PROSIDING TAHUN 2008

Bidang Manajemen Sumberdaya Perikanan Kelas A

VARIASI SPASIAL KONSENTRASI NUTRIEN TERLARUT DI ZONA EUFOTIK PERAIRAN TELUK BANTEN

Alianto1, Enan M. Adiwilaga2, Ario Damar2, dan Enang Harris3
1) Jurusan Perikanan, Fakultas Peternakan Perikanan dan Ilmu Kelautan,
Universitas Negeri Papua.
2) Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB
3) Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB
E-mail: ali_unipa@yahoo.com

Penelitian mengenai variasi spasial nitrogen inorganik terlarut  (NH3-N + NO3--N + NO2--N), fosfat inorganik terlarut (PO43--P) dan silikat terlarut  telah dilakukan pada 5 stasiun pengamatan dengan kedalaman zona eufotik yang berbeda-beda pada bulan April 2008 sampai Juni 2008. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa konsentrasi nitrogen inorganik terlarut berkisar dari 0,48 sampai 23,27 μM, fosfat inorganik terlarut berkisar dari 0,05 sampai 0,54 μM, dan silikat terlarut berkisar dari 31,91 sampai 440,55 μM. Pada stasiun muara sungai dan tengah mengarah luar teluk, konsentrasi nitrogen inorganik terlarut bervariasi nyata. Sedangkan silikat terlarut bervariasi nyata secara berturut-turut pada kedalaman yang mendapat intensitas cahaya matahari 10% dan 1% dari cahaya permukaan. Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa nitrogen inorganik terlarut dan silikat terlarut di kedalaman ini tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh fitoplankton karena intensitas cahaya matahari tidak mendukung pertumbuhan fitoplankton.

Kata kunci: nitrogen inorganik terlarut, fosfat inorganik terlarut, silikat terlarut,  zona eufotik

 

KETERKAITAN KUALITAS AIR, KEDALAMAN DAN LUAS SERTA AKTIVITAS PENANGKAPAN DENGAN PRODUKSI DI DANAU LIMBOTO

Andri Warsa1 dan Krismono2
1) Staf  Peneliti Pada Loka Riset Pemacuan stok ikan Jatiluhur
2) Peneliti Pada Loka Riset Pemacuan stok ikan Jatiluhur

Danau Limboto terletak di Kabupaten Gorontalo, Propinsi Gorontalo mempunyai fungsi sebagai muara DAS Limboto, pengendali banjir, rekreasi dan  perikanan baik tangkap maupun budidaya. Hasil tangkapan nelayan sejak tahun 1970 sampai 1980 mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu dari 4000 ton menjadi 2000 ton. Penurunan tersebut kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor antara lain perubahan habitat dan tekanan penangkapan. Penelitian ini bertujuan mengetahui keadaan kualitas air, dampak perubahan luas dan kedalaman terhadap produksi tangkapan ikan di Danau Limboto. Penelitian dilakukan pada bulan Maret, Mei, September dan November 2006 pada 6 stasiun pengamatan. Parameter kualitas air yang diamati antara lain  kecerahan, suhu,dan warna air oksigen terlarut, karbondioksida bebas, N-NO3, N-NO2, N-NH4, P-PO4. Data jenis dan berat total ikan dikumpulkan beradasarkan hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan alat tangkap yang biasa diopersikan di Danau Limboto oleh enumerator. Produksi ikan di Danau Limboto tahun 2006 mencapai 496,8 ton yang didominasi ikan nila (24%) dan mujair (23%). Perubahan kualitas air tidak berpengaruh secara signifikan terhadap hasil tangkapan. Penurunan produksi ikan di ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: Penurunan luas dan pendangkalan, penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti bibilo dan dudayaho.

Kata kunci: kualitas air, kedalaman, luas, hasil tangkapan, Danau Limboto

 

KANDUNGAN PADATAN TERSUSPENSI TOTAL, BAHAN ORGANIK, NITRAT DAN FOSFAT DI kawasan tambak dan MUARA SUNGAI BOGOWONTO KABUPATEN KULON PROGO

Riski Dyan Anggraeni1 dan Namastra Probosunu2
1) Alumnus Program Studi Biologi Bidang Ilmu Matematika dan Pengetahuan Alam Sekolah Pasca sarjana
Universitas Gadjah Mada
2) Laboratorium Ekologi Perairan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air utamanya kandungan padatan tersuspensi total, bahan organik, nitrat dan fosfat di perairan kawasan tambak dan muara Sungai Bogowonto Kabupaten Kulon Progo. Penelitian dilakukan di tujuh stasiun pengamatan pada bulan September 2006 sampai dengan Februari 2007. 
Hasil penelitian menunjukkan rerata kandungan padatan tersuspensi total di wilayah kajian berkisar antara 278,85-1066,60 mg/l, bahan organik 35,55-46,84 mg/l, nitrat 0,0379-0,0569 mg/l dan fosfat 0,0023-0,0057 mg/l. Apabila dibandingkan dengan baku mutu air, maka kandungan nitrat dan fosfat selama penelitian berlangsung masih berada dalam batas ambang baku mutu air pada badan air kelas III.

Kata kunci: padatan tersuspensi total, bahan organik, nitrat, fosfat.

 

STUDI KUALITAS AIR LAUT DI PANTAI UTARA BAGIAN BARAT BALI HUBUNGANNYA DENGAN PERUNTUKANNYA UNTUK BUDIDAYA PERIKANAN LAUT

Bejo Slamet
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, Bali
PO Box 140 Singaraja 81101, Bali

Penelitian dilakukan  untuk mengetahui kualitas air laut  di Pantai Barat Bali  hubungannya  dengan peruntukan lahan budidaya laut yang berbeda. Sampel air laut diambil  pada 12 stasiun pengamatan. Parameter kualitas air yang diamati meliputi suhu, total padatan tersuspensi (TSS), Kecerahan, pH,  oksigen terlarut (DO), salinitas, NH3, NO2, NO3, PO4, BOD5, C-organik dan  total bahan organik (TOM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua parameter  kualitas air yaitu kadar nitrat dan phospat dalam air sudah melebihi  standar baku mutu air laut untuk biota laut, sedangkan parameter  kualitas air lainnya yaitu Suhu, TSS, Kecerahan, pH,  DO, salinitas, NH3, NO2, BOD5, C-organik dan TOM, masih  dalam batas standar baku mutu menurut kantor KLH (2004). Secara keseluruhan kondisi kualitas air di pantai utara bagian barat Bali masih cukup baik dan layak untuk budidaya. Untuk kesinambungan budiaya perikanan di perairan ini, diperlukan upaya pelestarian lingkungan perairan secara terpadu dan berkelanjutan.
Kata kunci: kualitas perairan, area budidaya laut.

 

HUTAN RAWA SEBAGAI DAERAH FISHING GROUND IKAN IKAN PERAIRAN UMUM

Dadiek Prasetyo
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang.

Penelitian dilakukan di perairan hutan rawa Danau Cala, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan pada tahun 2006. Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui peranan perairan hutan rawa sebagai daerah fishing ground ikan ikan perairan umum.
Penelitian dilakukan dengan survey lapangan, pengambilan sampel dengan dipilih/ditentukan di perairan hutan rawa Danau Cala, perairan sungai Musi bagian tengah, wilayah Kabupaten Musi Banyuasin. Parameter yang diamati meliputi jenis alat, jenis ikan, komposisi hasil tangkapan dan musim penangkapan.
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa di perairan hutan rawa danau cala didapatkan 11 jenis alat tangkap, 7 dioperasikan saat musim keemarau dan 4 dioperasikan saat musim penghujan.
Komposisi hasil tangkapan masing masing jenis alat, hampang 5 jenis; jala 8 jenis; jaring 4 jenis; bubu 3 jenis; pengilar 4 jenis; sengkirai 3 jenis; corong 16 jenis; pancing 7 jenis; tajur 2 jenis, tabung 2 jenis dan kilung 11 jenis.

Kata kunci: hutan rawa, daerah fishing ground, ikan perairan umum 

 

PENGARUH SUBLETAL TEMBAGA DAN KADMIUM PADA PERKEMBANGAN EMBRIO-LARVA KERANG HIJAU (Perna viridis L.)

Dwi Hindarti
Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta Utara

Uji toksisitas tembaga dan kadmium pada larva kerang hijau (Perna viridis L.) telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh subletal terhadap perkembangan larva. Uji toksisitas dilakukan dengan menggunakan sistem statik. Larva embrio kerang hijau hasil fertilisasi dipaparkan pada berbagai konsentrasi toksikan yang diuji selama 24 jam. Uji dihentikan pada saat larva kerang berbentuk D (D-shaped larvae). Kualitas air pada saat pengujian diamati dalam kisaran normal. Nilai-nilai akhir dihitung berdasarkan jumlah larva abnormal. Hasil uji toksisitas menunjukkan bahwa tembaga mempunyai daya toksik lebih tinggi daripada kadmium terhadap larva kerang. Nilai EC50-24 jam untuk tembaga diperkirakan sebesar 17,93 ug/L dan untuk kadmium sebesar 911 ug/L. Konsentrasi terendah yang memberikan pengaruh nyata pada perkembangan larva kerang (LOEC) untuk tembaga adalah 17 ug/L dan 510 ug/L untuk kadmium. Sedangkan konsentrasi tertinggi yang belum mempengaruhi perkembangan larva kerang (NOEC) untuk tembaga adalah 13 ug/L dan untuk kadmium adalah 340 ug/L.

Kata kunci:    subletal, toksisitas, tembaga, kadmium, kerang hijau (Perna viridis L.)

 

KANDUNGAN LOGAM BERAT Co, Cr, Cs, As, Sc, DAN Fe DALAM SEDIMEN DI KAWASAN PERAIRAN PESISIR SEMENANJUNG MURIA

Heni Susiati
Pusat Pengembangan Energi Nuklir-BATAN
Jalan Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan 12710
Email: heni_susiati@batan.go.id

Pengukuran kandungan logam berat Co, Cr, Cs, As, Sc, dan Fe dalam sedimen dilakukan untuk pemutahiran data logam berat di perairan pesisir Semenanjung Muria. Penelitian ini merupakan salah satu komponen dalam evaluasi kondisi lingkungan dalam studi lingkungan pada lokasi tapak rencana pembangunan PLTN dan evaluasi paska operasi PLTU Tanjungjati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengantisipasi perubahan data rona awal yang diakibatkan oleh masukan kontaminan baik dari daratan maupun dari laut. Lokasi sampling dilakukan pada titik koordinat antara 110048’28,5’’ Bujur Timur; 06024’51,0’’ Lintang Selatan sampai 110049’45,0’’ Bujur Timur; 06024’40,0’’ Lintang Selatan dengan metode coring. Analisis logam berat dilakukan dengan metode AAN (Analisis Aktivasi Netron). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi logam berat Co, Cr, Cs, As, Sc, dan Fe di sedimen perairan Semenanjung Muria rata-rata berkisar antara 15,5–17,4 ppm untuk logam Co; 44,2–56,2 ppm untuk logam Cr; 5,1–5,8 ppm untuk logam Cs; 9,6–12,9 ppm untuk logam As; 15,7–18,4 ppm untuk logam Sc; dan 44,7–47,5 ppm untuk logam Fe.

Kata kunci: logam berat, sedimen, PLTN, PLTU, dan AAN.

 

KANDUNGAN ZOOXANTHELLAE KARANG PADA BERBAGAI KONSENTRASI PENGGUNAAN SIANIDA

Insafitri dan Wahyu Andy Nugraha
Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Trunojoyo, Bangkalan

Penelitian ini terfokus pada derajat kerusakan karang berdasarkan kandungan zooxanthellae-nya dengan pemberian berbagai konsentrasi sianida. Karang diletakkan dalam akuarium berisi air laut secara acak, kemudian diekspos dengan konsentrasi sianida selama 10 menit masing-masing sebesar 0,1 g/l; 1 g/l dan 10 g/l serta tanpa perlakuan. 5 buah karang digunakan sebagai sampel pada asing-masing perlakuan. Setelah 10 menit, karang diletakkan kembali ke laut dengan kedalaman 1 meter. Selama 12 hari perlakuan, karang diamati dalam hal angka kematian, warna karang (pemutihan), dan kesehatan secara umum. Setelah 12 hari semua karang dihitung konsentrasi zooxanthellae-nya.
Persentase bleaching rata-rata bertambah secara eksponensial dengan bertambahnya konsentrasi sianida. Pada perlakuan kontrol, persentase bleaching setelah 12 hari bertambah sebesar 14 persen. Pada perlakuan dengan konsentrasi 0.1 g/l, persentase bleaching bertambah sebesar 30 persen. Sedangkan pada perlakuan dengan konsentrasi 1 dan 10 g/l, persentase bleaching bertambah masing-masing sebesar 64% dan 69%.
Berdasarkan persentase sebelum dan sesudah perlakuan, kandungan zooxanthellae pada perlakuan kontrol berkurang sebesar 23%, perlakuan dengan konsentrasi 0.1 g/l berkurang sebesar 53%, sedangkan pada perlakuan dengan konsentrasi 1 dan 10 g/l masing-masing berkurang sebesar 70 dan 83%.

Kata kunci: karang, zooxanthellae, bleaching, sianida

 

KUALITAS FISIKA DAN KIMIA SEDIMEN PADA PERAIRAN GONDOL, BALI

Johan Risandi, Adi Hanafi, dan Reagan Septory
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol
PO. BOX 140 singaraja, 81101 Bali
Email: incognitomania@yahoo.com

Perairan Gondol, merupakan salah satu daerah pusat budidaya laut di Indonesia untuk bermacam komoditas seperti nener dan kerapu. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran tentang kualitas fisika-kimia sedimen pada perairan tersebut, utamanya untuk kepentingan budidaya laut. Pengambilan sampel sedimen dilakukan pada 13 titik sampling secara acak dan analisa sedimen dilakukan di laboratorium. Kualitas fisika sedimen yang diteliti adalah fraksi dan tekstur sedimen, sedangkan kualitas kimia sedimen yang diteliti adalah pH, total N dan total P. Dari hasil analisa, diketahui bahwa perairan Gondol didominasi oleh pasir, dengan nilai kisaran pH, total N dan total P berturut turut adalah 7,41–7,71, 0,03–0,15% dan 0,008–0,22%, sehingga dapat dikatakan bahwa kualitas fisika dan kimia sedimen perairan Gondol masih layak untuk kegiatan budidaya laut.

Kata kunci: sedimen, kualitas fisika dan kimia, Perairan Gondol

 

KELIMPAHAN BIOTA DAN KONDISI PERAIRAN EKOSISTEM INTERTIDAL

Karsono Wagiyo

Zona intertidal umumnya mempunyai ekosistem mangrove, ekosistem non mangrove dan ekosistem konversi mangrove. Kelimpahan biota dan kondisi perairannya rentan terhadap stressor dari darat dan laut.  
Kelimpahan biota yang diamati pada penelitian ini dikelompokan; biota epifauna, biota infauna (megabentik dan makrozoobenthos) dan plankton (fito dan zooplankton). Kondisi perairan yang diamati dikelompokan; fisiko-kimiawi perairan dan logam berat.
Hasil pengamatan, kelimpahan biota epifauna pada ekosistem mangrove 1,28-6,31 gr/m², bukan mangrove 0,22-3,88 gr/m² dan konversi mangrove 0,57-3,89 gr/m². Biota megabentik pada ekosistem mangrove 9-12 ind./m², bukan mangrove 2-5 ind/m². Biota makrozoobenthos pada ekosistem mangrove 9100 ind/m², bukan mangrove 225-4250 ind/m² dan konversi mangrove 0-1700 ind./m². Kelimpahan fitoplankton pada ekosistem mangrove 197200-30208240 sel/m³, bukan mangrove 116360-121164264 sel/m³ dan konversi mangrove 14640-13204430 sel/m³. Kelimpahan zooplankton pada ekosistem mangrove 19760-69600 ind/ m³, bukan mangrove 26110-232060 ind/ m³ dan konversi mangrove 5180-1225260 ind/ m³. Kondisi perairan di perairan mangrove, bukan mangrove dan konversi mangrove yang tampak beda adalah suhu, oksigen terlarut dan nutrient. Suhu pada perairan mangrove lebih rendah dibandingkan pada perairan bukan mangrove dan konversi mangrove. Oksigen terlarut pada perairan mangrove lebih tinggi dibandingkan pada perairan bukan mangrove dan konversi mangrove. Nutrient (fosfat dan nitrat) pada perairan mangrove lebih rendah dari perairan bukan mangrove dan konversi mangrove. Logam berat yang menunjukan perbedaan kadarnya pada tiga  ekosistem adalah Hg dan Cd. Kadar Hg pada ekosistem konversi mngrove lebih kecil dari ekosistem mangrove dan bukan mangrove. Kadar Cd lebih tinggi pada ekosistem konversi mangrove dari ekosistem mangrove dan bukan mangrove.
               
Kata kunci: biota, kelimpahan, perairan, intertidal dan mangrove

 

BEBERAPA ASPEK BIOLIMNOLOGI DANAU TOBA, SUMATERA UTARA

Kunto Purnomo
Loka Riset Pemacuan Stok Ikan, Jatiluhur
Jalan Cilalawi, Jatiluhur, Purwakarta-41125, Jawa Barat

Danau Toba adalah danau terluas di Indonesia. Danau vulkanik ini terletak di bagian utara perbukitan Bukit Barisan, memanjang dari arah barat laut ke tenggara. Penelitian untuk mengetahui kualitas lingkungan perairan, potensi dan status trofik perairan Danau Toba, dilakukan menggunakan metoda "desk study" dan survei lapangan pada bulan Desember tahun 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Danau Toba tergolong perairan yang agak subur (mesotrofik). Perairannya tergolong sudah cukup stabil hingga kedalaman 200 m, yaitu kandungan oksigen antara 7,4 di permukaan hingga 2,1 mg/l pada kedalaman 200 m yang keadaannya mirip dengan hasil penelitian pada tahun 1992. Suhu air berkisar antara 27,0 di permukaan hingga 24,4°C pada kedalaman 200 m. Suhu air tersebut sedikit lebih tinggi dibanding hasil penelitian tahun 1929 dan 1992, diduga hal ini erat kaitannya dengan pemanasan global. Potensi produksi ikan berdasarkan hasil pengukuran produksi primer ditaksir antara 2.519–7.309 ton/tahun. Produksi perikanan tangkap saat ini adalah 4.462,2 ton, berarti laju eksploitasi sumberdaya ikan sudah mencapai sebesar 61%.

 

PENGARUH PERIODE PASANG TERHADAP KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN ZOOPLANKTON KOPEPODA PADA SUNGAI MARANAK SULAWESI SELATAN

Machluddin Amin
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau

Suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh periode pasang air laut terhadap komposisi dan kelimpahan jenis zooplankton kopepoda pada sungai Maranak Sulawesi Selatan telah dilakukan selama satu tahun mulai bulan Januari sampai bulan Desember 2005. Pengambilan contoh sample dilakukan setiap bulan pada  9 stasiun dalam 3 periode pengamatan yaitu periode pasang pagi, siang dan sore hari.  Pada setip stasiun  air contoh disaring sebanyak 100 liter kemudian dipadatkan menjadi 100 ml dengan menggunakan plankton net No. 25. Peubah yang yang diamati adalah komposisi jenis dan kelimpahan jenis (genera) kopepoda dengan menggunakan alat bantu Sedwigck Rafter Counter Cell (SRC) yang dilihat di bawah computer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama penelitian pada Sungai Maranak diperoleh zooplankton kopepda berjumlah 3 genera terdiri dari ordo kopepoda yaitu Acartia, Calanus dan Oithona dengan kepadatan rata-rata masing-masing 66, 3 dan18 ind/l.  Kepadatan kopeoda tertinggi diperoleh pada periode pasang sore kemudian menyusul pada pasang pagi dan siang hari dengan kepadatan masing-masing 1750, 754 dan 208 ind./l.

Kata kunci: Kopepoda, Pasang, Sungai Maranak.

 

STRUKTUR EKOSISTIM DALAM SEBARAN KOMUNITAS SPESIES CYCLOPOIDA PADA PERAIRAN LAUT UTARA BALI

Media F.I.Nugraha1, Gede S.Sumiarsa2 dan Johan Risandi2
1) Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar Depok
2) Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol
Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar
Jl. Perikanan No. 13, Pancoran Mas, Depok
Email: mfitri_isman@yahoo.com

Penelitian struktur ekosistim dalam sebaran komunitas spesies cyclopoida pada perairan laut utara Bali (Gondol–Pegametan), dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui spesies-spesies cyclopoida yang mendominasi suatu ekosistim di perairan laut utara Bali. Penelitian ini mengambil dua daerah perairan yaitu perairan Pegametan dan perairan Gondol. Pada perairan Pegametan diambil 10 stasiun pengamatan dan 7 stasiun pengamatan di perairan gondol. Metode sampling yang digunakan adalah Purposive sampling. Sampel Copepoda diambil dengan menggunakan plankton net dengan ukuran 43 μm dengan diameter 31 cm. Sampel diawetkan dalam formalin 4% untuk di analisa di laboratorium.  Analisa menggunakan metode Yamaji (1986). Dari hasil pengamatan terdapat perbedaan spesies pada masing-masing daerah tersebut. Perairan Pegametan di dominasi oleh genus Paroithona, sedangkan perairan Gondol di dominasi oleh genus Oithona.  Hasil pengamatan dianalisa menggunakan program NTSYS versi 2.1. Sebaran dari spesies ordo cyclopoida ini terbagi dalam 3 kelompok berdasarkan Principle Component Analysis (PCA). Kelompok 1 adalah spesies yang mendominasi perairan Gondol saja, kelompok ke dua adalah spesies yang terdapat di kedua daerah perairan yaitu Gondol dan Pegametan. Sedangkan kelompok ke-tiga adalah spesies yang mendominasi perairan Pegametan saja.

Kata kunci:  Cyclopoida, komunitas, perairan utara Bali, spesies.

 

KANDUNGAN LOGAM BERAT DALAM CONTOH SEDIMEN DAN KERANG DI PERAIRAN TELUK PEGAMETAN BALI

Reagan Septory, Adi Hanafi, dan Johan Risandi
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut- Gondol
Dusun Gondol- Desa Penyabangan Kec. Grokgak Kab.Buleleng
P.O.Box 140. Singaraja 81101 - Bali
E-mail: egensy_80@yahoo.com

Salah satu aspek penting menyangkut kesehatan lingkungan perairan yang perlu diperhatikan dalam kegiatan budidaya laut adalah kandungan logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kandungan logam berat di Teluk Pegametan yang merupakan salah satu kawasan pengembangan budidaya laut  yang cukup potensial di pesisir utara pulau Bali. Di dalam studi ini terdapat 8 sampel sedimen 3 sampel kerang (Bivalva) dengan ukuran yang dikomposit. Analisa logam berat menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Specktrophotometer) untuk jenis Cd, Cu, Pb, Mn, Zn, Ni, dan Hg. Hasil menunjukan bahwa pada sampel sedimen unsur Hg tidak terdeteksi sedangkan Cd berkisar antara 1,8–5,1 ppm, Cu 8,0–42,7 ppm,  Pb 6,6–23,7, Mn 37,1-157,1 ppm, Zn 3,4–44,3 ppm, Ni 13,1–38,2 ppm. Sedangkan pada sampel kerang unsur logam berat ditemukan pada Cd, Cu, Mn, Zn, Ni dengan konsentrasi Cd 0,10-0,11 ppm, Cu 2,9–3,6 ppm, Mn 2,2–3,1 ppm, Zn 4,1–4,7 ppm, Ni 1,6-2,4 ppm, sedangkan  unsur Hg dan Pb tidak ditemukan.

 

KONSENTRASI NITROGEN DAN FOSFOR DI WADUK MULTI-GUNA SERMO, YOGYAKARTA

Rustadi
Jurusan Perikanan UGM
Email: rustadi2005@yahoo.com

Penelitian eutrofikasi waduk bertujuan: mengetahui sumber dan besarnya masukan beban nitrogen (N) dan fosfor (P) air waduk; mengevaluasi tingkat eutrofikasi air dan korelasinya dengan kelimpahan plankton oksigen terlarut dan kekeruhan air; melakukan simulasi pengendalian N dan P. Penelitian dilakukan dengan pengamatan dan pengambilan sampel air di: empat stasiun sungai masuk dan satu sungai keluar, daerah hulu waduk empat stasiun, tengah dan hilir waduk 3 stasiun. Di dalam waduk diamati pada jeluk: 0 m, 2 m, dan 4 m dan dasar. Pengamatan dan pengambilan sampel air tiap bulan, Juni 2006 sampai Mei 2007. Variabel penelitian: amonia, amonium, nitrit,  nitrat dan fosfat; N-total dan P-total dalam air; turbiditas, kecerahan, O2 terlarut, jumlah dan jenis plankton. Kesimpulan penelitian: unsur hara N dan P air waduk berasal dari air sungai masuk dan cenderung bertambah dari limbah budidaya ikan; konsentrasinya pada musim penghujan lebih tinggi daripada musim kemarau; beban air masuk lebih besar daripada keluar sehingga terjadi residu; eutrofikasi pada tingkat eutrofik sampai hipereutrofik, N dan P bersama-sama menurunkan  kelimpahan fitoplankton, kecerahan air dan oksigen terlarut.

Kata kunci: nitrogen dan fosfor, sumber, eutrofikasi, waduk.

 

ZONASI, KARAKTERISTIK FISIKA-KIMIA AIR DAN JENIS-JENIS IKAN  TERTANGKAP DI SUNGAI MUSI, SUMATERA SELATAN

Samuel
Balai Riset Perikanan Perairan Umum, Palembang
Email: sam_asr@yahoo.co.id

Penelitian untuk mengetahui batas-batas zona, karakteristik perairan dan jenis-jenis ikan di Sungai Musi telah dilaksanakan dari Juni-Nopember 2002. Metode penelitian adalah metode survei dengan menetapkan 15 stasion pengamatan dari hulu hingga ke hilir serta mencakup musim kemarau dan hujan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa profil memanjang Sungai Musi berdasarkan karakteristik fisika-kimia air, ketinggian dan jarak dari muara dapat dibagi menjadi 3 zona yaitu: zona hulu dengan panjang sungai ±187 km pada ketinggian 600-40 meter dpl. Zona tengah (±177 km dan ketinggian 40-15 meter) dan zona hilir (±146 km dan ketinggian 15-0 meter).  Ketiga zona dilihat dari faktor hidrologi dan beberapa parameter fisika-kimia air mempunyai karakteristik yang berbeda. Jenis-jenis ikan yang ditemukan selama penelitian ada ± 79 jenis dari 24 famili dan famili Cyprinidae mempunyai jenis terbanyak (±32 jenis). Udang ada 3 jenis dari 2 famili. Penyebaran jenis ikan terfokus pada zona tengah yaitu ± 70 jenis, diikuti zona hilir dan hulu masing-masing 52 dan 19 jenis. Jenis ikan/udang yang terdapat pada 3 zona ada 8 jenis terdiri dari 7 jenis ikan dan 1 jenis udang.

 

KONSENTRASI OKSIGEN TERLARUT (DO) DAN UNSUR N DI DAERAH KERAMBA JARING APUNG, WADUK IR. H.DJUANDA

Sri Endah Purnamaningtyas
Loka Riset Pemacuan Stok Ikan
                                                                                                                           
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi Oksigen terlarut dan unsur N yang ada di daerah keramba jaring apung (KJA) Waduk Ir. H. Djuanda, Jawa Barat, dan mengantisipasi terjadinya kematian massal ikan yang terjadi setiap memasuki awal musim penghujan. Peneliitian ini dilakukan pada bulan November dan Desember 2007 dimana pada bulan November merupakan ahkir dari musim kemarau dan bulan Desember merupakan awal musim penghujan. Metode yang digunakan adalah sampling berstrata (stratified sampling method) (Nielsen and Johnson, 1985) di daerah keramba jaring apung, sedangkan titik sampling ditentukan sebanyak 5 titik stasiun pengamatan yaitu: (1) Daerah KJA, (2) Taroko, (3) PDAM, (4) Baras Barat, dan (5) Kerenceng. Adapun hasil yang diperoleh adalah konsentrasi Oksigen terlarut berkisar antara: 1,7–3,1 mg/l, N-NO3 : 0,108– 1,269 mg/l, NO2 : 0,124 – 0,782 mg/l. N-NH3 : 1,284–3,497 mg/l.

Kata kunci:    Oksigen Terlarut, Unsur N, Waduk Ir. H. Djuanda, Keramba Jaring Apung.

 

DIATOMS AND PALEOLIMNOLOGY: CASE STUDY OF THE LAKE HISTORY

Tri Retnaningsih Soeprobowati1 dan Suwarno Hadisusanto2
1. Jurusan Biologi FMIPA UNDIP, kampus Tembalang, Semarang
2. Fakultas Biologi UGM, Yogyakarta Telp/Fax: 0274-580839

Email: suwarno_hsusanto@yahoo.co.id

Diatoms are a micro-alga dominates in the aquatic ecosystem. Their silicious cell wall able to preserve death diatoms in the sediment for long periods, therefore, diatoms have an important role in the paleolimnological analysis. Diatoms assemblages in the sediment layer express the water quality whenever the diatom lives. This article provides information how to apply diatom on the paleo-limnological analysis, supporting with the case study in the Lac Saint-Augustine Quebec-City Canada and Rawa Pening Lake Indonesia. Modern diatom and the water quality from spatial and temporal range are used as a calibration set. The diatoms of below layers, then, Weighted Averaging (WA) with the calibration set to reconstruct the water quality in the past. Previously, both in Canada and Indonesia, those lakes were oligotrophic and sharply change into eutrophic condition since a lot of human activities developed around the lakes (anthropogenic factors). Naturally, the maturity of lake can not avoid and the succession had been fast by eutrophication. Paleolimnological approach provides baseline data in the past to develop the appropriate lake management.

Key words: diatoms, paleolimnology, Weighted Averaging, eutrophication

 

FLUKTUASI ASIMETRIS KERANG Anadara granosa DI PERAIRAN BANGKALAN

Wahyu Andy Nugraha dan Insafitri
Jurusan Ilmu Kelautan, Universitas Trunojoyo, Bangkalan

Fluktuasi asimetris kerang Anadara granosa di perairan wilayah selatan dan utara Bangkalan dipelajari untuk menjawab pertanyaan apakah kondisi perairan mempengaruhi fluktuasi asimetris kerang Anadara granosa. Pengambilan sampel air dan sedimen, serta sampel kerang Anadara granosa dilaksanakan pada bulan Juli-September 2007 di kedua wilayah perairan Bangkalan. Sampel air dan sedimen yang diperoleh dari lapangan dianalisa kandungan logam beratnya (Hg, Pb, Cu, dan Cd).
Nilai fluktuasi asimetris rata-rata dari ketiga elemen menunjukkan bahwa fluktuasi asimetris kerang dari perairan utara Bangkalan lebih rendah dari nilai fluktuasi asimetris rata-rata perairan selatan Bangkalan. Nilai fluktuasi asimetris rata-rata kerang dari perairan utara Bangkalan pada bulan Juli, Agustus dan September berturut-turut adalah 3,23; 7,91; dan 22,17. Nilai fluktuasi asimetris rata-rata kerang dari perairan selatan Bangkalan adalah 4,59; 32,82; dan 23,17. Kandungan logam berat perairan selatan Bangkalan lebih tinggi daripada kandungan logam berat di perairan utara Bangkalan.

Kata kunci: Anadara granosa, fluktuasi asimetris, logam berat

 

KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN FITOPLAKTON PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI DI SEKITAR LOKASI PENAMBANGAN BIJIH EMAS

Yuliana
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun, Ternate

Fitoplankton memiliki fungsi ekologis sebagai organisme tingkat trofik terendah dan merupakan produsen utama. Peran penting fitoplankton adalah sebagai bioindikator terhadap kualitas air dan perairan. Besar kecilnya nilai kelimpahan dan komposisi spesies fitoplankton menunjukkan tingkat kesuburan perairan dan tinggi rendahnya limbah (pencemar) yang ada di suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan dan keanekaragaman fitoplankton sebagai akibat pembuangan limbah tailing pada Daerah Aliran Sungai (DAS) di sekitar areal penambangan bijih emas. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Maret dan Oktober di tahun 2006 dan 2007. Lokasi penelitian meliputi 7 (tujuh) stasiun pengamatan pada Daerah Aliran Sungai di sekitar areal penambangan emas. Biota fitoplankton dikumpulkan dengan menyaring air sebanyak 30 liter menggunakan plankton net berukuran 0,45 µ. Sampel tersebut diperuntukkan bagi analisis komposisi jenis, kelimpahan (individu/liter), keanekaragaman dan keseragaman populasi, serta dominansi.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa didapatkan 52 genus yang terdiri atas 5 kelas yaitu Bacillariophyceae (31 genus), Chlorophyceae (10 genus), Cyanophyceae (7 genus), Dinophyceae (3 genus), dan Euglenophyceae (1 genus).  Kelimpahan pada periode Maret dan Oktober 2006 berturut-turut dengan kisaran antara 6500-156500 dan 9306-130766 ind/L dan pada periode Maret dan Oktober 2007 berkisar antara 12673-5058528 dan 666-171828 ind/L.  Nilai indeks keanekaragaman (H’) pada periode Maret dan Oktober 2006 dengan kisaran  berturut-turut adalah 1,2006-3,5814 dan 0,8600-2,7700 serta pada periode Maret dan Oktober 2007 dengan kisaran antara 0,0000-2,2644 dan 0,0000-2,6237, indeks keseragaman (E) pada periode Maret dan Oktober 2006 berturut-turut dengan kisaran antara 0,3470-0,9479 dan 0,3300-0,9200 serta pada periode Maret dan Oktober 2007 adalah 0,8066-1,0000 dan 0,0000-0,9440, indeks dominansi (D) pada  periode Maret dan Oktober 2006 berturut-turut dengan kisaran antara 0,1059-0,6447 dan 0,2000-0,7500 serta pada periode Maret dan Oktober 2007 berkisar antara  0,2549-1,0000 dan 0,2181 dan 1,0000.

Kata kunci: fitoplankton, kelimpahan, keanekaragaman, penambangan, Daerah Aliran Sungai.