkan di laut 35,02%.

Kata kunci: Tiram mutiara, Pinctada máxima, pengaruh pemeliharaan, hatchery vs. Laut.

RB-03

PENGARUH DOSIS PUPUK SP-36 TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN,
PRODUKSI DAN KANDUNGAN AGAR RUMPUT LAUT
(Gracillaria verrucosa)

Machluddin Amin dan Erna Ratnawati
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau

Abstrak

Suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk SP-36 terhadap laju pertumbuhan harian, produksi dan kandungan agar rumput laut Gracilaria verrucosa telah dilakukan. Wadah penelitian adalah kotak gabus (Styroform)  ukuran volume 60 l sebanyak 12 buah yang masing-masing diisi air laut salinitas 25 ppt sebanyak 50 l. Tanaman uji yang digunakan adalah rumpu laut jenis G verrucosa masing-masing sebanyak 50 g/bak wadah. Pupuk yang digunakan adalah pupuk anorgnik SP-36 dengan dosis sesuai perlakuan. Perlakuan yang dicobakan adalah dosis pemberian pupuk SP-36 yaitu perlakuan A = 1 mg/L. perlakuan B = 3 mg/L, perlakuan C = 5 mg/L dan perlakuan D = 0 mg/mL (kontrol).  Pemberian pupuk dilakukan setiap 2 minggu selama 6 minggu pemeliharaan. Peubah yang diamati meliputi laju pertumbuhan harian setiap minggu, produksi dan kandungan agar rumput laut selama 6 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk SP-36 berpengaruh sangat nyata (P<0.05) terhadap laju petumbuhan harian, produksi dan kandungan agar rumpu laut G. verrucosa dimana laju pertumbuhan harian dan produksi rumput laut tertinggi pada perlakuan D masing-masing 2,37%/ hari dan 357,4 g/m2. Sedangkan kandungan agar tertinggi rumput laut diperoleh pada perlakuan C sebanyak 46,97 %. 

Kata kunci : Dosis, pupuk SP-36, rumput laut.

RB-04

STUDI SEDIMENTASI DAN KUALITAS SUBSTRAT DASAR
TAMBAK INTENSIF UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei)

Hidayat Suryanto Suwoyo, Gunarto, dan Rachman Syah
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau
Jl. Makmur Dg. Sitakka No.129 Maros, Sulawesi Selatan

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju sedimentasi, jumlah sedimen dan kualitas substrat dasar tambak intensif selama masa pemeliharaan udang vaname. Pengamatan sedimentasi dilakukan pada tambak intensif ukuran ± 4000 m2 sebanyak empat petak yang ditebari dengan benur vaname (Litopenaeus vannamei) ukuran PL.10 dengan padat tebar 50 ekor/m2. Kincir masing-masing 1 PK  dipasang sebanyak 3 unit per petak. Pakan diberikan dimulai  setelah penebaran sebanyak 100% dari biomassa dan menurun pada bulan ke tiga pemeliharaan hingga 2,5 % dari berat total biomassa udang. Pengukuran jumlah sedimen dan laju sedimentasi di dasar tambak dilakukan dengan memasang perangkap sedimen yang terbuat dari pipa paralon berukuran 3 inchi  dengan panjang 45 cm, dipasang sebanyak 5 titik untuk setiap petaknya.  Koleksi sedimen dilakukan setiap bulan sekali. Parameter kualitas sedimen yang diukur adalah tekstur tanah, bahan organik total, %C, potensial redoks, pH, %N dan P-tersedia (P2O5). Data yang diperoleh dianalisa  secara deskriptif dan regresi linear sederhana untuk melihat hubungan antara sedimentasi dengan jumlah pakan dan kepadatan akhir udang pada pembesaran udang vaname menggunakan program SPSS versi 14.0. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa laju sedimentasi dan jumlah sedimen dalam tambak semakin tinggi sejalan dengan semakin lamanya pemeliharaan udang vaname. Laju sedimentasi yang diperoleh berkisar antara 6,89 – 142,71 g/m2/ hari dengan jumlah sedimen berkisar 676,39 – 1262 kg/petak/siklus. Tambak yang diamati bertekstur lempung berpasir – lempung liat berpasir dengan kandungan bahan organik total tanah tambak berkisar antara 0,57-5,92%, %C berkisar antara 0,332-3,434%, potensial redoks sedimen tambak selama penelitian berkisar antara -216 sampai +147 mV dan nilai pH berkisar antara 6,90-7,61. %N berkisar antara  0,049- 0,2107% dan P2O5 berkisar antara  44,53-291,37 ppm. Terdapat korelasi antara tingkat akumulasi sedimen dengan kepadatan akhir udang dan jumlah total pakan yang digunakan.

Kata kunci : Sedimentasi, tambak intensif, pakan komersial, Litopenaeus vannamei

RB-05

KERAGAMAN PLANKTON PADA BUDIDAYA RAJUNGAN, Portunus pelagicusDI TAMBAK

A. Marsambuana Pirzan, Suharyantodan  M. Tjaronge
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros

Abstrak

Studi telah dilaksanakan di Instalasi Tambak Penelitian, Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau Maros bertujuan menelaah keragaman plankton pada budidaya rajungan, Portunus pelagicus di tambak. Sembilan petak tambak digunakan sebagai wadah penelitian berukuran masing-masing 250 m2. Padat tebar rajungan yang digunakan adalah 3 ind./m2. Perlakuan yang diaplikasikan adalah rasio luasan penggunaan shelter rumput laut yang berbeda: 500 kg / ha, 750 kg / ha dan 1000 kg / ha, masing-masing tiga ulangan. Pengambilan sampel plankton dilakukan tiap bulan selama empat bulan dengan menyaring air tambak menggunakan plankton net no. 25 dan sampel yang tersaring diawetkan dengan larutan Lugol 1 %. Pengambilan sampel isi usus rajungan dilakukan pada saat panen dengan mengambil dua individu tiap petak untuk diamati isi ususnya, kemudian diawetkan dengan larutan alkohol 70 %. Identifikasi plankton menggunakan mikroskop yang berpedoman pada buku identifikasi plankton dan perhitungannya menggunakan counting cell method. Hasil studi menunjukkan bahwa kelimpahan plankton bervariasi pada kisaran 50 – 2240 ind. / L dan jumlah genus pada kisaran 3 – 16 genera. Berdasarkan indeks keragaman plankton, ketiga perlakuan tergolong ke dalam kondisi stabil moderat. Kandungan isi usus rajungan terdiri dari fitoplankton, naupli kopepoda dan organisme tidak diketahui.  Produksi dan sintasan rajungan relatif tinggi diperoleh dari perlakuan 1000 kg / ha kemudian disusul oleh perlakuan 750 kg / ha dan 500 kg / ha. Peningkatan keragaman plankton cenderung diikuti oleh peningkatan produktivitas tambak.

Kata kunci : Keragaman, plankton, rajungan, budidaya, tambak.  

RB-06

PRODUKTIVITAS TAMBAK TANAH SULFAT MASAM UNTUK BUDIDAYARUMPUT LAUT, Gracilaria verrucosa  

Brata Pantjara
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros

Abstrak

Budidaya udang di tambak TSM sering mengalami kegagalan panen karena berbagai permasalahan terutama  kualitas lingkungannya yang kurang mendukung. Namun demikian, lahan tambak semacam ini dapat dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut. Rumput laut Gracilaria verrucosa  dapat tumbuh dengan baik di tambak tanah sulfat masam (TSM) yang tergolong  mempunyai kesuburan rendah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  tingkat produktivitas tambak TSM untuk budidaya rumput laut.  Penelitian dilakukan pada  tambak TSM di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Sebanyak 50 titik sampling  secara transek dilakukan pengambilan sampel tanah tambak kedalaman 0-50 cm dari permukaan tanah dengan menggunakan bor tangan.  Hasil analisis tanah dari Laboratorium digunakan sebagai data primer,  sedangkan data sekunder diperoleh dari wawancara langsung dan kuesioner pemilik tambak dan pembudidaya rumput laut.  Hasil analisis kualitas tanah tambak TSM dengan nilai potensi kemasam total < 500 mol H+/ton;  pirit < 1,85%;  Fe2+ ± 3065,6  чg/g; N-total ± 43,86 чg/g dan  P2O5 ± 0,30 чg/g  menghasilkan rata-rata produksi rumput laut tertinggi (>  2 ton kering/ha/siklus). 

Kata kunci: Produktivitas tambak, tanah sulfat masam, rumput laut. 

RB-07

PENGARUH DOSIS PUPUK UREA TERHADAP LAJU PERTUMBUHAN,
PRODUKSI DAN KANDUNGAN AGAR RUMPUT LAUT
(Gracillaria verrucosa)

Machluddin Amin dan Erfan A. Hendradjat
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau

Abstrak

Suatu penelitian yang brertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dosis pupuk urea terhadap laju pertumbuhan harian, produksi dan kandungan agar rumput laut (Gracillaria verrucosa) telah dilakukan. Wadah penelitian adalah kotak gabus (Styroform) ukuran volume 40 l sebanyak 12 buah masing-masing diisi air laut salinitas 25 ppt sebanyak 30 l/wadah. Tanaman uji yang digunakan adalah rumput laut jenis Gracillaria verrucosa sebanyak 35 g/bak. Pupuk yang digunakan urea dengan dosis sesuai perlakuan. Perlakuan yang dicobakan adalah dosis pemberian pupuk urea yaitu perlakuan A = 0 ppm (control), perlakuan B = 10 ppm. Perlakuan C = 20 ppm, dan perlakuan C = 30 ppm. Masing-masing perlakuan dengan 3 kali ulangan. Pemberian pupuk urea dilakukan setiap 2 minggu setelah pergantian air. Peubah yang diamati meliputi laju pertumbuhan harian (%) setiap minggu, produksi (g/m2) dan kandungan agar (%) rumput laut.pada akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan dosis pupuk urea tidak berpengaruh nyata (P>0.05) terhadap laju pertumbuhan harian, produksi dan kandungan agar rumput laut G  verrucosa.

Kata kunci : Dosis, urea, rumput laut (Gracillaria verrucosa).

RB-08

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TAMBAK TANAH SULFAT
MASAM MELALUI PERBAIKAN METODE PENGAPURAN

Tarunamulia dan Akhmad Mustafa
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros
Jl. Makmur Daeng Sitakkan No 129, Maros Sulawesi Selatan
Telepon : (0411) 371 544, 372 247, Faximile : (0411) 371545,
E-mail : tarunamulia@yahoo.com

Abstrak

Pengapuran merupakan salah satu teknik remediasi yang diterapkan dalam upaya peningkatan produktivitas lahan tambak yang dibangun pada tanah sulfat masam (TSM).  Namun demikian teknik pengapuran umumnya diaplikasikan saat ini belum menunjukkan tingkat keberhasilan yang bersifat stabil (kontinyu) yang dapat dijadikan sebagai patokan pada aplikasi berikutnya. Hal ini diduga karena metode pengaplikasian termasuk pengestimasian dosis kapur belum mempertimbangkan karakteristik spesifik TSM itu sendiri dan juga kualitas kapur yang digunakan.  Tulisan ini bertujuan antara lain untuk memperbaiki metode estimasi kebutuhan kapur sesuai dengan karakteristik tanah tambak TSM; megetahui pengaruh perbaikan metode pengapuran terhadap perbaikan kualitas tanah dan air tambak serta pengaruhnya terhadap peningkatan produktivitas tambak.  Dalam penelitian ini estimasi kebutuhan kapur untuk menetralisir kemasaman tanah tambak diperbaiki dengan mengkombinasikan metode Boyd (1990) dan metode SPOCAS (2001) dengan pertimbangan kualitas tanah, kualitas material penetral/kapur; dan metode aplikasi di lapangan. Penelitian dilaksanakan pada instalasi tambak percobaan BRPBAP di Kabupaten Maros Sulawesi Selatan. Penelitian ini diawali dengan uji pendahuluan dengan memanfaatkan dua petakan tambak ukuran masing-masing 64 m2 (A= Integrasi kapur pada pematang secara berlapis dan B = tambak kontrol) dan hasilnya dianalisis secara deskriptif.  Selanjutnya penelitian ini dikembangkan lebih lanjut pada 9 petak tambak dengan luasan rata-rata 800 m2 ha (20m x 40m),  dengan 3 perlakuan (A= tanpa pengapuran, B= pengapuran permukaan, dan C= integrasi kapur pada pematang) mengikuti rancangan acak kelompok (RAK).  Uji pendahuluan dengan 2 petak tambak menunjukkan penampilan udang  dengan indikator sintasan (42,6%) dan berat rata-rata (15,0 gram) pada tambak perlakuan lebih baik dibandingkan tambak control dengan sintasan dan berat rata-rata masing-masing 16,4% dan 13,7 gram .  Selanjutnya pada percobaan 9 petak, diketahui bahwa perbedaan teknik pengapuran berpengaruh signifikan terhadap sintasan udang windu.  Sintasan udang tertinggi didapatkan pada perlakuan C (sebesar 46,20% dibandingkan dengan perlakuan A dan B dengan sintasan masing-masing 33,20% dan 29,3%.  Kualitas air pada perlakuan C juga lebih baik dan bertahan hingga akhir penelitian, sedangkan pada perlakuan B pengaruh positif pengapuran permukaan hanya ditemukan pada awal masa pemeliharan.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa upaya peningkatan produktivitas tambak TSM harus betul-betul mempertimbangkan penetapan dosis kapur yang benar  serta metode aplikasi di lapangan.

Kata kunci : Pengapuran, tambak TSM.

RB-09

POTENSI BUDIDAYA KEPITING SOKA (shoft shell crab)
UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN

Anjang Bangun Prasetio, Erlania, dan Rasidi
Pusat Riset Perikanan Budidaya
Jl.Raya Ragunan No.20. Pasar Minggu
E-mail: Azamhafidz@yahoo.co.id

Abstrak

Pengembangan budidaya kedepan harus mampu mendayagunakan potensi yang ada, sehingga dapat mendorong kegiatan produksi berbasis ekonomi rakyat, meningkatkan devisa negara, serta mempercepat pembangunan ekonomi masyarakat pembudidaya ikan di Indonesia secara keseluruhan. Bertolak dari hal diatas, maka kegiatan budidaya kepiting soka (soft shell crab) diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan memperluas kesempatan kerja, yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi bagi penerimaan devisa negara. Kepiting soka atau kepiting lunak merupakan jenis kepiting bakau yang telah mengalami proses ganti kulit (moulting). Tiga teknik produksi kepiting soka yang dilakukan masyarakat selama ini yaitu (1) pemotongan capit dan kaki jalan (2) pemotongan tangkai mata (ablasi) dan (3) selama pemeliharaan induk hanya diberi pakan tanpa perlakuan apapun. Tulisan ini menjelaskan tentang perkembangan budidaya kepiting soka, mulai dari pemilihan lokasi, teknik produksi, pemeliharaan, pemanenan dan hama penyakit serta kendala budidaya.

Kata kunci: kepiting soka, teknik produksi, pemeliharaan, pemanenan, hama penyakit.

RB-10

PENGGUNAAN FORMALIN PADA SELEKSI BENIH
UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii de Man)

Fauzen Satibi, Susilo Budi Priyono, dan Iwan Yusuf Bambang Lelana
Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada

Abstract

Poor seed quality of giant freshwater prawn was one of the factor responsible for low survival rate. Seed selection was one of the method used to solve that problem. Formalin stress test could be used as a method to increase survival rate by selecting high quality seeds. The aim of this study was to determine the appropriate formalin concentration for giant freshwater prawn seed selection. Three hundred seed  per litre at age 33 days was submerged in 37 % formalin concentration for 30 minutes. Experiment was set in completely randomized design with three replication. Five level of formalin concentration : 0 ppm (control), 133,44 ppm (25 % of 30 minutes LC10), 266,89 (50 % of 30 minutes LC10) ppm, 400,33 ppm (75 % of 30 minutes LC10), and 533,77 ppm (30 minutes LC10) were used as treatments. Survival of the test stress then cultured for 42 days with density of 200 per m2 and fed three times a day with 10% of total body weight. Results showed that appropriate formalin concentration for stress test was 533,77 ppm.

Keywords: Seed selection,  giant freshwater prawn, 30 minutes LC10, formalin, survival rate.

RB-11

MUSIM TANAM Rumput laut di Perairan ANGGREK, PANTAI UTARA GORONTALO

Petrus R. Pong-Masak, Brata Pantjara, dan Rachman Syah
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau
Jln. Makmur Dg. Sitakka No. 129 Maros 90512 Sulawesi Selatan, Telp. 0411-371544,
Fax. 0411-371545; E-mail :  litkanta@indosat.net.id

Abstrak

Model pemanfaatan dan pengembangan lahan perairan untuk budidaya rumput laut secara produktif sebaiknya mengacu kepada pola musim tanam. Riset ini dilaksanakan di perairan Tolongio, Kecamatan Aggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, Provinsi Gorontalo, yang bertujuan untuk menentukan musim tanam rumput laut yang produktif pada kawasan Pantai Utara Gorontalo.  Percobaan disusun dalam RAL dengan pengamatan berulangan secara kontinyu. Rumput laut perlakuan adalah jenis Kappaphycus alvarezii dan jenis Eucheuma denticulatum yang diperoleh dari pembibitan pembudidaya lokal.  Metode budidaya long line diaplikasikan dengan panjang tali 50 m dan jarak 1 m antar bentangan.  Pemeliharaan dilakukan selama 45 hari setiap siklus dan dilakukan secara berkesinambungan sebanyak 5 siklus. Pengukuran pertumbuhan rumput laut dan kualitas lingkungan perairan dilakukan setiap interval waktu 45 hari.  Data dianalisis statistika untuk menentukan kelender musim tanam rumput laut di Perairan Tolongio, Kecamatan Aggrek sebagai representatif Pantai Utara Provinsi Gorontalo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa musim tanam rumput laut, K. alvarezii yang produktif di perairan Gorontalo Utara, terjadi pada bulan November sampai bulan April, sedangkan pada bulan Mei sampai Oktober kurang produktif karena penurunan kualitas lingkungan, pertumbuhan kerdil, berkembangnya biofouling dan terjadi serangan penyakit ice-ice.  Rumput laut jenis E. denticulatum yang tumbuh dengan baik pada kondisi lingkungan ekstrim dapat menjadi pilihan pembudidaya pada saat jenis K. alvarezii  kurang produktif.  Pertumbuhan rumput laut sangat dipengaruhi oleh musim, karena itu pola tanam sesuai musim sangat bermanfaat untuk mengantisipasi kegagalan panen.

Kata kunci : Budidaya, musim tanam, Pantai Utara Gorontalo, rumput laut.  

RB-12

KAJIAN KELANGSUNGAN HIDUP ANAKAN KERANG MUTIARA
(Pinctada maxima) MENGGUNAKAN RAK SUSUN, DILENGKAPI
SIRKULASI “AIR  WATER  LIFT

M.S. Hamzah1) dan Latif Sahubawa2)
1)  UPT. Loka Pengembangan Bio Industsi Laut Mataram, P2O LIPI
HP. 0813-4185-9459, E-mail: mats.cancuhou@yahoo.co.id
2)) Dosen Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Pertanian, UGM
HP. 081-7040-1593, E-mail: Latifsahubawa2004@yahoo.com

Abstrak

Pengusahaan budidaya kerang mutiara (Pinctada maxima) di perairan Nusa Tenggara Barat khususnya dan pada daerah lain umumnya, dikeluhkan dengan kematian masal anakan kerang mutiara pada ukuran lebar cangkang antara 3 -4 cm. Kematian masal ini, diduga sebagai akibat dari kondisi lingkungan yang berubah secara ekstrim (anomali). Penelitian dilakukan pada Januari s.d. April 2009 di Laboratorium. Tujuan penelitian untuk mengamati kelangsungan hidup anakan kerang mutiara pada setiap rak susun percobaan. Implementasi hasil penelitian ini, dapat dijadikan acuan dasar dalam upaya menekan tingkat kematian masal anakan kerang mutiara dengan mengetahui sifat hidupnya. Analisa varians menunjukkan bahwa perlakuan rak susun sebagai tempat tebaran hewan uji, ternyata tidak memberikan respons nyata terhadap kelangsungan hidup anakan kerang mutiara. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tempat penebaran hewan uji pada setiap rak susun tidak memberikan signifikansi pertumbuhan yang berbeda. Namun bila dilihat dari persentase kelangsungan hidup  ternyata rak susun yang terletak di dasar wadah percobaan (Lantai I) cenderung lebih tinggi yaitu mencapai 84,44%, dan disusul rak teratas (Lantai IV) yaitu 80%. Sementara rak Lantai III dan II berturut-turut 73,33% dan 66,67%. 

Kata kunci: Kelangsungan hidup, kerang mutiara, rak susun

RB-13

PENGARUH CARA PENAMPUNGAN DENGAN SISTEM ALIRAN 
AIR TERTUTUP TERHADAP KETAHANAN HIDUP 
LOBSTER AIR TAWAR  (Cherax quadricarinatus)

Th. Dwi Suryaningrum dan Ijah Muljanah
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan  
Jl. KS Tubun Petamburan VI Jakarta Telp : 021 53650736

Abstrak

Penelitian penampungan lobster air tawar menggunakan akuarium  bertingkat dengan sistem aliran air tertutup yang dilengkapi dengan filtrasi telah dilakukan. Penampungan lobster dilakukan dengan menggunakan sistem  sel dan sistem curah. Penampungan dengan sistem sel dilakukan dengan memasukkan lobster ke dalam sel yang terbuat dari kawat almunium yang disekat-sekat dengan ukuran  sel 14 x 6 x 10 cm.  Penampungan sistem curah dilakukan dengan menampung lobster di dalam akuarium yang diberi potongan pipa pralon. Sebagai pembanding digunakan bak semen tanpa menggunakan  filtrasi air. Penampungan dilakukan selama 14 hari dan  setiap 2 hari sekali diamati mutu air yang meliputi pH, oksigen terlarut, CO2, amonia dan nitrit, aktivitas dan mortalitas  serta  perubahan bobot  lobster.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penampungan dengan menggunakan akuarium bertingkat yang dilengkapi dengan  filtrasi  mutu air selama penampungan tidak banyak berubah. Sementara mutu air pada bak semen yang digunakan sebagai pembanding (tanpa  filtrasi)  kandungan oksigen terlarutnya  lebih rendah serta kandungan amonia dan nitritnya meningkat selama penampungan. Penampungan lobster dalam sel menyebabkan lobster stres, dan sebagian gagal moulting yang  berakibat pada kematian lobster serta penurunan bobot lobster secara nyata.  Penampungan lobster  dengan akuarium bertingkat yang dilengkapi dengan sistem filtrasi dan diberi potongan pralon sebagai shelter merupakan cara penampungan paling baik.  Pada penampungan ini kelulusan hidup lobster sebesar  96.63% dan lobster mengalami kenaikan  bobot per ekornya, sedangkan perlakuan lainnya, bobot lobster per ekornya mengalami penurunan. 

Kata kunci  :  Lobster air tawar,  penampungan, sitem aliran air tertutup,  mortalitas. 

RB-14

RISET TENTANG ADAPTASI TERIPANG PASIR
(Holothuria scabra) TERHADAP SALINITAS RENDAH

Abdul Malik Tangko
 Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros

Abstrak

Penelitian ini dilaksanakan di hatchery milik Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) yang berlokasi di Desa Siddo Kabupaten Barru Sulawesi Selatan, yang berlangsung pada bulan Mei 2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui salinitas terendah teripang  pasir masih bertahan hidup dan tumbuh dengan normal. Tingkat salinitas yang dijadikan perlakuan dalam adaptasi teripang pasir kesalinitas ini adalah tingkat salinitas 25 ppt (A), 20 ppt (B), 15 ppt (C), 10 ppt (D), dan 5 ppt (E) yang diulang 3 kali dan dirancang  menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Padat tebar yang diaplikasikan dalam penelitian adaptasi teripang pasir kesalinitas rendah ini adalah 5 ekor/bak dengan menggunakan teripang pasir uji yang berukuran  150-250 g/ekor. Tingkat penurunan salinitas menuju salinitas perlakuan adalah 2,5 ppt/hari. Pengamatan mortalitas teripang pasir yang diadaptasikan dilakukan 48 jam setelah mencapai salinitas perlakuan. Selama proses adaptasi teripang pasir diberi makanan berupa pellet dan dilakukan penggantian air setiap hari sebesar 30 %. Hasil uji analisa keragaman menunjukkan bahwa perlakuan tingkat salinitas berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap mortalitas teripang pasir yang diadaptasikan. Selanjutnya berdasarkan hasil uji statistik LSD menunjukkan bahwa perlakuan A (25 ppt) tidak berbeda nyata dengan perlakuan B (20 ppt), tetapi keduanya berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan perlakuan C (15 ppt), perlakuan D (10 ppt) dan perlakuan E (5 ppt). Begitu pula perlakuan C (15 ppt), D (10 ppt) dan E (5 ppt) terjadi perbedaan yang sangat  nyata antar satu dengan yang lainnya.

Kata kunci: Teripang pasir, adaptasi, salinitas rendah, mortalitas. 

RB-15

POSISI JARAK DASAR BUDIDAYA YANG OPTIMAL TERHADAP
PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN KARAGINAN
Eucheuma Cottonii DI TELUK MATTOANGIN BANTAENG

Sahabuddin dan Muh. Tjaronge
Peneliti Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros
Email : s.abud_din@yahoo.co.id

Abstrak

Penelitian bertujuan mengetahui posisi jarak dasar budidaya yang tepat dari rumput laut Eucheuma Cottonii terhadap pertumbuhan dan kandungan karaginannya yang dipelihara di pesisir Teluk Mattoangin Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan. Adapun jarak dasar yang berbeda yakni A : 30 meter dari dasar ; B : 60 meter dari dasar ; dan C : jarak 90 meter dari dasar perairan. Metode budidaya yang dilakukan yakni metode vertikal line yang dipelihara selama 45 hari. Hasil yang didapatkan yakni ; pertumbuahn dan kandungan karaginan terbaik ditemukan pada jarak 60 meter dari dasar perairan, sebagai karakter spsesifik pada jarak tersebut yakni ; nilai/kandungan nutriennya (posfat/nitrat) yang optimal pada lapisan perairan tersebut.

Kata kunci : Jarak dasar, pertumbuhan, karaginan, Eucheuma cottonii