PROSIDING TAHUN 2008

Bidang Sosial Ekonomi Perikanan

DANAU LIMBOTO: EKONOMI NELAYAN VS KELESTARIAN LINGKUNGAN

Andri Warsa dan Krismono

Danau Limboto merupakan danau eutrofik dan secara administratif  terletak di Kabupaten Gorontalo. Danau ini memiliki fungsi yang cukup signifikan yang meliputi kegiatan pertanian, perikanan yang dilakukan oleh masyarakat pesisir Danau Limboto dan fungsi penyeimbang lingkungan fisik seperti cadangan air tanah, pencegah banjir dan penyeimbang suhu udara. Penelitian ini dilakukan di Danau Limboto pada bulan Maret, Mei, September dan Nopember 2006 dengan metode Sampling berstrata dan wawancara. Pemamfaatan Danau limboto ini berdampak pada perubahan habitat. Penggunaan tumbuhan air seperti eceng gondok untuk pembuatan bibilo.  Hal ini dapat berdampak pada penurunan luas dan pedangkalan danau melalui mekanisme evapotranspirasi. Pada tahu 1934 Danau Limboto memiliki luas 7000 Ha dengan kedalaman berkisar 14–30 m. Pada tahun 1999 luas yang tersisa hanya berkisar 1.900–3.000 Ha dengan kedalaman 2–4 m. Penggunaan alat tangkap dudayaho akan mengganggu perkembangbiakan beberapa jenis ikan teruatam manggabai dan dudayaho karena alat tangkap ini mengakap anakan ikan payangga dan manggabai. Aktivitas budidaya akan berdampak pada penurunan kualitas perairan. Hasil analisa kualitas air; Oksigen terlarut 1,73–7,13 mg/l (4,19 mg/l); Karbondioksida bebas 1,17–1,44 mg/l (3,29 mg/l); Nitrit berkisar 0,008–0,34 mg/l (0,078 mg/l); Nitrat berkisar 0,034–1,579 mg/l (0,473 mg/l) dan Fosfat 0,095–5,19 mg/l (1,47 mg/l). Alternatif pengelolaan adalah membatasi penggunaan alat tangkap dudayaho dan menetapkan daerah dan waktu penangkapan.

Kata kunci:    Danau Limboto, kelestarian lingkungan, aktivitas nelayan dan dudayaho. 

 

STRATEGI PENGEMBANGAN PENDARATAN HASIL TANGKAPAN DI PPI LABUAN PANDEGLANG–BANTEN: SUATU APLIKASI PENGEMBANGAN METODE SWOT PLUS

Anwar Bey Pane1 dan Fieka Rakhmania
1) Staf Pengajar Pascasarjana;
Laboratorium Produksi Hasil Tangkapan – Bagian Kepelabuhanan Perikanan,
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
E-mail: beypane_sibolga@yahoo.fr

Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Labuan berada pada lokasi strategis, dengan daerah-daerah penangkapan ikannya yang potensil di perairan Selat Sunda dan Samudera Indonesia, dan kedekatannya dengan pasar-pasar penting terutama Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta. Akan tetapi, kestrategisan lokasi tersebut belum menjadikan PPI Labuan berkembang sebagaimana yang diharapkan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prospek hasil tangkapan didaratkan di PPI Labuan dan strategi pengembangan pendaratan hasil tangkapannya.
Penelitian dilakukan pada bulan Oktober s/d Desember 2006 s/d Maret 2007, di PPI Labuan Kabupaten Pandeglang, dan menggunakan metode survei dengan aspek-aspek diteliti meliputi aspek pendaratan hasil tangkapan, aspek pemasaran dan aspek kemampuan kepelabuhanan. Data dianalisis secara deskriptif baik kualitatif maupun kuantitatif, penggunaan persamaan-persamaan fasilitas kepelabuhanan dan analisis SWOT yang dikembangkan (SWOT Plus).
Hasil penelitian memperlihatkan PPI Labuan memiliki prospek hasil tangkapan yang baik untuk dikembangkan ditinjau dari jenis ikan, mutu hasil tangkapan didaratkan, unit penangkapan yang ada, kemampuan fasilitas kepelabuhanan yang dimiliki dan derah distribusi pemasaran, selain ketersediaan SDI dan kestrategisan lokasi. Strategi pengembangan pendaratan hasil tangkapan yang diperoleh untuk dilakukan adalah ”Peningkatan kemampuan dan daya saing PPI Labuan”. Penggunaan SWOT Plus telah memberikan hasil strategi pengembangan yang lebih akurat.

Kata-kunci: pendaratan, hasil tangkapan, PPI Labuan, SWOT plus

 

ANALISIS BACKWARD BENDING SUPPLY CURVE TERHADAP SURPLUS EKONOMI PEMANFAATAN SUMBERDAYA LIFE REEF FISH FOR FOOD (LRFF) DI PERAIRAN KEPULAUAN SPERMONDE SULAWESI SELATAN

Benny Osta Nababan
Peneliti pada Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, BRKP – DKP
Jl. KS TUBUN Petamburan VI Slipi Jakarta 10260.  Telp. (021) 53650159

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis backward bending supply curve terhadap surplus ekonomi pemanfaatan sumberdaya LRFF di perairan Kepulauan Spermonde, Sulawesi Selatan. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian adalah gambaran (deskripsi) perdagangan sumberdaya LRFF, analisis backward bending supply curve sumberdaya LRFF (model permintaan dan penawaran), laju eksploitasi sumberdaya LRFF (sensitifitas discount rate) dan analisis kesejahteraan (suplus ekonomi). Dengan analisis backward bending supply curve diketahui titik keseimbangan (equilibrium) antara permintaan dan penawaran berada pada saat harga sumberdaya LRFF atau p=38.762 rupiah per kg dan suplai atau h=983,482 ton.  Sedangkan kurva penawaran akan berbalik ke belakang (backward bending supply) pada saat hMSY yaitu sebesar 1.107 ton. Dengan discount rate berlaku () sebesar 8,99% diperoleh surplus produsen sebesar 300.828 juta rupiah, surplus konsumen sebesar 1.262.972 juta rupiah dan surplus ekonomi sebesar 1.563.800 juta rupiah. Hal ini menunjukkan surplus produsen yang diterima oleh produsen dalam hal ini nelayan jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan yang diterima oleh konsumen. Pada analisis sensitifitas discount rate menunjukkan semakin meningkat nilai  maka kurva penawaran akan semakin cepat berbalik (backward bending curve) yang juga menunjukkan semakin cepat menurunnya surplus ekonomi (kesejahteraan). Rekomendasi yang dapat diberikan antara lain alternatif pemenuhan suplai berguna agar peningkatan harga tidak memberikan insentif meningkatkan effort untuk penangkapan namun lebih ke peningkatan suplai dari budidaya. Selain itu, perlu adanya kontrol terhadap input penangkapan misalkan pembatasan dengan instrumen ekonomi terhadap jumlah effort (pajak tambahan untuk re-stocking)

 

EKONOMI MORAL-RASIONAL NELAYAN: STUDI TENTANG NELAYAN MINI PURSE SEINE DI DESA JOBOKUTO, KABUPATEN JEPARA

Dedik Sulistiyono, Retno Widaningroem, Hery Saksono
                                              
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan kultur masyarakat desa yang mempengaruhi tata kehidupan ekonomi nelayan mini purse seine dan perilaku nelayan sebagai aktor dalam kehidupan ekonomi dari tinjauan ekonomi moral-rasional. Pengumpulan data menggunakan metode etnografi. Peneliti mengamati kehidupan sehari-hari, mewawancarai dan mendengarkan informasi dari informan kunci menggunakan alat perekam. Persinggungan dengan informan tersebut terjadi di tempat pelelangan ikan (TPI) Ujung Batu, kapal, warung makan, dan tempat ”ngobrol” di pinggir Kali Wiso yang peneliti anggap sebagai ”pusat-pusat kebudayaan”.
Struktur dan kultur masyarakat desa Jobokuto sekarang ini merupakan konstruksi sejarah masa lalu, yang dimulai dengan erosi budaya maritim dan tekanan kapitalisme lewat modernisasi. Keduanya secara nyata menyebabkan kemunduran perikanan tangkap dan kerusakan sumberdaya laut.
Struktur nelayan Jobokuto memperlihatkan bentuk “pertarungan” antara kelas dominan dan subordinat yang semakin akut, dengan berbagai bentuk resistensi baik simbolik maupun fisik. Kelas dominan, yaitu juragan,  tampil sebagai kapitalis baru yang menguasai pos-pos penting dalam proses produksi lewat manajemen modal dan pengoptimalan jaringan keluarga. Kelas subordinat, “diwakili” oleh pandega, semakin terjepit, dan memunculkan bentuk resistensi sehari-hari ala Scott untuk melunakkan dominasi juragan.
Dimensi rasional nelayan mini purse seine terlihat dari sikap juragan yang semakin arogan dalam mencari keuntungan, sedangkan dimensi moral termanifestasikan dalam bentuk lawuhan dan dom serangan, hak subsistensi dari pandega yang harus terus-menerus diperjuangkan.

Kata kunci: .. nelayan mini purse seine, dominasi-resistensi, ekonomi moral    rasional, Jobokuto. 

 

DAYA ADAPTASI DAN JAMINAN SOSIAL MASYARAKAT DALAM RANGKA MENCAPAI KETAHANAN PANGAN DOMESTIK (DINAMIKA KELEMBAGAAN LOKAL PENGELOLA SUMBERDAYA PERIKANAN KAWASAN PESISIR)

Edi Susilo1, Kliwon Hidayat2, Rachmad Syafa’at3, Muhammad Musa1,
Pudji Purwanti1 dan Erlinda Indrayani1
1) Dosen Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya,
2) Dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya
3) Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya
 Email: olisuside@yahoo.com

Kelembagaan pengelola sumberdaya perikanan pesisir perlu direvitalisasi untuk mencapai ketahanan pangan domestik. Keberlanjutan sumberdaya merupakan sebuah jaminan sosial bagi masyarakat untuk meningkatkan daya adaptasinya. Ketersediaan sumberdaya pangan dapat ditingkatkan dengan melakukan perbaikan habitat dan memperkuat kelembagaan pengelolanya. Kajian hukum secara normatif saat ini telah memberikan ruang yang luas bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sumberdaya. Tingkat kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam konservasi cukup tinggi, di sisi lain ada sebagian masyarakat yang terdorong untuk mengkonversi lahan konservasi, utamanya di kawasan mangrove. Dua hambatan utama pengembangan kelembagaan adalah adanya kompleksitas instansi yang memiliki otoritas terhadap pengelolaan sumberdaya pesisir, dan belum tersedianya aturan hukum pada level lokal yang memiliki tingkat operasional tinggi. Teorisasi adaptasi manusia menghasilkan tiga proposisi utama.

Kata kunci: adaptasi manusia, jaminan sosial, ketahanan pangan

 

PRODUKSI DAN ANALISA POLA USAHA POLI KULTUR RUMPUT LAUT Gracilaria  sp. DENGAN BANDENG DAN UDANG DI SULAWESI SELATAN

Erna Ratnawati  dan Abdul Malik Tangko
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau

Di Indonesia rumput laut telah dinobatkan sebagai komoditas unggulan karena budidaya rumput laut merupakan usaha penggerak perekonomian untuk mengentaskan kemiskinan. Rumput laut di samping sumberdaya lahannya yang cukup luas, juga permintaan pasar sangat tinggi sehingga prospek pengembangannya cukup besar dan dapat dilakukan oleh masyarakat  luas yang bermodal kecil di kawasan perairan pesisir Indonesia. Penelitian mengenai produksi dan analisa pola usaha budidaya rumput laut Gracilaria sp. telah dilakukan di Sulawesi Selatan 2006. Pada penelitian tersebut yang menjadi pokok bahasan  adalah produksi dan analisa usaha pada setiap pola budidayanya  dengan metoda pngambilan sampel melalui wawancara langsung dengan responden. Kabupaten yang dipilih untuk mewakili Sulawesi Selatan adalah Kabupaten Sinjai dan Takalar. Pola budidaya rumput laut yang dilakukan pada ke dua Kabupaten tersebut adalah polikultur Gracilaria sp. dengan bandeng dan udang windu, dimana rumput laut merupakan usaha pokok sedangkan  bandeng  dan udang windu merupakan usaha sampingan. Produksi masing-masing komoditas yang dicapai  pada ke dua Kabupaten berbeda dengan pola budidaya yang sama dalam hal ini produksi dan keuntungan yang dicapai pembudidaya  rumput laut di Sinjai lebih tinggi dari pada pembudidaya rumput laut di Takalar. Berdasarkan analisis biaya manfaat budidaya dari kedua lokasi tersebut ternyata usaha budidaya tersebut layak untuk dikembangkan.

Kata kunci:  pola usaha, produksi, Gracilaria sp., bandeng, udang windu

 

ANALISIS PRODUKSI HASIL TANGKAPAN TERHADAP PENGEMBANGAN INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN: KASUS PPN PALABUHANRATU

Ernani Lubis1 dan Sumiati
1) Staf Pengajar dan Kepala Laboratorium Kepelabuhanan Perikanan
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB
Email: ernani_ipb@yahoo.com

Di banyak pelabuhan perikanan Indonesia, produksi ikan yang ada masih belum dapat menjamin untuk berdirinya suatu industri pengolahan ikan. Padahal industri pengolahan ikan sangat penting keberadaannya untuk menunjang pengembangan suatu pelabuhan perikanan. Demikian halnya untuk kasus PPN Palabuhanratu sehingga penelitian untuk mengetahui kondisi produksi hasil tangkapan yang dapat menunjang industri pengolahan, perlu dilakukan.
Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus terhadap belum berkembangnya industri pengolahan ikan di PPN Palabuhanratu. Analisis data menggunakan dekomposisi multiplikatif untuk proyeksi hasil tangkapan dan disajikan secara deskriptif dengan mengestimasi kebutuhan terhadap proyeksi produksi hasil tangkapan.
Jenis pengolahan yang ada di PPN Palabuhanratu dan sekitarnya pada saat ini adalah pembekuan, pemindangan, pengasinan, kerupuk, abon dan bakso ikan. Berdasarkan hasil proyeksi, produksi ikan yang memiliki kontinuitas terbaik dan berpeluang menjadi bahan baku industri pengolahan adalah ikan cakalang, tongkol, tuna, layur, cucut, peperek, pari, jangilus, layaran dan pedang-pedang. Periode sepuluh tahun ke depan (2008-2017), jenis ikan cakalang, tongkol, tuna, peperek, jangilus, layaran dan pedang-pedang jumlahnya cenderung meningkat, sedangkan yang lainnya menurun. Jenis industri pengolahan ikan yang dapat dikembangkan adalah pembekuan, pengalengan, fillet, loin, surimi dan nugget ikan.

Kata kunci:    produksi hasil tangkapan, industri pengolahan ikan, pelabuhan dan perikanan dan PPN Palabuhanratu.

 

PENGEMBANGAN USAHA HASIL OLAHAN IKAN GUNA MENINGKATKAN PENDAPATAN MASYARAKAT PESISIR PANTAI DI DAERAH GUNUNG KIDUL

Fitri Rahmawati
Staf Pengajar Pendidikan Teknik Boga FT UNY

Kabupaten Gunung Kidul mempunyai beberapa daerah pesisir sebagai penghasil ikan dan daerah wisata sehingga merupakan daerah yang strategis untuk pengembangan usaha yang berkaitan dengan potensi ikan laut yang dimilikinya, terutama jika kondisi ikan melimpah. Tujuan pokok dari kegiatan ini adalah agar masyarakat pesisir di daerah Gunung Kidul dapat: 1) memilih bahan dan teknik olah ikan  yang benar, 2) mengemas dan menyajikan hasil olahan ikan yang lebih menarik konsumen, 3) menerapkan sanitasi higiene pada pengolahan ikan 4) menerapkan cara perhitungan perolehan keuntungan dan titik impas produksi pengolahan ikan di dearah Gunung Kidul.
Metode yang digunakan adalah pelatihan dan pendidikan masyarakat dengan menggunakan pendekatan ceramah, diskusi, demo, dan praktek. Kegiatan ini diikuti oleh 26 orang masyarakat pesisir pantai di daerah Gunung Kidul. Adapun materi yang diberikan untuk pengembangan usaha antara lain adalah adalah : pembuatan sosis ikan, pembuatan nugget, dan aneka masakan dari ikan yang dapat disajikan oleh rumah makan yang ada disekitar pantai. Selain peserta pelatihan, kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Gunung Kidul dan Bappeda Kabupaten Gunung Kidul.
Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar menyatakan kegiatan pelatihan sangat bermanfaat (60%), bermanfaat (30%) dan (10%) yang menyatakan kurang bermanfaat. Kegiatan ini dirasakan bermanfaat bagi responden karena isi dari pelatihan ini dapat mengembangkan kemampuan diri, pengembangan usaha, pemanfaatan ikan jika sedang melimpah, menambah pengetahuan tentang bahan, pengembangan ketrampilan pengolahan ikan, serta pengetahuan tentang sanitasi higiene dan kemasan produk. Dengan adanya peningkatan kemampuan pada pengolahan ikan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dengan rata-rata sebesar 12%. Hal ini menunjukkan bahwa pembinaan dan pelatihan yang serupa sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk masa yang akan datang.

Kata kunci: sosis ikan, nugget ikan, pengembangan usaha, olahan ikan

 

REVOLUSI BIRU DAN DIFERENSIASI SOSIAL KOMUNITAS NELAYAN

Hery Saksono

Penelitian ini mengkaji diferensiasi sosial pada aras mikro, yaitu komunitas nelayan di pesisir selatan Jawa (Desa Keburuhan, Kabupaten Purworejo), yang proses modernisasinya masih  pada tahap ’awal’, yaitu baru berlangsung sejak tahun 2001. Penelitian  bertujuan untuk: 1) Mendeskripsikan struktur sosial-ekonomi komunitas nelayan Keburuhan, 2) Mempelajari ‘bentuk’ diferensiasi social pada komunitas nelayan, 3) Mengetahui mode produksi perikanan tangkap, 4) Mengetahui organisasi produksi perikanan, terutama dalam hubungan kerja, dan 5) Mempelajari mekanisme negara dalam melakukan revolusi biru pada komunitas nelayan.
Penelitian ini menggunakan beberapa metode, yaitu survei, wawancara mendalam (in-depth interview), observasi, dan studi dokumen. Pengumpulan data dilakukan dalam beberapa tahap.
Diferensiasi sosial nelayan ditandai dengan terbentuknya golongan/kelompok nelayan yang menguasai alat produksi PMT dan yang tidak. Kelompok nelayan yang menguasai alat produksi adalah mereka yang dekat dengan elit desa dan mempunyai jaringan sosial yang luas, khususnya birokrasi pemerintah lokal (kabupaten). Faktor penyebab penting dari diferensiasi sosial yang terjadi di nelayan Keburuhan adalah revolusi biru/modernisasi perikanan tangkap.
Kebijakan yang bermaksud untuk memberdayakan nelayan tersebut pada praktiknya masih berjalan di atas konsep memihak pada yang kuat (betting on the strong), karena nelayan yang menerima bantuan/pinjaman yang pertama bukan berasal dari kelompok sasaran, tetapi dari kelompok yang dekat dengan elit desa dan birokrasi pemerintah lokal.
Nelayan Keburuhan sekarang ini telah bergeser dari ekonomi petani-nelayan kecil ke situasi yang oleh Firth dan Bailey disebut cara produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik (domestic commodity production).

Kata kunci:    nelayan, diferensiasi sosial, modernisasi perikanan, pemerintah lokal

 

ANALISIS KELAYAKAN USAHA MINUMAN FUNGSIONAL RUMPUT LAUT COKLAT (Sargassum sp.)

Ike Listya Anggraeni1, Sari Suhendriani1, Latifah Yuliarina1, Ismardini Firdaus1, dan Muhamad Firdaus2
1) Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,  Universitas Brawijaya, Malang
2) Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Brawijaya, Malang

Pangan fungsional adalah bahan pangan yang memberikan manfaat kesehatan karena kandungan komponen aktif disamping kandungan zat gizinya. Produsen telah mengembangkan berbagai produk pangan fungsional baik berupa makanan dan minuman seiring makin meningkatnya kesadaran akan kesehatan pada masyarakat, Tumbuhan perairan yang diketahui mengandung komponen aktif adalah rumput laut coklat (Sargassum sp.). Komponen aktif yang terkandung dalam tanaman ini adalah polifenol, yaitu senyawa yang bersifat antioksidan dan mudah larut dalam air. Oleh karena itu rumput laut coklat ini dapat dijadikan sebagai peluang usaha minuman fungsional. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kelayakan usaha minuman fungsional yang terbuat dari rumput laut coklat (Sargassum sp.). Minuman fungsional ini dibuat dengan cara pengeringan, pengecilan ukuran, perebusan, dan pengemasan. Data biaya produksi dan hasil penjualan dianalisis kelayakan usahanya dengan metode R/C ratio, B/C ratio, Break Even Point (BEP) dan keuntungan. Hasil analisis kelayakan usaha didapatkan nilai R/C ratio=1,588, B/C ratio=2,022, BEP=Rp 283.596,838 atau 355 cup, dan keuntungan sebesar  Rp 393.500,00. Kesimpulan yang didapatkan adalah bahwa minuman fungsional yang dibuat dari rumput laut coklat (Sargassum sp.) layak dikembangkan menjadi suatu usaha.

Kata kunci: analisis kelayakan, minuman fungsional, Sargassum sp.

 

KONTRIBUSI TRISIPAN TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PEMBUDIDAYA SOFT SHELL CRAB (Scyla  serata) DI KABUPATEN PINRANG, SULAWESI - SELATAN

Indra Cahyono, Fauziah, Ilham Usman, M Idris, G Gumilar, dan Jumriadi
Brackishwater Aquaculture Development Center
South Galesong – Takalar South Sulawesi- Indonesia
Cromileptisaltivelis@yahoo.com

Pemberdayaan pembudidaya kepiting soka pada lahan budidaya bandeng atau lahan kurang produktif dianggap cukup efektif untuk masyarakat di kawasan pesisisr Sulawesi Selatan, terutama Kel. Data Lingkungan Ujung Baru, Kec Duampanua Kabupaten Pinrang yang pada beberapa bulan terakhir berkembang secara massal budidaya kepiting soft shell tersebut. Menghadapi krisis ekonomi yang semakin komplek menjadikan pembudidaya melakukan beberapa inovasi dan modifikasi sarana dan metode budidaya produk yang diharapkan hasil akhir yang maksimal dengan biaya yang efektif dan efisien. Modifikasi wadah dilakukan dengan menggunakan bambu yang dibelah dan dibentuk rak berukuran  2.5x1.25 m tg 10/15 cm terdiri dari  32 kotak, 1  kotak  30x30 cm dengan alas waring hitam dibawahnya ditempatkan benih SS size 10–20. Pakan rucah yang awalnya sebagai asupan pakan diganti dengan Trisipan yang melimpah di inlet–outlet dan petakan kawasan ex. Budidaya udang ini. Bahkan merupakan makanan utama dan sekaligus washing net di kotak pemeliharaan. Dosis pemberian pakan 5–10% dari berat biomasa. Trisipan direbus dan bibuka dari cangkang untuk pakan kepiting sedangkan yang masih hidup diletakan di kotak untuk membersihkan jaring dari lumut yang menempel sehingga sirkulasi air dari dasar maksimal. Pemeliharaan 14 – 24 hari budidaya soft shel dengan pakan trisipan rata-rata pembudidaya mendapat pertambahan berat 32%/biomasa setelah cutting. Dengan harga Rp. 38.000/kg size 10–20, pembudidaya soft shell di kabupaten Pinrang mendapatkan keuntungan bersih Rp. 18.000/kg. Pembudidaya rata-rata melakukan penebaran 300–500 kg/hari sehingga bila dikonversikan rata-rata keuntungan harian dengan Sintasan 87% diperoleh hasil Rp. 6.264.000/hari/pembudidaya.

Kata kunci: soft shell crab, trisipan, modifikasi

 

KAJIAN USAHA PRODUKSI KEPITING SOFT SHELLING CRAB DENGAN MENGGUNAKAN WADAH BAMBU DI KAB. PINRANG SULAWESI SELATAN

Indra Cahyono dan Muh. Idris
Balai Budidaya Air Payau Takalar (BBAP) Takalar, Desa Bontoloe, Kec Galesong selatan, Kab. Takalar, sulawesi selatan  Telp: 0411-320 730, Fax : 0418-2326777,
Email: bbat@yahoo. co.id ; Muhammad.idris66@yahoo.co.id

Produksi kepiting soft shelling crab sangat potensial Untuk dikembangkan.  Beberapa metode wadah yang digunakan sebelumnya masih dianggap besar terutama penyediaan wadah perawatan. Dalam upaya menanggulangi hal tersebut perlu pemanfaatan potensi yang ada dengan nilai harga yang relatif kecil. Kajian usaha produksi dilakukan pada pembudidaya kepiting bakau soft shelling Crab di Kab Pinrang, Sulawesi Selatan. Sedangkan pengambilan data dilakukan dengan sengaja di lokasi produksi. Hasil kajian menunjukkan bahwa usaha produksi soft shelling crab dengan menggunakan wadah yang terbuat dari bambu lebih murah dibanding menggunakan wadah basket plastik dan karet. Hasil analisis diperoleh bahwa untuk menghasilkan satu kilogram soft shelling crab hanya dibutuhkan biaya wadah sebesar Rp 200,-, dibanding dengan menggunakan wadah plastik dan karet dibutuhkan biaya Rp 1,500,- dan Rp 525,-. Oleh karena itu, dengan menggunakan wadah bambu dapat menambah keuntungan, sehingga pengembalian biaya invertasi pembudidaya lebih cepat.

Kata kunci: kepiting soka, shoft shelling crab, analisa usaha

 

KAJIAN KAPASITAS INPRASTRUKTUR, KEBUTUHAN INSTITUSI, SUMBER DAYA MANUSIA KELAUTAN DAN PERIKANAN, SERTA PRODUKSI HASIL PERIKANAN DI SENTRA PERIKANAN TANGKAP TRENGGALEK, PACITAN, GUNUNGKIDUL DAN CILACAP
 
Latif Sahubawa, Kamiso, Iwan Yusuf Bambang Lelana

Infrastruktur kelautan perikanan (pelabuhan perikanan) adalah fasilitas kelautan perikanan penting yang berfungsi untuk: pelayanan kegiatan operasional kapal penangkapan; bongkar-muat dan tambat-labuh kapal perikanan; serta pembinaan mutu, pengolahan, pemasaran dan distribusi hasil perikanan. Selain itu juga berfungsi sebagai:  sumber data/informasi aktivitas perikanan, pembinaan masyarakat nelayan, pengawasan dan pengendalian sumber daya perikanan, karantina ikan, pemantauan wilayah pesisir dan wisata bahari, pengendalian lingkungan, serta penggerak ekonomi (pendapatan pelaku usaha, PAD, devisa negara  (UU RI No. 31 Tahun 2004; Permen Kelautan dan Perikanan No. 16 Tahun 2006).
Tujuan penelitian yaitu: (1) mengkaji kapasitas pelabuhan perikanan, (2) kebutuhan institusi, (3) kuantitas & kompetensi SDM, serta (4) produksi perikanan. Pengambilan data & informasi menggunakan metode survei, uji-petik, focus group discussion (FGD), kepustakaan. Data dan informasi yang tekumpul dianalisis dengan metode komparatif dan deskriptif  (Sumanto, 2003). 
Status pelabuhan perikanan di 5 (lima) sentra perikanan tangkap, masing-masing: (1) Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS)-Cilacap (kelas-1: kapasitas terbesar), (2) Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN)–Trenggalek (kelas-2), (3) Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP)–Pacitan (kelas-3), (4) PPP–Sadeng-Gunungkidul (kelas-3),  serta (5) Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI)–Muara Angke (kelas-4: kapasitas terkecil). Pengelompokkan kelas pelabuhan didasarkan pada kapasitas sarana-prasarana yang dimiliki, serta produksi perikanan yang didaratkan per hari.  Bobot kapasitas inprastruktur masing-masing pelabuhan perikanan yaitu: 38, 37, 31, 27, 36.  Armada perikanan: 625, 1.107, 135, 97, 523 buah. Kebutuhan institusi (diklat petugas: pelaku usaha): 7:4, 17:12, 6:2, 7:2, 10:5 kegiatan. Kebutuhan (kuantitas) SDM (Dinas Perikanan Kelautan : Kantor Pelabuhan Perikanan): 52:42, 51:56, 57:12, 32:6, 58:32 orang.  Kualitas SDM (S1/S2): 18:15, 21:17, 18:4, 12:2, 20:17 orang. Produksi perikanan: 6,457; 23,603; 1,935; 1,119; 12,129 ton/tahun.
Berdasarkan kapasitas infrastruktur, PPI Muara Angke (kelas-4) dan PPN Trenggalek lebih unggul dibandingkan pelabuhan perikan lain.  PPN Trenggalek memiliki kapasitas armada perikanan, kebutuhan institusi, kebutuan SDM (kuantitas & kualitas), serta produksi ikan, lebih unggul dibandingkan semua pelabuhan perikanan lain. 

Kata kunci: kapasitas, inprastruktur, kebutuhan institusi, SDM, produksi perikanan

 

ANTISIPASI MASYARAKAT NELAYAN DALAM MENANGGULANGI KELANGKAAN MINYAK TANAH DI KABUPATEN CILACAP

Rachman Djamal
Badan Penelitian Dan Pengembangan Provinsi Jawa Tengah
Jl. Imam Bonjol No. 190 Semarang; Phone: 0243540025; Fax:0243560505
E-mail: rachman_djamal@yahoo.co.id

Tanaman jarak pagar (Jatrohpa curcas Linn) merupakan salah satu tanaman sumber penghasil minyak (biofuel) untuk menggantikan atau mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap minyak tanah. Sejak 2 tahun yang lalu, ketika terjadi kecenderungan kenaikan harga minyak tingkat dunia, tanaman jarak telah dikembangkan di beberapa daerah termasuk di wilayah pesisir kabupaten Cilacap, tanaman ini dikembangkan di lahan-lahan tegalan, pekarangan, dan lahan lainnya yang kurang produktif untuk tanaman pangan.  Tahun 2007 Badan LITBANG Provinsi Jawa Tengah telah melakukan evaluasi terhadap pengembangan jarak di beberapa daerah termasuk di Kabupaten Cilacap. Hasil evaluasi menggambarkan bahwa nilai rerata tingkat usaha tani tanaman jarak sampai dengan saat dilakukan penelitian cukup mendukung pengembangan jarak di Jawa Tengah dengan nilai  rerata skore 68,69. Dukungan tersebut ditunjang oleh lingkungan sumber daya lahan (drainase, tekstur tanah. struktur tanah, kesuburan tanah, naungan yang cukup mendukung (84,68). Disamping itu ditunjang oleh potensi rumah tangga (pengetahuan, waktu luang, jumlah anggota keluarga, dan ketersediaan sumberdaya keluarga) yang cukup menunjang dengan rerata skore 64,14. Tetapi dari aspek penerapan teknologi (kualitas bibit, jarak tanam, pola tanam, penggunaan pupuk organik, penggunaan pupuk buatan, pemangkasan, penyiangan, dan pengendalian hama & penyakit) rerata skore kurang mendukung (51,93) usaha pengembangan jarak. Demikian juga nilai analisa usaha tani tanaman jarak saat ini di kabupaten Cilacap masih belum menguntungkan  (nilai B/C ratio < 1; NPV nagatif dan nilai IRR tidak terukur). Oleh karena itu untuk mengembangkan jarak sebagai salah satu usaha sampingan nelayan dalam mengantisipasi kelangkaan minyak tanah perlu peningkatan penerapan teknologi, dengan berupaya menekan biaya produksi dan meningkatkan nilai jual biji jarak siap giling. 

 

DAMPAK PEMBANGUNAN PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA CILACAP TERHADAP PERTUMBUHAN SEKTOR INFORMAL DI SEKITAR PELABUHAN

Saiful Sahat Tua Marbun, Retno Widaningroem, dan Hery Saksono
Jurusan Perikanan, Universitas Gadjah Mada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak pembangunan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) terhadap pertumbuhan sektor-sektor informal yang meliputi bakul ikan, pedagang ikan, pengolah ikan asin, dan kuli angkut ikan di sekitar pelabuhan, serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan sektor informal tersebut. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Februari sampai Mei 2008 di Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap, Kabupaten Cilacap. Metode penelitian yang digunakan adalah  metode survei. Teknik pengambilan sample menggunakan pemilihan sampel acak berdasarkan strata (stratified random sampling). Data di analisis dengan pendekatan deskriptif analitis. Parameter penelitian adalah kesempatan kerja, pendapatan, mobilitas sirkuler dan permanen responden. Total jumlah responden sebanyak 60 orang, yang terdiri dari bakul ikan 32 orang, pengolah ikan 11 orang, penjual ikan 5 orang dan  kuli angkut ikan 12 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan PPSC memberi dampak terhadap tumbuhnya sektor informal di sekitar pelabuhan. Hal tersebut dengan adanya perubahan kesempatan kerja dan pendapatan responden setelah pembangunan. Mobilitas sirkuler dan permanen juga terjadi akibat pembangunan PPSC.

Kata kunci: dampak, pembangunan, PPSC, sektor informal.

 

PESANTREN DAN BUDAYA KERJA NELAYAN DI DESA PURWOREJO KABUPATEN DEMAK

Wahyu Febriyanto
Jurusan Perikanan UGM

Keberhasilan program pemerintah seringkali ditunjang oleh keberadaan institusi non formal yang ada di tengah masyarakat. Pesantren merupakan salah satu institusi non formal berbasis pendidikan agama yang telah ada cukup lama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran budaya kerja nelayan Desa Purworejo serta hubungannya dengan pesantren yang ada di desa tersebut. Dengan kata lain, peran pesantren sebagai institusi keagamaan terhadap aktivitas kerja nelayan dicoba dianalisis dalam penelitian ini. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif, dan digunakan logical purpossive sampling dalam teknik pemilihan informan. Teknik ini menekankan kepada pengetahuan tentang variasi-variasi atau elemen-elemen yang ada dalam penelitian, dan informan dipilih dengan sengaja berdasarkan pemikiran logis karena dipandang sebagai sumber informasi dan mempunyai relevansi dengan topik penelitian. Observasi yang digunakan adalah non partisipan, dan untuk penggalian informasi digunakan teknik wawancara baik terstruktur maupun tidak terstruktur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggerak utama yang ada di pesantren, yaitu kyai dan santri memberikan peranan terhadap persoalan moral dan religi masyarakat Desa Purworejo, yang tampak dari upaya-upaya mereka dalam memberi taushiyah (petuah) kepada masyarakat yang dilakukan di berbagai waktu dan tempat, pembentengan kawasan pesisir dari lokalisasi, serta tradisi sedekah laut sebagai acara akbar tahunan masyarakat Desa Purworejo. Di sisi yang lain, persoalan-persoalan ekonomi seputar sistem ijon yang menguatkan posisi patron terhadap klien, lemahnya peran TPI sebagai pusat kegiatan ekonomi nelayan, persoalan ekonomi keluarga yang mengharuskan anak-anak nelayan lebih mendahulukan pekerjaan dibandingkan pendidikan, menjadi persoalan yang belum tersentuh oleh institusi keagamaan ini. Keterbatasan dan kekhasan peran pesantren terhadap budaya kerja nelayan di Desa Purworejo dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam menentukan program pemberdayaan nelayan.

 

PERUBAHAN ANTROPOLOGI BUDAYA DITINJAU DARI SISTEM RELIGI PADA MASYARAKAT PESISIR PANTAI SENDANG BIRU, KABUPATEN MALANG, JAWA TIMUR (ANTARA KEPERCAYAAN LOKAL, PENGARUH AGAMA DAN PERAN PEMERINTAH)

Wahyu Handayani
Divisi Sosial Perikanan, Jurusan Sosial Ekonomi Perikanan,
Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Brawijaya

Dalam ilmu antropologi arti kebudayaan adalah seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, serta karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya melalui proses belajar. Penjabarannya lebih lanjut dipaparkan lewat tujuh unsur kebudayaan, yaitu: bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian, sistem religi, serta kesenian. Penelitian ini difokuskan pada pembahasan tentang sistem religi. Sistem religi dalam antropologi budaya dapat mempunyai wujud sebagai sistem keyakinan dan gagasan-gagasan mengenai Tuhan, dewa-dewa, ruh-ruh halus, neraka surga, dan lain-lain. Selain itu juga mewujud dalam berbagai bentuk upacara (baik yang musiman maupun yang kadangkala) serta benda-benda suci yang disakralkan.
Secara garis besar metodologi penelitian ini memakai metode gabungan (mixing method) yang terdiri dari metode kualitatif dengan data yang dianalisis dari studi literatur dan data yang didapatkan dari lapang. Pemilihan metode disesuaikan dengan masalah yang diteliti dan difokuskan pada pembahasan upacara ”PETIK LAUT” yang ada di pesisir Pantai Sendang Biru dan segala hal diseputarnya sebagai refleksi terjadinya perubahan antropologi budaya yang terjadi pada masyarakat pesisir Pantai Sendang Biru. Dalam penelitian ini, hasil yang diperoleh dapat menggambarkan atau menjelaskan secara mendalam peristiwa perubahan budaya yang diwakili oleh sistem religi yang terjadi di masyarakat pesisir Pantai Sendang Biru. Data yang diperoleh berbentuk verbal, simbol, ekspresi, nilai-nilai, dan informasi/data lain yang penting.
Upacara ”PETIK LAUT” merupakan upacara adat yang dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 27 September, upacara ini merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang dilestarikan oleh masyarakat di wilayah Sendang Biru, salah satu tujuan utama dilaksanakannya upacara tersebut adalah untuk memberi penghormatan kepada Nyi Roro Kidul (sosok mitos) yang diyakini masyarakat sebagai penguasa laut. Namun dengan masuknya pengaruh agama (Islam dan Kristen) dan adanya beberapa kebijakan pemerintah Kabupaten Malang (dalam hal Kebijakan Pariwisata) dapat diketahui adanya perubahan yang significant pada sistem religi di Upacara ”PETIK LAUT”, mulai dari penetapan hari upacara, tata urutan kegiatan upacara, keterlibatan penguasa pemerintah lokal dan kabupaten dalam prosesi upacara, serta nilai-nilai tertentu yang dianut masyarakatnya. Namun terdapat juga beberapa hal yang tidak berubah, yaitu: makna utama upacara (sebagai penghormatan pada Nyi Roro Kidul), keterlibatan dukun lokal, simbol-simbol upacara, serta lokasi upacara.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan dasar bagi pemerintah dalam pembuatan kebijakan lebih lanjut yang berkaitan dengan pembangunan masyarakat lokal yang berbasis pada antropologi budaya (kearifan lokal), selain itu diharapkan terdapat penelitian serupa di tempat yang berbeda sehingga potret antropologi budaya dengan fokus sistem religi dapat di-peta-kan di seluruh wilayah Indonesia.

 

ASPEK TEKNIS DAN EKONOMIS USAHA BUDIDAYA LOBSTER AIR TAWAR DI SLEMAN DAN DI YOGJAKARTA

Yayan Hikmayani

Kajian ini bertujuan untuk melihat aspek baik teknis maupun ekonomis usaha budidaya lobster air tawar (cherax sp.) khususnya di wilayah DI Jogjakarta.   Penelitian dilakukan di dua lokasi yaitu di Kabupaten Sleman Propinsi DI Jogjakarta serta Kabupaten Klaten Propinsi Jawa Tengah. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survey dan pengambilan responden dilakukan secara sengaja kepada petani pembudidaya lobster air tawar yang ada di dua lokasi. Analisa data dilakukan menggunakan metode dskriptif untuk menjelaskan aspek terkait dengan teknis budidaya baik untuk usaha pembenihan maupun pembesaran, sedangkan untuk menjelaskan aspek ekonomis digunakam metode penghitungan analisa usaha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari aspek teknis budidaya pembenihan hampir seluruhnya menggunakan teknologi yang sederhana, sedangkan teknologi pembesaran dilakukan baik dengan menggunakan bak beton maupun kolam tanah. Secara ekonomi budidaya pembenihan sangat menguntungkan, sedangkan budidaya pembesaran di kedua lokasi masih menguntungkan dengan hasil perhitungan BC ratio lebih besar dari 1 di kedua lokasi.  Namun demikian karena budidaya pembesaran tersebut masih dianggap usaha yang baru diperkenalkan sehingga diperlukan adanya jaminan pasar untuk lobster ukuran konsumsi hasil budidaya pembesarannya.

 

ANALISIS PERSAMAAN DAN PERBEDAAN KONDISI SOSIO ANTROPOLOGI MASYARAKAT NELAYAN DI  INDONESIA

Zahri Nasution, Tjahjo Tri Hartono, dan Sastrawidjaja
Peneliti pada Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, BRKP - DKP.
Email: zahri_nas@yahoo.com

Penelitian yang bertujuan menganalisis persamaan dan perbedaan kondisi sosio antropologi masyarakat nelayan telah dilakukan dengan tujuan mengetahui dan menganalisisnya dalam kerangka pemberdayaannya. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan sosiologi dan antropologi. Pengumpulan data dilaksanakan menggunakan metoda survey yang dibantu dengan kuesioner terpola yang telah disiapkan sebelumnya. Penelitian dilakukan di 8 wilayah desa contoh di wilayah Sumatera, Jawa, Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur dalam tahun anggaran 2003. Analisis data dilakukan secara statistik menggunakan analisis faktor Cluster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi sosio antropologi masyarakat nelayan pada seluruh wilayah penelitian sangat beragam antar wilayah penelitian yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan profil kondisi sosio antropologi masyarakat nelayan antar wilayah penelitian memperlihatkan bahwa kondisi sosio antropologi secara umum (untuk seluruh dimensi) untuk wilayah Lembata sangat berbeda terhadap wilayah lainnya. Begitu juga untuk Bone dan Pasuruan yang juga sangat berbeda dibandingkan dengan wilayah lainnya. Perbedaan-perbedaan kondisi pada setiapdimensi yang dibedakan menjadi dimensi kesehatan, ekonomi, hukum adat, politik dan tingkah laku manusia dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam kegiatan pemberdayaan ekonominya. 

 

TRANSFORMASI STRUKTUR EKONOMI MASYARAKAT PEDESAAN NELAYAN PERAIRAN UMUM

Zahri Nasution
Peneliti pada Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan.

Tulisan ini bertujuan mengemukakan transformasi (perubahan) struktur ekonomi masyarakat pedesaan nelayan perairan umum di wilayah Kecamatan Pedamaran Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Kajian dalam tulisan ini menggunakan Teori Embeddedness-Granovetterian. Landasan etika yang digunakan adalah etika kerjasama (antara masyarakat nelayan Kecamatan Pedamaran dan Pemerintah Daerah Kabupaten Ogan Komering Ilir) dengan harapan terjadinya ”pengorganisasian sosial, birokrasi-administrasi dan tindakan sosial” dalam kaitannya dengan pelelangan akses sumberdaya perikanan. Hasil kajian dan analisis menunjukkan bahwa akses masyarakat nelayan terhadap sumberdaya perikanan dikelola oleh pemerintah Marga (sampai dengan tahun 1982) berubah menjadi dikelola oleh Pemerintah Daerah Kabupaten (setelah tahun 1982 hingga saat ini). Adanya berbagai kepentingan terhadap akses pemanfaatan sumberdaya perikanan mengakibatkan rendahnya tingkat pendapatan masyarakat nelayan, bahkan lebih rendah jika dibandingkan dengan upah buruh harian. Akibat lebih lanjut, tindakan ekonomi yang melekat (embeddedness) dalam hubungan sosial pada masyarakat pedesaan Kecamatan Pedamaran yang selama masa pemerintahan Marga banyak berlangsung dan membudaya menjadi hilang atau tererosi. Bahkan tindakan ekonomi yang melekat (embeddedness) dalam hubungan sosial sesama masyarakat nelayan juga hilang atau tererosi. Berbarengan dengan itu terjadi perubahan (transformasi) ekonomi masyarakat pedesaan Kecamatan Pedamaran dari sistem ekonomi berbudaya tradisional menjadi struktur ekonomi berbudaya kapitalis. Dalam hal ini, tindakan ekonomi, lebih merupakan tindakan individu yang tidak lagi mempertimbangkan berbagai aspek kehidupan sosial dan budaya masyarakat, kecuali hanya untuk hal-hal tertentu yang bersifat adat (kebiasaan) dan adat (kebiasaan) inipun pada prinsipnya merupakan “prestise” pada masyarakat setempat.