![]() Anda Pengunjung Ke : 4443
|
![]() PROSIDING TAHUN 2007Bidang Pengolahan Hasil IkanPENGARUH PENGGUNAAN METODE PENGAWETAN KULIT MENTAH TERHADAP KUALITAS KULIT PARI (Dasyatis sp.) TERSAMAK Agustina Vitra Kurniani, Latif Sahubawa, dan Iwan Yusuf Bambang Lelono Proses pengawetan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kualitas kulit mentah dan kualitas kulit tersamak dan pengaruh yang dihasilkan berbeda pada setiap metode pengawetan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode pengawetan terhadap kualitas kulit pari tersamak dan mengetahui metode pengawetan yang menghasilkan kualitas kulit pari tersamak paling baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap Blok (RALB) dengan 3 ulangan. Penelitian ini menggunakan blok sebagai ulangan sehingga masing-masing blok terdiri dari 5 variasi perlakuan yaitu: (a1) kontrol (kulit segar) (a2) pengawetan dalam larutan garam jenuh (a3) pengawetan dalam larutan garam jenuh yang ditambah peracun kulit (cortimol) (a4) pengawetan garam kristal dan (a5) pengawetan pengasaman (pickle). Lama pengawetan pada keempat variasi perlakuan pengawetan selama 14 hari dan hasil analisa sidik ragam yang berbeda nyata dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (UJGD) dengan a 0,05. Kata kunci: metode pengawetan, kulit mentah, kualitas kulit tersamak, pari PEMANFAATAN RUMPUT LAUT Gelidium sp. DALAM Anna C. Erungan1, Ella Salamah1, dan Delly Santoso2 Diversifikasi produk rumput laut terus dikembangkan untuk meningkatkan daya guna hasil perairan. Salah satu usaha diversifikasi tersebut adalah pemanfaatan rumput laut Gelidium sp.dalam pembuatan permenjelly. Nilai tambah di dalam produk permen jelly rumput laut Gelidium sp. berupa kandungan mineral seperti iodium dan kalsium serta serat makanan yang baik untuk pencernaan tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan rumput laut dan gelatin terhadap karakteristik permen jellydari rumput laut Gelidium sp. Penelitian ini terdiri dari dua tahap. Tahap pertama pembuatan permenjelly dengan perlakuan penambahan rumput laut 10 g, 20 g, 30 g dan gelatin sebanyak 2,5 g, 3 g, 3,5 g, 4 g. Pengujian dilakukan terhadap sifat sensori dengan metode skala hedonik terhadap tingkat kesukaan rasa, aroma, tekstur, penampakan, uji gigit, serta kekuatan gel dan pH. Pada tahap kedua, permen jelly yang terpilih dari penelitian tahap pertama dilanjutkan dengan perlakuan penyimpanan pada suhu ruang selama 14 hari. Pengujian karakteristik kimia meliputi kadar air, kadar abu, aw, kadar kalsium, kadar iodium, kadar serat kasar. Sedangkan analisis fisik meliputi kekuatan gel, rigiditas, kekerasan dan elastisitas. Uji mikrobiologi dilakukan terhadap total kapang dan khamir. Kata kunci: Gelidium sp., diversifikasi, permen jelly, karakteristik, mineral, serat PENINGKATAN NILAI TAMBAH TULANG IKAN KAKAP MERAH (Lutjanus sp) MENJADI GELATIN SERTA APLIKASINYA PADA PEMBUATAN PERMEN JELLY Mala Nurilmala1,Mita Wahyuni1 dan Teddy Kurniawan2 Tulang ikan kakap merah (Lutjanus sp.) merupakan limbah yang belum termanfaatkan dengan baik dan di dalamnya mengandung kolagen sehingga dapat dibuat gelatin. Penggunaan gelatin sudah semakin meluas, baik untuk produk pangan maupun non-pangan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat fisik dan sensorik permen jelly gelatin tulang ikan kakap merah serta membandingkan permen jelly yang ditambahkan gelatin tulang ikan kakap merah dengan permen jelly yang ditambahkan gelatin komersial dan permen jelly komersial (Yupi). Perlakuan yang digunakan adalah penambahan gelatin dengan konsentrasi 8, 10 dan 12%. Pada pembuatan permen jelly gelatin tulang ikan kakap merah, berdasarkan analisis fisik meliputi kekerasan dan elastisitas serta uji sensori meliputi parameter warna, bau, rasa dan tekstur permen jelly didapatkan perlakuan terbaik yaitu gelatin dengan konsentrasi 10%. Berdasarkan hasil penelitian ini, gelatin tulang ikan kakap merah dapat diaplikasikan dalam produk permen jelly. Berdasarkan uji fisiknya, permen jelly gelatin tulang ikan kakap merah memiliki rata-rata nilai kekerasan 256,25 gf dan elastisitas 0,6548. Rata-rata nilai kadar gula total permen jelly gelatin tulang ikan kakap merah 53,99%, rata-rata nilai aw permen jelly gelatin tulang ikan kakap merah 0,79 dan rata-rata nilai pH permen jelly gelatin tulang ikan kakap merah 3,63. Kata kunci: tulang ikan kakap merah, gelatin, permen jelly PEMBUATAN HIDROLISAT PROTEIN JEROAN BANDENG SECARA ENZIMATIS Nurfitri Ekantari, Dyan Ikan Nur Sasmita Sari, dan Eko Widayanto Nugroho Jeroan bandeng merupakan limbah industri pengolahan pindang bandeng yang belum dimanfaatkan. Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambahnya adalah dengan memanfaatkannya menjadi hidrolisat protein ikan. Untuk itu telah dipelajari proses pembuatan hidrolisat protein jeroan bandeng secara enzimatis. Enzim yang digunakan adalah tripsin dan papain (b/b protein), tripsin ditambahkan sebesar 0, 1,5, 3 dan 4,5% dengan lama hidrolisis 0, 2, 4 dan 6 jam pada suhu 350C, sedangkan enzim papain yang ditambahkan sebesar 0, 5, 10 dan 15% dengan lama hidrolisis 0, 24, 48 dan 72 jam pada suhu 500C. Kata kunci: tripsin, papain, waktu hidrolisis, hidrolisis protein ikan, jeroan bandeng BEBERAPA CARA PENGAWETAN GONAD BULUBABI UNTUK MEMPERPANJANG KESEGARAN DAN DAYA AWETNYA Murniyati dan Ijah Muljanah Bulubabi merupakan binatang laut yang banyak ditemukan di perairan pantai Indonesia terutama yang mempunyai padang lamun. Jenis dominan yang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan pangan adalah Deadema setosum, Echinometra mathaei, Tripneustes gratilla, Echinotrix sp. Gonad bulubabi merupakan komoditas pangan yang dikenal secara luas dan merupakan makanan yang bernilai gizi tinggi yang mengandung protein 15,43% hingga 25,67%. Kata kunci: bulubabi, pengeringan, pengesan, kesegaran STUDI PEMBUATAN KECAP IKAN SELAR (Caranx leptolepis) DENGAN FERMENTASI SPONTAN Desniar, Djoko Peornomo, dan Vina Dwi Febrina Timoryana Kecap ikan merupakan salah satu produk fermentasi ikan. Pengolahan secara fermentasi lebih sedikit dilakukan apabila dibandingkan dengan bentuk pengolahan tradisional yang lain. Permasalahannya karena proses fermentasi membutuhkan waktu yang cukup lama dan keahlian khusus dalam menambahkan bahan pembantu seperti garam. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi garam terhadap proses fermentasi kecap ikan selar (Caranx leptolepis) secara spontan. Bahan baku yang digunakan adalah ikan selar (Caranx leptolepis), dengan perlakuan konsentrasi garam 20%, 30% dan 40% yang difermentasi selama 6 bulan. Hasil analisis proksimat ikan selar diperoleh nilai kadar air, abu, protein dan lemak berturut-turut adalah 76,04%; 2,38%; 15,76% dan 2,92%. Hasil analisis selama proses fermentasi pada ketiga perlakuan menunjukkan bahwa secara umum terjadi penurunan nilai pH (6,88-5,01), kadar garam (menurun sekitar 30%-50%) dan total mikroba (1,62x105–1,25x103) sedangkan jumlah total bakteri asam laktat meningkat sampai minggu ke-9 (2,30x102–1,35x104) dan cenderung tetap sampai minggu ke-12, setelah itu cenderung menurun (1,35x104–1,16x103). Peningkatan konsentrasi garam dari 20% sampai 40% secara umum tidak mempengaruhi semua parameter yang diuji. Hasil analisis terhadap produk akhir pada ketiga perlakuan menunjukkan bahwa kadar air, lemak dan protein mengalami penurunan dari bahan baku sedangkan untuk kadar abu meningkat. Kadar amino nitrogen tertinggi (5,84) pada perlakuan konsentrasi garam 30%. Hasil uji sensori terhadap parameter penampakan,warna dan aroma pada produk akhir menunjukkan bahwa kecap ikan yang paling disukai panelis adalah perlakuan konsentrasi garam 30%. Kata kunci: fermentasi, ikan selar, kecap ikan PENGARUH PENAMBAHAN GULA DAN LAMA FERMENTASI TERHADAP MUTU PASTA FERMENTASI GONAD BULU BABI (Diadema setosum) Komariah Tampubolon1, Iriani Setyaningsih1,dan Febrianti Dewi Ratna2 Bulu babi atau sea urchin adalah salah satu komoditi perikanan yang bernilai gizi tinggi. Salah satu diantaranya adalah jenis bulu babi Diadema setosum yang dikonsumsi dalam bentuk segar sebagai makanan tambahan oleh masyarakat pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penambahan gula dan lama fermentasi terhadap mutu pasta fermentasi gonad bulu babi (Diadema setosum)dengan Lactobacillus plantarum sebagai kultur starter, dalam rangka menciptakan dan meningkatkan diversifikasi produk-produk hasil perikanan. PENGARUH KONSUMSI GARAM ALGINAT TERHADAP LIPID DARAH TIKUS WISTAR HIPERKOLESTEROLEMIK THE EFFECT OF ALGINIC SALT TYPE CONSUMPTION ON BLOOD LIPID OF WISTAR RAT HYPERCHOLESTEROLEMIC Hardoko1,J.A. Sumardi2,and Syamsul Mu’min3 Study on reducing hypercholesterolemic of blood by consuming Na-alginic, K-alginic, and Ca-alginic from Sargassum duplicatum was conducted using male wistar rat (Ratus norvegicus). The rats were made hypercholesterolemic by lipid ration, before given ration contains of 0.0%, 7.5% dan 12.5% (w/w) of Na-alginic, K-alginic, and Ca-alginic, respectively. Key words: hypercholesterolemic, Na-alginic, K-alginic, Ca-alginic, normal level EKSTRAKSI ALGINAT DARI ALGAE COKLAT, Sargassum duplicatum J.G. AGARDH (PHAEOPHYTA) YANG TUMBUH DI BEBERAPA DAERAH PANTAI SELATAN JAWA BAGIAN BARAT Kresno Yulianto PENGARUH KONSENTRASI GULA DAN LAMA FERMENTASI TERHADAP KARAKTERISTIK NATA RUMPUTLAUT Myritsa Ajeng Monita1, Latif Sahubawa, dan Ustadi2 Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi sukrosa dan lama fermentasi terhadap karakteristik rumputlaut. Desain penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 faktor (konsentrasi gula dan lama fermentasi) dengan 3 ulangan. Data dianalisis dengan Analisis varian untuk melihat pengaruh perlakuan, perbedaan antar perlakuan pada tingkat signifikan 95%, dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan Multiple Range Test) untuk melihat hasil yang optimal. Parameter yang diuji adalah pH, rendemen, tebal, kadar air, serat kasar, tekstur, warna, dan organoleptik kesukaan (tekstur dan warna). Kata kunci: konsentrasi gula, lama fermentasi, karakteristik, nata rumput laut OPTIMASI PROSES MIKROFILTRASI PADA PEMBUATAN REFINED CARRAGEENAN Uju Sadli Karaginan merupakan hasil olahan dari rumput laut yang mempunyai nilai ekonomis dan permintaan yang tinggi. Selama ini proses pemurnian ekstrak rumput laut untuk menghasilkan karaginan refined berkualitas tinggi dilakukan dengan menggunakan alkohol, namun metode ini memerlukan jumlah biaya produksi tinggi. Salah satu metode pemurnian secara fisik adalah teknologi membran. Teknologi ini memanfaatkan prinsip penyaringan dengan menggunakan tekanan sebagai driving force. Selain itu kinerja proses membran juga ditentukan oleh laju alir umpan. Penelitian ini bertujuan menentukan tekanan transmembran dan laju alir umpan yang optimum terhadap kinerja membran mikrofiltrasi (fluks dan rejeksi) dalam proses pemurnian dan pengkonsentrasian karaginan. Pada proses pemurnian larutan karaginan dengan membran mikrofilrtasi 0,1 mikron, fluks meningkat sebesar 8,05 l m2 jam-1 untuk setiap kenaikan tekanan transmembran 1 kPa, sedangkan laju alir umpan pada kondisi ini tidak berpengaruh signifikan dalam meningkatkan fluks. Tekanan transmembran mencapai maksimum pada 128 kPa dan laju alir 3,47 ms-1. Tekanan transmembran dan laju alir umpan tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai rejeksi pigmen fikosianin dan fikoeritin serta karaginan. Karaginan yang dihasilkan melalui proses mikrofiltrasi 0,1 mikron dapat memenuhi parameter yang ditetapkan FAO. STUDI EKSTRAKSI CARRAGEENANDARI RUMPUT LAUT Eucheuma cottonii(KAJIAN JENIS DAN KONSENTRASI KOAGULATOR) Warkoyo Rumput laut (Seaweed) tumbuh dan tersebar di seluruh perairan Indonesia. Pada saat ini rumput laut dimanfaatkan sebagai bahan penstabil, pengemulsi, pembentuk gel, pengental, pensuspensi, pembentuk busa, dan pembentuk film. Industri pengolahan bahan baku rumput laut menjadi bahan setengah jadi apalagi bahan jadi belum banyak dilakukan di Indonesia. Keterbatasan jumlah industri pengolahan rumput laut menjadi kendala ketika panen raya terjadi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi koagulator terhadap kualitas carrageenan. Kata kunci: ekstraksi, carrageenan, koagulator PENGARUH KONSENTRASI GUM ARAB SEBAGAI ENKAPSULAN MIKROKAPSUL HIDROLISAT PROTEIN LAYUR Dwi Listyaningsih, Siti Ari Budhiyanti, dan Nurfitri Ekantari Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi gum arab sebagai bahan enkapsulan pada proses mikroenkapsulasi hidrolisat protein layur. Enkapsulasi hidrolisat protein ikan merupakan suatu upaya memanfaatkan potensi yang dimiliki hidrolisat protein ikan sebagai bahan tambahan makanan. Konsentrasi gum arab sebesar 5%, 7,5%, 10%, dan 12,5% ditambahkan ke dalam larutan hidrolisat protein layur, kemudian dihomogenkan dan dikeringkan dengan pengering semprot dengan suhu inlet 140oC dan outlet 75oC. Semua perlakuan diulang 3 kali. Pengujian yang dilakukan meliputi tingkat kelarutan, kemampuan membentuk emulsi dan stabilitas emulsi serta kemampuan membentuk buih dan stabilitas buih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi gum arab tidak berpengaruh pada nilai kelarutan mikrokapsul hidrolisat protein layur. Konsentrasi gum arab sebesar 12,5% menghasilkan stabilitas emulsi, kemampuan membentuk buih, dan stabilitas buih tertinggi dibanding perlakuan lain, dengan nilai stabilitas emulsi sebesar 4,83%, kemampuan membentuk buih sebesar 116,05%, dan stabilitas buih sebesar 110%. Kata kunci: hidrolisat protein layur, mikroenkapsulasi, pengeringan semprot, gum arab PEMANFAATAN LIMBAH KULIT UDANG SEBAGAI FLAVOR DALAM BENTUK TABLET Ella Salamah1, Djoko Poernomo1, dan Alimatur Rosyidah2 Pemanfaatan limbah udang merupakan sasaran yang tepat dibidang hasil perikanan dengan tujuan memperoleh nilai tambah dan menghasilkan produk yang bermanfaat. Pembuatan bubuk flavor dari limbah kulit udang dalam bentuk tablet merupakan salah satu pemanfaatan limbah kulit udang. Tablet flavor ini selain sebagai penyedap masakan berprotein tinggi yang berasal dari bahan alami, diharapkan dapat mengganti flavor sintetik atau MSG (Mono Sodium Glutamat) yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat dan bisa dijadikan penguat rasa apabila hendak dibuat produk-produk imitasi dengan rasa udang. Tablet dengan berat rata-rata 0,65±0,04 gram, tebal 2 mm dan diameter 1 cm, serta mempunyai kadar air kurang dari 12% dan masa simpan selama 8 minggu. Kata kunci: limbah udang, bubuk gurih, flavor, tablet FERMENTASI TEPUNG KEPALA UDANG DENGAN ENZIM KITINASE DARI ISOLATE BAKTERI Aeromonas sp. Muhamad Yamin, Usman, dan Rahmansyah Fermentasi dengan enzim kitinase berpotensi menurunkan kadar kitin dalam tepung kepala udang yang diduga menyebabkan rendahnya kecernaan tepung kepala udang. Penelitian ini bertujuan melihat pengaruh fermentasi tepung kepala udang menggunakan enzim kitinase yang diproduksi dari isolat bakteri Aeromonas sp. Kata kunci: kitinase, tepung kepala, serat kasar, kitin MENINGKATKAN KUALITAS HASIL PERIKANAN DENGAN MEREDUKSI SUSUT HASIL DAN PERBAIKAN PENANGANAN PASCAPANEN Murniyati dan Bambang Priono Penanganan pascapanen yang berorientasi pada peningkatkan mutu akan menyelamatkan berbagai komoditi perikanan dari kerusakan karena peka terhadap perubahan suhu, kelembaban dan mikroba pembusuk Jika ditelaah secara kritis pada setiap tahap usaha perikanan, maka tahap pascapanen membutuhkan perbaikan teknologi agar susut hasil dapat diminimalisasi. Namun, kemampuan ekonomi saat ini, umumnya penanganan ikan masih dilakukan secara tradisional sehingga masih ditemukan adanya kehilangan terutama terhadap kualitas hasil perikanan. Kata kunci: susut hasil, penanganan, pascapanen, kualitas ikan PERUBAHAN KANDUNGAN ASAM LEMAK OMEGA-3 IKAN KEMBUNG STEAK DAN UTUH SELAMA PEMASAKAN DENGAN MICROWAVE Siti Ari Budhiyanti dan Nurfitri Ekantari Kata kunci: microwave, ikan kembung, steak, utuh, asam lemak omega-3 THE EFFECT OF BLEACHING AND COMPOSITION OF RGODOPYCEAE TYPE ON THE AGAR FLOUR QUALITY Mila Roshinta Hadi1, Siti Ari Budhiyanti2, dan Ustadi2 Indonesia has a large number of seaweed-sources. One of them is Rhodophyceae. Rhodophyceae is being used in karageenan and agar. In general, agar industry utilizes Gracilaria sp. as an input and has not explored the Gelidium sp. potency. Agar produstion process requaires bleaching materials in order to improve the organoleptik quality. Bleaching materials which always being used is CaO and Ca(ClO)2. The main objective of this study is to produce agar flour made of Gracilaia sp. and Gelidium sp., under the different type of bleaching in order to have a good quality and meet the Indonesia National Standar 02-2802-1995. Producing agar used many types of composition between Gracilaria sp. and Gelidium sp. such as 100:0%, 75:25%, 50:50%, 25:75%, and 0:100%. Extraction process was conducted at 90oC and during 3 hours. The result of this study shows that the many types of bleaching treatment did not affect differently, however the types of composition has different impact on every treatment. Therefore, the study result also explains that agar-flour producing process meet the Indonesia National Standar 02-2802-1995 in some composition between Gracilaria sp. 100% and Gelidium sp. 0%, Gracilaria sp. 75% and Gelidium sp. 25%, Gracilaria sp. 50% and Gelidium sp. 50%. Key words: Gracilaria sp., Gelidium sp., agar, CaO, Ca(ClO)2, Indonesia National Standar « Back to faperta
| Back to Top ^
|