PROSIDING TAHUN 2008

Bidang Pasca Panen Kelas B

AKUMULASI LOGAM BERAT PADA ORGAN BERBEDA DALAM TIRAM MUTIARA, Pinctada maxima

Adi Hanafi, Bambang Susanto, dan Apri Supii
Balai besar Riset Perikanan Budidaya laut , Gondol – Bali
Email: adihanaf@lycos.com

Tujuan utama budidaya tiram mutiara, Pintada maxima adalah untuk produksi mutiara yang mahal harganya. Namun pada ukuran besar daging beserta mantelnya sering dikonsumsi dengan harga yang relatif mahal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan logam berat mengingat kekerangan termasuk tiram mutiara berperan sebagai bio indikator terhadap cemaran logam berat. Sampel diperoleh dari pembudidaya tiram mutiara di perairan Bali Utara, kabupaten Buleleng. Logam berat dianalisis dari bagian organ (daging, mantel dan organ lain termasuk gonad) untuk tiga katagori ukuran yang berbeda. Analisis logam berat dilakukan dengan menggunakan alat atomic absorption spectrofotometer (AAS) dengan background correction. Hasil studi ini menunjukkan bahwa akumulasi tertinggi bahwa pada setiap organ dan ukuran adalah Zn, disusul oleh Cu, Mn, Pb, Co, Cd, Ni dan Cr. Kecenderungan konsentrasi dalam daging paling rendah disusul organ lain dan mantel untuk semua ukuran tiram. Nikel dan Cr hanya terakumulasi pada mantel dan  organ lain tetapi tidak terdapat dalam daging untuk semua ukuran dengan konsentrasi relatif rendah.

Kata kunci: tiram mutiara, Pinctada maxima, logam berat.


AKTIVITAS BILE SALT HYDROLASE BAKTERI ASAM LAKTAT ASAL RUSIP

Agus Wijaya, Rindit Pambayun, dan Elmeizy Arafah
Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya
Jl. Raya Inderalaya-Prabumulih km 32, Inderalaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan
E-mail: agus_wijaya@web.de

Bakteri asam laktat (BAL) telah berhasil diisolasi dan dikoleksi dari rusip, makanan ikan fermentasi dari Sumatera Selatan dan Bangka-Belitung. BAL ini kemudian diidentifikasi secara umum dan dilanjutkan kemudian dengan penentuan genusnya secara fenotip dengan membandingkan karakteristik diferensialnya. Kemampuan BAL untuk menurunkan kholesterol darah secara in vitro dilakukan dengan menganalisis aktivitas BSH (bile salt hydrolase). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 22 sampel bakteri dari 50 koloni yang berhasil diisolasi. Sisanya berupa jamur (28 sampel). Identifikasi awal menunjukkan bahwa 12 isolat memiliki bentuk sel bulat, 14 isolat katalase positif, dan 14 isolat merupakan Gram positif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa 8 sampel bukan merupakan BAL dan 14 sampel merupakan BAL. Analisis sifat diferensial menunjukkan bahwa 2 isolat membentuk tetrad, 6 isolat membentuk tetrad, tidak ada isolat yang mampu tumbuh pada suhu 10 °C dan pH 4,4 dan kadar garam 18%, terdapat 7 isolat yang dapat tumbuh pada suhu 45 °C dan 17 isolat yang dapat tumbuh pada kadar garam 6,5%. Atas dasar karakteristik diferensial ini maka secara fenotip genus BAL yang berperan dalam fermentasi rusip adalah Streptococcus, Lactobacillus, Pediococcus, Enterococcus, Lactococcus/Vagococcus/Streptococcus, dan Leuconostoc/ Oenococcus. Analisis terhadap aktivitas BSH menunjukkan bahwa terdapat  13 dari 14 isolat BAL yang menunjukkan hasil positif. 


KAJIAN MUTU PRODUK OLAHAN PINDANG DI PASAR MINGGU

Arifah Kusmarwati dan Ninoek Indriati1
1) Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas pindang yang diolah secara tradisional di lokasi pengolahan yang terletak di Pasar Minggu. Bahan baku pindang yaitu ikan tongkol lisong (Euthynnus affinis) yang diperoleh dari Muara Baru dan diterima dalam keadaan beku. Selanjutnya bahan baku diolah menjadi pindang dengan melalui beberapa tahap mulai dari pencucian tanpa penyiangan, penyusunan dalam wadah, penggaraman dan perebusan. Parameter yang diamati meliputi analisis proksimat, Total Volatile Base (TVB), Total Barbituric Acid (TBA), penentuan kadar histamine, Total Plate Count (TPC)  dan perhitungan jumlah bakteri penghasil histamine. Hasil analisis menunjukkan bahawa bahan baku pindang yaitu ikan tongkol lisong segar sudah kurang baik mutunya. Setelah diolah menjadi produk pindang, maka jumlah bakterinya menjadi sedikit berkurang karena pengaruh penggaraman dan perebusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik dalam bentuk lisong segar dan produk pindangnya, kadar TVB, kadar TBA, kadar histamin, TPC dan jumlah bakteri penghasil histamine masih dikategorikan aman dikonsumsi dengan kadar di bawah standar yang telah ditetapkan.

Kata kunci:    fresh and processed skipjack, histamine, histamine producing bacteria


PENGGUNAAN CAMPURAN KAPPA DAN IOTA KARAGINAN SEBAGAI BAHAN PENGENTAL PADA PEMBUATAN SKIN LOTION

Murdinah
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Penelitian penggunaan campuran kappa dan iota karaginan 1:3 sebagai bahan pengental dan penstabil dalam skim lotion telah dilakukan. Dari campuran ini dilakukan perlakuan variasi konsentrasi yaitu 0,3%; 0,5%; 0,7%; 0,9%. Untuk parameter pembuatan skim lotion dan sebagai pembanding digunakan bahan pengental hodroksi etil selulosa dengan konsentrasi 0,5%. Parameter yang diamati untuk menegetahui karakteristik mutu produk skin lotion meliputi: pH, viskositas, diameter globul rata-rata, uji organoleptik, dan uji stabilitas fisik (metode freeze-thaw, uji stabilitas pada suhu tinggi, dan penyimpanan pada suhu kamar). Selama penyimpanan tiga bulan penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi campuran kappa dan iota yang digunakan dalam pembuatan skin lotion mengakibatkan peningkatan viskositas, dan penurunan ukuran diameter globul serta nilai organoleptik khususnya warna dan kecepatan pengolesan. Konsentrasi campuran kappa dan iota sebesar 0,7% menghasilkan produk skin lotion terbaik dan stabil secara fisik selama penyimpanan tiga bulan berdasarkan uji freeze-thaw dan uji penyimpanan suhu tinggi.


KANDUNGAN RESIDU LOGAM BERAT PRODUK PERIKANAN DAN PERAIRAN MUARA SUNGAI BARITO KALIMANTAN SELATAN

Dwiyitno, Nugroho Aji, dan Ninoek Indriati

Penelitian identifikasi kandungan residu logam berat pada produk perikanan dan lingkungan perairan dilakukan di Muara Sungai Barito, Kalimantan Selatan. Parameter yang diamati adalah logam berat (Hg, Cd, Cu dan Pb), kualitas air (suhu, kecerahan, pH dan salinitas), dan unsur hara (amonia, nitrit, nitrat, sulfit dan fosfat). Jenis sampel yang dianalisis adalah ikan, air dan sedimen. Kandungan logam berat (Hg, Cd, Cu dan Pb) pada ikan dari S. Barito belum melewati ambang batas yang diijinkan, tetapi sudah harus mendapat perhatian karena kandungannya sudah cukup tinggi. Kandungan logam berat pada air muara S. Barito pada beberapa stasiun yang diteliti sudah ada yang melebihi ambang batas yang diijinkan. Sedangkan kandungan logam berat pada sedimennya masih dibawah ambang batas yang diijinkan. Hasil pengamatan unsur hara pada muara Sungai Barito juga masih cukup baik.

Kata kunci: heavy metal, Barito River, fish, water, sediment, Hg, Cd, Pb and Cu


PENGGUNAAN KAPANG Trichoderma viride DALAM PEMBUATAN SIRUP GLUKOSA RUMPUT LAUT Eucheuma spinosum

Eddy Suprayitno, Titik Dwi Sulistiyati

Sirup glukosa adalah sejenis larutan kental yang dihasilkan dari hidrolisis pati dengan menggunakan katalisator enzim, asam, atau gabungan antara enzim dan asam. Sirup glukosa merupakan produk setengah jadi yang banyak digunakan dalam industri makanan dan minuman, substrat untuk fermentasi, atau bahkan digunakan sebagai bahan mentah untuk produksi bahan-bahan kimia organik seperti etanol dan asam asetat.
Glukosa dapat diproduksi dengan memanfaatkan selulosa, yaitu melalui pemecahan selulosa sebagai polisakarida menjadi monomernya, yaitu glukosa. Salah satu sumber selulosa yang banyak terdapat di alam adalah rumput laut. Dinding sel rumput laut terutama dari jenis alga merah dan hijau terdiri atas selulosa. Sedangkan, dinding sel alga coklat terdiri atas selulosa dan asam algin. Kandungan serat E. spinosum 5,936% dan E. cottonii 5,478%.
Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pemanfaatan rumput laut E. spinosum sebagai bahan baku pembuatan sirup glukosa dan mengetahui konsentrasi rumput laut E. spinosum dan lama fermentasi yang optimum untuk menghasilkan sirup glukosa dengan menggunakan kapang T. viride.
Analisis data yang digunakan adalah RAL faktorial dengan dua faktor, yaitu konsentrasi substrat  1% (K1), 3% (K2), dan 5% (K3) dan lama  fermentasi  yaitu 2 hari (H1), 4 hari (H2), 6 hari (H3), dan 8 hari (H4) serta ulangan 3 kali.
Pada proses fermentasi rumput laut E. spinosum oleh kapang T .viride diperoleh perlakuan terbaik K2H3, yaitu pada konsentrasi substrat 3% dan lama fermentasi 6 hari dengan nilai kadar glukosa 6,242%, nilai pH 8,9, total padatan terlarut 2,3% BRIX, target warna L 43,32, dan persentase selulosa terhidrolisis 3,90%.

Kata kunci: selulosa, E.spinosum, kapang T.viride


FORMULASI GEL PENGHARUM RUANGAN MENGGUNAKAN CAMPURAN KARAGINAN DAN LOCUST BEAN GUM

Ellya Sinurat Murdinah dan Rosmawaty P
Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Penelitian penggunaan campuran karaginan dan LBG dalam pembuatan gel pengharum ruangan telah dilakukan. Perbandingan antara karaginan dan LBG adalah 1:1. penggunaan campuran ini dalam gel pengharum ruangan divariasi dari dari 1,0; 1,5; 2,0; 2,5; dan 3,0%. Parameter yang diamati untuk mengetahui kualitas gel pengharum ruangan meliputi kekuatan gel dan sineresis serta organoleptik pada uji pembedaan atribut (tekstur dan bau) dan uji mutu hedonik (tekstur dan bau). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian campuran karaginan dan LBG konsentrasi rendah (1,0% dan 1,5%) dan konsentrasi 3,0% menghasilkan sineresis tinggi, hal ini tidak disukai pada gel pengharum ruangan. Produk yang paling mendekati standar adalah pada konsentrasi 2,0%. Hal ini dilihat dari hasil sineresis dan uji organoleptik (tekstur dan bau).


KARAKTERISTIK GELATIN DARI TULANG KERAS IKAN GABUS 

Elmeizy Arafah1, Herpandi1, dan Telly Handayani2
1) Staf Teknologi Hasil Perikanan Faperta Unsri OI 30662
2) Alumni THI Unsri

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik gelatin yang dihidrolisis  secara asam menggunakan HCl (gelatin tipe A) dan diekstrak menggunakan air panas. Rancangan yang digunakan ialah Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua fator perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan pertama HCl [4% (A1), 5% (A2), 6% (A3)] dan temperatur air untuk ekstraksi [70°C (B1), 80°C (B2), 90°C (B3)]. Parameter penelitian ini ialah rendemen, karakteristik fisik gelatin (kekuatan gel, viskositas dan pH), dan karakteristik kimia (kadar air, kadar protein dan kadar lemak). Rendemen ekstraksi tertinggi pada perlakuan HCl 4% dan temperatur air untuk ekstraksi 70°C yaitu 3,21%. Kombinasi perlakuan HCl 5% dan temperature air untuk ekstraksi 70°C mempunyai kekuatan gel (159,70 bloom) dan viskositas (63,18 cPs) terbaik. Kekuatan gel, viskositas dan kadar air gelatin ikan gabus memenuhi SNI, akan tetapi kadar protein gelatin di bawah nilai protein gelatin komersial.

Kata kunci: gelatin, snakehead fish, hard bone, gel strength and viscosity


GELATIN KULIT IKAN TUNA (Thunnus albacares) SEBAGAI BAHAN PENGIKAT PADA TABLET FUROSEMIDA

Fera Roswita Dewi1, W Farid Ma’ruf1, dan Effionora Anwar2
1) Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
2) Dosen di Departemen Farmasi Fakultas MIPA Universitas Indonesia

Penelitian tentang formulasi tablet furosemida menggunakan gelatin kulit ikan tuna(Thunnus albacares) sebagai bahan pengikat dengan cara granulasi basah telah dilakukan. Untuk mengetahui kemampuan gelatin sebagai pengikat tablet dibuat empat formula berdasarkan penelitian pendahuluan yaitu A,B,C dan D yang masing-masing berbeda dalam konsentrasi gelatin 3, 5, 7 dan 10% dengan furosemida (10%) sebagai bahan aktif, dikalsium fosfat sebagai bahan pengisi, amilum jagung (pati jagung) (5%) sebagai bahan penghancur, magnesium stearat (1%) dan talk (4%) sebagai bahan anti lengket. Untuk menentukan kekuatan suatu bahan pengikat digunakan nilai HFR/DT (Hardness Friability Rate/Disintegration Time)yang merupakan hasil bagi dari kekerasan dan keregasan dibagi dengan waktu hancur. Hasil penelitian bahwa konsentrasi yang terbaik dari keempat formula diatas adalah formula A dengan konsentrasi larutan pengikat 3%. Dibandingkan dengan bahan pengikat yang biasa digunakan secara komersial yaitu gelatin sapi (formula E) dan pasta amilum (pati) (formula F); gelatin kulit ikan tuna (Thunnus albacares) dengan konsentrasi 3% mutunya sama atau bahkan untuk parameter tertentu lebih baik. Secara umum tablet yang dihasilkan memenuhi syarat Farmakope Indonesia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa gelatin kulit ikan tuna  (Thunnus albacares) mempunyai kemampuan yang baik sebagai pengikat tablet furosemida dengan cara granulasi basah.

Kata kunci: furocemide, gelatin, tablet, tuna skin, wet granulation


KAJIAN PENGGUNAAN KOMBINASI KULTUR STARTER Pediococcus acidilactici 0110<TAT-1 dan Lactobacillus casei  NRRL-B1922 TERHADAP KARAKTER MIKROBIOLOGI SOSIS FERMENTASI IKAN LELE DUMBO YANG DIINFEKSI Listeria monocytogenes ATCC-1194

Happy Nursyam
Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, FPIK-UB

Listeria monocytogenes dapat menyebabkan encephalitis, meningitis, septicemia, dan mastitis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kandungan Listeria monocytogenes yang diinfeksikan ke dalam sosis yang mengandung kultur starter Pediococcus aeidilactici dan Lactobacillus casei. Sosis lele dumbo, yang dicampur dengan gula, garam, nitrat, nitrit, bumbu-bumbu difermentasi selama 28 hari pada suhu 15 – 21,2 ºC secara indigeneus maupun menggunakan kultur starter (Pediococcus aeidilactici dan Lactobacillus casei), dan diinfeksi Listeria monocytogenes diamati selama inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan Listeria monocytogenes menurun pada sosis yang diinokulasi dengan kultur starter.

Kata kunci: Pediococcus acidilactici, Lactobacillus casei, Listeria monocytogenes, lele dumbo, sosis.


KAJIAN KERUSAKAN HATI MENCIT AKIBAT PAPARAN IKAN NILA  (Oreochromis niloticus) BERFORMALIN

Hartati Kartikaningsih
Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya, Jl Veteran Malang 65144,
Telp 0341-553512
 Email: hartatiharris@yahoo.co.id

Ikan nila berformalin 0,2 ppm dan 0,5 ppm dipaparkan pada mencit betina secara oral/3 bulan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran kerusakan hati mencit akibat paparan ikan nila berformalin/oral/3 bulan. Penelitian ini menggunakan pembanding kontrol nol (tanpa perlakuan), kontrol negatif (paparan ikan nila) dan kontrol positif (paparan formalin). Hasil penelitian menunjukkan hati mencit mengalami peradangan ada paparan bulan ketiga dengan kadar SGPT, SGOT, albumin dan globulin yang berbeda secara statistik, meskipun demikian berat organ, jumlah pakan, feses dan urin tidak memperlihatkan perbedaan secara statistik. Disarankan untuk tidak  menggunakan formalin sebagai pengawet ikan walau gambaran kerusakan hati mencit akibat paparan ikan nila berformalin secara sub kronis relatif tidak besar.
Kata kunci: paparan ikan nila berformalin/oral/3 bulan, kerusakan hati mencit


PENGARUH UKURAN PARTIKEL LIMBAH PADAT PENGOLAHAN AGAR-  AGAR DAN KONSENTRASI POLIPROPILEN TERHADAP KUALITAS PAPAN PARTIKEL

Jamal Basmal, Novita Ujiani, dan Ruddy Suwandi

Penelitian pemanfaatan limbah padat pengolahan rumput laut penghasil agar telah dilakukan. Perlakuan yang diberikan untuk mendapatkan hasil kualitas papan partikel yang terbaik adalah perlakuan ukuran partikel limbah padat 20, 40, dan 60 mesh sedangkan ratio pemakaian binder adalah 15%, 30%, 45% dan 60%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah padat pengolahan agar-agar dapat dimanfaatkan sebagai papan partikel. Berdasarkan pengujian sifat fisik papan partikel nilai terbaik ditemukan pada perlakuan ukuran 40 mesh limbah padat dengan perekat polipropilen 30% (b/b) yakni nilai kerapatan papan partikel 1 g/cm3, kadar air 5,5%, pengembangan linier 0,13% dan pengembangan tebal 0,62%, tetapi bila ditinjau dari pengujian sifat mekanik papan partikel maka perlakuan ukuran 60 mesh limbah padat dengan perekat polipropilen 30% (b/b) adalah yang  terbaik dengan nilai modulus patah 102,3 kg/cm, modulus elastisitas 13,967 kg/cm2, dan nilai kekuatan pegang skrup 9,4 kg.

Kata kunci: solid waste of agar production, polypropylene, particle board


APLIKASI ALGINAT SEBAGAI PENYALUT LAPIS TIPIS (FILM COATING) TABLET VITAMIN A  ASETAT

Murdinah dan Dina Fransiska
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
                                                                                                                                                                                                   
Penelitian mengenai alginat sebagai bahan penyalut lapis tipis (coating) pada tablet vitamin A asetat telah dilakukan. Alginat yang digunakan adalah hasil ekstraksi dari rumput laut coklat Sargasum filipendula. Alginat digunakan sebagai bahan penyalut lapis tipis pada tablet Vitamin A asetat dengan beberapa konsentrasi untuk melindungi zat aktif dari pengaruh luar yang mengganggu kestabilan produk. Formula larutan penyalut dibuat dengan menggunakan alginat dengan konsentrasi: 1; 1,25; 1,50; dan 1,75%, menggunakan PEG 6000 sebagai plastisizer, TiO2 sebagai pewarna, serta pelarut air. Tablet inti mengandung vitamin A asetat. Uji parameter yang dilakukan terhadap tablet inti dan tablet salut lapisan tipis adalah uji visual, keseragaman ukuran, keseragaman bobot, keseragaman kandungan, kekerasan, keregasan, waktu hancur, dan uji stabilitas kimia dipercepat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa formula penyalut yang  terbaik untuk tablet vitamin A asetat adalah formula  yang menggunakan alginat dengan konsentrasi 1,75%, dan dengan penambahan PEG 6000 sebesar 20% dari bobot polimer, serta TiO2 0,5% dari total volume larutan penyalut.


PENGARUH VARIASI KONSENTRASI DAN LAMA PERENDAMAN DALAM  LARUTAN PAPAIN TERHADAP KUALITAS GELATIN DARI KULIT KERING  NILA MERAH

Roland Bimo Harto, Nurfitri Ekantari, dan Iwan Yusuf Bambang Lelana
E-mail: nurfitri_ekantari@yahoo.co.uk

Kulit ikan nila tersusun dari kolagen yang apabila dihidrolisis akan menghasilkan gelatin. Pemanfaatan biopolimer jenis gelatin sangat luas, misalnya untuk pangan, farmasi, kosmetika, dan industri fotografi. Gelatin komersial biasanya terbuat dari sapi dan babi, bahan ini merupakan pantangan bagi umat Hindu, Yahudi dan Islam. Sumber gelatin alternatif, seperti kulit ikan, dibutuhkan untuk memenuhi sumber gelatin halal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi penambahan papain dan lama perendamannya terhadap kuantitas dan kualitas gelatin kulit kering nila merah. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu perendaman dalam larutan papain, pembuatan gelatin dan analisis gelatin. Kulit kering direndam dalam air selama 4 jam, dan air mendidih selama 10 detik. Kulit diperkecil ukurannya dan direndam dalam larutan papain (0%, 2%, 4% and 6%) pada  pH 5 dengan variasi lama waktu perendaman 30 menit dan 60 menit. Setelah perendaman, kulit dibilas dengan air mengalir kemudian dilanjutkan dengan perendaman dalam larutan asam asetat (CH3COOH) pH 3 selama 24 jam, kulit dibilas dan diblender, diekstraksi menggunakan aquades pada suhu 80°C selama 3 jam. Gelatin yang terekstrak kemudian disaring, dikeringkan dalam oven bersuhu 70°C selama 48 jam, dan dihaluskan. Gelatin yang diperoleh dianalisis sifat fisik, kimia, sensoris dan dibandingkan dengan standar  farmasi, pangan, SNI 06-3735-1995 dan gelatin komersial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi papain dan lama perendaman memengaruhi rendemen, kadar abu, kekuatan gel, viskositas, dan warna (P<0,05). Penambahan papain dengan konsentrasi 4% dengan lama perendaman 30 menit merupakan perlakuan terbaik memiliki kekuatan gel (673,26  bloom); viskositas (32,4 cPs); kadar air (6,18%); kadar abu (0,95%); kadar protein (15,76%); rendemen (18,77%);  warna olive yellow (2,5 Y 6/8); dan skor bau (2,3).

Kata kunci: kulit nila merah, gelatin, larutan papain


KANTONG KERTAS DAUR ULANG DENGAN PENAMBAHAN AMPAS RUMPUT LAUT DARI INDUSTRI AGAR-AGAR KERTAS

Shinta Wahyu Apriyani, Wahyu Kartiko Senoaji, Maharestu Setyorini, Aldino Dityanawarman, Ardiyanita Siskandini
Jurusan Perikanan Universitas Gadjah Mada

Daur ulang (recycle) kertas adalah salah satu langkah untuk mengurangi permintaan akan kertas baru sekaligus memanfaatkan sampah. Salah satu produk kertas daur ulang adalah kantong kertas yang makin dipilih karena ramah lingkungan dan waktu degradasi alami pendek. Kertas yang dibuat dari rumput laut merah mempunyai fleksibilitas tinggi dan mengandung substansi perekat sehingga kertas tidak mudah rusak atau sobek. Rumput laut yang digunakan adalah ampas limbah industri agar-agar kertas yang selama ini masih berupa limbah yang belum dimanfaatkan. Penambahan ampas rumput laut pada penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan kertas yang bermutu baik, kuat dan fleksibel. Penelitian ini didesain dengan perlakuan perbandingan campuran  kertas (K) dan  ampas agar-agar (A) P1 (100% K), P2 (80% K; 20% A), P3 (60% K; 40% A), P4 (40% K; 60% A), P5 (20% K; 80% A) dan P6 (100% A). Hasil pengamatan organoleptik menunjukkan bahwa semakin banyak penambahan ampas, kertas berwarna semakin kecoklatan dan permukaannya semakin kasar. Kertas P1, P2, P3 tidak berubah bentuk ketika direndam air selama 15 jam, sedangkan perlakuan lain mengalami perubahan bentuk selama perendaman P4 (1,5 jam), P5 (3 jam), P6 (15 jam). Indeks tarik berkisar antara 12,62 hingga 17,67 Nm/g. Indeks sobek berkisar antara 3,00 hingga 4,59 mN.m2/g. Indeks jebol berkisar antara 0,64 hingga 1,03 KPa.m2/g. Formulasi yang menghasilkan kantong kertas dengan kekuatan dan fleksibilitas terbaik adalah 60% Kertas dan 40% Ampas. Formulasi lain berpotensi untuk digunakan sebagai art paper untuk diaplikasikan pada album, pigura dan barang kerajinan.

Kata kunci: kertas, daur ulang, ampas rumput laut, kantong kertas.


PEMANFAATAN KITOSAN UNTUK RECOVERY PROTEIN DARI LIMBAH  PERIKANAN

Singgih Wibowo
Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan

Limbah cair yang dibuang oleh industri perikanan dapat menyebabkan terjadinya prolusi terhadap lingkungan karena kandungan proteinnya yang tinggi. Memanfaatkan protein dari limbah semacam itu akan sangat menguntungkan tidak hanya karena akan menghasilkan air yang lebih bersih untuk kepentingan daur ulang, tetapi juga menghasilkan  protein yang potensial untuk kepentingan manusia atau hewan. Kitosan, produk deasetilasi terhadap kitin yang bermuatan positif, merupakan senyawa yang efektif sebagai adsorben kation untuk recovery protein dari limbah, khususnya limbah industri perikanan. Berbagai tipe kitosan dapat ditemukan di pasar yang berbeda berat molekul (BM) dan derajat deasetilasinya (DD). Perbedaan BM dan DD pada kitosan ini mungkin memiliki pengaruh yang nyata terhadap aplikasi kitosan. Penelitian telah dilakukan untuk mempelajari pengaruh BM dan DD kitosan dalam aplikasinya untuk recovery air dan protein dari limbah industri perikanan seperti industri surimi. Air cucian surimi (ACS), yang digunakan dalam penelitian ini, diperoleh dari pabrik pengolahan surimi, direaksikan dengan kitosan. Flokulasi dilakukan dengan pengadukan pada 130 rpm, pada suhu 20oC selama 5 menit dan reaksi dibiarkan berjalan selama 1 jam. Tiga tngkat variasi konsentrasi kitosan (dalam asam asetat 1%) yaitu 20, 40 dan 100 mg kitosan/L ACS. Kekeruhan diukur berdasarkan prosedur EPA dan analisis protein dilakukan berdasarkan metode modifikasi Lowry untuk menghitung adsorpsi protein dan reduksi kekeruhan.
Hasilnya menunjukkan bahwa BM makin tinggi atau makin rendah menghasilkan adsorpsi protein yang lebih rendah. Berat molekul medium dan DD yang tinggi (94%) menunjukkan adsorpsi protein yang tertinggi. Hasil ini mengindikasikan bahwa untuk hasil maksimal, kitosan dengan BM medium dan DD tinggi akan menghasilkan adsorpsi protein maksimal pula.


PENENTUAN KONSENTRASI HCl DAN WAKTU EKSTRAKSI OPTIMUM  PADA PROSES DEMINERALISASI CANGKANG RAJUNGAN (Portunus sp.) TERHADAP PRODUKSI KHITIN SKALA PILOT PLANT

Syamdidi, Singgih Wibowo, dan Ijah Muljanah

Penelitian penentuan konsentrasi HCl dan waktu ekstraksi optimum dalam proses ekstraksi khitin telah dilakukan dengan menggunakan 6 Kg cangkang rajungan. Konsentrasi HCl yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10%, 11,7% dan 13,3% selama 2 dan 3 jam. Hasil riset menunjukkan bahwa demineralisasi cangkang rajungan menggunakan HCl 10% selama 2 jam mampu menghilangkan 99,84% mineral dan menyisakan 0,74% mineral. Jumlah mineral yang hilang untuk perlakuan konsentrasi HCl 10%, 11,7% dan 13,3% selama 2 jam ekstraksi adalah 99,84%, 99,95% dan 99,91%. Hasil analisa kadar abu untuk perlakuan konsentrasi HCl 10%, 11,7% dan 13,3% selama 2 jam adalah 0,74%, 0,26% dan 0,48%. Penambahan waktu ekstraksi selama 3 jam tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap penghilangan kandungan mineral pada cangkang rajungan. Dari semua perlakuan, proses demineralisasi menggunakan konsentrasi HCl sebesar 10% selama 2 jam merupakan konsentrasi dan waktu ekstraksi optimum untuk produksi khitin.


PENGARUH LAMA PERENDAMAN LARUTAN ASAM SITRAT TERHADAP REDUKSI AMONIAK DAGING HIU (Carcharhinus sp.)

T.D Sulistiyati, T. J. Moedjiharto, dan  A.D. Jayanti
 
Ikan hiu mempunyai nilai gizi cukup tinggi, namun pemanfaatannya masih sangat terbatas dikarenakan kandungan ureanya yang cukup tinggi. Urea merupakan sumber amoniak, yang menimbulkan bau pesing pada daging ikan hiu. Penggunaan Penggorengan vakum dengan model celupan dapat meningkatkan nilai ekonomi ikan hiu. Sifat krispi dapat diperoleh dengan menggoreng kripik buah pada suhu 85°C, tekanan 650 mmHg dan lama penggorengan ± 1jam.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menetapkan seberapa besar pengaruh perendaman larutan asam sitrat yang bervariasi terhadap reduksi amoniak daging hiu yang digoreng vakum, dan menetapkan lama perendaman larutan asam sitrat yang tepat, untuk menghasilkan daging hiu goreng dengan mutu terbaik ditinjau dari segi fisik, kimia dan organoleptik. Metode eksperimen dengan model rancangan Acak Lengkap diulang tiga kali. Perlakuan yang diterapkan adalah merendam irisan daging hiu dalam larutan asam sitrat 2% (Novita, 2008) dengan waktu perendaman: 0 menit (A1), 2 (A2), 4 (A3), 6 (A4), 8(A5), 10 (A6), 12 (A7) dan 14 menit (A8). Analisis produk meliputi kadar amoniak, kadar protein, kadar air, nilai pH, daya patah, aw, bau, rasa dan kerenyahan. Ada pengaruh lama perendaman terhadap pengurangan kandungan amoniak daging hiu. Lama perendaman larutan asam sitrat yang tepat untuk mereduksi amoniak daging hiu yang digoreng vakum adalah selama 12 menit (A7) dengan nilai rata-rata kadar amoniak 23,4 mg/100g; kadar protein 16,627%; pH 4,83; kadar air 3,78%; a­w 0,55; daya patah 86.495 N/m; rasa 5,45 (netral); bau 6,6 (tidak pesing) dan kerenyahan 6,85 (renyah). Dan dengan lama perendaman larutan asam sitrat 2% selama 12 menit dapat mereduksi amoniak daging hiu hasil penggorengan sebesar 72,82%.

Kata kunci: ikan hiu, reduksi amoniak, asam sitrat


EKSTRAKSI GELATIN DARI KULIT KACI-KACI (Plecthorinchus flavomaculatus) SECARA ASAM DAN ENZYMATIS

Tazwir, Nurul Hak, dan Rosmawaty Perangin-angin
Peneliti  pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan  Perikanan.

Telah dilakukan ekstraksi gelatin dari kulit ikan Kaci-kaci (Plecthorinchus flavomaculatus) dengan perlakuan perendaman dalam larutan kapur dan Na2S selama 48 jam, dilanjutkan dengan penambahan enzim protease dan larutan  ammonium sulfat selama 2jam sambil diputar di dalam molen. Kulit kemudian dicuci dan disikat untuk menghilangkan sisa daging dan sisik yang tertinggal. Pembentukan ossey dilakukan dengan perendaman kulit dalam larutan asam sitrat pH 3 selama satu malam. Ekstraksi gelatin dilakukan dengan perlakuan suhu 60 dengan lama ekstraksi 4 jam, 70 dengan lama ekstraksi 3 jam, dan 80°C dengan lama ekstraksi 2 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan terbaik adalah 60°C dengan lama ekstraksi 4 jam, memberikan hasil rendemen 17,42 %, kekuatan gel 243,8 bloom, viskositas 10,0 cps dan pH 4.12.


PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN ASAP CAIR TERHADAP MUTU BELUT ASAP YANG DISIMPAN PADA SUHU KAMAR

Bagus S. B. Utomo1, Reki A. Febriani2, Sri Purwaningsih3 dan Tati Nurhayati3
1) Peneliti pada Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan
2) Alumni Institut Pertanian Bogor
3) Dosen Institut Pertanian Bogor

Telah dilakukan riset tentang pengaruh konsentrasi larutan asap cair terhadap mutu belut asap yang disimpan pada suhu kamar. Belut yang digunakan dalam riset ini adalah jenis Monopterus albus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asap cair dapat dipakai untuk pembuatan belut asap dengan memakai pelarut air pada  konsentrasi 30% dan waktu pengeringan 8 jam untuk mencapai kadar air 14%. Daya awet produknya dapat menyamai daya awet belut asap yang dibuat dengan menggunakan pengasapan panas tradisional yaitu selama 10 hari, namun secara umum produk ini hanya disukai oleh konsumen sampai pada penyimpanan 4 hari. Selama penyimpanan, terjadi kenaikan kadar air yang mengakibatkan perubahan parameter lain diantaranya komposisi proksimat, aw, pH, TPC dan kapang, sedangkan nilai organoleptiknya turun secara nyata mulai pada penyimpana hari ke-5. Asap cair dan belut asap hasil pengasapan menggunakan asap cair tidak mengandung senyawa Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH), sebaliknya belut komersil mengandung senyawa PAH.

Kata kunci:  liquid smoke, eel, Monopterus albus, drying time, Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH)