PROSIDING TAHUN 2007

Bidang Manjemen Sumberdaya Perikanan dan Ilmu Kelautan

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS TAMBAK MELALUI
RESTORASI HUTAN MANGROVE

Lies Emmawati Hadie, Wartono Hadie, Murniyati, dan Iswari Ratna Astuti
Peneliti pada Pusat Riset Perikanan Budidaya, Badan Riset Kelautan dan Perikanan

Tingkat kerusakan hutan mangrove sudah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan, karena lebih dari 50% dari total area  hutan tersebut telah mengalami degradasi. Dampak dari degradasi ini menjadi salah satu penyebab penurunan produktivitas tambak udang. Padahal produksi udang  menjadi salah satu sumber devisa yang memiliki kontribusi yang cukup besar pada skala nasional. Oleh karena itu perlu dicari solusi bagi permasalahan pertambakan dan upaya pemulihan hutan mangrove. Ekosistem hutan mangrove yang telah mengalami degradasi dapat dipulihkan kembali dengan memanfaatkan teori dan teknik dalam ekologi restorasi. Selain hal itu dalam pelaksanaan program rehabilitasi sangat penting untuk mengintegrasikan pemerintah daerah, steak holder, masyarakat dan komunitas pembudidaya udang di tambak untuk mendukung keberhasilan restorasi hutan mangrove. Dengan demikian diharapkan akan tercapai target peningkatan produksi udang dalam program revitalisasi perikanan.

Kata kunci: udang, tambak, mangrove


JENIS IKAN, FUNGSI DAN PERATURAN DI SUAKA PERIKANAN
(DANAU LINDUNG) EMPANGAU KABUPATEN KAPUAS HULU
KALIMANTAN BARAT

Asyari
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang
Jl.Beringin 308 Mariana P.O. BOX 1125 Palembang
Telp: (0711) 537194. Fax: (0711) 537205
E-Mail: brppu_palembang@yahoo.com

Suaka perikanan adalah kawasan perairan tertentu, baik air tawar, payau, maupun air laut dengan kondisi dan ciri tertentu sebagai tempat berlindung/berkembang biak jenis sumber daya ikan tertentu, yang berfungsi sebagai daerah perlindungan. Penetapan Danau Empangau sebagai danau lindung (suaka perikanan) adalah sebagai upaya untuk melestarikan populasi ikan siluk/arwana (Scleropages formosus) yang merupakan ikan langka yang terancam kepunahan dan juga sebagai ikan unggulan daerah. Selain itu suaka perikanan ini juga berperan melindungi jenis-jenis ikan lain yang merupakan ikan ekonomis penting di Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi dan mengidentifikasi jenis ikan dan karakteristik habitat serta mengetahui fungsi dan aturan-aturan yang diterapkan di suaka perikanan Danau Empangau. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus, Oktober dan Desember tahun 2006, dengan metode melakukan penangkapan ikan bersama nelayan dengan alat jaring insang (gill net), jermal dan jala (cast net). Fungsi suaka perikanan dan aturan-aturan yang diterapkan di suaka ini diketahui dengan mewawancarai ketua nelayan dan nelayan secara langsung, serta dengan mendapatkan data sekunder di Dinas Perikanan Daerah TK II Kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan barat. Selain ikan siluk, jenis ikan yang terdapat di suaka perikanan Danau Empangau ini berjumlah sebanyak 46 ekor, yang terpenting di antaranya adalah: ikan entukan (Thynnichthys thynnoides), jelawat (Leptobarbus hoevenii), kelabau (Osteochilus melanopleura), tengalan (Puntioplites bulu), ikan umpan (Puntioplites waandersii), biawan (Helostoma temmincki), delak (Channa striata), patung (Pristolepis fasciata) dan sebagainya. Walaupun di suaka perikanan ini dilarang melakukan penangkapan ikan, namun pada waktu-waktu yang telah disepakati bersama nelayan bisa menangkap anak siluk (Scleropages formosus) yang dilakukan secara beramai-ramai. Setiap nelayan yang mendapatkan anak siluk wajib memberikan sumbangan 10% dari harga penjualan anak siluk tersebut.

Kata kunci: suaka perikanan, jenis ikan, siluk, Danau Empangau


KAJIAN KUALITAS AIR DAN POTENSI SUMBERDAYA PERIKANAN
DI WADUK DARMA, JAWA BARAT

Didik Wahju Hendro Tjahjo dan Sri Endah Purnamaningtyas1
1) Peneliti pada Loka Riset Pemacuan Stok Ikan, Jatiluhur

Waduk Darma merupakan hasil pembendungan Sungai Cisanggarung dengan luas daerah aliran sungai sebesar 23,50 km2 dan curah hujan tahunan sebesar 2545 mm. Waduk ini mempunyai luas muka air banjir 410 ha, volume maksimum 40,52 juta m3 dan kedalaman maksimum 16,40 m. Di Waduk ini telah dikembangkan kegiatan perikanan tangkap maupun budidaya, dimana kualitas air sangat berpengaruh terhadap kesuksesan pengembangan perikanan tersebut. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi  kualitas air dan potensi sumberdaya ikannya dalam pengembangan kegiatan perikanan di perairan tersebut. Metoda penelitian dilakukan dengan metode pengambilan contoh air dengan metode stratified horisontal dan vertikal. 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas perairan Waduk Darma, baik secara fisik, kimia dan biologi, mendukung kehidupan dan perkembangan ikan.  Berdasarkan kualitas airnya, perairan ini tertermasuk perairan eutrofik sampai hipereutrofik. Luas daerah draw-down Waduk Darma berkisar antara 73,6–173,7 ha (18,1–43,1%) dan sebagian dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, dan sisanya dalam bentuk padang rumput. Biomass tumbuhan draw-downnya sebesar 94,25 ton/tahun yang merupakan makanan dari udang galah, sehingga perairan ini mampu mendukung biomass udang sebesar 8,67 ton/tahun atau 723 kg/bulan. Sedangkan berdasarkan biomass fitoplankton, potensi produksi ikannya berkisar 264,4–732,5 kg/ha/tahun atau 105,8–293,0 ton/tahun.

Kata kunci: Waduk Darma, potensi perikanan, kualitas air


KEANEKARAGAMAN IKAN DAN KONDISI HABITATNYA
DI DANAU MATANO SULAWESI SELATAN

Fadly Y. Tantu dan Jusri Nilawati
Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Tadulako Palu
E-mail: ftantu@yahoo.com

Penelitian keanekaragaman ikan dan kondisi habitatnya telah dilakukan  pada bulan November-Desember 2006 dan Januari 2007 di danau Matano. Danau Matano adalah danau oligotrofik yang masuk dalam Kawasan Taman Wisata Alam. Perairan danau dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan seperti: sumber air minum, tempat penangkapan ikan, tempat kegiatan pariwisata,  sebagai jalan transportasi air, sumber air untuk kegiatan pertambangan nikel dan suplay air ke danau Towuti untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).  Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran keanekaragaman ikan dan kondisi habitatnya. Koleksi ikan dilakukan dengan menggunakan alat tangkap pukat pantai (beach seine), gillnet, pancing dan panah. Observasi bawah air dilakukan dengan snorkeling. Ikan-ikan yang teramati difoto, dicatat jenis, aktivitas dan kondisi habitatnya. Parameter kualitas air (fisika-kimia) diukur secara in-situ dan analisis di laboratorium. Selama penelitian ditemukan 15 jenis ikan endemik dan 14 jenis ikan introduksi. Ikan endemik tersebut yaitu Telmatherina abendanoni, T. antoniae, T. bonti, T. obscura, T. opudi, T. prognata, T. sarasinorum, T. wahjui, T. “whitelips”, Dermogenis weberi, Glossogobius intermedius, G. matanensis, Mongilogobius adeia, M. latifrons dan Oryzias matanensis. Selain itu berhasil dikoleksi dua jenis gobi yang belum pernah dilaporkan oleh para peneliti sebelumnya. Ikan introduksi yang ditemukan yaitu Clarias batrachus, Aplocheilus panchax, Channa striata, Oreochromis mossambicus, Cyprinus carpio, Trichopterus pectoralis, Anabas testudineus, Anguilla sp., Oreochromis niloticus, Lyposarcus pardalis, Carassius sp., Osphronemus sp., Anguilla sp dan Colossoma sp. Ikan-ikan ini umumnya menempati daerah litoral.    

Kata kunci: oligotrofik, keanekaragaman, ikan endemik, ikan introduksi


PROFIL PULAU-PULAU KECIL DI KECAMATAN PULAU SEMBILAN
KABUPATEN KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

Namastra Probosunu1, Toni Kuswoyo2, dan Ahsan Nurhadi3
1) Staf Pengajar Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada
email: probosunu@gadjahmada.edu
2) Alumnus Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada
3) Peneliti Pusat Studi Lingkungan Hidup, Universitas Gadjah Mada

Upaya pengelolaan pulau-pulau kecil di Indonesia secara optimal dan berkelanjutan umumnya memiliki sejumlah kendala, salah satunya yaitu terbatasnya data dasar atau informasi tentang kondisi dan potensi pulau-pulau tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi, utamanya potensi sumberdaya perikanan dan kelautan yang terdapat di pulau-pulau kecil di Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Kotabaru Provinsi Kalimantan Selatan secara cepat dan menyeluruh.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk melengkapi data ilmiah yang sudah ada serta memudahkan penyusunan rencana pengelolaan wilayah. Pengambilan data dilakukan dengan melakukan observasi langsung pada bulan Desember 2006 serta dilengkapi dengan telaah berbagai pustaka yang relevan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di wilayah Kecamatan Pulau Sembilan Kabupaten Kotabaru terdapat 16 pulau kecil, 7 pulau di antaranya dihuni penduduk dan 9 pulau tidak berpenghuni. Secara umum ke-16 pulau kecil dan perairan laut di sekitarnya tersebut memiliki potensi sumberdaya perikanan dan kelautan yang cukup besar tetapi tingkat pemanfaatannya masih rendah. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa di antara pulau-pulau tersebut ada yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai daerah perikanan tangkap, perikanan budidaya, wisata bahari, wisata budaya, wisata minat khusus, serta daerah konservasi/perlindungan elang laut dan penyu.

Kata kunci: pulau-pulau kecil, potensi, Kecamatan Pulau Sembilan


DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL IKAN ENDEMIK BONTI BONTI (Paratherina striata) DI DANAU TOWUTI, SULAWESI SELATAN

Syahroma Husni Nasution
Pusat Penelitian Limnologi LIPI
Jl Raya Jakarta-Bogor Km. 46, Cibinong 16911
Telp. 0218757071, Fax. 0218757076, E-mail:syahromanasution@yahoo.com

Ikan Bonti-bonti (Paratherina striata) termasuk ke dalam famili Telmatherinidae, bersifat endemik di Danau Towuti dan Danau Mahalona. Ikan ini tergolong rawan punah (vulnerable species). Dikhawatirkan terjadi penurunan ikan tersebut di alam, penurunan tersebut  selain karena tingkat eksploitasi yang meningkat juga karena kualitas perubahan habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi spasial dan temporal ikan Bonti bonti sebagai dasar untuk konservasi. Contoh ikan diperoleh menggunakan jaring insang eksperimen dengan ukuran mata jaring ⅝, ¾, 1dan 1¼ inci dari bulan Mei 2006 hingga April 2007 pada lima stasiun. Dihitung jumlah dan ukuran ikan per penarikan alat tangkap selama 15 jam. Parameter kualitas air yang diamati meliputi suhu, kekeruhan, pH, oksigen terlarut diukur menggunakan  WQC-Horiba, sedangkan alkalinitas menggunakan metoda titrasi. Distribusi kelimpahan ikan dianalisis secara non parametrik  menggunakan uji Mann-Whitney. Parameter kualitas air yang berpengaruh terhadap kelimpahan ikan, dianalisis menggunakan analisis multivariat.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan Bonti-bonti secara spasial berdistribusi luas di D. Towuti, mulai dari pinggiran danau (stasiun I, II, IV, dan V) hingga ke tengah danau (stasiun III). Pada stasiun II dijumpai ukuran ikan yang lebih beragam, stasiun ini merupakan habitat utama ikan tersebut. Parameter kualitas air bukan  merupakan faktor yang mempengaruhi perbedaan distribusi ikan secara spasial tetapi dipengaruhi oleh tingkah laku pemilihan habitat. Kelimpahan ikan secara temporal berfluktuasi, dengan puncak tertinggi terjadi pada bulan Nopember-Desember dan dipengaruhi oleh oksigen terlarut dan tinggi muka air.  

Kata kunci: distribusi spasial dan temporal, Paratherina striata, kelimpahan dan Danau Towuti


KETERKAITAN PARAMETER LINGKUNGAN DAN ASPEK BIOLOGI REPRODUKSI KERANG PANTAI BERLUMPUR TROPIS
(Anodontia edentula, Linnaeus, 1758)

Yuliana Natan
Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kelautan, IPB

Studi keterkaitan antara parameter lingkungan dan aspek biologi reproduksi dari kerang pantai berlumpur tropis telah dilakukan di ekosistem mangrove, Teluk Ambon Bagian Dalam. Parameter lingkungan meliputi curah hujan, suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, sulfit, nitrat dan fosfat. Aspek biologi reproduksi terdiri dari nisbah kelamin, indeks kematangan gonad (IKG), tingkat kematangan gonad (TKG) dari betina serta  fekunditas. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa  persentase jantan adalah sama dengan betina. Puncak IKG dan tingkat kematangan gonad dari betina terjadi pada bulan April dan Mei (permulaan musim hujan) dimana curah hujan tinggi dan juga pada bulan Nopember dan Desember (musim kering) dimana curah hujan sangat sedikit. Kelimpahan fekunditas ditemukan pada bulan September dan Oktober dan diasumsikan memijah pada bulan Nopember dan Desember. Disimpulkan bahwa pemijahan terjadi sepanjang tahun.


DINAMIKA POPULASI DAN  BIOLOGI IKAN LEMURU (Sardinella lemuru) YANG TERTANGKAP DENGAN PURSE SEINE DI PELABUHAN
PERIKANAN NUSANTARA PRIGI TRENGGALEK

Tri Djoko Lelono
Staff pengajar Fak. Perikanan Jur. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Kelautan Uniiversitas Brawijaya, Malang

Ikan lemuru (Sardinella lemuru) merupakan salah satu komoditas penting ikan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi Trenggalek. Dimana rata-rata produksinya mencapai 18,13% dari keseluruhan ikan yang didaratkan di PPN Prigi Trenggalek. Dinamika populasi merupakan bagian dari biologi perikanan yang mempelajari perubahan yang terjadi dalam populasi, mortalitas, rekruitmen, dan pertumbuhan. Dinamika populasi dalam penelitian ini mencakup parameter pertumbuhan, laju mortalitas, tingkat ekploitasi dan pola rekruitmen. Sedangkan biologi yang diteliti, panjang ikan yang pertama kali tertangkap (Lc), panjang ikan pertama kali matang gonad (Lm), hubungan panjang berat. Persamaan pertumbuhan panjang ikan lemuru berdasarkan Von Bertalanffy Growth Formula (VBGF) adalah Lt = 20,32 (1 – e-0,810 (t + 0,220128)). Presentase rekruitmen tertinggi terjadi pada bulan Agustus. Hal ini berarti rekruitmen terjadi 3 bulan setelah masa pemijahan pada bulan Mei. Nilai Mortalitas total (Z ) yang dihitung dengan FiSAT adalah 2,50, Nilai Mortalital alami (M) yang dihitung dengan persamaan Pauly adalah 1,72 dan Mortalitas Penangkapan (F) 0,78. Laju ekploitasi menunjukkan nilai 0,31. Nilai tersebut menunjukkan bahwa perikanan lemuru dalam keadaan under fishing.  Hubungan panjang berat bersifat allometric positif. Panjang ikan pertama kali matang gonad (Lm) = 17,28 cm dan panjang ikan yang pertama kali tertangkap (Lc) = 15,69 cm. Tingkat ekploitasi perikanan lemuuru di prigi dapat dikatakan pada kondisi moderately exploited.
 
Kata kunci: dinamika populasi, biologi ikan lemuru (Sardinella lemuru)


EKO-BIOLOGI DAN ASPEK PENANGKAPAN
IKAN SIDAT (Anguilla spp.)DI SUNGAI KETAHUN,
PROPINSI BENGKULU

Samuel
Peneliti pada Balai Riset Perikanan Perairan Umum (BRPPU) Palembang

Ikan sidat (Anguilla spp.) termasuk ikan “katadromous”, yaitu kelompok ikan yang hidup di air tawar (sungai, danau dan rawa) dan bila mau memijah ikan tersebut melakukan migrasi menuju ke lautan dalam. Ikan sidat merupakan ikan yang terkenal di pasaran intenasional dan tergolong ikan ekonomis penting. Propinsi Bengkulu merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang semua sungainya bermuara ke lautan Indonesia yang terkenal dalam. Sungai-sungai di propinsi ini dikenal banyak terdapat sumberdaya ikan sidat. Kelestarian ikan sidat ini sangat tergantung pada kondisi ekologi perairan dimana dia tinggal, sifat biologis dan juga eksistensi terhadap penangkapannya. Atas dasar tersebut, maka dipelajari sumberdaya ikan dimaksud dengan mengambil salah satu contoh sungai yakni Sungai Ketahun yang merupakan sungai terpanjang di Propinsi Bengkulu. Ketiga aspek diatas (ekologi perairan, aspek biologi dan penangkapan) dibahas dalam makalah ini.


HUBUNGAN PANJANG BERAT DAN FAKTOR KONDISI
LAYUR (Trichiurus sp.) HASIL TANGKAPAN NELAYAN
DI PANTAI SELATAN KABUPATEN PURWOREJO

Eko Setyobudi dan Soeparno
Jurusan Perikanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
E-mail: setyobudi_dja@ugm.ac.id

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran, hubungan panjang-berat dan faktor kondisi layur (Trichiurus sp.) hasil tangkapan nelayan di Pantai Selatan Kabupaten Purworejo. Sejumlah 276 sampel ikan diperoleh dari pedagang pengumpul di TPI Jatimalang, TPI Pagak dan TPI Keburuhan selama bulan September-Desember 2005. Sampel ikan diukur panjang total dengan penggaris (ketelitian 0,1 cm) dan berat ikan dengan electric balancing (ketelitian 0,1 gr) serta ditentukan jenis kelamin secara visual dan pembedahan. Analisis data meliputi distribusi ukuran, hubungan panjang berat dan faktor kondisi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Trichiurus sp. yang tertangkap mempunyai kondisi relatif yang baik, dengan ukuran panjang berkisar antara 44,7-86,6 cm (rerata 62,2 cm) dan berat berkisar antara 104,8-409,3 gr (rerata 193,0 gr). Pertumbuhan Trichiurus sp. bersifat allometrik, hubungan panjang-berat ikan betina mengikuti persamaan W=0,0154L2,2795, sedangkan untuk jantan mengikuti rumus W=0,0079L2,4398.

Kata kunci: hubungan panjang-berat, faktor kondisi, Trichiurus sp.


KOMPOSISI UDANG HASIL TANGKAPAN
DI SUNGAI SERANG KABUPATEN KULON PROGO

Darmawan Pratama, Soeparno dan Eko Setyobudi
Jurusan Perikanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi udang hasil tangkapan di Sungai Serang. Pengamatan juga dilakukan terhadap panjang karapas, berat total dan jenis kelamin udang hasil tangkapan. Penelitian dilakukan selama bulan Desember 2005 sampai bulan Maret 2006. Sampel yang diamati adalah udang hasil tangkapan yang berasal dari Sungai Serang yang dikumpulkan oleh pedagang pengepul yang berada di Desa Karangwuni.
Hasil pengamatan terhadap 976 ekor contoh udang didominasi dari keluarga Penaeidae dan Palaemonidae. Komposisi udang hasil tangkapan meliputi 5 jenis yaitu Penaeus monodon, Penaeus indicus, Metapenaeus ensis, Macrobrachium rosenbergii, dan Palaemon concinnus, sedangkan berdasarkan jumlah individu masing-masing jenis proporsinya adalah 3%, 28%, 36%, 4%,dan 19%. Kisaran panjang karapas untuk masing-masing jenis adalah 17,58–54,08 mm untuk P. monodon, 10,54-18,66 mm untuk P. indicus, 9,02-29,24 mm untuk M. ensis, 26,60-75,54 mm untuk M. rosenbergii, dan 5,48-16,08 mm untuk P. concinnus. Kisaran berat total untuk masing-masing jenis adalah 2,959-80,904 g untuk P. monodon, 0,887-4,918 g untuk P. indicus, 0,6-12,335 g untuk M. ensis, 12,8-226,3 g untuk M. rosenbergii, dan 0,024-1,540 g untuk P. concinnus. Nisbah kelamin semua udang dari keluarga Penaeidae yang tertangkap (P. monodon, P. indicus,  dan M. ensis) ≠ 1:1, sedangkan nisbah kelamin udang keluarga Palaemonidae (M. rosenbergii dan P. concinnus) = 1:1.

Kata kunci: komposisi hasil tangkapan, Penaeidae, Palaemonidae, Sungai Serang