PROSIDING TAHUN 2008

Bidang Bioteknologi

KAJIAN AWAL ANALISIS AMPLIFIKASI DNA GURAME (Osphronemus gouramy Lac.) DENGAN MENGGUNAKAN PRIMER ISSR

Any Aryani, Topik Hidayat, dan Diah Kusumawaty
Program Studi Biologi, Jurusan Pendidikan Biologi, FPMIPA UPI
Jl. Dr. Setiabudi No 229 Bandung 40154
Email: any_aryani@yahoo.com

Penanda ISSR telah digunakan untuk analisis amplifikasi DNA gurame (Osphronemus gouramy Lac.). Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan pita-pita yang mudah dibaca dan dianalisis dengan mencari suhu annealing, konsentrasi MgCl2, konsentrasi gel (agarosa dan akrilamid), dan kondisi elektroforesis yang optimal. Amplifikasi DNA gurame dilakukan dengan teknik PCR menggunakan primer tunggal motif mikrosatelit pada suhu annealing 350C-42°C. Sebanyak sebanyak 17 dari 21 primer ISSR menghasilkan produk PCR yang dimigrasikan pada gel agarosa 4%, tegangan 50 volt, selama 8 jam dengan pewarnaan ethidium bromide (0.5 mg/ml), dan gel akrilamid 4%-6%, 150 volt, selama 6 jam dengan pewarnaan silver staining. Terdapat tiga motif lokus mikrosatelit yang memungkinkan untuk analisis lebih lanjut, yaitu: (ACT)10, (TAG)10, dan (AC)10. walaupun pita DNA yang dihasilkan smear tetapi telah terfokus pada ukuran tertentu. Kemungkinan hasil tersebut dikarenakan kondisi PCR yang belum sesuai, karena daerah yang dikenali oleh primer pada genom atau sebaliknya belum spesifik. Tetapi dari hasil tersebut, telah dapat diduga bahwa pada DNA gurame memiliki lokus motif mikrosatelit cukup melimpah yang komplemen dengan primer ISSR yang digunakan. 

Kata kunci: penanda ISSR, Osphronemus gouramy Lac., Aeromonas hydrophila, annealing.


PROFIL HETEROGENITAS GENETIK INDUK UDANG WINDU (Penaeus monodon) TURUNAN F1 MELALUI ANALISA DNA MITOKONDRIA-RFLP DAN RAPD

Bambang Widyo Prastowo, Rahayu Rahardianti, Evi Maftuti Nur, dan Arief Taslihan
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara
Jl. Cik Lanang PO. Box 1 Bulu Jepara
Email: bambang_fds@yahoo.com

Dalam rangka penyiapan induk-induk udang yang berkualitas unggul, diperlukan usaha untuk domestikasi dan perbaikan mutu genetik udang. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa untuk strategi jangka panjang yang lebih integral dan berkelanjutan, maka kombinasi antara pendekatan-pendekatan dasar diatas dengan aplikasi dari program genetik molekuler akan semakin mempercepat program domestikasi spesies penaeid ini di Indonesia.  
Di BBPBAP Jepara telah dilakukan suatu kajian untuk mengevaluasi keragaman genetik induk udang windu keturunan F1 yang dihasilkan dari panti pembenihan melalui pengamatan RFLP-mtDNA dan RAPD. Pada marker Restriction Fragment Length Polymorphism (RFLP) digunakan primer 16SrDNA dengan enzim restriksi Nde II. Berdasarkan marker RFLP, maka nilai heterogenitas populasi induk udang windu turunan F1 sebesar 0,0422, populasi induk jantan turunan F1 sebesar 0,0613 dan populasi induk betina turunan F1 sebesar 0,1252. Pada marker Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) digunakan primer OPA 2.  Berdasarkan marker RAPD didapatkan nilai heterogenitas populasi induk udang windu turunan F1 sebesar 0,0417, populasi induk jantan turunan F1 sebesar 0,0653 dan populasi induk betina turunan F1 sebesar 0,1104. Dari hasil uji coba terlihat bahwa baik marker genetik RFLP dan RAPD dapat dipergunakan sebagai marker spesifik famili pada spesies udang windu.

Kata kunci: udang windu, RFLP, RAPD, heterogenitas, marker genetik


KEBERHASILAN PENANDA RAPD DALAM MEMBEDAKAN POPULASI GURAME (Osphronemus gouramy Lac) YANG SENSITIF DAN RESISTEN TERHADAP Aeromonas hydrophila

Diah Kusumawaty1, Diana Rochintaniawati1, Derina Holipah2, Maelita R. Moeis3, Adi Pancoro3 ,Any Aryani1
1) Jurusan Pendidikan Biologi  FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,
Jl. Dr Setiabudi No 229 Bandung 40154; 1
2) SMA Islam Terpadu Miftahul Khoir Jl. Tubagus Ismail VIII No 60 Bandung 40135
3) Sekolah Ilmu Teknologi Hayati ITB, Jl. Ganesa 10 Bandung
Email: diah_kusumawaty@upi.edu

Penanda RAPD berhasil membedakan populasi ikan gurame blusafir  yang sensitif dan resisten terhadap infeksi Aeromonas hydrophila. DNA ikan gurame diisolasi dari ujung ekor dan daging pada sampel kelompok ikan resisten dan kelompok ikan sensitif. DNA diamplifikasi menggunakan 39 primer RAPD dengan metode BSA (Bulked Segregant Analysis). Dari 39 primer yang digunakan, hanya 6 primer yang dapat membedakan kedua kelompok ikan. Primer-primer tersebut adalah OPA2 (‘TGCCGAGCTG’). OPA3 (‘AGTCAGCCAC’), OPA20 (‘GTTGCGATCC’), OPS7 (‘GGTGACGCAG‘), OPS13 (‘AGTCAGCCAC’) dan OPS14 (‘AATCGGGCTG’). Diperoleh 289 fragmen DNA dengan berat molekul berkisar 264pb-1874pb. Koefisien Kesamaan Nei & Lie digunakan untuk menghitung matrik kesamaan dan mengkontruksi dendogram yang menunjukkan hubungan genetik diantara dua kelompok ikan gurame. Berdasarkan dendogram tersebut, terdapat dua kelompok, yaitu kelompok ikan gurame yang resisten dan kelompok ikan gurame yang sensitif. Diperoleh dua primer yang menunjukkan adanya larik spesifik, yaitu primer OPA2 dan OPA20. Kedua kelompok DNA sampel pada primer OPA2 dan OPA20 berbeda signifikan pola lariknya, sesuai dengan hasil uji Mann-Whitney. Uji Mann Whitney menunjukkan nilai Asymp sig untuk primer OPA2 dan OPA20 lebih rendah dari 0,05, nilai masing-masingnya adalah 0,000 dan 0,000. Larik-larik spesifik tersebut berpotensi sebagai penanda DNA spesifik untuk sifat katahanan terhadap infeksi Aeromonas hydrophila. Larik-larik yang berpotensi menjadi penanda DNA spesifik berukuran 855pb pada amplikan dengan primer OPA2. Amplifikasi dengan primer OPA20 memperoleh larik yang berpotensi menjadi pananda spesifik mempunyai ukuran 1079 pb, 857pb dan 713pb.

Kata Kunci:    ikan air tawar Indonesia, Osphronemus gouramy, gurame, RAPD,                      Aeromonas hydrophilla, resistensi, BSA (Bulked Segregant Analysis).


BERBAGAI TIPE MIKROSATELIT YANG DITEMUKAN PADA GENOM GURAME (Osphronemus Gouramy Lac)

Diah Kusumawaty1,Guntur Eka1, Kusdianti1, Topik Hidayat1, Merry. M. Margrita2, Adi Pancoro3,dan Any Aryani 1
1) Jurusan Pendidikan Biologi  FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia,
Jl. Dr Setiabudi No 229 Bandung 40154
2) Sekolah Imu Farmasi ITB
Sekolah Ilmu Teknologi Hayati ITB, Jl. Ganesa 10 Bandung

Email: diah_kusumawaty@upi.edu

Simple Sequence Repeats (SSRs) atau mikrosatelit telah diisolasi dan di karakterisasi dari genom ikan gurame (Osphronemus gouramy) - ikan air tawar khas Indonesia. Metode yang digunakan berdasarkan metode Edward dkk (1996) dan Giovani dkk (1999) yang telah mengalami sedikit modifikasi. Empatpuluh 40 klon dipilih secara acak dari duaratus  klon  yang kaya akan mikrosatelit untuk disikuensing. Hasil sikuensing menunjukkan 32 sikuen (80%) mengandung mikrosatelit. Pada penelitian ini ditemukan tidak hanya motif mikrosatelit yang sesuai dengan oligonukleotida yang terikat pada membran Hybond, tetapi juga motif yang tidak digunakan pada membran yaitu  (GC)n, (TTGC)2-6 dan (TTTC)5, (GCCC)n, (CnAn)n dan ((CT)nCCT)n. Lima belas tipe motif yang diperoleh sesuai dengan 21 tipe oligonukleotida yang digunakan untuk hibridisasi. Motif yang paling banyak muncul pada genom ikan gurame adalah  (AC)n dan (AG)n. Rata-rata motif yang paling banyak muncul hingga yang paling sedikit muncul berturut-turut adalah dari motif  yang mengandung 25-30% basa G/C (48,15%), motif yang mengandung 70% basa G/C (24,1%) sedangkan yang paling sedikit adalah yang hanya mengandung basa A/T saja (11,1%).

Kata kunci:   Osphronemus gouramy, gurame, mikrosatelit, SSRs, ikan air tawar,
                      Indonesia


PENAPISAN DAN PRODUKSI ENZIM KITINolitik DARI LIMBAH PERIKANAN UDANG

Ekowati Chasanah1 ,Miftahul Ilmi2, dan Wibowo Mangunwardoyo3
1) Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi, Badan Riset Perikanan dan Kelautan, Departemen Kelautan dan Perikanan RI.
2) Mahasiswa Pasca Sarjana, Departemen Biologi, FMIPA, Universitas Indonesia
3) Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Biologi, FMIPA, Universitas Indonesia
Email: ekowati_ch@yahoo.com

Limbah perikanan udang merupakan salah satu sumber enzim pendegradasi kitin (enzim kitinolitik) potensial. Tulisan ini melaporkan sebagian hasil rangkaian riset mengenai pencarian sumber enzim kitinolitik dari lingkungan laut, khususnya dari limbah industri perikanan. Tujuan dari riset ini adalah mengisolasi bakteri kitinolitik dari limbah pengolahan udang, mengetahui kondisi optimum untuk memproduksi enzim tersebut dan mengidentifikasi bakteri terbaik penghasil enzim tersebut. Dari 106 isolat, KPU 2.1.8 memiliki aktivitas kitinolitik tertinggi (0,134±0,004 U/mg) dengan waktu produksi 30 jam. Dengan menggunakan medium minimal (MSM) yang diperkaya koloidal kitin 0,5% dan menggunakan waterbath bersuhu 37°C dengan agitasi 100 rpm, kondisi optimum untuk memproduksi enzim tersebut adalah pH 5 dan suhu 25°C. Identifikasi menggunakan 16S-rRNA menunjukkan bahwa isolat KPU 2.1.8 memiliki kemiripan 88% dengan Acinetobacter radioresistens


AKTIVITAS ANTIANGIOGENESIS EKSTRAK HEKSAN RUMPUT LAUT Ulva fasciata

Endar Maraskuranto, Muhammad Nursid dan Thamrin Wikanta
Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan, Jl. KS. Tubun Petamburan VI Jakarta

Penelitian efek antiangiogenik dari ekstrak rumput laut Ulva fasciata telah dilakukan. Sampel U.fasciata diambil dari pantai Binuangeun, Banten. Uji antiangiogenesis dilakukan dengan metode CAM. Ekstrak n-heksan U.fasciata dengan dosis 10, 20, 40, dan 80 ppm diinokulasikan ke dalam telur ayam bertunas fertil berumur 9 hari. Identifikasi senyawa yang diperoleh dilakukan berdasarkan atas data spektra massa menggunakan LC-PDA-MS dan dibandingkan dengan pustaka digital MarinLit 2007. Hasil uji antiangiogenik memperlihatkan bahwa ekstrak n-heksan U.fasciata memperlihatkan aktivitas dalam menghambat pembentukan pembuluh darah baru pada embrio ayam.  Berdasarkan data serapan UV, spektra massa dan pustaka digital MarinLit 2007 senyawa aktiv yang terdapat pada fraksi heksan U.fasciata adalah fukosantin.


PENINGKATAN DERAJAT DEASETILASI KITOSAN DARI KULIT KEPALA UDANG YANG DIISOLASI PADA SUHU KAMAR

Hernawan, C. Dewi Poeloengasih, Satriyo Krido Wahono, M. Kismurtono, dan Suharto
UPT. Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia
LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA
Jl.Yogya-Wonosari Km 32, Gading, Playen,Gunungkidul, D.I. Yogyakarta, 55861
Email: hernawan@lipi.go.id

Usaha peningkatan kualitas derajat deasetilasi kitosan yang diisolasi dari kulit kepala udang telah dilakukan. Isolasi dilakukan pada suhu kamar meliputi proses pretreatment awal dengan pencucian asam asetat selama 1 jam, demineralisasi dengan HCl 2N selama 6 jam, diikuti dengan deproteinasi menggunakan NaOH selama 6 jam. Deasetilasi dilakukan dengan variasi rasio solid: liquid yaitu 1:15, 1:30, 1:45, 1: 60 menggunakan NaOH 50% selama 6 hari. Dari hasil penelitian diperoleh derajat deasetilasi kitosan berturut turut 87,84%, 91,26 %, 92,83%, 94,70%. Kitosan yang diperoleh dapat dikategorikan dalam pharmacetical grade. Hal ini menunjukkan bahwa usaha peningkatan derajat deasetilasi dapat dilakukan dengan meningkatkan rasio solid liquid.

Kata kunci: kitosan, suhu kamar, derajat deasetilasi, Penaus monodon


KAJIAN AWAL SENYAWA ANTIBAKTERI BEBERAPA IKAN LAUT DALAM DARI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN SELATAN JAWA

Sugeng Heri Suseno1, Eni Kustanti2, Desniar3, dan Iriani Setyaningsih4

Laut dalam merupakan bagian terbesar dari wilayah laut, tetapi sampai saat ini pemanfaatan potensi perikanan  laut dalam terutama ikan, di Indonesia belum optimal. Informasi mengenai potensi sumberdaya laut dalam masih terbatas, oleh karena itu diperlukan penelitian untuk mengkaji berbagai manfaat dari sumberdaya laut dalam salah satunya yaitu antibakteri dari ikan. Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat kesegaran, mengkaji potensi dan sifat antibakteri ikan laut dalam. Spesies ikan yang digunakan dalam ekstraksi daging beserta kulit meliputi Antigonia capros, Antigonia rubicunda, Caelorinchus smithi, Coryphaenoides, Diretmoides pauciradiatus, Diretmoides veriginae, Lamprogramus niger, Neoscopelus microchir, Setarches guentheri dan Zenopsis conchifer, sedangkan untuk ekstraksi jeroan terdiri dari Diretmoides pauciradiatus, Lamprogramus niger, Neoscopelus microchir, Ostracoberyx dorygenys dan Setarches guentheri. Metode penelitian dilakukan dengan melakukan uji organoleptik;  ekstraksi daging beserta kulit dan ekstraksi jeroan secara bertingkat dengan pelarut kloroform, etil asetat dan metanol; penapisan antibakteri  dengan bakteri uji Escherichia coli dan Staphylococcus aureus; dan uji lanjut ekstrak terpilih dengan konsentrasi 125 µg/µl, 250 µg/µl dan 500 µg/µl. Nilai organoleptik ikan laut dalam yang diteliti berkisar antara 3,3-5,9; sehingga ikan berada dalam kondisi tidak segar sampai agak segar. Rendemen ekstrak terbesar diperoleh dengan pelarut metanol, yaitu dari spesies Antigonia rubicunda (11,63%) pada ekstraksi daging beserta kulit dan dari spesies Neoscopelus microchir  (11,47%) pada ekstraksi jeroan. 
Uji penapisan antibakteri ekstrak daging beserta kulit menghasilkan zona hambat terhadap bakteri Escherichia coli pada ekstrak Caelorinchus smithi dengan pelarut kloroform dan pelarut etil asetat sebesar 2 mm serta ekstrak Diretmoides pauciradiatus dengan pelarut etil asetat sebesar 3 mm, sedangkan pengujian terhadap Staphylococcus aureus tidak menghasilkan zona hambat.  Pada uji penapisan ekstrak jeroan, yang menunjukkan adanya aktivitas antibakteri adalah ekstrak dengan pelarut etil asetat dengan diameter hambatan >6 mm. Diameter hambatan ekstrak dari spesies Diretmoides pauciradiatus, Lamprogramus niger, Neoscopelus microchir, Ostracoberyx dorygenys dan Setarches guentheri terhadap bakteri uji Escherichia coli dan Staphylococcus aureus masing-masing 27 dan 28 mm; 10 dan 10 mm; 21 dan 24 mm; 16 dan 14 mm; 25 dan 26 mm. 
Ekstrak jeroan dengan pelarut etil asetat pada konsentrasi 125 µg/µl, 250 µg/µl dan 500 µg/µl menghasilkan diameter hambatan terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus masing-masing berkisar antara 10-21 mm dan 9-19 mm; 12-22 mm dan 11-21 mm; 12-23 mm dan 11-25 mm. Diameter hambatan yang besar berkisar antara 18-25 mm terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus berasal dari ekstrak spesies Diretmoides pauciradiatus dan Setarches guentheri. Senyawa antibakteri dari ekstrak jeroan ikan laut dalam dengan pelarut etil asetat diduga berpotensi bersifat bakteristatik.


STUDI BIOINFORMATIKA GEN TGASE PENYANDI ENZIM TRANSGLUTAMINASE DARI STREPTOMYCES

Ifah Munifah, Ekowati Chasanah, dan Budi Saksono

Bioinformatika mempunyai peranan yang sangat penting diantaranya adalah untuk manajemen data-data biologi molekul, terutama sekuen DNA dan informasi genetika. Perangkat utama bioinformatika adalah software dan didukung oleh kesediaan internet. Terdapat banyak mikroorganime penyandi gen Tgase yang menghasilkan produk berupa enzim transglutaminase. Mikroorganisme penyandi gen Tgase tersebut, diantaranya adalah kelompok Streptomyces dan Streptoverticillium yaitu: Streptomyces fradie, Streptomyces netropsis, Streptomyces baldaccii, Streptomyces cinnamoneus, Streptomyces paucisporogenesis, Streptomyces platensis, Streptomyces caniferus, Streptomyces mobaraensis 1244, Streptomyces mobaraensis 1246, Streptoverticillium mobaraense, dan streptoverticillium sp. Berdasarkan homologi dari sekuens DNA dan proteinnya, telah didapat  primer forward dan primer reverse yang sesuai untuk mengekspresikan gen yang memproduksi enzim transglutaminase.


TOKSISITAS SUBKRONIK ALGINAT PADA HISTOPATOLOGI HATI, GINJAL DAN LAMBUNG MENCIT

Jovita Tri Murtini, Nandang Priyanto, dan Tuti Hartati Siregar

Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Telah dilakukan penelitian mengenai toksisitas subkronik ekstrak dari rumput laut coklat jenis Sargasum sp. Hewan uji yang digunakan adalah mencit jantan (Mus musculus L.), berumur 2-3 bulan dengan berat 20–30 gram, selama 28 hari. Mencit dibagi menjadi 4 kelompok yaitu 1 kelompok control dan 3 kelompok perlakuan yang, masing-masing terdiri dari 16 ekor mencit. Kelompok control tidak diberikan bahan uji sedangkan kelompok perlakuan diberikan bahan uji yaitu dosis normal, 2x dosis normal dan 4x dosis normal (1, 2 dan 4 mg alginate/g berat badan mencit). Hasil penelitian uji toksisitas subkronik alginate menunjukkan bahwa dosis normal dan dosis 2x normal tidak merusak hati, ginjal dan lambung mencit sedangkan dosis 4x normal mengakibatkan degenerasi sel dan jumlah sel kupfer meningkat pada hati serta lambung mengalami degenerasi sel parietal.


EKSTRAKSI DAN PEMURNIAN ALGINAT DARI  Sargassum filipendula  KAJIAN DARI BAGIAN TANAMAN, LAMA EKSTRAKSI DAN UJI GUGUS FUNGSIONAL

Kartini Zailanie
Fakultas  Perikanan Universitas Brawijaya Malang.
E-mail: kartinizailaniek@yahoo.com

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kombinasi perlakuan dan lama ekstraksi serta pemurnian dengan isopropanol untuk mendapatkan rendemen alginat yang tinggi dari bagian  thallus rumput laut Sargassum filipendula.
Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua faktor yaitu faktor pertama bagian tanaman: ujung, utuh, pangkal, daun dan faktor kedua adalah lama ekstraksi: 1 jam, 1,5 jam, 2 jam dengan 3x ulangan. Hasil terbaik dari dua kombinasi tersebut diambil untuk penelitian tahap kedua. Penelitian tahap kedua yaitu bahan baku kondisi rumput laut segar dan kering dan dimurnikan dengan isopropanol 85%, 90% dan 95% sebanyak 3x ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap rendemen, kadar air, viskositas, kadar logam dan uji gugus fungsional
Hasil penelitian  menunjukkan terdapat pengaruh nyata dari bagian tanaman dan lama ekstraksi terhadap tingkat rendemen dan berpengaruh tidak nyata terhadap viskositas. Terdapat interaksi antara bagian tanaman dan lama ekstraksi pada kondisi rumput laut segar.
Perlakuan terbaik ialah pada bagian pangkal dengan lama ekstraksi 2 jam dengan kondisi rumput laut segar dan dimurnikan dengan isopropanol 95% menghasilkan garam alginat dengan rendemen 26,96% , viskositas 14,31 cps. dan kadar abu 35,25. Kandungan Hg sebesar 0,27+0,05 ppm dan Pb sebesar 6,30+0,05 ppm. masih dibawah ketentuan yang berlaku.


KARAKTERISTIK KITIN DARI CANGKANG UDANG YANG DIEKSTRAKSI SECARA KIMIA

Kasmiati
Konsentrasi Teknologi Hasil Perikanan, Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Jurusan Perikanan, FIKP Universitas Hasanuddin.
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10 Tamalanrea Makassar.
Email: kasmiati74@yahoo.com

Volume produksi udang beku sebagai komoditi ekspor perikanan unggulan Sulawesi Selatan mengalami peningkatan seiring dengan tingginya permintaan pasar. Peningkatan volume udang beku juga diikuti oleh bertambahnya volume limbah yang ditimbulkan. Limbah tersebut (berupa kulit, kepala dan ekor) yang lazim disebut cangkang sangat cepat mengalami pembusukan dan dapat mencemari lingkungan jika tidak ditangani dengan baik. Cangkang udang mengandung kitin yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dan berpotensi untuk dikembangkan. Kitin dapat diekstraksi secara kimia menggunakan asam dan basa sebagai pelarut. Karakteristik kitin yang dihasilkan dipengaruhi oleh kondisi proses ekstraksi diantaranya suhu, waktu, rasio dan konsentrasi pelarut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kitin dari cangkang udang yang diekstraksi secara kimia menggunakan pelarut HCl dan NaOH.
Cangkang udang dikumpulkan dari limbah industri pembekuan udang yang ada di Kawasan Industri Makassar (KIMA). Sebelum digunakan, cangkang udang dicuci untuk membersihkan kotoran yang melekat, kemudian dikeringkan lalu dihaluskan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) yaitu rasio pelarut (5:1, 10:1, 15:1, 20:1 v/b) pada tahap demineralisasi, dan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial yaitu suhu (75°C, 85°C, 90°C) dan lama waktu (1 jam, 2 jam, 3 jam) ekstraksi pada tahap deproteinasi, masing-masing dilakukan 3 kali ulangan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rasio pelarut yang optimum pada tahap demineralisasi adalah 15:1 v/b dengan rendemen 22,84% dan kadar abu 0,48%. Adapun kombinasi perlakuan yang optimum pada tahap deproteinasi adalah pada perlakuan suhu 85°C dan waktu 3 jam. Karakteristik kitin yang dihasilkan adalah rendemen 23,07%, kadar air 9,16%, kadar abu 0,65%, kadar protein 18,01%, dan viskositas 51,20 cps.

Kata kunci: kitin, cangkang, demineralisasi, deproteinasi, karakteristik


KINETIKA PENJERAPAN LARUTAN TEMBAGA OLEH TULANG IKAN PARI (Himantura sp.)

Khoirun Nisa, Anastasia Wheni Indrianingsih
Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia LIPI Telp./Fax. (0274) 392570
Email: nisa.khoirun@yahoo.com

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan tulang ikan pari (Himantura sp.), sebagai material organik, dalam menjerap logam tembaga (Cu). Tulang ikan pari yang berasal dari pantai selatan Yogyakarta ini, terlebih dulu diserbukkan menjadi ≤120 mesh. Serbuk tulang ikan pari tersebut, sebagian dikalsinasi pada suhu (600-700)°C. Penjerapan logam tembaga oleh tulang ikan pari yang dikalsinasi maupun yang original (tanpa kalsinasi), dilakukan pada suhu kamar dengan metode batch. Konsentrasi larutan awal tembaga dibuat konstan yaitu 30 ppm. Parameter yang digunakan adalah waktu pengadukan yaitu 60, 90, 120 dan 180 menit. Tembaga yang tersisa dalam larutan disaring untuk dianalisis menggunakan Spektroskopi Serapan Atom (AAS). Dari hasil yang diperoleh, terlihat bahwa tulang ikan pari yang telah dikalsinasi dapat menjerap logam tembaga hingga 100% pada pengadukan selama 120 dan 180 menit. Sedangkan tulang ikan pari tanpa kalsinasi dapat menjerap logam tembaga hingga 97% pada pengadukan selama 120 menit.

Kata kunci: kalsinasi, penjerapan, tembaga, tulang ikan pari


PENAPISAN FITOKIMIA, PENENTUAN KADAR PHLOROTANIN DAN UJI AKIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK RUMPUT LAUT COKLAT (Sargassum duplicatum)

Muhamad Firdaus
Fakultas Perikanan, Universitas Brawijaya

Rumput laut coklat (Sargassum sp) adalah salah satu tanaman laut berpotensi sebagai antioksidan. Secara spesifik tanaman ini mengandung phlorotanin, suatu polifenol yang tidak didapati di tanaman ataupun rumput laut lain. Senyawa ini telah teruji mampu menghambat peroksidasi lemak dan aktivitas radikal bebas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menapis dan menentukan kadar phlorotanin rumput laut coklat (Sargassum duplicatum). Ekstrak  difraksinasi dengan Kromatografi Lapis Tipis dan diuji aktivitas antioksidannya secara in vitro dengan 2,2-Diphenyl-1-picrylhydrazyl (DPPH). Hasil menunjukkan bahwa rumput laut ini mengandung alkaloid, saponin, tanin, steroid, dan glikosida dengan kadar phlorotanin 9,2822-37,3693 mg/g. Waktu retensi fraksi ekstrak: 0,97;  0,75, dan 0,46, dan efisiensi antiradikalnya 11.264,54.

Kata kunci: fitokimia, phlorotanin, aktivitas antioksidan, Sargassum duplicatum


AKTIVITAS PEREDAMAN RADIKAL BEBAS 2,2 DIFENIL PIKRIL HIDRAZIL (DPPH)  EKSTRAK INVERTEBRATA DARI TAMAN NASIONAL LAUT KARIMUNJAWA

Muhammad Nursid, Hedi Indra Januar, Dedi Noviendri, dan Sumpeno Putro
Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi
 Kelautan dan Perikanan,
Jl. KS. Tubun Petamburan VI Jakarta

Penelitian untuk mengetahui aktivitas peredaman radikal bebas 2,2 difenil pikril hidrazil (DPPH) dari ekstrak makroinvertebrata telah diakukan. Sampel makroinvertebrata diambil dari Taman Nasional Laut Karimunjawa pada 9 stasiun penelitian menggunakan scuba diving. Pada tahapan awal, ekstraksi dilakukan dengan menggunakan etanol. Oleh karena kontaminan inorganik dapat mengganggu hasil analisis, maka seluruh sampel ekstrak dilewatkan pada kolom kromatografi C18 untuk menghilangkannya. Setelah itu, seluruh sampel diujikan aktivitas peredaman radikal bebas 2,2 difenil pikril hidrazil (DPPH) menggunakan metode spektrofotometri cahaya tampak. Pengukuran absorbansi dilakukan di panjang gelombang 510 nm menggunakan dynex microplate reader pada mikroplat 96 sumuran. Hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat 3 ekstrak yang memiliki IC50 lebih kecil dari 100 µg/ml.  Ketiga ekstrak ini adalah ekstrak dengan kode KJ-02-06 (IC50: 40,8 µg/ml), KJ-05-06 (IC50: 30,1µg/ml), and KJ-47-06 (IC50: 66,9  µg/ml). Ketiga jenis invertebrata ini termasuk  dalam filum Porifera.


BIOPROSPEKSI SPONS DAN KARANG LUNAK ASAL TAMAN NASIONAL  LAUT KEPULAUAN WAKATOBI: ANTITUMOR DAN ANTIOKSIDAN

Nurrahmi Dewi Fajarningsih, Hedi Indra Januar, Thamrin Wikanta, dan Ekowati Chasanah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi manfaat (bioprospeksi) spons dan karang lunak asal Taman Nasional Laut Kepulauan Wakatobi (TNKW) sebagai antitumor dan antioksidan. Sampel makroinvertebrata laut diambil dengan menggunakan scuba diving di empat stasiun pengambilan di perairan TNKW. Sebanyak 74 sampel spons dan karang lunak diuji aktivitas antitumornya terhadap 3 jenis sel lestari tumor (HeLa, MCF 7, SKOV 3) dengan metode MTT dan diuji pula aktivitas antioksidannya dengan menggunakan metode DPPH (2,2-diphenyl pikryl hidrazil). Sampel yang dapat menghambat > 50% sel lestari tumor pada konsentrasi 20 ppm dikategorikan sebagai sampel aktif antitumor. Sampel yang memiliki aktivitas penghambatan radikal bebas > 50% pada konsentrasi 100 ppm dalam uji DPPH dikategorikan sebagai sampel yang aktif antioksidan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 sampel ( W-02-08; W-24-08; W-25-08, ketiganya merupakan spons) yang aktif terhadap tiga jenis sel lestari tumor, 12 sampel aktif terhadap dua jenis sel lestari tumor, 23 sampel aktif terhadap satu jenis sel lestari tumor dan 34 sampel tidak aktif terhadap sel lestari tumor yang diujikan. Dari 74 sampel yang diuji aktivitas antioksidannya, terdapat 8 sampel yang tergolong aktif (7 sampel spons dan 1 sampel karang lunak). Sampel-sampel spons dan karang lunak asal TNKW berpotensi untuk diteliti lebih lanjut untuk mengetahui senyawa kimiawi (baru) yang terkandung sebagai antitumor dan antioksidan.


ISOLASI DAN KARAKTERISASI ENZIM PROTEASE DARI BAKTERI ALOFILIK ASAL BLEDUG KUWU, PURWODADI, JAWA TENGAH

Sugiyono1, Eka Dewi Marwanti2, Witono Basuki3, dan Ifah Munifah1
1) Peneliti Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
2) Alumni Fakultas MIPA, Universitas Al Azhar Indonesia
3) Staf Pengajar Fakultas MIPA, Universitas Al Azhar Indonesia

Meningkatnya kebutuhan industri enzim mendorong peneliti bioteknologi untuk mencari berbagai macam sumber enzim baru dari berbagai sumber alami. Enzim sangat penting baik secara fisiologi maupun secara komersial. Dari aspek nilai komersialnya, protease banyak dimanfaatkan untuk membantu proses pengolahan khususnya dalam industri perikanan. Berdasarkan hal tersebut di atas, dilakukan isolasi dan karakterisasi enzim protease dari isolat bakteri halofilik dari sampel air Bledug Kuwu, Purwodadi. Isolasi bakteri halofilik dilakukan pada media dengan berbagai konsentrasi NaCl mulai dari 10%, 12,5%, 15%, 17,5%, dan 20%. Isolat dapat tumbuh pada semua konsentrasi NaCl kecuali  pada media yang memiliki konsentrasi NaCl 20%. Isolat murni yang diperoleh kemudian dilakukan penotolan pada media skim milk, untuk mengetahui bakteri halofilik yang dapat mendegradasi protein.  Dari 59 isolat, 10 isolat diketahui dapat mendegradasi protein, yang ditandai dengan terbentuknya zona bening disekitar koloni dan bakteri ini tergolong halofilik moderat karena tumbuh pada konsentrasi NaCl 10%. Isolat bakteri halofilik yang mempunyai indeks proteolitik (IP) terbesar yaitu isolat A2E dan E1C, selanjutnya dilakukan optimasi pertumbuhan untuk mengetahui waktu yang optimal untuk produksi protease. Isolat A2E memiliki Indeks proteolitik, aktivitas protease dan  aktivitas spesifik terbesar, jika dibandingkan dengan isolat E1C. Karakterisasi  dilakukan pada produksi enzim protease dari Isolat A2E dan hasil menunjukan bahwa pH optimum dicapai pada pH 6, suhu optimum pada suhu 55OC dengan aktivitas relatif sebesar  0,263 U/ml dan waktu produksi pada jam ke-28. Pada pengujian pengaruh beberapa ion logam, EDTA merupakan inhibitor, sedangkan CaCl2 merupakan aktivator yang baik. Penambahan EDTA menghasilkan aktivitas relatif yang paling kecil yaitu  0,009 U/ml, sedangkan penambahan CaCL2 menghasilkan aktivitas relatif sebesar 0,104 U/ml. 


UJI SITOTOKSIK DARI EKSTRAK ASETON, FRAKSI DAN SUB FRAKSI ALGA MERAH (Rhodymenia palmata) TERHADAP SEL HeLa

Sumpeno Putro1 dan Abdul Aziz Al-Zaelany2
1) Peneliti, Balai Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
2) Mahasiswa Fakultas Farmasi, Universitas Pancasila, Jakarta

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas ekstrak aseton Rhodymenia palmata terhadap sel HeLa. Rhodymenia palmata dimaserasi dengan aseton dan terhadap ekstrak kasar yang diperoleh dilakukan uji pendahuluan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Selanjutnya dilakukan fraksinasi terhadap ekstrak kasar menggunakan heksan, etil asetat dan metanol : air, kemudian  dilakukan uji sitotoksik terhadap sel HeLa.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa Rhodymenia palmata mengandung golongan senyawa flavonoid, triterpenoid dan saponin. Hasil uji BSLT ekstrak aseton diperoleh nilai LC50  851,33 µg/mL kemudian nilai LC50 340,25  µg/mL untuk fraksi heksan, LC50  36,47  µg/mL fraksi etil asetat, LC50 803,71  µg/mL fraksi metanol:air. Uji sitotoksisitas ekstrak aseton terhadap sel HeLa diperoleh IC50 64,05  µg/mL kemudian diperoleh nilai IC50 42,06 µg/mL untuk fraksi heksan, IC505,49 µg/mL untuk fraksi etil asetat dan IC50 28,07 µg/mL untuk fraksi metanol:air.
Hasil menunjukkan bahwa fraksi etil asetat mempunyai sitotoksisitas paling tinggi dibandingkan dengan fraksi heksan dan fraksi metanol:air. Fraksi aktif dari hasil partisi yang memberikan aktivitas prospektif difraksinasi lanjut menggunakan kromatografi kolom, kemudian masing-masing sub fraksi dilakukan uji sitotoksik terhadap sel HeLa. Hasil uji sitotoksik sub fraksi diperoleh persentase inhibisi 11,76%  untuk sub fraksi 1, persentase inhibisi 9,72% untuk sub fraksi 2, persentase inhibisi 17,19% untuk sub fraksi 3, persentase inhibisi 22,17% untuk sub fraksi 4, persentase inhibisi 14,93%  untuk sub fraksi 5, persentase inhibisi 0,22%  untuk sub fraksi 6, persentase inhibisi 21,26% untuk sub fraksi 7.


PURIFIKASI INHIBITOR PROTEASE DARI TELUR Pacific herring (Clupea pallasii)

Ustadi1, Keun Young Kim2, and Sang Moo Kim2
1) Jurusan Perikanan dan Kelautan Fakultas Pertanian UGM, Bulaksumur, Yogyakarta, Indonesia
2) Fakultas Biosain dan Tehnologi Kelautan, Universitas Negeri Kangnung, Gangneung 210-702, Korea Selatan

Inhibitor protease dengan berat molekul 120 kDa telah disolasi dari telur Pacific herring (Clupea pallasii) mengunakan kromatografi afinitas CNBr-Sepharose 4B-coupled papain sebagai metode pemurnian protein secara cepat. Aktivitas penghambatan spesifik, hasil dan puritas dari inhibitor protease yang telah dimurnikan adalah 18,63 U/mg, 0.17% and 82,41 fold. Pada analisa menggunakan SDS-PAGE menunjukkan bahwa inhibitor protease tersusun dari tiga sub-unit protein dengan berat molekul 66, 37, dan 17 kDa. Inhibitor ini mampu menghambat aktivitas enzim-enzim golongan cysteine protease terutama papain dan cathepsin, akan tetapi tidak mampu menghambat enzim-enzim golongan serine protease termasuk chemotrypsin. Hasil utama penelitian adalah inhibitor protease dari telur Pacific herring dibanding dari putih telur mempunyai kemampuan penghambatan yang lebih kecil terhadap papain dan cathepsin. Atas dasar uraian di atas dapat disimpulkan bahwa inhibitor protease ini berstruktur trimer dan dapat diklasifikasikan kedalam golongan inhibitor cysteine protease.

Kata kunci: inhibitor protease, telur Pacific herring, cystine protease.


KARAKTERISASI DAN APLIKASI ENZIM KITOSANASE DARI BAKTERI ASAL LIMBAH UDANG

Yusro Nuri Fawzya dan Asri Pratitis

Kitosanase merupakan enzim kitinolitik yang menghidrolisis kitosan pada ikatan glikosidik sehingga menghasilkan oligomer kitosan. Kitosanase diproduksi oleh berbagai mikroorganisme, salah satunya bakteri. Isolat bakteri KPU 2123 yang diisolasi dari limbah udang memiliki kemampuan kitinolitik dengan nilai indeks kitinolitik (IK) sebesar 3,5. Enzim kitosanase yang dihasilkan oleh isolat tersebut memiliki aktivitas yang optimal saat enzim direaksikan pada suhu 50°C dan pH 6. Enzim ini cukup stabil pada suhu 37°C selama 120 menit. Penambahan ion logam dalam reaksi memberikan pengaruh terhadap aktivitas enzim. Ion logam Zn2+ terbukti menghambat aktivitas enzim tersebut. Penggunaan enzim kitosanase dalam menghidrolisis substrat kitosan yang berbentuk kitosan larut air, mampu menghasilkan kitooligomer dengan rendemen yang hampir mencapai 100%. Pengujian lebih lanjut terhadap sifat bioaktivitas kitooligomer menunjukkan bahwa oligomer yang dihasilkan mampu menghambat pertumbuhan bakteri uji. Selain itu, kitooligomer juga dapat menyebabkan kematian sel HeLa dengan LC50 pada dosis 50 ppm.

Kata kunci: kitosanase, karakterisasi, kitooligomer, bioaktivitas