PROSIDING TAHUN 2007

Bidang Mikrobiologi dan Penyakit Ikan

PEMELIHARAAN IKAN KERAPU SUNU (Plectropomus leopardus) DALAM KERAMBA JARING APUNG DENGAN UKURAN TEBAR YANG BERBEDA

Tatam Sutarmat dan N.A. Giri
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut
Ds. Gondol, Kec. Gerokgak, Kab. Buleleng, Bali
Tel. (0362) 92278; Fax. (0362) 92272
E-mail: tatam_rimt@yahoo.co.id

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ukuran ikan saat tebar di keramba jaring apung laut terhadap pertumbuhan dan sintasan ikan kerapu sunu, Plectropomus leopardus. Penelitian ini menggunakan 3 ukuran ikan yang berbeda saat penebaran adalah: perlakuan A berat tubuh 7,0±1,3 g dan panjang 8,2±0,6 cm,  perlakuan B berat tubuh 19,5±4,8 g dan panjang 10,97±1,0 cm, perlakuan C berat tubuh 29,8 ± 5,5 g dan panjang 13,1  ± 1,0 cm dengan kepadatan masing-masing 80 ekor/m3. Jaring yang digunakan berukuran 2x2x2 meter. Ikan diberi pakan berupa pelet dengan frekuensi pemberian pakan tiga kali sehari sampai kenyang. Setelah 30 hari pemeliharaan, laju pertumbuhan masing-masing adalah 1,90; 0,94; 0,76%/hari dan sintasannya adalah 43,3; 74,6 dan 89,1%. Laju pertumbuhan, pada ketiga perlakuan berbeda nyata. Semakin besar ukuran ikan nampak bahwa laju pertumbuhan makin kecil dan sebaliknya semakin kecil ukuran ikan semakin besar laju pertumbuhannya Pada 0-15 hari pemeliharaan ikan ukuran kecil kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan ukuran besar. Dan 15-30 hari pemeliharaan terlihat adanya beberapa ikan mengalami luka dipermukaan kulit dan kematian yang disebabkan oleh bakteri gram negatif.

Kata kunci: ukuran benih, kerapu sunu, pertumbuhan, sintasan, KJA


PENGARUH SUHU YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN BENIH BALASHARK (Balantiocheilus melanopterus, Bleeker)

Ahmad Musa dan Agus Priyadi
Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar
Jln. Perikanan No. 13 Pancoran Mas, Depok.
Tlp. 021- 7520481 Fax. 021-7520481

Ikan Balashark (Balantiovheilus melanopterus, Bleeker) adalah ikan hias endemic yang hampir punah. Saat ini ikan balashark sudah dapat dipijahkan, tetapi suhu yang tepat untuk pertumbuhan benihnya belum diketahui secara pasti. Tujuan penelitian ini mengetahui suhu media yang tepat untuk pertumbuhan benih balashark. Benih balashark dengan bobot dan awal 0,053±0,017 g  dan 2,20±0,19 cm dipelihara dalam akuarium dengan volume media 20 L, padat tebar 6 ekor/liter. Perlakuan yaitu perbedaan suhu sebagai berikut; suhu kamar (25,2-28,7oC), 28±1oC, 30±1oC dan 32±1oC. Benih dipelihara selama 40 hari. Rancangan penelitian ialah Rancangan Acak Lengkap dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan bobot dan panjang meningkat pada suhu yang konstan dan cenderung tinggi (30-32oC) dengan bobot akhir berkisar 0,493–0,574 g dan panjang akhir 3,39–4,23 cm.

Kata kunci: suhu, pertumbuhan, benih balashark


DOMESTIKASI IKAN BALASHARK DENGAN SISTEM PEMELIHARAAN YANG BERBEDA

Pawartining Yuliati, Sudarto, dan Nurhidayat

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan sistem pemeliharaan yang sesuai untuk pertumbuhan ikan balashark sehingga mampu meningkatkan produksi benih ikan balashark secara kualitatif dan kuantitatif yang pada akhirnya akan mendorong budidaya pembesarannya. Wadah pemeliharaan sebagai perlakuan sebanyak 3 macam, yaitu (a) di kolam tanah menggunakan waring 2x2 m (sprayer dan tanaman air), (b) bak 2x1 m (sprayer dan tanaman air), dan (c) akuarium 1,20x0,75 m (indoor terkontrol: resirkulasi + heater + tanaman air) dengan ulangan 3 kali. Hewan uji yaitu ikan balashark yang diambil dari alam dengan berat awal + 10 g diberi pakan buatan (+ 40% protein) sebanyak 5% dari bobot badan/hari dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali. Ikan dari alam diadaptasikan terhadap lingkungan dan pakan selama 1,5 bulan. Penelitian dilakukan selama 4 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan balashark yang terbaik dilakukan di kolam tanah dengan menggunakan jaring (berat akhir individu 29,95 g, KP = 5,65; sintasan 92,50%); diikuti bak beton (berat akhir individu 29.49 g, KP = 5,60, sintasan 35,00%) dan terendah di akuarium (berat akhir individu 24,13 g, KP = 8.10, sintasan 88,89 %).


DINAMIKA PLANKTON DI TAMBAK TRADISIONAL PLUS UDANG VANAME (Littopenaeus vannamei) PADA TINGKAT KEPADATAN BERBEDA

Sahabuddin dan Erfan A. Hendrajat 

Penelitian bertujuan untuk mengkaji kondisi plankton (kelimpahan, diversitas, dominansi, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya) pada tambak budidaya tradisional plus udang Vaname (Littopenaeus vannamei) yang berbeda tingkat kepadatannya. Hasil penelitian diharapkan menjadi acuan pertimbangan biologis terhadap kebutuhan pakan alami udang tersebut, terutama pada awal masa pertumbuhannya. Pengamatan plankton dilakukan pada 3 (tiga) petak tambak dengan tingkat kepadatan benur yang berbeda yakni; A) 4 ekor/m2, B) 6 ekor/m2, dan C) 8 ekor/m2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan plankton tertinggi pada petak A; (rata-rata 400 ind/L), kemudian B (rata-rata 222 ind/L), dan C (171 ind/L). Ditemukan 16 species plankton yang terdiri atas kelas Bacillariophyceae 7 spesies, Krustase 5 spesies, Cyanophyceae 2 spesies, Monogononta dan Dinoflagellata masing-masing 1 spesies, prosentase kelimpahan tertinggi (58,4-73,9% kelas krustase). Nilai indeks diversitas (H’) yakni; A(0,9603); B(1,0139); dan C(1,0199) termasuk kategori rendah-sedang, selanjutnya indeks keseragaman (E) yakni; A(0,7668); B(0,7930); dan C(0,8289) menunjukkan sebaran spesies cukup merata, dan indeks dominasi yakni; A(0,4471); B(0,4396); C(0,4216), berarti tidak ada dominansi spesies. Faktor utama yang mempengaruhi kelimpahan individu berdasarkan analisis regresi linier berganda adalah nitrat, fosfat, salinitas, suhu, dengan faktor pendukung yakni parameter fisika-kimia air yang masih dalam kondisi layak bagi pertumbuhannya.


PENGARUH POSISI SHELTER TERHADAP PERTUMBUHAN
DAN SINTASAN BENIH UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) YANG DITOKOLKAN DENGAN MENGGUNAKAN SISTIM HAPA DI TAMBAK

Erfan Andi Hendrajat dan Abdul Malik Tangko
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi shelter terhadap pertumbuhan dan sintasan benih udang vannamei yang ditokolkan dengan menggunakan sistim hapa di tambak. Bobot awal rata-rata hewan uji 0,013 g ditebar dalam hapa berukuran 1x1x1 m dengan kepadatan 500 ekor/hapa. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap, tiga perlakuan yang dicobakan adalah perbedaan posisi shelter yaitu: A (digantung di permukaan air), B (di permukaan air dan di dasar) dan C (tanpa shelter) masing-masing dengan dua ulangan. Hasil penelitian setelah 30 hari pemeliharaan menunjukkan bahwa pertumbuhan dan sintasan udang vannamei pada semua perlakuan tidak berbeda nyata (P > 0,05). Pertumbuhan mutlak dan sintasan udang vannamei yang diperoleh pada perlakuan A adalah: 0,71 g dan 69,30%, perlakuan B: 0,76 g dan 64,10%, serta perlakuan C: 0,73 g dan 65,40%.

Kata kunci: udang vannamei, pentokolan, shelter, pertumbuhan, sintasan


KEPADATAN BANDENG OPTIMAL SEBAGAI BIOFILTER TERHADAP PERBAIKAN KUALITAS AIR LIMBAH TAMBAK UDANG INTENSIF

Sahabuddin, Arifuddin Tompo dan Abdul Malik Tangko
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau, Maros

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan data dan informasi tentang kepadatan bandeng yang optimal untuk memanfaatkan limbah budidaya udang intensif. Penelitian dilakukan di Instalasi Riset Perikanan Budidaya Air Payau Marana Maros, pada 16 petak tambak. Terdiri dari 1 petak tandon ukuran 4500 m2, 3 petak tambak budidaya udang intensif berukuran 1.000 m2, dan 12 petak tambak biofilter bandeng berukuran 500 m2. Penelitian menggunakan Rancangan acak kelompok (RAK) dengan padat penebaran udang windu sebagai kelompok, yaitu 15, 20, 25 individu/m2 yang merupakan sumber air bagi perlakuan petak bandeng. Padat penebaran bandeng yang dicobakan adalah 2.000, 4.000 dan 6.000 ind./ha dan 1 perlakuan tanpa bandeng (kontrol). Masing-masing perlakuan biofilter bandeng diulang 3 kali.
Sumber air petak bandeng berasal dari petak udang, ganti air di petak udang 20%, 2 kali/minggu, pergantian air di petak bandeng 10%, 2 kali/minggu. Parameter yang diamati meliputi kelangsungan hidup dan pertumbuhan hewan uji, kualitas air, jumlah dan jenis bakteri yang dilakukan setiap 2 minggu. Sedangkan berat bandeng diukur pada awal dan akhir penelitian.
Berdasarkan hasil pengamatan dapat dikemukakakn bahwa penggunaan bandeng dengan kepadatan 4000 ind./ha atau 0,4/m2 sebagai biofilter air buangan tambak udang intensif perlu dikembangkan karena dapat memperbaiki dan menjaga kualitas air tetap layak untuk dibuang tanpa mencemari lingkungan. Selain itu penurunan juga terjadi pada bakteri patogen seperti Vibrio sp dan Aeromonas sp dari 5,1 x 103 cfu/ml di petak udang intensif dan menrun setelah di petak bandeng sebesar 1,4 x 101 cfu/ml.


UJI COBA BUDIDAYA UDANG WINDU (Penaeus  monodon) PADA LAHAN SAWAH DI DAERAH KARAWANG JAWA BARAT

Suwidah, WeDjatmiko, dan Achmad Sudradjat
Pusat Riset Perikanan Budidaya, Jl. Ragunan 20, Pasar Minggu,
Jakarta Pusat, 12540

Uji coba  budidaya udang windu telah dilakukan  pada lahan sawah dan kolam di daerah Karawang Jawa Barat dengan tujuan untuk mengetahui pertumbuhan, kesehatan udang, serta kondisi kesuburan habitatnya (pakan alami yang tersedia). Penelitian dilakukan selama 3 bulan pada petakan sawah bersama padi dan di kolam tanpa padi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan udang windu di sawah maupun di kolam tidak berbeda nyata serta pertumbuhannya lambat. Kondisi habitatnya menunjukkan bahwa keragaman populasi   zooplankton lebih sedikit dari phytoplankton, nilai kualitas air yaitu ph, oksigen dan suhu masih dalam batas toleransi untuk budidaya udang tetapi salinitas (0 ppt) di permukaan dan 5 ppt di dasar kolam. kandungan ion Kalium, Magnesium Sulfat dan Bicarbonat masih normal tetapi kandungan ion Natrium, Calsium dan Chlorida sangat rendah. Kondisi udang sehat (tidak timbul penyakit), organisme pengganggu (hama) berupa ikan seperti gabus,belut dan keting.   


OPTIMASI MEDIA UNTUK PRODUKSI BIOMASA MIKROALGA
Chaetoceros sp. DAN ANALISIS KANDUNGAN ASAM LEMAK TAK JENUHNYA

Eko Agus Suyono1 dan Winarto Haryadi2
1) Fakultas Biologi UGM
2) Jurusan Kimia FMIPA UGM

Chaetoceros sp. adalah mikroalgae yang memiliki potensi tinggi sebagai penghasil senyawa-senyawa kimia bernilai ekonomi tinggi seperti asam lemak omega, yang merupakan asam lemak tak jenuh yang sangat penting dalam diet, pertumbuhan otak dan susunan syaraf serta pencegahan penyakit pada organisme. Kemampuan mikroalgae ini dalam memproduksi asam lemak tersebut dipengaruhi oleh media tumbuh dan fase pertumbuhannya. Untuk itu perlu dilakukan studi tentang penentuan media tumbuh dan fase pertumbuhan yang terbaik untuk memproduksi asam lemak tak jenuh. Pada penelitian ini dilakukan optimasi media f/2 dan Conway untuk produksi biomassa Chaetoceros sp. dan penentuan fase pertumbuhan dari mikroalgae ini. Analisis kuantitatif asam lemak pada setiap fase pertumbuhan diukur dengan kromatografi gas-spektrometer massa. Penelitian ini menunjukkan bahwa medium f/2 merupakan medium yang terbaik bagi Chaetoceros sp. dibandingkan dengan medium Conway. Fase pertumbuhan yang paling optimal dalam memproduksi asam lemak tak jenuh adalah pada fase eksponensial, yaitu sebesar 40,86% sementara konsentrasi asam lemak omega 6 dan omega 9 masing-masing sebesar 1,01% dan 13,02%.

Kata kunci: Chaetoceros sp., media tumbuh, fase eksponensial, asam lemak tak jenuh


PENGARUH KOMBINASI TETUA NILA MERAH (Oreochromis sp.) STRAIN CHITRALADA, FILIPINA DAN SINGAPURA TERHADAP LAJU SINTASAN, PERTUMBUHAN DAN HETEROSIS BENIH

Sari  Munaningsih, Rustadi, dan Ign. Hardaningsih

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi tetua nila merah (Oreochromis sp.) strain Chitralada, Filipina dan Singapura terhadap laju sintasan, pertumbuhan dan heterosis benih serta membandingkan laju sintasan dan pertumbuhan benih nila merah interstrain dan intrastrain. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap yang terdiri dari 8 perlakuan dengan 3 ulangan. Percobaan ini menggunakan 24 hapa ukuran 1x1x2 m3 pada kolam seluas 800 m2. Masing-masing hapa ditebari 200 ekor benih larva. Penelitian ini dilakukan di Balai Benih Sentral Cangkringan, Sleman, Yogyakarta mulai bulan Oktober sampai Desember 2004.
Berat awal benih 0,03-0,04 gram dan panjang awal 1,2-1,6 cm, setelah dipelihara selama 56 hari didapatkan benih ukuran berat 3,72-6,76 gram dan panjang 6,08-7,55 cm. Laju sintasan berkisar 63,50-87,00% menunjukkan tidak berbeda nyata antar kombinasi tetua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi nila merah strain Chitralada jantan dan Singapura betina memperoleh laju sintasan dan pertumbuhan terbaik. Laju sintasan dan pertumbuhan menunjukkan tidak berbeda nyata antara interstrain dan intrastrain. Pertumbuhan panjang mutlak, panjang spesifik dan berat mutlak mempunyai nilai heterosis positif.

Kata kunci: sintasan, pertumbuhan, heterosis, Oreochromis sp., kombinasi tetua, pendederan


PREDIKSI PRODUKSI BENIH IKAN DENGAN LOGIKA FUZZY

Sri Mulyana
Program Studi Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Gadjah Mada

Pembenihan merupakan salah satu fase penting dalam siklus budidaya ikan. Kebutuhan informasi mengenai jumlah benih ikan atau larva yang dihasilkan dalam satu periode produksi diperlukan oleh para praktisi pembenihan. Kemudahan dan ketepatan untuk memperoleh informasi tersebut diperlukan untuk perencanaan sumber daya seperti: ukuran kolam dan pakan.
Pada penelitian ini dilakukan penggunaan logika fuzzy untuk menentukan prediksi jumlah benih (larva) yang dihasilkan berdasarkan faktor ukuran (panjang dan bobot), fekunditas (tipe, produktifitas, makanan) dan daya tetas (kadar oksigen, pH, suhu). Fuzzifikasi dilakukan untuk setiap input nilai crisp fuzzy, derajat keanggotaan dioperasikan dengan inferensi product, sedangkan untuk memperoleh crisp output digunakan metode center average defuzzifier.
Penggunaan logika fuzzy untuk menentukan prediksi jumlah benih (larva), diimplementasikan pada jenis ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) yang didasarkan pada SNI : 01-6138-1999.

Kata kunci: logika fuzzy, fuzzifikasi, defuzzifikasi produksi benih ikan


STATUS BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI TAMBAK TANAH SULFAT MASAM,
DESA LAMASI PANTAI, KABUPATEN LUWU, SULAWESI BARAT

Erna Ratnawati dan Brata Pantjara
Peneliti Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau
Jl. Makmur Dg. Sitakka No. 129 Maros
E-mail: Litkanta@indosat.net.id

Permasalahan pada tanah sulfat masam (TSM) adalah tingginya senyawa pirit (FeS2). Pirit di dalam tambak berasal dari bahan organik yang banyak mengandung Fe dan sulfat, dan pirit muncul ketika tanahnya teroksidasi. Pengeringan tambak di tanah sulfat masam menghasilkan kemasaman tanah yang sangat tinggi. Kondisi tanah ini mempunyai produktivitas rendah, namun tambak di tanah ini masih berpeluang dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut, Gracillaria sp. Rumput laut merupakan satu komoditas andalan dalam sub sektor perikanan, karena mempunyai prospek pasar yang cukup cerah. Rumput laut dapat dimanfaatkan sebagai bahan bantu untuk industri farmasi, tekstil, kosmetik, industri makanan dan lain-lain. Di tambak tanah sulfat masam biasanya petani selain membudidayakan rumput laut, juga budidaya bandeng sebagai usaha tambahan. Tujuan survei ini untuk mengetahui pendapatan petani tambak dan tataniaga rumput laut yang ada. Budidaya rumput laut dan bandeng per hektar diperlukan biaya investasi sebesar Rp 18.320.852,- yang terdiri dari biaya sarana Rp 9.642.294,- dan biaya untuk modal kerja Rp. 8.678.558. Keuntungan yang diperoleh sebesar Rp 21.251.753,- per tahun, dengan R/C ratio 2,8 (>1), dengan pengembalian biaya selama 9,6 bulan dan rentabilitas ekonomi 132%.

Kata kunci: rumput laut, tambak, tanah sulfat masam


PENGARUH PADAT TEBAR TERHADAP PRODUKSI LELE DUMBO
(Clarias gariepinus) PADA PEMELIHARAAN INTENSIF

Iwan Malhani Al Wazzan, Sukardi, dan Bambang Triyatmo
Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh padat tebar terhadap produksi lele dumbo. Percobaanmenggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakukan dan 3 ulangan yaitu padat tebar 500, 1500, 2500 ekor/m3. penelitian dilakukan di Laboratorium Stasiun Penelitian Perikanan, fakultas pertanian, Universitas Gadjah Mada selama 56 hari, menggunakan bak fiberglass berukuran 60x60x70 cm3 dengan kedalaman air 60 cm (200 liter). Benih lele dumbo yang digunakan berukuran panjang 9-11 cm dan berat 4-5 gram. Pemberian pakan buatan dilakukan tiga kali sehari ad satiasi. Parameter yang diamati adalah produksi, pertumbuhan, pertumbuhan spesifik, kelulushidupan, konversi pakan dan variasi ukuran ikan pada saat panen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar berpengaruhg nyata terhadap produksi, pertumbuhan berat dan panjang mutlak. Produksi tertinggi diperoleh dari padat tebar 2500 ekor/m3. Pertumbuhan berat dan panjang mutlak tertinggi diperoleh pada padat tebar 500 ekor/m3.

Kata kunci: intensif, lele dumbo (Clarias gariepinus), padat tebar, produksi


KANDUNGAN LOGAM BERAT DALAM CONTOH AIR, SEDIMEN DAN IKAN DI PERAIRAN GONDOL, BALI

Reagan Septory, Adi Hanafi, Johan Risandi, dan Wawan Andriyanto
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol

Studi ini dilakukan di perairan Gondol sebagai sumber air utama bagi kegiatan perbenihan. Tujuan penelitian ini untuk  mengetahui kandungan logam berat yang ada pada contoh air, sediment dan ikan. Sebanyak 9 contoh air laut,9 contoh sediment dan 4 contoh ikan untuk analisa logam berat jenis Cd, Cu, Pb, Mn, Zn, Ni, dan Hg menggunakan metode AAS. Hasil analisa menunjukan bahwa konsentrasi dalam air rendah dan hanya 4 sampel terdeteksi untuk logam berat Mn dan Zn, dengan konsentrasi masing-masing antara 0.053–0.147 ppm dan 0.004–0.075 ppm. Kandungan logam berat dalam sediment lebih tinggi dan terdapat pada setiap sample, kecuali Sn dan Hg. Kandungan logam berat pada sediment untuk Cd antara 1.565-5.25 ppm, Cu 6.974-43.607 ppm, Pb 4.02-32.218 ppm, Mn 0.051-0.063 ppm, Zn 2.102-45.48 ppm dan Ni 10.251-41.084 ppm. Pada daging ikan, kandungan logam berat untuk Cd antara 0.081-0.26 ppm, Cu 1.465-3.914 ppm, Pb 0.42-3.061 ppm, Mn 0.356-0.786 ppm, Zn 1.36-2.351 ppm dan Ni 0.271-0.887 ppm.

Kata kunci: logam berat, AAS, air, sedimen, ikan


PERTUMBUHAN LOBSTER AIR TAWAR (LAT) DAN KEMUNGKINAN PEMBESARANNYA SECARA KOMERSIAL DI KOLAM

Rustadi1 dan Yusman2
1) Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian UGM. Jln Flora Bulaksumur, Yogyakarta 55281. Telp. 0274-551218/HP 081328711322. E-mail: Rustadi2005@yahoo.com
2) Pengusaha pembenihan dan pembesaran LAT, Solo. Telp. 0271-7087700. E-mail: E-mail: Whendy.yusman@gmail.com

Ujicoba pembesaran lobster air tawar dilakukan untuk mengevaluasi pertumbuhan, tenik budidaya dan mengetahui serta mengatasi permasalahan yang dihadapi. Tiga kolam dinding permanen dan dasar tanah berukuran sekitar 150 m2, kedalaman air 60-80 cm digunakan untuk ujicoba, yang diadakan di  Desa Ponggok, Delanggu. Persiapan kolam, pengaturan air masuk, pemupukan ulang (pupuk kandang), pemberian pakan tambahan dan monitoring kualitas air dan kesehatan LAT dilakukan. Benih LAT ukuran panjang 2-3 cm ditebar dengan kepadatan 13 ekor/m2. Pakan komersial diberikan dengan ransum 3-5% berat biomas LAT tiap hari ditambah cacahan ubi kayu. Pertumbuhan LAT cukup cepat dan kualitas air baik, namun kesehatan terganggu dengan timbulnya jamur dan penyakit. Ketersediaan bibit secara kuantitas, tepat waktu, ukuran dan kesehatan benih menjadi kendala dalam pengembangan budidaya pemebesaran komersial, disamping belum adanya standar teknik budidaya, serta pengetahuan dan ketrampilan pembudidaya umumnya terbatas.

Kata kunci: pertumbuhan, lobster air tawar, pembesaran, permasalahan budidaya


PENGARUH SUHU MEDIA TERHADAP KERAGAAN
JUVENIL IKAN KERAPU PASIR (Epinephelus corallicola)
di wadah terkontrol

Irwan Setyadi, Ketut Suwirya, Bejo Slamet, Apri I Supii, dan D. Syahidah
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, Bali
E-mail: setyadi57@yahoo.com

Penelitian dilakukan di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, Bali. bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu media terhadap pertumbuhan juvenil kerapu pasir. Hewan uji yang digunakan adalah juvenil ikan kerapu pasir  dipelihara dalam 9 bak serat gelas kerucut volume 300 L masing-masing diisi air laut 150 liter dengan padat tebar 16 ekor/bak. Perlakuan suhu yang dilakukan yaitu, perlakuan A = 27 ± 0.5 oC; B = 31 ± 0.5oC; dan C = 26 – 29°C dengan menggunakan alat pemanas; ulangan 3 kali. Rancangan yang digunakan rancangan acak lengkap, dipelihara selama 55 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang total pada perlakuan A = 2,28 cm,  B = 2.37 cm dan C = 1,76 cm, sedangkan pertumbuhan berat tubuh perlakuan A = 6,27 g, B = 7,24 g dan C = 5,85 g serta hasil analisa statistik memperlihatkan bahwa semua perlakuan tidak berbeda nyata.(P>0.05)

Kata kunci: temperatur, kerapu pasir, Epinephelus corallicola