![]() Anda Pengunjung Ke : 7712
|
![]() PROSIDING TAHUN 2009BIDANG PAKAN
PN-01 TERHADAP KANDUNGAN ASAM LEMAK OMEGA-3 PADA GONGGONG (Strombus canarium) Betutu Senggagau 1), Johannes Hutabarat 2), dan Ita Widowati 2) Abstrak Gonggong (Strombus canarium) merupakan salah satu komoditas ekspor dari daerah Kepulauan Riau yang bernilai ekonomis namun belum optimal pemanfatannya. Penelitian dilakukan guna mendapatkan informasi tentang pengaruh pemberian pakan alami Nannocloropsis sp, Isochrysis galbana, Nitzschia sp dan gabungan ketiganyaterhadap kandungan asam lemak omega-3 pada Gonggong serta untuk mengkaji interaksi antar variabel perlakuan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-Desember 2008 di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut Lampung. Gonggong (Strombus canarium) yang digunakan berukuran rata-rata 3 cm yang berasal dari perairan pulau Setokok, Batam. Penelitian ini terdiri dari 2 tahap yaitu penelitian pendahuluan untuk mendapatkan konsentrasi pakan terbaik dan penelitian utama. Analisa data menggunakan Rancangan Split Plot disign dengan 2 faktor dan 3 ulangan serta dilakukan uji lanjut dengan uji BNT. Faktor utama adalah pakan alami (A) dengan 4 perlakuan yaitu Nannocloropsis sp, Isochrysis galbana, Nitzschia sp dan gabungan ketiganya dengan konsentrasi masing-masing 36 x 104 sel/ml, 27 x 104 sel/ml dan 36 x 104 sel/ml . Faktor lainnya adalah waktu periode sampling (T) terdiri dari 2, 4, 6, dan 8 hari. Metode Gas Liquid Chromatography (GLC) digunakan untuk menentukan kandungan asam lemak Omega-3. Hasil yang diperoleh sebagai variabel independen jenis pakan alami dan interaksinya dengan waktu periode sampling memberikan pengaruh sangat nyata (Fhit > F0,01) terhadap kandungan asam lemak omega-3 pada Gonggong untuk jenis EPA. Sedangkan untuk kandungan DHA dan Linolenat tidak berpengaruh nyata (Fhit < F0,05). Jenis pakan alami terbaik yang memberikan nilai EPA tertinggi adalah jenis pakan Isochrysis galbana pada sampling hari ke-2 yaitu rata-rata sebesar 10,89 % dari total lipid. Kata kunci : Gonggong, pakan alami, asam lemak Omega-3.
PN-02 BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA IKAN BOTIA (Chromobotia macracanthus) Asep Permana1, Rendy Ginanjar1 dan Jacques Slembrouck2 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis artemia yang paling efisien terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva botia (Chromobotia macracanthus) sampai umur 30 hari. Wadah yang digunakan berupa akuarium dengan ukuran 30 x 20 x 20 cm sebanyak 15 buah, dengan volume 5 liter/akuarium dan menggunakan sistem resirkulasi. Sebagai perlakuan adalah penggunaan pakan artemia dengan dosis berbeda yaitu : A (1/4 kontrol), B (2/4 kontrol), C (3/4 kontrol), D (kontrol) dan E (5/4 kontrol). Larva ikan botia berumur 8 hari dengan berat rata-rata 0,0019±0,0003 gram dan panjang total rata-rata 0,57±0,03 cm ditebar sebanyak 15 ekor/wadah dan diberi pakan dengan frekuensi lima kali sehari yaitu pada pukul 06.00, 10.00, 14. 00 , 18.00 dan 22.00 WIB selama 23 hari. Parameter yang diukur adalah panjang total, pertumbuhan mutlak, laju pertumbuhan harian dan kelangsungan hidup. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pakan artemia dengan dosis yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda nyata terhadap pertambahan panjang total, pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan harian (P<0,05), sedangkan pada kelangsungan hidupnya tidak berbeda nyata (P>0,05). Berdasarkan uji lanjut dan pertimbangan ekonomis, penggunaan pakan artemia dengan dosis (3/4 kontrol) merupakan dosis yang paling efisien untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva botia. Kata kunci : Chromobotia macracanthus, pertumbuhan dan kelangsungan hidup.
PN-03 SUMBER C KARBOHIDRAT PADA SKALA LABORATORIUM Gunarto dan Burhanuddin Abstrak Penambahan sumber karbohidrat pada pemeliharaan benur windu bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan sekaligus memperbaiki kualitas air pemeliharaan benur windu. Penelitian dilakukan di laboratorium basah Instalasi tambak Maranak. Wadah penelitian berupa bak fiberglass ukuran 1 x 1 x 0,6 m, ditebari benur windu PL 70 di setiap bak dengan padat tebar 20 ekor/m2. Pakan pellet komersial diberikan sebanyak 10% dari berat biomassa pada periode dua minggu pertama, selanjutnya menurun pada periode berikutnya. Tiga perlakuan yang diuji adalah A). Tanpa penambahan sumber karbohidrat (tepung tapioka), B). Penambahan tepung tapioka sebanyak 62% dari pakan yang diberikan, C). Penambahan tepung tapioka sebanyak 2 x dari yang diberikan untuk perlakuan B. Masing-masing perlakuan dengan tiga kali ulangan. Pertumbuhan, kualitas air dan populasi bakteri diamati setiap dua minggu. Sintasan, produksi dan nilai konversi pakan dihitung pada akhir penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan dan produksi udang di perlakuan C cenderung lebih tinggi dari pada perlakuan B dan A, namun tidak berbeda nyata (P >0,05) diantara ketiga perlakuan. Nilai konversi pakan perlakuan C paling rendah dan berbeda nyata (P <0,1) dengan perlakuan A, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan B (P >0,05). Amonia dan nitrit di perlakuan C cenderung lebih rendah dari pada perlakuan B dan A. Dengan demikian nampak bahwa penambahan sumber karbohidrat mampu meningkatkan pertumbuhan udang dan produksi, sedangkan efisiensinya masih perlu penelitian yang lebih mendalam tentang penggunaan sumber karbohidrat pada pemeliharaan udang windu. Kata kunci: Karbohidrat, pertumbuhan udang, kualitas air.
PENGARUH PERBEDAAN JENIS KARBOHIDRAT DAN DOSIS PEMBERIAN PN-04 BENIH NILA MERAH (Oreochromis niloticus) PADA PENDEDERAN II Nurjanah Abstrak Dalam pemberian pakan buatan pada ikan agar tercapai pertumbuhan yang baik, maka pakan buatan yang diberikan harus mempunyai nutrisi yang secara kualitatif maupun kuantitatif memenuhi persyaratan sesuai dengan kebutuhan ikan. Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam usaha budidaya ikan nila merah adalah belum diketahuinya jenis pakan terutama kebutuhan karbohidrat dan dosis pemberian pakan yang sesuai untuk menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih nila merah (Oreochromis niloticus) pada pendederan II. Tujuan penelitian ini adalah: 1) mengetahui pengaruh pemberian tepung beras putih, tepung beras merah, dan tepung beras ketan dengan dosis 3 %, 4 %, dan 5 % dari bobot biomassa ikan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih nila merah (Oreochromis niloticus) pada pendederan II dan 2) mengetahui jenis pakan buatan dan dosis yang terbaik bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih nila merah (Oreochromis niloticus) pada pendederan II.Materi yang dipergunakan dalam penelitian ini meliputi : benih ikan nila merah (Oreochromis niloticus) berumur 2 bulan, akuarium dengan ukuran panjang 30 cm, lebar 30 cm dan tinggi 30 cm sebanyak 27 buah dengan padat penebaran 5 ekor ikan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Perbedaan jenis pakan tepung beras putih, tepung beras merah, dan tepung beras ketan dengan dosis 3 %, 4 %, dan 5 % dari bobot biomassa memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap pertumbuhan benih nila merah (Oreochromis niloticus) pada pendederan II dengan perlakuan A2B2 (Jenis pakan tepung beras merah dengan dosis pemberian pakan 4 % dari bobot biomassa) merupakan perlakuan terbaik selama penelitian. Perbedaan jenis pakan dan pemberian dosis pakan yang berbeda tidak berpengaruh terhadap tingkat kelangsungan hidup ikan nila merah selama penelitian sebesar 80 % - 100 %. Perlakuan A2B1 (Jenis pakan tepung beras merah dengan dosis pemberian pakan 3 % dari bobot biomassa) dengan nilai konversi pakan 0,97 merupakan perlakuan yang terbaik karena mempunyai nilai konversi pakan paling kecil, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan A2B2 (Jenis pakan tepung beras merah dengan dosis pemberian pakan 4 % dari bobot biomassa) dengan nilai konversi pakan 1,05. Kata kunci: Oreochromis niloticus, pakan, pertumbuhan, sintasan.
PN-05 BERBAGAI JENIS PAKAN ALAMI PADA IKAN BETUTU (Oxyleotris marmorata Blkr) UKURAN JARI (FINGERLING) Zafril Imran Azwar dan Irma Melati Abstrak Suatu percobaan untuk mengetahui periode waktu pengosongan lambung dan konsumsi pakan benih ikan betutu ukuran jari telah dilakukan di laboratorium Basah Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar. Sejumlah 150 ekor ikan betutu dengan kisaran bobot tubuh 20±3.3 g/ekor dipelihara dalam akuarium ukuran 60 x 50 x 40 cm. Setiap akuarium dilengkapi sistem aerasi dan pengatur suhu, yang berfungsi menjaga kisaran suhu air pada 28o-30o C. Kegiatan penelitiaan dilakukan dua tahap, pertama mempelajari evakuasi pakan dan kedua mempelajari pola makan. Sebagai perlakuan adalah jenis pakan yaitu cacing darah, Tubifex (a), benih ikan lele (b), dan udang air tawar (c). Percobaan pertama menggunakan 6 akuarium masing-masing ditebar 25 ekor ikan, kemudian ikan di aklimatisasikan dengan pakan yang akan di uji. Sepuluh hari setelah ikan di aklimatisasi, dilakukan pengujian terhadap ikan. Pakan diberikan dalam jumlah yang dikenyangkan. Setiap satu jam dari saat ikan di beri pakan dilakukan pengambilan sample sebanyak 4 ekor untuk masing-masing jenis pakan. Ikan sampel segera di bedah dicatat berat ikan, berat organ pencernaan (lambung dan usus), berat pakan dan kondisi pakan (utuh/hancur). Pembedahan ikan dilakukan dalam kondisi dingin dengan meletakan ikan diatas pecahan es. Percobaan ke dua dilakukan dengan akuarium ukuran yang sama, ditebar ikan betutu dengan kepadatan 10 ekor/akuarium. Pengamatan pakan yang dikonsumsi dilakukan tiap interval 3 hari, dengan mencatat pakan yang dihabiskan. Hasil percobaan memperlihatkan bahwa masing-masing lambung ikan yang diberi pakan cacing mendekati kosong setelah 8 jam, benih ikan lele 13 jam, dan udang 20 jam. Sedangkan usus mulai terisi pakan yang sudah tercerna masing-masing jam ke 3 untuk pakan cacing, jam ke 4 untuk benih lele, dan jam ke 5 untuk udang. Pakan yang dikonsumsi oleh ikan betutu kisaran berat 20-30 g sangat tergantung dari jenis pakan masing-masing yaitu 4.07 g untuk benih ikan lele, 5.66 g untuk cacing darah dan 1.95 g untuk udang /hari/ikan. Kata Kunci: Pengosongan lambung, Konsumsi pakan, ikan betutu.
PN-06 (Gnathanodon speciosus)DENGAN PEMBERIAN PAKAN AWAL YANG BERBEDA Afifah, Titiek Aslianti, dan Tony Setiadharma Abstrak Kata kunci :Larva ikan kuwe, pakan awal, tulang belakang.
PN-07 DAN PAKAN BUATAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH IKAN HIAS RED-FIN SHARK (Labeo eryhtrurus) Bastiar Nur dan I Wayan Subamia Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi pakan alami dan pakan buatan terhadap pertumbuhan dan sintasan benih ikan hias Red-Fin Shark (Labeo eryhtrurus). Benih ikan Red-Fin Shark yang berumur kurang lebih 1 bulan dengan ukuran bobot rata-rata 0,03 g dan panjang total rata-rata 1,44 cm dipelihara dalam 20 unit akuarium sistem resirkulasi, masing-masing berukuran 50 x 50 x 40 cm, dengan padat tebar 100 ekor/akuarium. Selama 40 hari pemeliharaan ikan diberi perlakuan pakan kombinasi Tubifex sp. dan pelet sebagai berikut; (A) 100% : 0%, (B) 75% : 25%, (C) 50% : 50%, (D) 25% : 75% dan (E) 0% : 100%. Pakan diberikan dengan frekuensi tiga kali sehari yaitu pada pukul 8.00, 12.00 dan 16.00. Hasil penelitian diperoleh bahwa pertumbuhan (bobot dan panjang) antara perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). Pertumbuhan (bobot dan panjang) tertinggi diperoleh pada penggunaan kombinasi pakan 75% Tubifex sp. dan 25% pelet yaitu rata-rata sebesar 3,21 gram. Sedangkan sintasan benih tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05) antara kelima perlakuan Kata kunci : BenihRed-Fin Shark, Tubifex sp., pelet, pertumbuhan, sintasan.
PN-08 HIDUP DAN PERTUMBUHANBENIH IKAN PALMAS (Polypterus senegalus senegalus) I Wayan Subamia1), Media Fitri Isma Nugraha1), dan Achmad Akbarrudin2) Abstrak Ikan Palmas (Polypterus senegalus senegalus) merupakan ikan introduksi yang berasal dari Afrika. Habitat asli ikan ini adalah di sepanjang sungai nil. Disebut juga sebagai living fossil, karena merupakan hewan peralihan antara ikan dan tetrapoda. Ikan palmas (Polypterus senegalus senegalus) sudah berhasil di pijahkan secara alami di Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar Depok, dengan tingkat kelangsungan hidup sekitar 75%. Pakan alami yang segar dan disukai belum diketahui secara pasti yang bisa mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhanya. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan pakan segar terbaik yang mampu menjaga kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan Palmas (Polypterus senegalus senegalus) serta respon terhadap makanan hidup dan tidak hidup Perlakuan yang diberikan adalah; A= Tubifek (hidup), B= Cacing tanah (hidup), C= Keong Mas (mati), D= ikan teri (mati). Benih yang di gunakan dalam penelitian berumur 30 hari dan dipelihara dalam akuarium sebanyak 10 ekor, dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 ulangan. Benih dipelihara selama 40 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan Cacing tanah memberikan respon lebih baik dibandingkan tubifex, keong mas dan ikan teri terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan palmas dengan tingkat kelangsungan hidup 100% bobot benih bertambah sekitar 3,9 gr degan tingkat kepercayaan 0,1298 dan pertambahan panjang 2,69 cm dengan tingkat kepercayaan 0,0872. Kata kunci: Ikan Palmas, kelangsungan hidup, pertumbuhan, pakan segar.
PN-09 FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN YANG BERBEDA PADA BAK TERKONTROL Siti ZuhriyyahMusthofadan Agus Priyono Abstrak Pemberian pakan dengan frekuensi yang tepat diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan, efisiensi pakan serta mengurangi biaya tenaga kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan, rasio konversi pakan, serta kelangsungan hidup ikan cobia yang dipelihara dalam bak terkontrol dengan frekuensi pemberian pakan berbeda. Ikan cobia berukuran panjang total 23,11±2,19 cm dan bobot 62,88±19,2 gram dipelihara dalam bak beton ukuran 4m3 dengan kepadatan 50 ekor per bak. Pakan buatan berupa pellet diberikan sampai kenyang sebanyak 1 kali per 2 hari (perlakuan A), 1 kali per hari (perlakuan B), 2 kali per hari (perlakuan C) dan 3 kali per hari (perlakuan D). Parameter yang diamati adalah pertumbuhan, rasio konversi pakan (FCR) dan kelangsungan hidup (SR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan cobia yang diberi pakan 1 kali per hari mampu menghasilkan pertumbuhan dan efisiensi pakan paling baik dengan laju pertumbuhan spesifik 6,09%, rasio konversi pakan 1,03 dan kelangsungan hidup sebesar 98%. Kata kunci: Cobia (Rachycentron canadum), frekuensi pemberian pakan, pertumbuhan, rasio konversi pakan, kelangsungan hidup.
PN-10 PERTUMBUHAN DAN KOMPOSISI TUBUH IKAN KERAPU MACAN, Epinephelus fuscoguttatus Usman, Netje N. Palinggi, Kamaruddin, dan Rachmansyah Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan kadar protein dan lemak pakan terhadap pertumbuhan dan komposisi tubuh ikan kerapu macan ukuran konsumsi. Sembilan pakan uji dibuat dalam bentuk moist pellet dengan tiga dosis protein (46%, 49%, dan 52%) dan tiga dosis lemak (9%, 11%, dan 13%). Ikan uji dipelihara dalam 27 keramba jaring apung ukuran 1x1x2m3 selama 140 hari, diberi pakan uji secara satiasi dua kali sehari dan diset dalam rancangan acak kelompok pola faktorial berdasarkan kelompok ukuran bobot awal ikan yaitu (i) 122,0±4,2g; (ii) 144,0±7,1g dan (iii) 172,9±10,5g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan spesifik dan sintasan ikan relatif sama (>0,05) diantara perlakuan. Sementara rata-rata bobot akhir ikan sedikit meningkat dengan meningkatnya kadar protein dan lemak pakan. Efisiensi pakan cenderung meningkat dengan meningkatnya kadar protein dan lemak pakan. Tingkat efisiensi pemanfaatan protein cenderung menurun dengan meningkatnya kadar protein pakan, tetapi meningkat dengan meningkatnya kadar lemak pakan. Hasil analisis proksimat tubuh ikan menunjukkan bahwa kadar bahan kering dan lemak ikan relatif tidak dipengaruhi (P>0,05) oleh peningkatan kadar protein pakan, namun kadar bahan kering dan lemak ikan tersebut sedikit naik dengan meningkatnya kadar lemak pakan. Kadar protein dan abu ikan relatif tidak dipengaruhi oleh perubahan kadar protein dan lemak pakan. Berdasarkan hasil penelitian ini tampak bahwa pakan dengan kadar protein 49% dan lemak sekitar 11% mampu memberikan pertumbuhan dan komposisi tubuh ikan kerapu macan yang baik. Kata kunci : Protein; lemak, pertumbuhan, komposisi tubuh, kerapu macan.
PN-11 YANG DIBERI KOMBINASI PAKAN ALAMI (Tubifex sp) DAN PAKAN BUATAN (PELET) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN Agus Priyadi dan Rendy Ginanjar Abstrak Ikan Sumatera albino merupakan salah satu jenis ikan hias air tawar yang berasal dari daerah Sumatera dan Kalimantan. Ikan hias ini mempunyai potensi besar untuk dikembangkan karena mempunyai prospek ekonomis yang cukup tinggi. Salah satu upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ikan sumatera albino adalah dengan melakukan pemberian kombinasi pakan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan kombinasi pakan alami (Tubifex sp) dan pakan buatan (pellet) terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan sumatera albino (Puntius tetrazona). Benih ikan Sumatera albino dengan berat rata-rata 0.44 gram dan panjang total rata-rata 2.87 cm ditebar pada akuarium berukuran 50 x 40 x 40 cm3 dengan kepadatan 50 ekor/akuarium. Sebagai perlakuan adalah pemberian pakan kombinasi Tubifex sp. dan pelet dengan perbandingan sebagai berikut : A = Tubifex sp. 100% dan pelet 0%; B = Tubifex sp. 75% dan pelet 25%; C = Tubifex sp. 50% dan pelet 50%; D = Tubifex sp. 25% dan pelet 75% dan E = Tubifex sp. 0% dan pelet 100%. Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 10 % dari berat badan ikan. Frekuensi pakan dilakukan 3 kali sehari, yaitu pukul 08.00, pukul 12.00 dan pukul 16.00 WIB. Hasil penelitian diperoleh bahwa pertumbuhan (bobot, panjang, laju pertumbuhan harian) serta sintasan antara perlakuan menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). Pertumbuhan (bobot dan panjang) tertinggi diperoleh pada penggunaan kombinasi pakan 25% Tubifex sp. dan 75% pelet yaitu rata-rata sebesar 1.32 ± 0.01gram (bobot) dan 3.85 ± 0.04 cm (panjang). Sintasan benih ikan hias sumatera albino yang diberi pakan B (Tubifex sp 75% :pelet 25%), C (Tubifex sp 50%: pelet 50%) dan D (Tubifex sp 25%:Pelet 75%) menghasilkan nilai yang sama baiknya, sedangkan pada pemberian pakan A (Tubifex sp 100%:pelet 0%) dan E (Tubifex sp 0%:pelet 100%) menghasilkan sintasan yang rendah. Kata kunci : Ikan sumatera albino, Tubifex sp, pelet, pertumbuhan, sintasan.
PN-12 BETUTU (Oxyeleotris marmorata Blkr) Evi Tahapari*) dan Wartono Hadie**) Abstrak Penelitian beberapa formulasi pakan buatan untuk pemeliharaan benih ikan betutu (Oxyeleotris marmorata Blkr) telah dilakukan di Sukamandi. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan informasi mengenai formulasi pakan buatan yang cocok pada pemeliharaan ikan betutu. Sebagai perlakuan dalam penelitian ini adalah empat macam : A. Formulasi pakan dengan sumber protein dari tepung kepala udang, B. Formulasi pakan dengan sumber protein dari tepung cumi, C. Formulasi pakan dengan sumber protein dari udang rebon, dan D. pakan berupa udang rucah. Pakan buatan yang digunakan dengan kandungan protein pakan berkisar 47,68%. Penelitian dilakukan di kolam menggunakan keramba yang terbuat dari bambu dengan ukuran masing-masing 2x1x1,25 m. Setiap keramba diisi ikan uji sebanyak 16 ekor dengan ukuran bobot awal rata-rata 48,88 gram/ekor. Penelitian dilakukan selama empat bulan. Hasil menunjukkan semua perlakuan memberikan pertambahan bobot yaitu; perlakuan A. 4,89 gram, B. 5,87 gram, C. 5,66 gram, dan D. 35,12 gram. Untuk sintasan tidak memberikan perbedaan yang nyata antar perlakuan (P > 0.05) yaitu perlakuan A. 33%, B. 35%, C. 33%, dan D. 39%. Kata kunci : Formulasi pakan, benih ikan betutu, sand goby.
PN-13 CALON INDUK IKAN BOTIA (Chromobotia macrachanta) Nurhidayat dan Agus Priyadi Abstrak Pakan merupakan salah satu kunci penentu keberhasilan usaha budidaya perikanan. Nutrisi lengkap dengan komposisi dan fungsi yang tepat sangat menentukan pertumbuhan dan reproduksi ikan. Riset mengenai pemeliharaan ikan Botia melalui perbaikan pakan bertujuan untuk mendapatkan induk matang gonad dalam kondisi optimal. Wadah pemeliharaan berupa aquarium 9 buah, berukuran 100 x 40 x 40 cm dilengkapi dengan pengatur suhu (suhu konstan 28-30 ºC), pH 6,5 - 7,5. Padat penebaran tiga ekor/akuarium, terdiri dari dua ekor betina dan satu ekor jantan. Perlakuan pakan yang diberikan selama percobaan yaitu : (A) Pelet 100 %, (B) Pelet 65 % + cacing tanah hidup 35 % dan (C) Pelet 65 % + cacing tanah 35 % (dicampur menjadi pelet). Riset ini diharapkan menghasilkan informasi pakan yang optimal dalam pemeliharaan induk sehingga dapat memecahkan masalah pengindukan botia. Pakan diberikan sebanyak 3 % bobot kering dari biomasa ikan botia. Hasil penelitian menunjukkan respon ikan botia terhadap pakan yang diberikan tertinggi pada pemberian pakan dengan kombinasi pelet 65 % dan cacing tanah hidup 35 % dengan tingkat kematangan gonad tingkat II (TKG II ) sebanyak tiga ekor. Pertumbuhan bobot biomasa selama pemberian pakan tidak menujukkan adanya perbedaan dengan pemberian pakan yang berbeda (P>0.05). hasil akhir menunjukkan pertambahan biomasa tertinggi dihasilkan dengan pemberian pakan Pelet 65 % + cacing tanah hidup 35 % sebesar 12,70 gr/ekor diikuti dengan Pelet 65 % + cacing tanah 35 % (dicampur menjadi pelet) sebesar 7,83 gr/ekor dan pelet 100 % sebesar 5,81 gr/ekor. Kata kunci : Calon induk, botia, pakan, kematangan gonad. PN-14 DI DANAU SENTANI Lismining Pujiyani Astuti, Astri Suryandari dan Yayuk Sugianti Abstrak Danau Sentani terletak di Kabupaten Jayapura dan merupakan penghasil ikan air tawar untuk memenuhi kebutuhan ikan air tawar di wilayah Kabupaten dan Kota Jayapura. Ikan-ikan yang mendiami Danau Sentani memanfatkan plankton, tumbuhan air, serangga, ikan kecil, udang, larva dan detritus sebagai pakan alaminya sehingga ikan di Danau Sentani mempunyai trofik level yang berbeda-beda. Penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis fitoplankton di perairan danau yang dimanfaatkan oleh ikan Danau Sentani. Penelitian dilakukan pada bulan April, Juli, September dan November dengan survey berstrata. Parameter yang diamati meliputi genera dan kelimpahan fitoplankton serta identifikasi fitoplankton di isi perut ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di perairan danau ditemukan 5 kelas yaitu Chlorophyceae (26 genera), Cyanophyceae (10 genera), Bacillariophyceae (10 genera), dinophyceae (3 genera) dan Euglenaphyceae (2 genera). Hasil pengamatan isi perut menunjukkan bahwa fitoplankton yang termanfaatkan terdiri atas 4 kelas yaitu Chlorophyceae (17 genera), Cyanophyceae (6 genera), Bacillariophyceae (8 genera), dinophyceae (1 genera), sehingga masih ada beberapa genera fitoplankton di perairan Danau Sentani yang belum termanfaatkan sebagai pakan ikan. Adapun jenis ikan yang memanfaatkan fitoplankton adalah ikan Nila (Oreochromis niloticus), Nilem (Osteochilus hasselti) dan Sepat (Tricogaster pectoralis) yang temasuk herbivora dan ikan Tambakan (Helostoma temmincki) yang termasuk planktivora. Kata kunci : Fitoplankton, pakan alami, Danau Sentani.
PN-15 Rini Susilowati dan Sri Amini Abstrak Pertumbuhan dan kelimpahan mikroalga Botryococcus braunii pada salinitas yang berbeda yaitu 5, 10, 15, 20, dan 25 ppt dikultur dalam kondisi yang terkontrol. Pada media kultivasi kultur awal kelimpahan B. braunii sebanyak 104 sel/ml, pencahayaan sebesar 1500 lux dan suhu 25 0C. Kultivasi mikroalga ini dilakukan dalam 75 ml air untuk setiap salinitas dengan tambahan pupuk conway dan dilakukan tiga kali ulangan. Pengambilan sampling untuk penghitungan kelimpahan dilakukan 2 hari sekali sampai kelimpahan B. braunii mencapai fase konstan. Berdasarkan hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai laju pertumbuhan dan kelimpahan tertinggi terjadi pada salinitas 5 ppt dengan kelimpahan 6,9 sel/ml dan laju pertumbuhan 1,9/hari pada hari ke-9. Berdasarkan uji Anova menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh nyata dari perbedaan salinitas terhadap kelimpahan B. Braunii. Kata kunci: Botryococcus braunii, salinitas, laju pertumbuhan, kelimpahan.
PN-16 TERHADAP PERTUMBUHANLOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus)PADA PENDEDERAN DALAM AKUARIUM Fransisca Santa Clause, Rustadi, dan Senny Helmiati Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ransum dan frekuensi pemberian pakan buatan terhadap lobster air tawar yang dapat memberikan pertumbuhan terbaik. Penelitian ini menggunakan dua faktor, yaitu ransum (2,5 dan 5 % dari berat total) dan frekuensi pemberian pakan (2, 4, dan 6 x sehari). Kombinasi kedua faktor tersebut masing-masing dilakukan 2 ulangan. Benih lobster air tawar yang digunakan berukuran 1 inchi per ekor, yang dipelihara dalam akuarium berukuran 60 x 30 x 35 cm3 dengan kedalaman air 15 cm. Setiap akuarium memiliki padat tebar 10 ekor. Pakan yang digunakan adalah pakan buatan (pelet) dengan kadar protein sebesar 40 %. Penelitian dilakukan selama 6 minggu di Laboratorium Riset Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM. Pertumbuhan dan kualitas air diukur setiap 2 minggu sekali. Kematian dan sisa pakan diamati setiap hari. Data diuji menggunakan sidik ragam dan uji jarak ganda Duncan (DMRT) dengan tingkat signifikansi 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ransum dan frekuensi pemberian pakan buatan tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan rasio konversi pakan. Kombinasi ransum 2,5 % dari total biomassa dan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari memberikan pertumbuhan terbaik. Kata kunci : Akuarium, frekuensi pakan, lobster air tawar (Cherax quadricarinatus), ransum, pertumbuhan.
PN-17 KOMBINASI PAKAN PELET DAN CACING SUTERA KE PELET TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN SUMATERA ALBINO (Puntius tetrazona) Nina Meilisza, Bastiar Nur dan Asep Permana Abstrak Pemberian pakan alami dalam budidaya ikan hias sering menghadapi kendala kontinuitas dan ketersediaan jumlah dan jenis. Pakan pelet tidak memiliki kendala tersebut sehingga sering menjadi solusi permasalahan pakan serta dapat diberikan sebagai kombinasi maupun substitusi. Penelitian tentang pengaruh tingkat pemberian pakan pada peralihan kombinasi pakan pelet dan cacing sutera ke pelet terhadap pertumbuhan ikan sumatera albino (Puntius tetrazona) dilakukan selama 6 minggu di LRBIHAT Depok. Akuarium ukuran 50 x 35 x 40 cm sebanyak 15 buah digunakan pada 5 perlakuan tingkat pemberian pakan 10, 15, 20, 25, dan 30 g/kg biomassa ikan dengan 3 ulangan. Ikan ditebar sebanyak 25 ekor per akuarium. Hasil menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan sumatera albino yang diberi pakan kombinasi pelet dan cacing sutera ke pelet selama 6 minggu menghasilkan bobot mutlak dan laju pertumbuhan individu harian tertinggi pada tingkat pemberian pakan 25 dan 30 g/kg biomassa ikan. Pemberian pakan kombinasi pelet dan cacing sutera pada minggu ke 0 hingga 4 menunjukkan laju pertumbuhan harian tertinggi pada tingkat pemberian pakan 25 dan 30 g/kg biomassa. Peralihan pakan ke pelet pada minggu ke 5 hingga 6 menunjukkan laju pertumbuhan individu harian tertinggi pada tingkat pemberian pakan 15 g/kg biomassa ikan namun lebih rendah jika dibandingkan dengan pakan kombinasi. Kata kunci: Tingkat pemberian pakan, peralihan pakan, pelet, cacing sutera, pertumbuhan,
PN-18 BENIH IKAN BUNTAL AIR TAWAR (Tetraodon palembangensis) I Wayan Subamia dan Nina Meilisza Abstrak Awal bulan Agustus 2008, Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar, Depok telah berhasil memijahkan induk ikan buntal air tawar (Tetraodon palembangensis) tahap kedua dan menghasilkan benih hingga usia 50 hari. Dalam perkembangannya, belum ada informasi yang mendukung kegiatan pemeliharaan benih ikan buntal air tawar khususnya jenis pakan alami yang sesuai bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhannya. Penelitian pemberian jenis pakan alami yang berbeda dalam pemeliharaan benih ikan buntal air tawar dilakukan dengan tujuan mendapatkan jenis pakan alami yang sesuai bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan buntal air tawar. Penelitian dilakukan selama 50 hari dengan memberikan 3 jenis pakan alami yaitu Tubifex sp., larva Chironomus, dan larva Culex sp. sebanyak 5 ulangan dan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Parameter yang diukur berupa biomassa ikan (g), bobot individu (g), panjang dan lebar ikan (mm), serta jumlah ikan pada awal dan akhir penelitian (ekor). Benih usia 50 hari (w = 0,14 g; p = 16 mm; l = 6 mm) ditebar sebanyak 10 ekor dalam wadah berisi air 4 liter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di akhir penelitian (usia benih 100 hari) bobot, panjang, lebar benih yang diberi jenis pakan alami Tubifex sp., larva Chironomus, dan larva Culex sp. berturut-turut (w = 0,40, 0,68, 1,84 g; p = 22, 24, 35 mm; l = 9, 10, 16 mm) serta sintasan 5, 90, dan 100%. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa jenis pakan alami yang terbaik bagi pertumbuhan dan sintasan benih ikan buntal air tawar adalah Culex sp. Kata kunci: Pakan alami, pertumbuhan, sintasan, benih ikan buntal air tawar (Tetraodon palembangensis). « Back to faperta
| Back to Top ^
|