PROSIDING TAHUN 2006

Bidang Teknologi Budidaya


BUDIDAYA ANEMONE LAUT (Stichodactyla gigantean) UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI MASSAL DENGAN METODA FRAGMENTASI

Istiyanto Samidjan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro Semarang

Abstrak
Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan dari bulan Juli sampai September 2005 di laboratorium Pengembangan Wilayah Pantai Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk peningkatan produksi massal karang lunak anemone laut (Stichodactyla gigantean) dengan metoda fragmentasi dan mengukur pertumbuhan (panjang) dan kelulushidupan anemone laut yang di fragmentasi di laboratorium. Metoda penelitian dengan menggunakan Rancangan Dasar Acak Lengkap dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Perlakuan tersebut adalah T1 (dipotong 1 bagian), T2 (dipotong 2 bagian), T3 (dipotong 3 bagian), T4 (dipotong 4 bagian). Perlakuan fragmentasi anemone laut (T1,T2,T3,T4) dibesarkan dalam bak dengan system resirkulasi dengan menggunakan filtrasi biologi dan diberi pakan Tubifex sp. 5% per biomass per hari. Pengumpulan data laju pertumbuhan, produksi masal, kelulushidupan, dan parameter kualitas air meliputi: suhu, salinitas, oksigen terlarut, nitrit, ammonia, posfat, BOD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan (panjang), kelulushidupan dan produksi massal anemone laut (S. gigantea) (P <0,05). Perlakuan terbaik untuk peningkatan produksi massal anemone laut adalah perlakuan anemone laut dipotong dua bagian (pertumbuhan panjang 6,62 ± 0,112 cm dan kelulus hidupan 100 ± 0%). Pengolahan kualitas air dengan biofiltrasi biologi sesuai untuk pemeliharaan anemone laut yang difragmentasi.

Kata kunci: metode fragmentasi, anemone laut (Stichodactyla gigantean), Tubifex sp., biofiltrasi biologi.

 

KERAGAAN BENIH UDANG GALAH GIMARCO PADA WADAH BERBEDA

Ikhsan Khasani

Abstrak
Salah satu tahapan dalam budidaya udang galah adalah pendederan (nursery) yang bertujuan untuk menyediakan benih dengan ukuran 3-5 cm. Kegiatan pembesaran udang galah dengan benih hasil pendederan akan memberikan derajat sintasan yang lebih baik dibandingkan penggunaan benih ukuran pasca larva (PL). Kegiatan pendederan juga sangat diperlukan dalam sistem budidaya udang galah monosek jantan yang membutuhkan benih ukuran minimal 6 cm. Oleh karena itu kegiatan pendederan pasca larva untuk menyediakan benih merupakan peluang usaha yang cukup menjajikan. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh wadah pemeliharaan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih udang galah pada fase pendederan. Benih yang digunakan adalah udang galah stadia pasca larva (PL) umur 10 hari. Pemeliharaan dilakukan menggunakan tiga jenis wadah, yaitu bak beton ukuran 10 m3 secara indoor dengan padat tebar 400 ekor/m3, Kolam tanah ukuran 5 x 5 m2 dengan kepadatan 200 ekor/ m2 dan waring ukuran 2 x 1 x 1 m dengan padat penebaran 500 ekor/ m2. Kegiatan pendederan dilakukan selama 30 hari hingga diperoleh benih dengan ukuran 3-5 cm. Masing-masing perlakuan diukang sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dianalisa secara deskriptif dalam bentuk grafik untuk membandingkan efektifitas wadah pemeliharaan yang digunakan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pendederan dengan menggunakan waring yang ditempatkan di kolam memberikan hasil yang terbaik, yang ditunjukkan dengan derajat sintasan yang cukup tinggi (78,6%) dengan ukuran benih yang lebih besar (PT = 4,11 cm; Bobot = 0,47 g). Sementara pendederan di bak secara indoor walaupun memberikan derajat sintasan yang cukup tinggi (79,3%) namun pertumbuhan benihnya agak lambat (PT = 2,97 cm; Bobot = 0,31 g). Sedangkan Pendederan di kolam tanah walaupun pertumbuhan benihnya cukup bagus (PT = 3,88 cm; Bobot = 0,42 g) namun sintasanya hanya mencapai 52,2%. Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pendederan udang galah lebih baik dilakukan dengan menggunakan waring yang ditempatkan di kolam dibandingkan menggunakan kolam tanah atau bak tembok secara indoor.

Kata kunci: pendederan, udang galah, wadah.

 

PERBAIKAN TEKNIK PRODUKSI BENIH KEPITING BAKAU (Scylla paramamosain) DI BALAI BESAR RISET PERIKANAN BUDIDAYA LAUT, GONDOL – BALI

Bambang Susanto, Ketut Suwirya, Irwan Setyadi dan Zafran
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol
PO BOX. 140 Singaraja – Bali
E-mail: bambang-ssnt@yahoo.com

Abstrak
Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki teknik pemeliharaan zoea kepiting bakau Scylla paramamosain sampai menghasilkan benih (crablet). Digunakan bak volume 300 L dengan sistem air lift dan resirkulasi serta ditebar zoea dengan kepadatan awal 100 ekor/L. Pakan alami rotifer dan pakan komersial diberikan selama stadia zoea dan mulai stadia Z-3 ditambahkan nauplius artemia. Suhu air selama pemeliharaan zoea dipertahankan pada suhu 30±0,5°C dengan alat pemanas otomatis. Setelah stadia megalopa, kemudian dipindahkan kedalam beberapa bak volume 1.000-4.000 L dengan kepadatan 1-2 ekor/L dan diberi pakan komersial sampai menjadi benih stadia crablet 3-4. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perkembangan stadia zoea lebih cepat yang ditunjukkan dengan pertumbuhan dan pergantian stadia zoea-megalopa yang semakin singkat sekitar 2 hari sekali dalam setiap stadianya. Stadia megalopa kepiting bakau dengan metoda ini dapat dicapai dalam masa pemeliharaan 10-12 hari sebanyak 5.770 ekor, dengan prosentase sintasan sebesar 19,23%. Keragaan megalopa dalam bak pemeliharaan terlihat bergerak aktif yang menandakan kondisi megalopa tersebut sangat sehat. Stadia crablet-1 dicapai sekitar 4 hari (D-4) dari stadia megalopa dengan sintasan 76,5±5%, dan crablet 3-4 dicapai sekitar 14 hari (D-14), dengan sintasan 24,44-31,32 % atau rata-rata 28,38±2%.

Kata kunci: crablet, kepiting bakau (Scylla paramamosain), sistem resirkulasi, megalopa.

 

PENGAMATAN PROFIL STEROID HORMON PADA SERUM DARAH INDUK KERAPU LUMPUR (Epinephelus coioides) YANG DIIMPLAN DENGAN PELET HORMON LHRH-a DAN 17 &alpha-MT, SERTA PERKEMBANGAN GONADNYA

Agus Priyono, Titiek Aslianti, dan Tony Setiadharma
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut,
Po Box 141, Singaraja-Bali.
Telp. 0361-92278. E-mail: agus_priyono@telkom.net

Abstrak
Pada proses perkembangan gonad umumnya diikuti oleh perubahan ukuran sel telur, stadium sperma maupun perubahan steroid hormon dalam serum darah. Tujuan percobaan adalah untuk mengamati kandungan steroid hormon dalam serum darah induk kerapu yang diimplan dengan pellet hormon LHRH-a dan 17 &alpha methyltestosterone selama proses pematangan gonad. Induk dipelihara dalam dua buah bak beton volume 100 m3 kepadatan 15 ekor/bak. Untuk triger perkembangan gonad, induk betina diimplan dengan LHRH-a dosis 50 µg dan induk jantan dimplan dengan pellet hormon 17&alpha-MT dosis berbeda yaitu (perlakuan A) dosis 50 µg/kg berat ikan, (perlakuan B) dosis 100 µg/kg berat ikan. Peubah yang diamati a.l: kandungan steroid hormon darah (diukur dengan ELISA pada panjang gelombang 492 nm), perkembangan gonad (sel telur dan sperma). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa serum darah (estradiol 17-beta) pada induk betina yang diimplant dengan pelet hormon LHRH-a dosis 50 µg/kg berat ikan pada perlakuan A antara 0,1 sampai 4 ng/ml dan perlakuan B lebih rendah dari perlakuan A yaitu antara 0,1 sampai 3 ng/ml dengan perkembangan sel telur pada perlakuan A dan B antara 275 sampai lebih dari 500 ?m (small vitelogenesis–large vitelogenesis). Kandungan steroid hormon 11-KT induk jantan pada perlakuan A bervariasi antara 10-100 ng/ml dan pada perlakuan B antara 10-110 ng/ml dan dengan kategori sperma positip satu (1) pada perlakuan A dan positip satu (1) dan dua (2) pada perlakuan B.

Kata kunci: serum darah, kerapu lumpur, perkembangan gonad, implan hormon, hormon steroid.

 

PENGARUH IMPALANTASI HORMON LHRH-a DALAM MENINGKATKAN PEMIJAHAN DAN KUALITAS TELUR PADA INDUK BETINA IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus)

Tony Setiadharma, Agus Prijono, Nyoman Adiasmara Giri
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol
Po Box 140 Singaraja, Telp 0362 92278, Fax 0362 92272

Abstrak
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui penggunaan hormon LHRH-a terhadap pemijahan dan perkembangan gonad induk kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus). Induk kerapu macan berukuran 4,46 –13,26 kg yang dipelihara dalam 2 tangki volume 30 m³, masing – masing diisi 9 ekor induk terdiri dari 6 ekor betina dan 3 ekor jantan. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah dan cumi segar sebanyak 3% berat total/hari. Sebagai perlakuan dalam penelitian adalah yaitu A. (Pakan + Vit E dan C) tanpa hormon, B. (Pakan + Vit E dan C) dan hormon LHRH-a. Percobaan ini dilakukan selama 6 bulan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa hormon berpengaruh terhadap pemijahan dan perkembangan gonad. Pada perlakuan B memperlihatkan hasil proses reproduksi yang lebih baik dan terjadi pemijahan sebanyak 8 kali pada periode bulan Mei sampai Nopember 2003 dengan jumlah total telur yang dibuahi sebanyak 16.360.000 butir, kemudian pada perlakuan A terjadi pemijahan sebanyak 4 kali dengan jumlah total telur 9.280.000 butir. Diameter telur untuk kedua perlakuan sangat bervariasi antara 250-600µm, kemudian pengamatan SAI larva untuk perlakuan B (dengan hormon) mencapai 2,80-4,96 sedang perlakuan A (tanpa hormon) 0,18-4,80 kemudian kandungan steroid hormon dalam darah lebih tinggi pada penggunaan LHRH-a sekitar 0,52-0,90 ng/ml

Kata kunci: LHRH-a, gonad, kematangan, kerapu macan.

 

DOSIS EFEKTIF OVAPRIM UNTUK STIMULASI OVULASI-SPERMIASI PADA IKAN SINODONTIS (Synodontis nigriventris)

Siti Subandiyah dan Darti Satyani
Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar, Depok

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar efektif dari ovaprim untuk ovulasi dan spermiasi induk-induk ikan hias Synodontis nigriventris (Sinodontis). Sembilan pasang induk ikan sinodontis berumur 18 bulan dengan berat badan induk betina sekitar 50 gram dan jantan 70 gram digunakan dalam percobaan ini. Dosis atau kadar ovaprim sebagai perlakuan adalah 0,50 ml/kg dan 1,00 ml/kg berat badan, dengan 3 (tiga) kali ulangan. Pembuahan dilakukan secara buatan dengan cara mencampurkan telur dan sperma hasil stripping induk tersebut. Telur yang sudah dibuahi diinkubasikan dalam akuarium-akuarium berukuran 100x50x40 cm. Hasil dari penelitian ini menunjukkan kadar ovaprim 1,00 ml/kg memberikan waktu laten paling cepat (14,67 jam) dibandingkan dengan perlakuan lain (23,67 jam untuk 0,50 ml/kg dan 19,00 untuk 0,75 ml/kg). Namun demikian jumlah telur ovulasi dan sintasan larva tidak ada beda diantara perlakuan. Daya tetas telur tampak paling tinggi juga pada ovaprim dengan kadar 0,75 ml/kg yaitu 69,34% dibandingkan dengan 0,50 ml/kg dan 1,00 ml/kg yang hanya 65,32 dan 65,0%.

Kata kunci: Ovaprim, dosis efektif, ovulasi, telur.

 

PEMIJAHAN BUATAN, PERKEMBANGAN EMBRIO DAN LARVA IKAN KERAPU KWE (LONG TOOTH), Epinephelus bruneus

Bejo Slamet
Balai Besar Research Perikanan Budidaya Laut Gondol,Gerogak, PO Box 140 Singaraja 81101, Bali. E-mail, Gondol @singaraja.wasantara.net.id

Abstrak
Pengamatan pada pemijahan buatan serta perkembangan embrio dan larva ikan kerapu kwe (long tooth) (Epinephelus bruneus) telah dilakukan di Mie Sea Farming Center Jepang. Induk yang digunakan terdiri dari 10 ekor induk jantan dengan ukuran berat 9,5-26,1kg/ ekor, panjang total 80,4-114,8 cm dan 30 ekor betina ukuran dengan berat badan 3,1-19,1 kg/ekor, panjang total 56,3-103,5 cm. Rangsangan pemijahan dilakukan melalui implantasi pellet hormon LHRH-a dengan dosis 400 µg/kg berat badan (BB) dan 21 hari kemudian disuntik dengan hormon gonadotropin dengan dosis 400 IU/kg BB. Pemijahan buatan dilakukan dengan pengurutan (striping) induk jantan dan betina yang telah matang kemudian telur dan spermanya dicampur untuk pembuahan. Pengamatan perkembangan embrio terhadap telur yang telah dibuahi dilakukan secara kontinyu di bawah mikroskop sampai saat telur menetas. Larva yang menetas dipindahkan ke tangki pemeliharaan larva dan selama pemeliharaan dilakukan pengamatan perkembangan larvanya. Hasil pengamatan menunjukan bahwa hanya 3 ekor jantan (30%) dan 18 ekor betina (60%) yang berhasil matang telur. Telur hasil pemijahan buatan menghasilkan rasio pembuahan 0-65% dan rasio penetasan 0-51%. Waktu inkubasi telur adalah 27 jam pada suhu 25 oC. Larva mulai buka mulut pada umur 3 hari (D-3) sore jam dan mulai makan pada D-4 pagi. Cadangan makanan berupa kuning telur habis diserap pada D-5 pagi hari dan butir minyak habis terserap pada D-6 pagi. Pada umur 9 hari larva mulai tumbuh duri sirip dada dan umur 10 hari mulai tumbuh duri sirip punggung. Phase juvenil dicapai saat larva berumur 50-60 hari, dimana bentuknya sudah menyerupai tipe ikan dewasa.

Kata kunci: kerapu kwe, pemijahan buatan, embrio, larva.

 

JANTANISASI BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) SECARA MASSAL DI KOLAM PEMBUDI DAYA

Eni Kusrini1), Bambang Priono1), dan Reza Samsudin2)
1)Pusat Riset Perikanan Budidaya, Jakarta
2)Balai Riset Budidaya Perikanan Air Tawar, Bogor

Abstrak
Ikan nila (Oreochromis niloticus) jantan mempunyai pertumbuhan lebih cepat dibanding dengan ikan nila betina sehingga pemilihan nila jantan cenderung menjadi prioritas. Salah satu cara untuk memproduksi benih ikan berkelamin tunggal jantan adalah dengan pemberian hormon androgen atau sintetiknya secara oral atau perendaman. Suatu kajian produksi jantan secara massal melalui hormonal telah dilakukan di daerah Kabupaten Cianjur. Induk ikan nila yang digunakan sebanyak 100 ekor yang terdiri atas 80 ekor betina dan 20 ekor jantan dipijahkan dalam waring. Pengumpulan telur dilakukan dengan teknik pengocokan, kemudian diinkubasi dalam wadah khusus sampai umur 9 hari. Benih direndam dalam larutan 17-a methyltestosteron dengan dosis 10 mg/L selama 12 jam. Setelah direndam benih dibesarkan dalam waring, pemberian pakan menggunakan pakan terapung diberikan sekenyangnya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa benih nila hasil perendaman dapat meningkatkan nisbah kelamin jantan menjadi 78,58% dibandingkan tanpa perendaman yang hanya sebesar 47,48%. Hasil kajian ini menunjukkan penggunaan 17-&alpha methyltestosteron dengan dosis 10 mg/L cukup efektif dalam mencari imbangan nila jantan pada fase benih.

Kata Kunci: ikan nila, jantanisasi, 17-&alpha methyltestosteron.

 

PEMELIHARAAN JUVENIL KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus) PADA KUALITAS BERBEDA DALAM SATU SIKLUS PRODUKSI

Ketut Maha Setiawati, Wardoyo, Tony Setiadharma, Suko Ismi
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol-Bali

Abstrak
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan pada juvenile ikan kerapu macan yang dihasilkan dalam satu siklus produksi (kualitas). Hewan uji yang digunakan adalah juvenil kerapu macan. Kepadatan ikan pada masing-masing tangki 300 ekor/bak. Perlakuan yang diuji coba adalah perbedaan ukuran ikan dalam satu siklus produksi: Kualitas A dengan ukuran panjang total ± 3 cm(A); Kualitas B dengan panjang total ± 2,5 cm (B); Kualitas C dengan panjang total ± 2 cm (C). Tangki yang digunakan bervolume 400L sebanyak 9 tangki, dengan volume air pemeliharaan 150 L. Perlakuan dirancang dengan rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan mutlak pada panjang total ikan tidak berbeda nyata antara masing-masing perlakuan. Sedangkan pertumbuhan mutlak pada berat tubuh berbeda nyata. Kecepatan pertumbuhan mutlak (berat) yang tertinggi yaitu pada perlakuan A = 8,04 g, perlakuan B = 5,37 dan pada perlakuan C = 4,5 g, Sintasan yang dihasilkan pada masing-masing perlakuan tidak berbeda nyata. Sintasan pada perlakuan A, B dan C masing-masing adalah 78,66%, 72,33% dan 61,67%.

Kata kunci: pemeliharaan juvenile, kualitas, abnormalitas

 

UPAYA PENINGKATAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA KERAPU LUMPUR, Epinephelus coioides DALAM MENUNJANG PRODUKSI BENIH YANG BERKUALITAS, BERKESINAMBUNGAN DAN SESUAI STANDAR NASIONAL INDONESIA

Titiek Aslianti

Abstrak
Produksi benih ikan kerapu selama periode tahun 2000-2006 terus dipacu dalam upaya mengantisipasi kesenjangan pasok benih bagi berkembangnya kegiatan usaha budidaya. Satu diantara jenis ikan kerapu yang mulai banyak diminati pembudidaya adalah kerapu Lumpur, Epinephelus coioides. Berbagai penelitian yang mengarah pada peningkatan sintasan dan perbaikan pertumbuhan serta keragaan benih sesuai SNI telah dilakukan. Permasalahan yang sering dihadapi umumnya terjadi pada masa-masa perubahan fase yang merupakan masa kritis bagi perkembangan larva menjadi juvenile hingga benih. Faktor lingkungan, pakan dan penyakit merupakan faktor penentu keberhasilan produksi benih. Pada makalah ini akan diuraikan tingkat keberhasilan produksi benih kerapu Lumpur melalui berbagai penelitian managemen pakan dan lingkungan serta kendalanya.

Kata kunci: kelangsungan hidup, kerapu Lumpur, produksi benih, SNI.