PROSIDING TAHUN 2005
Bidang Manajemen Sumberdaya Perikanan
PENGAMATAN BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN
COBIA (Rachycentron canadum) DARI PERAIRAN BALI UTARA
Agus Priyono, Bejo Slamet dan Tatam Sutarmat
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut
PO.BOX 140 Singaraja 81101, Bali Tilp: (0362-92278); Fax: (0362-92272)
Abstrak
Ikan cobia (Rachycentron canadum) merupakan ikan ekonomis penting
di Asia dan mempunyai pertumbuhan yang sangat cepat, dapat mencapai
ukuran berat 15 kg pada umur 20 bulan. Kendala budidaya ikan ini adalah
benihnya yang masih impor. Pengamatan beberapa aspek biologi telah
dilakukan pada ikan cobia hasil tangkapan di Teluk Pegametan, Bali
Utara, yang bertujuan untuk data dasar dalam upaya pembenihannya.
Pengamatan yang dilakukan meliputi hubungan panjang-berat, kematangan
gonad, diameter oocyt dan tingkah laku dalam wadah pemeliharaan. Dari
30 ekor sampel ikan yang didapatkan 16 ekor (53,33%) betina, 12 ekor
(40%) jantan dan 2 ekor (6,66%) tidak diketahui. Ikan cobia pada panjang
total (PT) lebih dari 70 cm cenderung mengalami pertambahan berat
yang lebih cepat dibanding ukuran yang lebih kecil. Ukuran minimal
kedewasaan ikan betina adalah PT 64 cm dan bobot tubuh (BT) 3,2 kg,
sedangkan pada jantan pada PT 50 cm dan BT 1,5 kg. Indek kematangan
gonad tertinggi pada betina adalah 1,23% dengan diameter telur dalam
gonad (oocyt) 400 ?m pada ukuran PT 95 cm dan BT 10,5 kg, sedangkan
pada jantan 0,43% pada PT 58 dan BT 2,3 kg. Ikan cobia merupakan ikan
pelagik, dengan gerakan sangat aktif; dapat berubah warna dimana pada
keadaan normal dan stres berwarna hitam dengan dua garis putih pada
samping badan membujur dari leher sampai ke pangkal ekor; sedangkan
bila ditempatkan pada wadah yang berwarna terang maka warna kulitnya
akan berubah keabu-abuan.
Kata kunci : Cobia, biologi, kematangan gonad.
POTENSI KONFLIK DI DAERAH REHABILITASI HUTAN BAKAU, DESA TONGKETONGKE,
SINJAI SULAWESI SELATAN
Indra Jaya Asaad.
Balai Riset Perikanan Perairan Umum.
Jl. Beringin 308 Mariana Palembang 30763. Telp : 0711- 537194. Email
: andi_asaad1@yahoo.com
Abstrak
Pengelolaan suatu sumberdaya alam tidak terlepas dari potensi konflik
antara pelaku atau pihak yang mempunyai kepentingan dan hubungan dengan
sumberdaya alam tersebut. Ketidakmampuan mengenal potensi konflik
dalam suatu program pengelolaan dapat menjadi penghambat dalam kelangsungan
program itu sendiri. Penelitian ini dilakukan di daerah rehabilitasi
hutan bakau, Desa Tongke Tongke Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan
pada bulan Juli – September tahun 2003. Penelitian kualitatif
ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan wawancara mendalam
(unstructured and semi-structured interviews), observasi
lapangan, dan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok-kelompok
masyarakat yang terbentuk dalam pengelolaan hutan bakau tidak terlepas
dari potensi konflik baik itu secara internal kelompok ataupun eksternal.
Potensi konflik ini umumnya dikarenakan perbedaan persepsi dan akses/kewenangan
yang dimiliki terhadap hutan bakau serta keterbukaan dalam pengelolaan
hutan bakau.
Kata kunci : Konflik, Hutan Bakau, Desa Tongke-Tongke
PEMANTAUAN KELIMPAHAN DINOFLAGELLATA SEBAGAI HARMFUL ALGA BLOOM DI
PERAIRAN TELUK HURUN (1998 – 2004)
Atri T Kartikasari, Muawanah, Nira Sari, Hendrianto
Balai Budidaya Laut Lampung
Hanura, Padang Cermin – Lampung Selatan, Fax & Telp. 0721-471379
Abstrak
Harmful alga bloom adalah terjadinya peningkatan kelimpahan (bloom)
plankton yang dapat membahayakan kesehatan biota perairan ataupun
manusia.Beberapa jenis plankton dari class Dinoflagellata mempunyai
kemampuan untuk menghasilkan toksin (racun) yang dapat membahayakan
kesehatan manusia, diantaranya Gymnodinium sp., Dinophysis
sp., Pyrodinium sp., dan Prorocentrum sp. Plankton-plankton
beracun tersebut dapat terakumulasi pada ikan ataupun kekerangan,
kemudian dapat meracuni manusia yang mengkonsumsinya. Monitoring plankton
telah dilakukan di perairan Teluk Hurun dalam kurun waktu 1998-2004.
Air sampel yang diambil disaring dengan menggunakan plankton-net,
diawetkan dengan Lugol atau formalin dan kemudian diamati dengan mikroskop.
Sepanjang 1998-2004 jumlah kelimpahan Dinoflagellata yang ditemui
berkisar 13 – 17% dari total kelimpahan plankton. Jenis-jenis
Dinoflagellata yang sering mendominasi adalah Pyrodinium
sp., Ceratium sp., dan Prorocentrum sp. Dinofagellata terutama
Pyrodinium sp biasanya mendominasi perairan pada saat terjadi
perubahan cuaca yang ekstrim dan pada tahun 2003 kelimpahannya mencapai
2,3 . 104 sel/ltr. Sampai dengan saat ini kelimpahan Dinoflagellata
di perairan Teluk Hurun belum membahayakan bagi kesehatan.
BEBERAPA ASPEK REPRODUKSI IKAN TIGAWAJA, Otolithes
rubber, Block & Schneider (SCIAENIDAE) DARI PERAIRAN PANTAI
MAYANGAN, SUBANG, JAWA BARAT
Djajda Subardja Sjafei & Viki Liana
Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan,
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor
Abstrak
Penelitian dilakukan dari bulan Desember 2002 sampai dengan Mei 2003
yang bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang beberapa aspek
reproduksi yang mencakup nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad,
indeks kematangan gonad, fekunditas dan pola pemijahan sebagai dasar
pengelolaan perikanan ikan yang bersangkutan. Nisbah kelamin ikan
jantan dan betina tidak seimbang (2,21:1). Jumlah ikan jantan yang
mencapai tingkat kematangan gonad (III dan IV) pada bulan Maret (26,67%
dan 47,35%); pada ikan betina pada bulan Mei (19,48% dan 16,67%).
Ikan jantan lebih dulu matang gonad dibandingkan ikan betina. Indeks
kematangan gonad pada ikan jantan berkisar antara 0,221 % (Februari)
dan 0,351% (Mei); pada ikan betina 0,367% (Desember) dan 3,04 % (Mei).
Fekunditas pada TKG III dan IV berkisar antara 5487-67307 butir pada
ukuran panjang 195-267 mm. Indeks kematangan gonad meningkat sebanding
dengan tingkat kematangan gonadnya. Berdasarkan modus distribusi diameter
telur pada TKG III dan IV menggambarkan bahwa pola pemijahan ikan
ini total spawner.
Kata Kunci: Nisbah kelamin, tingkat kematangan gonad, indeks kematangan
gonad, fekunditas, total spwaner
PENINGKATAN DAYA ADAPTASI NELAYAN TRADISI PADA LINGKUNGAN YANG BERUBAH
CEPAT
Ir. Edi Susilo, MS
Abstrak
Riset ini dirancang selama tiga tahun, saat ini sedang berjalan pada
tahun ke-3. Tujuan riset adalah membangun teori tentang adaptasi manusia
dan berusaha memperbaiki metode pemberdayaan masyarakat nelayan. Riset
ini menggunakan pendekatan ekologi manusia dengan enam kerangka berfikir,
yaitu; (1) ekologis humanistik, (2) adaptasi manusia, (3) degradasi
sumberdaya, (4) penguatan kelembagaan (adaptor sosial), (5) Hak Guna
Wilayah Hukum Perikanan (6) kemitraan “bertinda”. Sampai
dengan tahun kedua ini telah dihasilkan antara lain. Pertama dalam
tataran teoretis telah disusun draft 16 proposisi adaptasi manusia,
baik yang diformulasi dari kajian literatur maupun dari telaah lapang.
Kedua, pada tataran lapang, nelayan tradisi di lokasi riset sedang
berhadapan dengan pembatas sosial budaya di dalam proses adaptasinya.
Nelayan jaring tarik sedang berhadapan dengan kebijakan pembangunan
perikanan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan, sementara nelayan
pancing sedang berhadapan dengan sistem perekonomian global dalam
pemasaran hasil tangkapannya. Oleh karena itu untuk tahun ketiga dilakukan
upaya-upaya advokasi untuk meningkatkan posisi tawar nelayan tradisi
dengan menyeimbangkan kekuatan yang ada. Pada tahun ini pula akan
dilakukan kajian dan kritik terhadap beberapa metode pemberdayaan
masyarakat.
Kata kunci: adaptasi manusia, nelayan tradisional, perubahan lingkungan.
HASIL TANGKAPAN DAN ASPEK EKONOMI IKAN RAWA DI SEKITAR PATRATANI
KAB. MUARA ENIM
Emmy Dharyati
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang
Jl. Beringin No. 308 Mariana Palembang Telp. (0711) 537194 Fax (0711)
537205
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil tangkapan ikan rawa
yaitu ikan tebakang, gabus dan sepat siam serta aspek ekonomi sosial,
penelitian dilakukan di Daerah Patratani Kabupaten Muara Enim tahun
1997. Metode penelitian dengan cara observasi, wawancara, monitoring
dengan bantuan kuesioner, data yang dikumpulkan ditabulasi dan dianalisa
secara deskriftif. Hasil penelitian menunjukkan hasil tangkapan nelayan
terhadap ikan rawa/lebak tidak pernah putus setiap minggu berkisar
5-15 kg ikan tebakang, 3-10 kg gabus dan sepat siam 10–20 kg.
Jumlah ikan tertangkap dalam setahun pada musim hujan dan musim kering
sebesar tebakang 3.500 kg, ikan gabus 2.700 kg dan sepat siam 6.100
kg. Pada musim hujan harga ikan tebakang berkisar Rp.5.500.-, gabus
Rp.12.000.- dan sepat siam Rp.4.000.- pada musim kering harga ikan
turun berkisar Rp.1.000.- hingga Rp. 4.000.- untuk jenis ikan tebakang,
gabus dan sepat siam. Nelayan yang produktif mencapai 51 orang (85%)
dengan usia 20-44 tahun, lama pengalaman kerja 3-18 tahun, dari 60
orang nelayan 24 orang sebagai nelayan sambilan dan 27 orang nelayan
penuh 9 orang sudak tidak aktif kerja. Pendapatan nelayan penuh Rp.596.000,-
dan nelayan sambilan 896.000/bulan kelayaan usaha B/C = 1,79.
ANALISIS PENGGUNAAN LINGGI CEMBUNG UNTUK MENINGKATKAN PERFORMA KAPAL
IKAN
I Ketut Aria Pria Utama
Jurusan Teknik Perkapalan ITS, Surabaya 60111, email: kutama@na.its.ac.id
Abstrak
Penggunaan linggi cembung di bagian haluan yang dikenal dengan sebutan
bulbous bow sudah sangat luas pemakaiannya pada kapal-kapal barang
dan tanker dengan panjang di atas 100m. Penggunaan linggi cembung
yang membentuk sistem gelombang tersendiri mampu memperbaiki kemampuan
olah gerak atau performa kapal sehingga pemakaiaannya menjadi sangat
popular.Kelebihan linggi cembung ini mulai dimanfaatkan untuk meningkatkan
performa kapal ikan sejak sepuluh tahun terakhir. Meskipun desain
dan konstruksinya cukup rumit tetapi kelebihan yang dihasilkannya
telah menyebabkan penggunaan linggi cembung pada kapal ikan makin
meningkat. Sebuah penelitian dengan teknik yang sangat popular yang
dikenal sebagai computational fluid dynamics (CFD) dilakukan pada
linggi cembung seri B (B-1 sampai B-4) untuk mendapatkan bentuk linggi
cembung yang paling baik. Perbedaan tekanan fluida di sekeliling linggi
dijadikan dasar untuk menentukan pilihan dan tampak dengan jelas bahwa
linggi cembung B-1 memberikan performa yang paling baik.
Kata-kata kunci : linggi cembung, CFD, seri B, perbedaan tekanan.
DISSEMINASI KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN SEBAGAI UPAYA
PEMBERDAYAAN KELOMPOK USAHA BUDIDAYA IKAN DI KJA
Kurniastuty, Rini Purnomowati , Julinasari D & Muawanah
Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Balai Budidaya Laut
Hanura, Padang Cermin – Lampung Selatan, Fax & Telp. 0721-471379
Abstrak
Pemberdayaan masyarakat melalui kelompok usaha budidaya ikan di kawasan
pesisir dianggap cukup efektif dilakukan. Berbagai program pemberdayaan
banyak dilakukan. Salah satunya melalui kegiatan disseminasi teknologi.
Balai Budidaya Laut Lampung sebagai UPT Direktorat Jenderal Perikanan
Budidaya sesuai fungsinya telah melakukan penerapan teknik pelestarian
sumberdaya ikan dan lingkungan serta teknik pengendalian hama dan
penyakit. Peran serta Balai dalam memberdayakan pembudidaya ikan dilakukan
dengan kegiatan disseminasi. Tujuan dari pelaksanaan diseminasi adalah
transfer teknologi dalam upaya memberdayakan kelompok usaha budidaya
ikan di karamba jaring apung. Metoda yang dilakukan adalah dengan
penyuluhan dan pendampingan melalui pendekatan kelompok. Berdasarkan
pemantauan yang dilakukan selama disseminasi, terlihat bahwa kelompok
yang terlibat dalam kegiatan ini tidak hanya kelompok contoh yaitu
: Kelompok petani budidaya ikan kerapu “Sidodadi Makmur”,
tetapi juga kelompok-kelompok lain yang berada di sekitar lokasi.
Hal ini terlihat dari peran serta mereka dalam melakukan pengelolaan
kesehatan ikan dan lingkungan. Selama pelaksanaan disseminasi penyakit
yang berhasil diamati adalah penyakit bakterial dan virus. Jenis bakteri
yang ditemukan adalah Pseudomonas alcaligenes, sedangkan virus yang
ditemukan adalah VNN. Kegiatan disseminasi menunjukkan hasil yang
baik, meskipun benih yang ditebar diketahui telah terindikasi 25 %
positif terserang VNN. Tingkat kematian sangat rendah, dengan Survival Rate mencapai 95,2 %. Pengelolaan yang baik, pemantauan yang rutin
dilakukan serta terapi yang tepat merupakan kunci keberhasilan dalam
kegiatan budidaya, selama disseminasi dilakukan. Kegiatan disseminasi
dapat dikatakan berhasil, karena disseminasi mampu meningkatkan pengetahuan
pembudidaya dalam melakukan pengelolaan kesehatan ikan dan lingkungan,
selain itu keberhasilan disseminasi tidak terlepas dari peran serta
anggota kelompok dalam kegiatan tersebut.
Kata Kunci : Pemberdayaan, Disseminasi, transfer teknologi, bakterial,
virus, Pseudomonas alcaligenes, VNN, Survival Rate, terapi.
UJI COBA SMALL BOTTOM SET NET DI PERAIRAN PULAU
SEBESI, TELUK LAMPUNG
Mulyono S. Baskoro Ronny I. Wahyu Dan Zulkarnain
Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan,
Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, IPB Bogor
Abstrak
Set net adalah alat penangkap ikan yang termasuk kedalam kelompok
perangkap. Alat penangkap ini terdiri dari empat bagian utama, yaitu
: (1) Leader net, yang berfungsi sebagai penghadang ruaya ikan dan
kemudian mengarahkannya kebagian badan jaring (2) Playground ( badan
jaring) berfungsi sebagai tempat berkumpulnya ikan dan mencegah mereka
meloloskan diri, (3) Funnel net, berfungsi untuk mengarahkan ikan
dari playground supaya masuk kedalam kantong dan (4) Bag net adalah
bagian akhir dari alat tangkap yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya
ikan untuk dipanen. Uji coba penangkapan ikan karang dengan menggunakan
small bottom set net dilakukan diperairan Pulai Sebesi, Teluk Lampung
pada bulan Oktober sampai dengan November 2004. Small bottom set net
dengan ukuran panjang leader net 20 m, tinggi 2,5 m; ukuran panjang
dan lebar playground masing-masing 3 m dan tingginya 2,5 m; kemudian
ukuran kantong adalah panjang 3 m, lebar 1 m dengan tinggi 1m, dipasang
pada perairan dengan kedalaman 5-6 m. Dalam ujicoba ini, bagian kantong
dari set net diangkat dua kali sehari, yaitu pada waktu pagi dan sore
hari, untuk mengetahui waktu hauling yang baik. Analisis hasil tangakapn
selama 14 kali trip penangkapan menunjukkan bahwa pagi hari merupakan
waktu hauling yang baik dibandingkan dengan sore hari. Jumlah hasil
tangkapan lebih banyak diwaktu pagi hari dibandingkan dengan sore
hari. Selama pengamatan hasil tangkapan terdiri dari 24 spesies yang
termasuk kedalam 12 famili. Hasil ujicoba mengindikasikan bahwa jumlah
hasil tangkapan dipengaruhi oleh waktu hauling.
Kata kunci : hasil tangkapan, Pulau Sebasi, set net, waktu penangkapan
INDIKATOR PENGEMBANGAN SUMBERDAYA PERIKANAN DI PERAIRAN BARAT SUMATERA
PADA PERIODE SEBELUM PERISTIWA TSUNAMI - 26 DESEMBER 2004
O.K. Sumadhiharga1), Badrudin2) dan Asikin Djamali3)
1) Puslit Oseanografi, COREMAP-LIPI, Jl. Raden Saleh No. 43 –
Jakarta Pusat
Phone : (021) 314-3080 ex. 504 Fax. (021) 319-27958 Email : ono_ks@indo.net.id
2) Pusat Riset Perikanan Tangkap, Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur –
Jakarta Utara
Abstrak
Produksi dan hasil tangkapan per-satuan upaya (CPUE) merupakan indikator
keberlanjutan pengembangan sumberdaya perikanan di suatu perairan.
Dengan asumsi bahwa sub Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) perairan
Barat Sumatera merupakan satu unit stok, kecuali sumber daya ikan
tuna, telah dilakukan analisis data yang disiapkan bagi aplikasi model
produksi surplus. Trend produksi ikan demersal selama periode 1992
- 2003 di sub area Barat Sumatera dengan tingkat produksi yang cukup
tinggi masih cenderung naik sejalan dengan sedikit menurunnya total
upaya, yang kemudian diikuti oleh naiknya CPUE, terutama antara periode
1994 - 1998. Setelah periode tersebut baik total upaya maupun CPUE
menunjukkan tendensi yang mendatar. Trend produksi udang selama periode
1992 - 2000 relatif mendatar dengan kecenderungan untuk sedikit menurun.
Trend produksi ikan pelagis kecil neritik selama periode 1992 - 2000
sedikit naik, sedangkan antara tahun 2000 - 2003 cenderung mendatar.
Trend dari produksi, upaya dan CPUE perikanan cumi-cumi/sotong pada
empat tahun pertama (1993 - 1997) cenderung naik, lalu turun cukup
signifikan pada satu tahun berikutnya, kemudian produksi dan CPUE
sedikit menunjukkan kenaikan sejalan dengan sedikit menurunnya total
upaya. Hasil analisis ketiga besaran tersebut diharapkan dapat merupakan
salah satu benchmark dalam evaluasi status sumber daya ikan di perairan
Barat Sumatera pasca tsunami - 26 Desember 2004.
Kata kunci : sumberdaya ikan, pelagis, perairan Barat Sumatra.
DAMPAK KEGIATAN BUDIDAYA IKAN TERHADAP PERIKANAN BERKELANJUTAN BERDASARKAN
ANALISIS KUALITAS AIR DI WADUK CIRATA
Rasidi, Iswari Ratna Astuti dan Tri Heru Prihadi
Peneliti pada Pusat Riset Perikanan Budidaya
E-mail: rasidi_r@hotmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak kegiatan budidaya
ikan dalam keramba jaring apung terhadap kualitas air sepanjang tahun
diharapkan dapat dijadikan bahan kebijakan pengelolaan waduk berbasis
budidaya ikan secara lestari di waduk Cirata. Metodologi penelitian
dilakukan dengan menganalisis kualitas air selama satu tahun. Sampling
dilakukan setiap satu bulan sekali. Parameter yang diamati terhadap
kedalaman permukaan, 2, 4 dan 8 meter. Parameter yang diteliti meliputi
data fisik, kimia dan biologis. Data diolah berdasarkan analisis deskriptif,
IKA-Storet, PCA dan Canberra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan
budidaya ikan dalam keramba jaring apung di Waduk Cirata telah jauh
melampaui daya dukung. Daya dukung Waduk Cirata dapat menampung 4.625
unit atau sekitar 18.500 keramba jaring apung (KJA) dengan ukuran
7 x 7 x 3 m3 per keramba dengan total produksi 18.500 ton per tahun.
Saat ini jumlah keramba mencapai 38.286 KJA, tingginya jumlah keramba
mengakibatkan terjadinya penurunan kualitas air baik pada musim hujan,
musim kemarau maupun musim peralihan. Kualitas air di perairan waduk
Cirata berdasarkan IKA-storet bernilai –88, berada pada kisaran
status buruk. Pada beberapa stasiun pengamatan di permukaan, nilai
sulfat, fosfat, zat organik, H2S, amonia, nitrit sudah melebihi baku
mutu, sedangkan pada kedalaman 8 m meter atau lebih praktis semua
parameter yang diamati melewati ambang batas, sehingga jika terjadi
pembalikan massa air pasti akan mengakibatkan keracunan pada ikan.
Parameter utama berdasarkan analisis PCA adalah kecerahan, suhu, sulfat
kalsium, magnesium, carbon dioksida, total fosfor, total alkalinitas,
nitrat, amonium, bahan organik total, BOD 5, H2S dan COD. Pengendalian
jumlah KJA sesuai dengan daya dukung perlu dilakukan karena self purification
untuk air memerlukan waktu yang lama untuk mengembalikan pada kondisi
air yang lestari. Monitoring dan evaluasi pengelolaan budidaya ikan
terhadap petani perlu diterapkan secara tegas dan kontinyu berdasarkan
kaedah teknologi yang sudah didapat, pengerukan limbah yang ada perlu
dipertimbangkan untuk menjaga kualitas air saat ini.
Kata kunci : KJA, kualitas air, waduk Cirata
SISTEM BAGI HASIL DALAM USAHA PENANGKAPAN IKAN MENGGUNAKAN JARING
AMPERA (PUKAT CINCIN) DI KOTAMADYA PALEMBANG
Sastrawidjaja, Zahri Nasution dan Tajerin
Pusat Riset Pasca Panen dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
Abstrak
Cara bagi hasil merupakan cara yang sampai saat ini telah dapat diterima
oleh hampir semua masyarakat nelayan yang pada dasarnya adalah alat
kerjasama yang menghubungkan antara pemilik armada penangkapan dengan
para tenaga kerja yang melakukan penangkapan, atau lebih dikenal dengan
sebutan hubungan timbal balik antara juragan atau tauke terhadap nakhoda
beserta ABK-nya. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui tentang
praktek cara bagi hasil yang ada di wilayah Kotamadya Palembang telah
dilakukan terutama khusus untuk alat tangkap jarring Ampera (pukat
cincin). Metode penelitian menggunakan RRA dan analisis data menggunakan
pendekatan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
cara bagi hasil yang berkembang dilakukan dengan membuat kesepakatan
terlebih dahulu terhadap harga ikan hasil tangkapan dan dilakukan
antara nakhoda dan tauke. Kemudian semua biaya eksploitasi dan pemeliharaan
menjadi tanggungan tauke tetapi harga jual ikan di TPI menjadi milik
tauke. Cara bagi hasil yang berlaku tersebut berbeda dengan cara bagi
hasil yang ada di Pulau Jawa pada umumnya.
Kata kuci: pukat cincin, bagi hasil, pemilik dan nakhoda.
STURKTUR, KOMPOSISI, ZONASI DAN PRODUKSI SERASAH MANGGROVE DI SUAKA
MARGASATWA SEMBILANG, SUMATERA SELATAN
Soeroyo dan Parino
Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta
Abstrak
Penelitian mangrove di Suaka Margasatwa Sembilang, Sumatera Selatan
telah dilakukan pada tahun 1994-1998. untuk struktur, komposisi dan
zonasi dilakukan dengan cara transek sedang untuk produksi serasah
dilakukan dengan waring penangkap serasah. Hasil analisa secara keseluruhan
menunjukkan bahwa di tempat ini di dapatkan 47 jenis tumbuhan mangrove
yang termasuk dalam 35 marga dan 27 suku. Rata-rata kepadatan pohon
mencapai 368 batang/ha dan untuk belta mencapai 809 batang/ha. Pohon
yang banyak dijumpai pada diameter antara 10–15 cm dan tinggi
5–10 m, sedang untuk belta pada diameter 4 - <6 cm dan tinggi
2 - <4 m. Jenis yang mendominasi baik untuk pohon maupun belta
adalah Rhizophora mucronata berdasarkan nilai penting hutan
mangrove di Sembilang ini dibedakan atas 4 tipe komunitas utama dan
11 tipe kelompok minor. Dari 4 tipe komunitas utama terdiri atas zone
Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata, Bruguiera
gymnorrhiza dan Xylocarpus granatum. Produksi serasah
di hutan ini mencapai 13,76 ton kering/ha/tahun yang rata-rata lebih
banyak bila dibandingkan dengan tempat lain yang jauh dari katulistiwa.
PENGAMATAN BEBERAPA KUALITAS FISIKA-KIMIA PERAIRAN BENGAWAN
SOLO
Susilo Adjie, Agus Djoko Utomo, Niam Muflikhah dan Arif Wibowo
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang
Abstrak
Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa (600 km),
mengalir di dua Propinsi yaitu Propinsi Jawa Tengah dan Propinsi Jawa
Timur. Nasib sungai ini kian hari kian merana kerena telah banyak
mengalami perubahan dari keadaan aslinya dan menjadi tempat pembuangan
limbah dari berbagai industri, terutama di daerah Solo dan sekitarnya.
Pengamatan beberapa kualitas fisika-kimia perairan Bengawan Solo berrtujuan
untuk memperoleh informasi tentang kualitas perairan Bengawan Solo.
Metoda penelitian dengan menetapkan 10 stasiun pengamatan mewakili
sungai bagian hulu, tengah dan hilir.Hasil penelitian menunjukkan
bahwa perairan Bengawan Solo di bagian hulu dan hilir relatif masih
baik untuk mendukung kehidupan organisme air (termasuk ikan), namun
di beberapa perairan bagian tengah (Solo-Sragen dan sekitarnya) ada
indikasi telah tercemar cukup serius, ditandai dengan oksigin rendah
(mencapai 0 mg/l, sebaiknya >4 mg/l), karbon dioksida tinggi (mencapai
34,32 mg/l,<5 mg/l), ammonia tinggi ( mencapai 21,67 mg/l, sebaiknya
< 0,2 mg/l), COD tinggi (mencapai 172 mg/l, sebaiknya < 20 mg/l),
fenol tinggi (mencapai 1,43 mg/l, sebaiknya < 0,01 mg/l) dan minyak-
lemak tinggi (mencapai 54,6 mg/l, sebaiknya < 0,03 mg/l).
STUDI TENTANG DAERAH PENANGKAPAN IKAN DENGAN MINI PURSE
SEINE DI PERAIRAN KABUPATEN TAKALAR, SULAWESI SELATAN
Alfa Nelwan, Abd. Rasjid J, Muh. Kurnia
Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin
Kampus UNHAS Tamalanrea, Jln. Perintis Kemerdekaan KM.10, Makassar-90245
Telepon 04115047060 Fax: 0411-586025 email: alfanelwan@yahoo.com
Abstrak
Daerah penangkapan ikan dengan mini purse seine di Kabupaten Takalar
yang berbasis di Galesong Utara terbagi atas lima daerah penangkapan
ikan, yaitu Bone Pammalompo, Bone Lure, Bone Kalukua, Bone Pammakeke,
dan Dayang-Dayangan. Jumlah hasil tangkapan pada setiap waktu hauling
menunjukkan adanya perbedaan berdasarkan analisis statisik dengan
menggunakan analisis t-student. Sebaran ikan berdasarkan waktu hauling
digambarkan dengan grafik kontur menggunakan program SURFER?. Uji
regresi korelasi antara hasil pengamatan kondisi oseanografi dengan
hasil tangkapan dilakukan menggunakan program SPSS 10.0Komposisi jenis
ikan yang tertangkap pada kelima daerah penangkapan ikan tersebut
umumnya relatif sama, yaitu ikan kembung (Rastrelliger sp), sibula
(Sardinella sirm), layang (Decapterus sp), tembang (Sardinella fimbriata),
cumi-cumi (Loligo sp) dan peperek (Leiognathidae). Hasil analisis
menunjukkan adanya perbedaan yang nyata pada jumlah hasil tangkapan
pada setiap waktu hauling. Hasil analisis hubungan antara parameter
oseanografi dengan jumlah hasil tangkapan tidak menunjukkan adanya
pengaruh atau hubungan. Parameter oseanografi yang diamati adalah,
suhu permukaan laut, salinitas permukaan laut, serta kecepatan arus
pada bagian permukaan.
Kata kunci: daerah penangkapan ikan, mini purse seine, oseanografi
SUMBERDAYA IKAN KARANG DI PERAIRAN BANGKA UTARA DAN BANGKA TENGAH
PROPINSI BANGKA-BLITUNG
Asikin Djamali1) , O.K. Sumadhiharga1), Badrudin2) dan Riko Siringoringo1)
1) Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta
2) Balai Riset Perikanan Laut, Pusat Riset Perikanan Tangkap, DKP,
Jakarta
Abstrak
Sumber daya ikan karang adalah jenis-jenis ikan yang sebagian besar
dari masa kehidupannya berada pada habitat terumbu karang. Tiga kelompok
ikan karang yang diteliti pada sekitar bulan Juni-Juli 2003 dan 2004,
adalah kelompok ikan mayor, ikan terget dan ikan indikator. Dari indikasi
dua indeks keanekaragaman yang dianalisis yaitu Indeks Shanon dan
Indeks Simpson tampak bahwa pada saat transek dilakukan, kelompok
ikan mayor yang sebagian besar terdiri dari jenis-jenis ikan hias
dan sebagian kelompok ikan target masih menunjukkan keanekaragaman
yang cukup tinggi. Dari indikasi tersebut tersirat bahwa kondisi terumbu
karang di perairan Bangka Utara dan Bangka Tengah yang merupakan habitat
bagi sebagian besar ikan hias pada umumnya masih cukup baik. Hal ini
dicerminkan oleh nilai indeks keanekaragaman yang cukup dimana ikan
mayor; H > 3 dan ikan target ; H >2 . Yang sangat memerlukan
perhatian adalah kelompok ikan hias yang dianggap merupakan indikator
bagi baik-buruknya kondisi lingkungan perairan karang, yaitu jenis-jenis
ikan kepe-kepe (Chaetodontidae). Berdasarkan angka indeks keanekaragaman
kelompok ikan indikator tersebut dapat dikatakan bahwa kondisi lingkungan
perairan karang di wilayah Bangka Utara dan Bangka Tengah diduga sudah
berada pada kondisi yang buruk.
Kata kunci : keanekaragaman, ikan karang, Bangka Utara, Bangka Tengah,
terumbu karang.
FISIKA KIMIA DAN BIOLOGI PERAIRAN SUNGAI SAMBUJUR KABUPATEN HULU
SUNGAI UTARA KALIMANTAN SELATAN
Dadiek Prasetyo
Balai Reset Perikanan Perairan Umum Palembang
Jl. Beringin no.308 Mariana Palembang Telp.0711-537194, Fax.0711-537205
Abstrak
Penelitian fisika, kimia dan biologi perairan sungai Sambujur telah
dilaksanakan sejak bulan Januari sampai dengan Desember tahun 2003,
dan pengambilan sample dilakukan pada bulan Juni dan Agustus untuk
musim kemarau. Untuk musim penghujan pengambilan sample dilakukan
pada bulan November dan Desember. Penelitian bertujuan untuk mengetahui
beberapa parameter fisika, kimia dan biologi sungai Sambujur. Penelitian
dilakukan dengan metode survey, pengambilan sample dilakukan secara
purposive (ditentukan) di beberapa desa (Paminggir, Sapala, Pal batu
dan danau Panggang) di sepanjang perairan sungai sambujur. Hasil pengamatan
secara fisika dan kimia, perairan sungai menunjukkan kualitas perairan
yang lebih baik dari perairan hutan rawa maupun rawa lebak, sedang
pengamatan biologi jenis phytoplankton Chlorophyta secara kualitatif
mempunyai dominansi lebih tinggi dari jenis Bacilariophyta maupun
Cyanophyta. Sedang secara kuantitatif perairan hutan rawa mempunyai
kelimpahan phytoplankton yang paling tinggi dibanding perairan sungai
maupun rawa lebak. Zooplankton, Serangga air dan Crustaceae, banyak
didaptkan di perairan sungai dibanding perairan hutan rawa dan rawa
lebak.
Kata kunci : Fisik, khemis dan biologi, Sungai sembujur, Kalimantan
Selatan
PENENTUAN KOMPOSISI EFEKTIF PENGGUNAAN ALAT TANGKAP KAPAL IKAN MULTI-PURPOSE
Djauhar Manfaat dan Arif Rachman Hakim
Jurusan Teknik Perkapalan,
Fakultas Tekonologi Kelautan, ITS Surabaya
Telp./Fax: 031-5947254/5964182, Email: dmanfaat@na.its.ac.id
Abstrak
Indonesia mempunyai potensi perikanan yang sangat besar. Namun, karena
keterbatasan infrastruktur yang ada saat ini dan kurang optimalnya
pengelolaan pengoperasian kapal-kapal ikan yang ada, pemanfaatan potensi
ini belum dilakukan secara maksimal. Di daerah perairan Pantai Utara
Jawa Timur, misalnya, dimana terdapat berbagai jenis ikan, kapal-kapal
ikan single-purpose, yaitu kapal ikan dengan alat tangkap tunggal,
misalnya purse seine, longline atau trawl, dioperasikan. Dengan demikian,
potensi ikan yang ada pada daerah perairan ini kurang dapat dimanfaatkan
secara optimal, karena hanya jenis ikan yang sesuai dengan salah satu
jenis dari alat tangkap tersebut yang dapat ditangkap. Salah satu
cara utama untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengoperasikan
kapal ikan multi-purpose, yaitu kapal ikan yang dilengkapi dengan
berbagai macam alat tangkap, misalnya purse seine, longline dan trawl.
Permasalahannya adalah bagaimana menentukan komposisi efektif penggunaan
jenis-jenis alat tangkap tersebut dalam beberapa trip penangkapan
ikan per tahun.
Dalam makalah ini, pertama-tama, ukuran utama optimal desain kapal
ikan multi-purpose, yang direncanakan akan dioperasikan di daerah
perairan Pantai Utara Jawa Timur, akan disajikan. Ukuran utama ini
dihasilkan dari proses optimasi yang didasarkan pada ukuran utama
kapal-kapal ikan yang saat ini beroperasi di daerah perairan tersebut
sebagai kapal-kapal pembanding. Kemudian, perhitungan biaya investasi
awal, biaya operasional per tahun, rencana pendapatan per tahun dan
profitabilitas investasi, dengan menggunakan metode Net Present Value
(NPV), untuk komposisi penggunaan alat tangkap (purse seine, longline
dan trawl) dalam 1 tahun, dengan rencana 9 trip, akan diuraikan. Dari
hasil perhitungan diatas, komposisi efektif penggunaan alat tangkap
dalam 1 tahun yang didapatkan adalah 1 trip dengan alat tangkap trawl,
7 trip dengan purse seine dan 1 trip dengan longline. Dengan komposisi
tersebut, dua hasil berikut ini didapatkan: (i) hasil tangkapan per
tahun dengan 100% muatan bersih adalah sebesar 65,625 ton, dengan
besar pendapatan per tahun Rp. 3.084.422.000,- dan NPV dalam 20 tahun
sebesar Rp. 6.347.573.739,- dan (ii) hasil tangkapan per tahun dengan
80% muatan bersih adalah sebesar 52,500 ton, dengan besar pendapatan
per tahun Rp. 2.467.539.000,- dan NPV dalam 20 tahun sebesar Rp. 3.538.562.907,-.
Hasil lain adalah bahwa investasi kapal ikan multi-purpose ini layak
jika besar hasil tangkapan adalah > 60% muatan bersih kapal.
Kata kunci: kapal ikan multi-purpose, purse seine, longline, trawl,
investasi
STUDI KELAYAKAN DAN OPTIMASI USAHA TAMBAK UDANG DI KAWASAN
PESISIR KOTA DUMAI PROPINSI RIAU
Eko Prianto
Balai Riset Perikanan Perairan Umum
Jl. Beringin No. 308 Mariana Palembang Telp. (0711) 537194 Fax (0711)
537205
E-mail : ekopesisir@yahoo.com
Abstrak
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga Juni 2003 bertempat
di kawasan pesisir Kota Dumai Propinsi Riau. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui kelayakan usaha budidaya tambak udang dalam
skala tradisional, semi intensif maupun intensif. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah pemilihan contoh secara sengaja (purposive).
Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder, data primer diperoleh
melalui wawancara langsung dan data sekunder melalui studi pustaka.
asil analisa biaya manfaat untuk ketiga skala usaha budidaya tambak
udang di Kota Dumai akan diperoleh nilai NPV, B/C dan IRR (discount
faktor 20 %). Pada tambak tradisional, hasil NPV sebesar Rp. 98.324.002,
nilai net B/C sebesar 2.7, dan nilai IRR diperoleh sebesar 41%. Untuk
tambak semi intensif diperoleh hasil NPV sebesar Rp. 358.515.422,
dengan nilai net B/C sebesar 3,87, sedangkan nilai IRR yang diperoleh
sebesar 50%. Sedangkan tambak intensif diperoleh hasil NPV sebesar
Rp. 459.625.838, nilai net B/C sebesar 3.26 dan nilai IRR 36%. Berdasarkan
hasil tersebut dapat disimpulkan usaha budidaya ketiga pola diatas
layak dikembangkan di Kota Dumai. Pada penentuan optimasi kesesuaian
lahan dari empat skenario yang digunakan diperoleh skenario keempat
dengan mengalokasikan lahan tambak udang dengan pola semi intensif
seluas 710,132 ha akan memberikan keuntungan yang lebih baik dari
pada skenario 1,2 dan skenario 3.
Kata Kunci : net present value, benefit cost ratio, internal rate
and return, tambak udang, Kota Dumai.
KANDUNGAN LOGAM BERAT Pb, Cu DAN Hg PADA KEKERANGAN DARI
TELUK LAMPUNG
Hendrianto, Muawanah, Atri Triana Kartikasari, Nira Sari
Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Balai Budidaya Laut
Hanura, Padang Cermin – Lampung Selatan, Fax & Telp. 0721-471379
E-mail : awanah_tj@yahoo.com
Abstrak
Kekerangan menjadi salah satu produk perikanan yang bernilai ekonomis
penting dan bergizi bahkan telah menembus pasar ekspor. Pola hidup
kekerangan yang bersifat filter feeder dimana mengkonsumsi bahan-bahan
organik terlarut, mikroorganisme di perairan termasuk logam berat
dan mengakumulasi dalam dagingnya. Bila manusia mengkonsumsi kekerangan
yang mengandung kadar logam berat yang melebihi baku mutu dapat membahayakan
kesehatan. Kekerangan juga dapat menjadi indikator pencemaran. Sampel
beberapa jenis kekerangan yakni kerang hijau (Perna viridis) tiram
mutiara (Pinctada maxima), dan kerang darah (Anadara granosa) dari
sejumlah perairan sentra budidaya laut di Teluk Lampung dianalisa
kandungan logam beratnya meliputi Pb (timbal), Cu (tembaga) dan Hg
(merkuri).
Hasil analisa menunjukkan kandungan logam Pb berkisar dari tidak terdeteksi
hingga 0,12627 mg/kg, Cu dari 0.74008 - 7.95055 mg/kg dan Hg dari
tidak terdeteksi hingga 0,0044 mg/kg. Kadar logam berat Pb, Cu dan
Hg masih dibawah baku mutu sesuai SK Dirjen Pengawasan Obat dan Makanan
No:03725/SK/VII/89 tentang batas maksimum cemaran logam dalam makanan
Pb 2,0 mg/kg, Cu 20 mg/kg dan Hg 0,5 mg/kg. Meski kadarnya masih dibawah
baku mutu bagi kerang yang untuk konsumsi, tetapi sifatnya yang bioakumulatif
mesti diwaspadai.
Kata kunci : kekerangan, filter feeder, logam berat, baku mutu
KAJIAN DESAIN DAN MANAJEMEN PRODUKSI KONSTRUKSI KAPAL
IKAN DENGAN BENTUK LAMBUNG ROUND DAN CHINE
I K A P Utama, D Manfaat dan T W Pribadi
Jurusan Teknik Perkapalan ITS, Surabaya 60111, email: kutama@na.its.ac.id
Abstrak
Kapal-kapal ikan tradisional pada umumnya memiliki bentuk lambung
gemuk, berbentuk U (round) dengan pertimbangan stabilitas yang sangat
baik dan pada saat surut minimum kapal jenis ini dapat ‘duduk
sempurna’ di tepi pantai. Namun demikian, ternyata bentuk lambung
U ini memiliki hambatan dan performa yang kurang baik dimana hambatan
kapalnya cenderung besar sehingga kapasitas mesin penggeraknya juga
menjadi besar. Bentuk lambung alternatif yang belakangan cukup popular
adalah bentuk chine atau multi-chine yang mampu mengurangi hambatan
kapal dan selanjutnya kapasitas mesin penggerak cukup signifikan.
Kelemahan bentuk chine adalah berupa pengurangan stabilitas.
Makalah ini membahas kelebihan dan kekurangan bentuk lambung round
dan chine menggunakan pendekatan numerik (dengan teknik CFD, computational
fluid dynamics) dan analisis memakai paket program desain ( Maxsurf)
sehingga dapat membantu para perancang, pembuat dan investor kapal
ikan untuk menentukan bentuk badan kapal ikan yang paling baik dari
segi teknis dan ekonomis. Karena itu, makalah ini juga membahas persoalan
kemudahan dan kesulitan proses produksi atau pembangunan kapal ikan
dengan bentuk lambung round dan chine.
Kata-kata kunci: kapal ikan, round, chine, Maxsurf, CFD
ANALISIS DAMPAK KEBIJAKAN INSENTIF DAN KINERJA PASAR UDANG INDONESIA
MENGHADAPI ERA LIBERALISASI PERDAGANGAN
L. Kamelia Aisya1, Sonny Koeshendrajana1, Ketut Karyasa2
1) Peneliti Pada Pusat Riset Pengolahan Produk dan
Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, BRKP-DKP.
Jl. KS Tubun Petamburan VI Slipi Jakarta 10260. Tel. 021 53650157-58.
e-mail : kamel_aisya @yahoo.com
2) Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi
Pertanian. Bogor
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini difokuskan pada dampak dari kebijakan insentif
dan kinerja pasar ekspor udang Indonesia dengan menggunakan metode
matrik kebijakan (PAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme
pasar yang berjalan saat ini tidak memberikan insentif bagi petani
udang untuk berproduksi. Dampak kebijakan ini menyebabkan telah terjadi
transfer penerimaan dari petani udang pada teknologi intensif dan
semi intensif baik ke konsumen udang maupun produsen input. Secara
umum terlihat bahwa dampak kebijakan output dan kinerja pasar udang
yang berjalan masih sedikit kurang menguntungkan petani udang. Hasil
analisis matrix kebijakan menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai keunggulan
komparatif dalam memproduksi udang pada berbagai tingkatan penerapan
teknologi produksi. Namun demikian, terlihat bahwa usaha udang yang
dikelola secara intensif mempunyai daya saing yang paling tinggi,
atau paling efisien dalam penggunaan biaya domestik.
Kata kunci: Matrik Analisis Kebijakan, Udang, Kebijakan Insentif,
Kinerja Pasar
JENIS DAN DISTRIBUSI IKAN INTRODUKSI DAN IKAN BUDIDAYA DI DAS BENGAWAN
SOLO
Niam Muflikhah, Agus Djoko Utomo, Susilo Adjie dan Arif Wibowo.
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang
Jl. Beringin 308 Mariana Palembang 30763. Telp : 0711-537194
Abstrak
Penelitian jenis dan distribusi ikan introduksi dan ikan budidaya
di DAS Bengawan Solo telah dilakukan pada bulan Mei sampai Desember
2004. Penentuan lokasi dilakukan dengan metoda purposive random Sampling.
Pengambilan sampel ikan dilakukan sebanyak 5 (lima) kali, yaitu bulan
Mei, Agustus, September, Oktober dan Desember 2004 pada 9 lokasi yaitu,
dibagian hulu DAS adalah Watu pecah (inlet waduk), Waduk Gajah mungkur,
Bendung Colo (outlet waduk). Dibagian tengah DAS Jurug (di Solo kota),
Cemeng dan Tenggak ( di Sragen) dan bagian hilir DAS, Ngablak, Babat
kota, Ujung Pangkah (Lamongan). Pengambilan sampel secara langsung
dengan teknik CPUE dan wawancara. Sampel ikan diambil dengan menggunakan
jaring dan jala. Data dianalisis menggunakan kelimpahan relatif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa jenis-jenis ikan introduksi adalah ikan
patin siam (Pangasius hipophthalmus) dan ikan nila (Oreochromis niloticus),
ikan budidaya adalah ikan tawes (Puntius javanicus). Distribusi ikan
introduksi dan budidaya banyak di DAS Bengawan Solo bagian hulu, sedangkan
bagian tengah dan hilir DAS hanya ditemukan ikan budidaya.
Kata kunci : Jenis, distribusi, , ikan introduksi, ikan budidaya,
DAS, Bengawan Solo.
TRANSPLANTASI KARANG MENGGUNAKAN METODE YANG EFEKTIF, EFISIEN DAN
EKONOMIS
Ofri Johan, I Nyoman Radiarta, Joni Hariadi, Adang Saputra, Irsyaphiani
Insan
Pusat Riset Perikanan Budidaya. Jl. KS. Tubun Petamburan VI. Jakarta.
10260
Telp: 021-53650 162; email: ofrijohany@yahoo.com
Abstrak
Penelitian tentang pengembangan teknologi budidaya karang dengan metode
transplantasi dilaksanakan pada 3 lokasi, Gosong Pramuka (Kep. Seribu)
dan dua lokasi di Propinsi Bali yaitu Desa Gretek dan Pengametan,
Buleleng. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data dan
informasi jenis-jenis karang yang berhasil ditranplantasi dengan melihat
laju pertumbuhan, tingkat kelangsungan hidup karang dan faktor-faktor
pendukung pertumbuhan karang; dan untuk mendapatkan data dan informasi
tentang perubahan kondisi habitat, keberadaan ikan karang dan biota
lain pada lokasi setelah dilakukan pemindahan karang hasil budidaya.
Karang diikatkan pada substrat dan tempatkan pada lokasi yang kondisi
karangnya sudah rusak. Pengambilan data dilakukan setiap 2 bulan untuk
mencatat pertumbuhan, kelangsungan hidup karang dan data kualitas
air serta pengamatan perubahan kondisi habitat, keberadaan ikan karang
dan biota lain pada lokasi tersebut setelah dilakukan transplantasi
(budidaya) karang. Berdasarkan hasil penelitian, teknik budidaya karang
ini dinilai berhasil dilihat dari prosentase karang yang hidup dan
tingkat pertumbuhan karang yang dicobakan.
Kata kunci: transplantasi, substrat buatan, karang
KAJIAN KUALITAS AIR MUARA SUNGAI BOGOWONTO DI KAWASAN TAMBAK UDANG
DESA JANGKARAN TEMON KULON PROGO
Riski Dyan Anggraeni, Namastra Probosunu, Tridjoko
Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Abstrak
Tingkat perubahan kualitas air muara Sungai Bogowonto dikarenakan
aktifitas tambak udang di kawasan tersebut dapat diketahui dengan
melakukan penelitian terhadap beberapa parameter lingkungan yang meliputi
parameter fisik (suhu air), kimia (salinitas air, kandungan oksigen
terlarut, karbondioksida bebas, bahan organik, nitrit dan fosfat)
serta biologik air sungai (kepadatan plankton dan indeks diversitas
plankton). Stasiun pengamatan ditentukan sebanyak 7 stasiun secara
sengaja (purposive sampling). Pengambilan sampel dilakukan sebanyak
8 kali, 4 kali pada bulan Oktober 2003 dan 4 kali pada bulan Februari
2004.
Analisis data untuk mengetahui tingkat perubahan kualitas air, dilakukan
dengan uji statistik yaitu analisis varian (Analysis of Varians) pada
taraf kepercayaan 95% dan perhitungan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener.
Untuk analisis varian apabila terdapat hasil beda nyata, maka dilanjutkan
dengan uji jarak ganda Duncan (Duncan’s Multiple Range Test)
pada taraf kepercayaan 95%. Bentuk hubungan dan keeratan hubungan
antara parameter biologik dengan parameter fisika-kimia dapat diketahui
dengan analisis regresi linier ganda. Untuk mengetahui kesesuaian
parameter kualitas air dengan peruntukannya, dibuktikan berdasarkan
baku mutu air pada badan air golongan C yang berlaku di Daerah Istimewa
Yogyakarta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuangan limbah tambak udang
ke perairan muara Sungai Bogowonto tidak terlalu berpengaruh terhadap
suhu air; berkecenderungan meningkatkan kandungan karbondioksida bebas,
kandungan bahan organik, nitrit, fosfat dan indeks diversitas plankton;
cenderung tidak menurunkan kandungan oksigen terlarut. Beberapa parameter
kualitas air muara Sungai Bogowonto di kawasan tambak udang masih
berada dalam batas toleransi yang diperbolehkan berdasarkan baku mutu
pada badan air golongan C yang berlaku di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dengan demikian kualitas air muara Sungai Bogowonto di kawasan tambak
udang masih termasuk dalam kriteria yang masih baik guna mendukung
kegiatan perikanan tambak di kawasan tersebut.
Kata kunci: muara sungai, tambak udang, limbah, kualitas air, baku
mutu air
ASPEK REPRODUKSI CUMI-CUMI (Sepioteuthis lessoniana Lesson, 1830)
Sharifuddin Bin Andy Omar
Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas
Hasanuddin
Jalan Perintis Kemerdekaan KM. 10, Makassar 90245, Telpon (0411) 5047060
– Faksimili (0411) 586025
E-mail: sb_andyomar@yahoo.com
Abstrak
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui beberapa aspek
reproduksi cumi-cumi Sepioteuthis lessoniana di perairan
Teluk Banten, Jawa Barat. Selama penelitian dilakukan, diperoleh 591
ekor cumi-cumi jantan dan 302 ekor betina. Ukuran terkecil cumi-cumi
jantan mencapai matang gonad adalah pada kisaran panjang mantel 80
– 89 mm, sedangkan cumi-cumi betina pada kisaran 120 –
129 mm. Cumi-cumi jantan maupun betina dibedakan atas empat tingkat
kematangan gonad. Rataan nisbah gonad – somatik bulanan cumi-cumi
jantan berkisar 0.1696 – 0.7562 dan yang betina 0.0300 –
3.0681, rataan nisbah nidamental – somatik cumi-cumi betina
berkisar 0.0240 – 2.7045, dan rataan indeks gonad cumi-cumi
jantan dan betina berturut-turut adalah 0.0013 – 0.0062 dan
0.0003 – 0.0204. Fekunditas parsial individu berkisar 175 –
1347 butir telur.
Kata kunci: cumi-cumi, Sepioteuthis lessoniana, aspek reproduksi.
PENDUGAAN ELASTISITAS PERMINTAAN IKAN DI DKI JAKARTA
Sonny Koeshendrajana1 dan Fitria Virgantari2
1 ) Peneliti sosial ekonomi perikanan dan kelautan pada Pusat Riset
Pengolahan Produk
dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, BRKP-DKP
Jalan Petamburan VI, SLIPI-Jakarta 10260.
Email: sonny_koes@yahoo.com
2) Dosen Statistika pada Jurusan Matematika, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Pakuan, Jalan Pakuan PO Box 452, Bogor.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pola konsumsi ikan di DKI
Jakarta dan mendapatkan analisis ekonometrik struktur permintaan konsumsi
protein hewani. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
tingkat konsumsi rumah tangga SUSENAS 2002 yang diperoleh dari Badan
Pusat Statistik. Pengeluaran belanja rumah tangga bernilai nol atau
tidak mengkonsumsi suatu jenis bahan pangan merupakan fenomena umum
dalam struktur data SUSENAS, tetapi hal ini merupakan suatu permasalahan
yang cukup serius ditinjau dari sudut pandang ekonometrik. Almost
Ideal Demand System (AIDS) model digunakan dalam kajian ini. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa elastisitas pendapatan dan elastisitas
harga masing-masing lebih besar dari pada satu (elastic) dan lebih
kecil dari pada satu (inelastic) serta lebih besar dari pada satu
(elastic), menunjukan produk ikan mempunyai pola pengeluaran elastic
dan inelastic. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan
data konsumsi bernilai nol berimplikasi pada pilihan metoda pendugaan
yang digunakan. Elastisitas yang dihasilkan oleh pendugaan metoda
kuadrat terkecil (OLS) dan metoda kemungkinan maksimum (ML) menunjukkan
angka yang berbeda. Dengan metoda OLS, elastisitas pendapatan produk
ikan yang diperoleh adalah 1,08 (dengan nol) dan 1,33 (tanpa nol);
sedangkan elastisitas harga ikan yang diperoleh adalah –0,79
(dengan nol) dan -1,10 (tanpa nol). Dengan metoda ML, elastisitas
pendapatan produk ikan yang diperoleh adalah 1,16 (dengan nol) dan
1,37 (tanpa nol), sedangkan elastisitas harga ikan yang diperoleh
adalah -0,83 (dengan nol) dan -0,89 (tanpa nol). Penyertaan data konsumsi
ikan bernilai nol mempunyai kecenderungan menurunkan nilai elastisitas
yang diperoleh.
Kata kunci: elastisitas ikan, AIDS, DKI Jakarta
LOBSTER AIR TAWAR : PROSPEK BARU IKAN HIDUP KONSUMSI DI INDONESIA
Syamdidi, Singgih Wibowo, Ema Hastarini
Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Keluatan dan Perikanan
Jakarta
Jl. KS Tubun Petamburan VI Jakarata Pusat 10260
(021) 53650157 - 53650158
Abstrak
Lobster air tawar merupakan salah satu jenis crustacea yang sedang
dikembangkan di Indonesia. Di dunia internasional, lobster air tawar
dikenal dengan sebutan crayfish, crawfish dan crawdad. Ada beberapa
jenis lobster yang sudah bisa dibudidayakan antara lain Procambarus clarkii, Cherax quadricarinatus (red claw), C. destructor, C. albertisi.
Yang terakhir merupakan lobster asli dari perairan Papua, Indonesia.
Prospek budidaya lobster air tawar sangat cerah karena memiliki nilai
ekonomis tinggi dan pasar masih terbuka lebar. Lobster air tawar tidak
membutuhkan perawatan secara intensif, budidayanya relatif gampang
jika dibandingkan dengan budidaya jenis udang lain. Selain mudah dibudidayakan,
lobster air tawar memilki ketahanan tubuh yang kuat, tidak mudah terserang
penyakit, termasuk jenis omnivora dan memiliki daya bertelur tinggi
dengan siklus 3 – 5 kali per tahun. Selain memiliki sosok fisik
yang menarik untuk dijadikan sebagai ikan hias, lobster juga dimanfaatkan
untuk konsumsi karena dagingnya lebih sehat dibanding makanan laut
lainnya. Ia rendah lemak, kolesterol dan garam. Tekstur dan rasa tidak
berbeda dengan lobster air laut. Tes organoleptik di Auburn, Alabama,
menunjukkan lobster air tawar mempunyai rasa dan tekstur yang mirip
dengan lobster laut. Sampai saat ini, kegiatan budidaya lobster hanya
terbatas untuk kebutuhan ikan hias padahal permintaan untuk kebutuhan
konsumsi jauh lebih besar. Permintaan konsumsi domestik paling besar
datang dari supermarket dan restoran. Peluang ekspor pun terbuka lebar
pasalnya, Australia sebagai produsen utama di dunia dengan produksi
400 ton per tahun sekitar 65% masih diserap untuk kebutuhan lokal.
Permintaan terhadap konsumsi ikan hidup terus meningkat. Lobster dapat
ditransportasi hidup dengan sistem kering selama lebih dari 24 jam
dengan tingkat mortalitas yang cukup rendah. Indonesia seharusnya
memanfaatkan peluang tersebut karena prospek lobster air tawar ini
sangat menjanjikan dengan tingkat permintaan dan harga yang tinggi.
Key words : Lobster, transportasi, ikan hidup
ANALISIS LAJU TANGKAP DAN ASPEK BIOLOGI UDANG HASIL TANGKAPAN BUBU
DI PERAIRAN KALI PANTAI KABUPATEN KULON PROGO DAN PURWOREJO
Yuni Farina, Soeparno dan Eko Setyobudi
Jurusan Perikanan dan Kelautan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perikanan tangkap
di perairan Kali Pantai Kabupaten Kulon Progo dan Purworejo, khususnya
tentang laju tangkap dan aspek biologi udang hasil tangkapan bubu.
Kali Pantai merupakan daerah pasang surut dan genangan musiman antara
muara Sungai Bogowonto dan muara Sungai Cokroyasan. Beberapa aspek
biologi yang dikaji dalam penelitian ini yaitu distribusi frekuensi
panjang total dan berat serta reproduksi udang yang terdiri dari nisbah
kelamin dan kondisi telur. Lokasi penelitian dibagi menjadi 5 stasiun
yaitu stasiun Congot, Jatikontal, Jatimalang, Pagak dan Keburuhan.
Stasiun pengamatan tersebut ditentukan dengan metode purposive sampling.
Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 4 kali selama bulan September-Oktober
2004.
Laju tangkap total udang hasil tangkapan bubu berkisar antara 0,5
– 40,9 gr/jam dengan nilai rerata sebesar 8,2 gr/jam. Jenis
udang hasil tangkapan bubu meliputi udang Macrobrachium, Palaemon,
Metapenaeus dan Penaeus. Udang Penaeus memiliki kisaran panjang total
(3,5-17 cm) dan berat (0,3-28 gr) paling lebar dibandingkan dengan
jenis udang yang lain, sedangkan udang Palaemon memiliki kisaran panjang
total (2,5-6,1 cm) dan berat (0,3-2 gr) paling sempit dibandingkan
dengan jenis udang yang lain. Panjang total udang Macrobrachium berkisar
antara 3,6-10,5 cm dengan berat berkisar antara 0,4-7 gr dan udang
Metapenaeus memiliki kisaran panjang total 3,6-12 cm dan berat 0,2-12
gr. Nisbah kelamin udang Macrobrachium 1:1, sedangkan nisbah kelamin
udang Metapenaeus, Palaemon, dan Penaeus 1:1. Udang Macrobrachium
yang berada dalam keadaan bertelur sebesar 40%, sedangkan udang Palaemon
yang bertelur sebesar 27,4%.
Kata kunci: laju tangkap, aspek biologi, udang, bubu, perairan Kali
Pantai
ANALISIS USAHA PEMBENIHAN KERAPU MACAN Epinephalus fuscoguttatus
PADA SKALA RUMAH TANGGA DI PESISIR PANTAI KECAMATAN GEROKGAK BULELENG
BALI UTARA
Anak Agung Alit
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol
Po Box 140 Singaraja 8115 Bali. Telp. (0362) 92278 Fax. (0362) 92272
Abstrak
Ikan kerapu macan Epinepphalus fuscoguttatus merupakan komoditas
ekspor yang mempunyai pangsa pasar tinggi, usaha pembenihan di hatcheri
skala rumah tangga (HSRT) dan pembesaran budidayanya di kurung jaring
apung (KJA) mempunyai prospek baik dan berpeluang menguntungkan. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha pembenihan ikan kerapu
macan E. fuscoguttatus di hatcheri skala rumah tangga (HSRT) dii sekitar
Kecamatan Gerokgak Kab. Buleleng. Data dikumpulkan berasal dari kegiatan
usaha darii bulan oktober 2004- Maret 2005. Telur ditebar pada bak-bak
penetasan dengan bak beton. Perlakuan yang diuji adalah A = 75.000
butir/vol. 9 ton, dan B = 100.000 butir/vol. 9 ton. Hasil analisis
menunjukkan bahwa secara ekonomi usaha pembenihan memberikan keuntungan
bersih pada perlakuan A = Rp 68.790.000, dan perlakuan B = Rp 66.700.000.
Harga jual pada waktu panen Rp 4000/ekor dengan panjang tubuh 5-6
cm dengan titik impas 24.200.000–Rp 32.469.135, dan jangka waktu
pengembalian 0.53-0.72 dengan B/C rasio 2.38-2.87. Dengan demikian,
usaha pembenihan pada hatchery skala rumah tangga (HSRT) bisa dikembangkan.
Kata kunci: analisis usaha, pembenihan, kerapu macan Epinepphalus
fuscoguttatus, skala rumah
tangga, Buleleng, Bali Utara.
SUMBERDAYA KARANG DAN IKAN KARANG DI PERAIRAN SELAT NASIK KABUPATEN
BELITUNG, PROPINSI BANGKA-BELITUNG
Asikin Djamali1) , Badrudin2), Riko Siringoringo1) dan Parino1)
1) Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta
2) Balai Riset Perikanan Laut, Pusat Riset Perikanan Tangkap, DKP,
Jakarta
Abstrak
Sumber daya ikan karang adalah jenis-jenis ikan yang sebagian besar
dari masa kehidupannya berada pada habitat terumbu karang. Secara
umum, dengan metode RRA diperoleh persentase tutupan rata-rata karang
hidup adalah 30 %. Dari 12 titik pengamatan (stasiun) di sekitar Pulau
Batu Dinding, Stasiun 1 dan Stasiun 10 memperoleh persentasi tutupan
karang tertinggi yaitu 46 %, sedangkan untuk tutupan Acropora tertinggi
terjadi pada stasiun 5 yaitu 26 %. Tiga kelompok ikan karang yang
diteliti pada sekitar bulan Juli 2004, adalah kelompok ikan mayor,
ikan terget dan ikan indikator. Dari indikasi dua indeks keanekaragaman
yang dianalisis yaitu Indeks Shannon dan Indeks Simpson tampak bahwa
pada saat transek dilakukan, kelompok ikan mayor yang sebagian besar
terdiri dari jenis-jenis ikan hias masih menunjukkan keanekaragaman
yang cukup tinggi dan keanekaragaman kelompok ikan target sudah menurun.
Dari indikasi tersebut tersirat bahwa kondisi terumbu karang di perairan
Selat Nasik sekitar Pulau Batu Dinding dan Pulau Langir, Belitung,
yang merupakan habitat bagi sebagian besar ikan hias berada pada kondisi
antara cukup baik dan sedang . Hal ini dicerminkan oleh nilai indeks
keanekaragaman ikan mayor; H > 3 sedangkan kelompok ikan target
; H >2 . Kelompok ikan hias yang merupakan indikator baik-buruknya
kondisi lingkungan perairan karang, yaitu jenis-jenis ikan kepe-kepe
(Chaetodontidae) sudah sangat menurun. Berdasarkan angka indeks keanekaragaman
kelompok ikan indikator tersebut dapat dikatakan bahwa kondisi lingkungan
perairan karang di wilayah Selat Nasik diduga sudah berada pada kondisi
yang buruk.
Kata kunci : sumber daya karang, ikan karang, keanekaragaman, Selat
Nasik – Belitung.
STRUKTUR KOMUNITAS MAKROZOOBENTOS YANG BERASOSIASI DENGAN LAMUN PADA
PANTAI BERPASIR DI JEPARA
Danu Wijaya
Staf Peneliti Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang
Jl. Beringin no.308 Mariana Palembang Telp.0711-537194, Fax.0711-537205
e-mail : brppu_palembang@telkom.net, van_danoe@myself.com
Abstrak
Kelimpahan makrozoobentos sangat penting pengaruhnya terhadap struktur
rantai makanan pada ekosistem pantai. Makrozoobentos bersifat relatif
menetap pada dasar perairan. Kehidupan organisme bentik sangat dipengaruhi
oleh kondisi lingkungannya baik fisik, kimia maupun biologi. Lamun
merupakan komunitas yang memberikan habitat bagi makrozoobentos. Tujuan
dari penelitian ini adalah mengetahui komposisi, keanekaragaman, kelimpahan,
keseragaman dan dominansi serta perbedaan struktur komunitas makrozoobentos
pada Padang Lamun di Pantai Bandengan dan Pantai Pulau Panjang. Penelitian
ini dilaksanakan September-Oktober 2003 di Pantai Bandengan dan Pulau
Panjang. Materi penelitian adalah makrozoobentos dan lamun. Metode
yang digunakan dalam penelitian adalah deskriptif dan observasi lapangan.
Hasil dalam penelitian ini diperoleh menunjukkan semakin tinggi kerapatan
lamun, makrozoobentos cenderung melimpah. Makrozoobentos yang mendominasi
berasal dari kelas Polychaeta.
Kata kunci : komunitas, makrozoobentos, lamun.
KAJIAN HUKUM ADAT PERIKANAN MENUJU ERA BARU UNDANG UNDANG
PERIKANAN NO. 31 TAHUN 2004 DI KABUPATEN MALANG DAN KABUPATEN PASURUAN
PROVINSI JAWA TIMUR
Djoko Tribawono,1 Samsul Huda2
1) Alumnus Perikanan UGM Tahun 1969/Dosen LB PS Budidaya Perairan
FKH-UNAIR/ISPIKANI JATIM
dtribawono @yahoo.com (031) 8414841- (031) 70116676, HP 0811319272
2) Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPM) – UNITOMO
Jl. Semolowaru No. 84 Surabaya
Pengantar
Provinsi Jawa Timur dikelilingi Laut Jawa di sebelah Utara, Selat
Bali disebelah Timur dan disebelah Selatan Samudera Hindia.. Disekitar
Pulau Madura (belahan timur dan diperairan Selat Madura) terdapat
beberapa pulau, Pulau Bawean (Kabupaten Gresik) serta pulau-pulau
di belahan selatan kesemuanya sekitar 81 pulau. Luas perairan laut
termasuk Zona Ekonomi Eksklusif diprakirakan + 200.000 km2; sengan
segala macam jenis sumberdaya ikan ekonomis penting yang laku di pasar
dalam negeri dan mancanegara (Anonim, 2002)
Keragaman kondisi sosial budaya antar daerah kabupaten/kota di kawasan
pesisir Jawa Timur tentu saja memberikan dampak yang berbeda dalam
melakukan kegiatan usaha pengelolaan sumberdaya perikanan di perairan
laut dekat wilayahnya masing-masing. Mengingat potensinya kondisi
Jawa Timur mempunyai peluang bagi pengembangan sumberdaya perikanan;
namun demikian sisi lain dihadapkan tantangan pencemaran laut, gejala
tangkap lebih (over fishing), degradasi fisik habitat pesisir, konflik
penggunaan ruang dan sumberdaya, pencurian ikan dan pembuangan limbah,
serta kemiskinan penduduk pesisir
Dengan kerangka otonomi daerah berdasar UU No 22 Tahun 1999 yang telah
diubah dengan UU No. 32 Tahun 2005 tentang Pemerintahan Daerah; maka
kebijakan Pembangunan Perikanan dan Kelautan Jawa Timur harus berbasis
regional; yaitu memanfaatkan potensi sumberdaya alam guna mendorong
pertumbuhan ekonomi daerah yang berorientasi pemberdayaan ekonomi
kerakyatan. Faktor lain sebagai pendorong keberhasilan pengelolaan
sumberdaya perikanan adalah perangkat peraturan yang dapat mendukung
terwujudnya pengelolaan sumberdaya perikanan berkelanjutan (sustainable
fisheries). Peraturan dimaksud dapat berupa kebiasaan yang dilakukan
masyarakat nelayan di daerah tertentu, seperti Hak Masyarakat Hukum
Adat Perikanan (Hukum Adat Perikanan), maupun peraturan-peraturan
lain yang sudah diformalkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
PERKIRAAN MUSIM DAN KOMPOSISI IKAN HASIL TANGKAPAN NELAYAN DI PANTAI
TRISIK KULON PROGO
Eko Setyobudi dan Supardjo, SD.
Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah
Mada
Jl. Flora Bulaksumur Yogyakarta 55281 Telp. (0274) 7490190, Faks.
(0274) 551218
E-mail : setyobudi_dja@ugm.ac.id
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui musim dan komposisi ikan
hasil tangkapan nelayan di Pantai Trisik. Pengumpulan data dilakukan
melalui penelusuran catatan hasil pelelangan ikan yang terdapat pada
Surat Pengambilan Uang (SPU) TPI Trisik yang berisi catatan jenis
dan produksi ikan yang tertangkap oleh nelayan. Perkiraan musim ikan
dilakukan dengan menganalis rerata produksi tiap jenis ikan pada setiap
bulan selama kurun waktu 3 (tiga) tahun. Analisis data dilakukan dengan
mengelompokkan jenis-jenis ikan yang tertangkap tiap bulan serta jumlah
produksinya. Hasil penelitian menunjukan bahwa musim ikan terjadi
pada bulan Oktober hingga April sedangkan musim paceklik terjadi pada
bulan Juni hingga Agustus. Jenis ikan yang tertangkap didominasi oleh
ikan demersal antara lain bawal putih (Pampus argenteus), bawal hitam
(Formio niger), layur (Trichiurus spp.), cucut (Carcharhinus sp.),
kakap (Lutjanus sp.), manyung (Arius sp.), talang (Charinemus sp.)
dan ikan pelagis kecil seperti tongkol (Euthynus sp.), cakalang (Katsuwonus
sp.) dan tengiri (Scomberomorus sp.).
Kata kunci : musim ikan, komposisi tangkapan, TPI, Pantai Trisik
Studi Pengaruh Pemberian Zooxanthellae Karang Terhadap Kelangsungan
Hidup dan Panjang Cangkang Larva Kima Tridacna squamosa
Hendry Jampiter, Donny B S, Ambariyanto, Delianis Pringgenies
Jurusan Ilmu Kelautan, FPIK, Universitas Diponegoro
Kampus Tembalang, Semarang, Indonesia. Email. marine_hen@Yahoo.com
Abstrak
Zooxanthellae dikenal sebagai algae dinoflagelata yang hidup bersimbiosis
dengan invertebrata laut termasuk koral dan kima (giant clams). Zooxanthellae
yang diintroduksikan kepada larva kima dalam usaha budidaya kima biasanya
diambil dari induk kima yakni dengan mengorbankan (mematikan) kima
dewasa. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mencari sumber
zooxanthellae alternatif yang bisa digunakan, dimana salah satu sumber
yang bisa digunakan adalah karang Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh introduksi zooxanthellae yang diisolasi dari karang terhadap
kelangsungan hidup dan panjang cangkang larva kima Tridacna squamosa.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa introduksi zooxanthellae
dari karang berpengaruh meningkatkan kelangsungan hidup dan panjang
cangkang larva kima T. squamosa.
Kata kunci : kima, zooxanthellae, kelangsungan hidup, panjang cangkang.
KLASIFIKASI LOKASI BUDIDAYA KEKERANGAN BERDASAR PENENTUAN KANDUNGAN
Faecal coliform, Escherchia coli, MERKURI (Hg) DAN TIMAH (Pb) DI PERAIRAN
TELUK LAMPUNG
Julinasari Dewi, Margie Brite, Hendrianto dan P. Hartono
Abstrak
Kekerangan merupakan hewan filter feeder yang mempunyai kemampuan
mencari makan dengan menyaring bahan-bahan organik dan logam-logam
berat yang dapat larut dalam air. Dalam proses tersebut dapat terkumpul
bakteri patogen dan senyawa beracun yang dapat membahayakan bagi manusia
yang mengkonsumsi kekerangan tersebut. Escherchia coli merupakan salah
satu bakteri coliform yang secara normal hidup dalam usus manusia
dan binatang-binatang yang berdarah panas, oleh karena itu hadirnya
Escherchia coli dalam makanan atau air menunjukkan adanya kontaminasi
kotoran. Untuk menunjang kegiatan sanitasi budidaya kekerangan perlu
dilakukan survei perairan guna menentukan klasifikasi perairan yang
sesuai dengan Program Sanitasi Kekerangan Departemen Kelautan dan
Perikanan, dalam hal ini dibagi menjadi empat (4) kelas. Metoda analisis
Faecal coliform dan Escherchia coli mengacu pada SNI 01-2332-1991/M6,
analisis kandungan merkuri mengacu pada SNI 01-2364-1991/K19 dan analisis
kandungan timbal pada SNI 01-2368-1991. Hasil pemantauan terhadap
lima (5) lokasi budidaya di Teluk Lampung menunjukkan bahwa empat
lokasi masuk dalam klasifikasi kelas A (Tarahan, P. Puhawang, Teluk
Hurun dan Tanjung Putus) dan satu lokasi masuk klasifikasi kelas C
(lokasi Ringgung) karena angka Faecal coliform , Escherchia coli dan
kandungan timah (Pb) melebihi persyaratan minimal yang diperbolehkan.
Kata kunci: filter feeder, Faecal coliform, Escherchia
coli, Merkuri, Timbal
VARIASI KANDUNGAN NITROGEN DAN PHOSPHAT DI PERAIRAN TELUK HURUN LAMPUNG
SELATAN (2000 – 2004)
Muawanah, Philipus Hartono, Hendrianto dan Atri Triana K.
Laboratorium Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Balai Budidaya laut
Hanura, Padang Cermin – Lampung Selatan, Fax & Telp. 0721-471379
E-mail : awanah_tj@yahoo.com
Abstrak
Teluk Hurun merupakan salah satu tempat kegiatan pembudidayaan berbagai
komoditas ikan dengan sistim keramba jaring apung. Keberadaan kegiatan
budidaya tersebut sudah barang tentu turut memberikan masukan beban
nutrien di perairan sekitar lokasi keramba. Selain itu, masuknya air
buangan dari daratan atau estruari baik secara langsung maupun melalui
aliran sungai dan kanal juga sangat mendukung terjadinya peningkatan
kandungan nutrien di perairan Teluk Hurun. Hasil pengamatan yang dilakukan
di tiga stasiun menunjukan adanya kecenderungan peningkatan kandungan
nitrogen dan phosphat, dimana nilai rerata tahunan di stasiun III
dan II lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun I. Kandungan nitrogen
di stasiun I mempunyai kisaran antara 0,004 – 3,012 ppm dengan
nilai rerata tahunan antara 0,051 – 0,246 ppm, di stasiun II
berkisar antara 0,005 – 2,823 ppm dengan nilai rerata tahunan
antara 0,078 – 0,247 ppm, sedangkan di stasiun III nilai kisarannya
antara 0,006 – 2,942 ppm dan nilai rerata tahunan antara 0,084
– 0,260 ppm. Sedangkan kandungan phosphat nilai kisaran dan
nilai rerata tahunan dari ketiga stasiun pengamatan yaitu ; stasiun
I diperoleh nilai kisaran antara 0,0002 – 0,8401 ppm dengan
nilai rerata tahunan antara 0,005 – 0,068 ppm, stasiun II nilai
kisaran antara 0,0001 – 0,3190 ppm dan nilai rerata tahunan
antara 0,011 – 0,021 ppm dan untuk stasiun III diperoleh nilai
kisaran antara 0,0001 – 0,110 ppm dengan nilai rerata tahunan
antara 0,012 – 0,220 ppm.
KONDISI TERUMBU KARANG DI PERAIRAN TAMAN NASIONAL LAUT WAKATOBI
Nurul D.M. Sjafrie, Agus Budiyanto dan Rikoh Siringo-ringo
Abstrak
Kepulauan Wakatobi terletak di pertemuan Laut Banda dan Laut Flores.
Wakatobi merupakan singkatan dari nama 4 pulau besar yang ada di kawasan
tersebut, yaitu pulau Wangi-wangi, Pulau Kaledupa Pulau Tomia dan
pulau Binongko. Kawasan Wakatobi ditetapkan sebagai Taman Nasional
berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 393/Kpts-VI/1996
tanggal 30 Juli 1996. dengan luas 1.390.000 hektar. Penelitian tentang
kondisi terumbu karang di Kepulauan Wakatobi telah dilakukan pada
bulan September - Oktober 2001. Lokasi penelitian meliputi 3 pulau
dan 1 atol, yaitu Pulau Wangi-wangi, Pulau Kaledupa Pulau Tomia, Atol
Kaledupa. Pengamatan dilakukan dengan 3 cara yaitu secara kualitatif,
semi kuantitatif dan kuantitatif. Pengamatan kualitatif dilakukan
secara visual dengan mengamati profil habitat yang dilakukan di rataan
terumbu karang sampai kedalaman dimana karang masih tumbuh. Pengamatan
semi kuantitatif dilakukan dengan metode Rapid Reef Resource Assessment
(RRA). RRA dilakukan pada 256 titik pengamatan di rataan terumbu/reef
top dan lereng terumbu/reef edge. Pengamatan kuantitatif dilakukan
dengan metoda Line Intercept Transect (LIT) di 8 tititk pengamatan.
Hasil pegamatan kualitatif menunjukkan bahwa di pulau Wangi-wangi
tercatat 131 jenis karang keras, 174 jenis di pulau Kaledupa, 146
jenis di pulau Tomia, 163 jenis dan 238 jenis di atol Kaledupa. Hasil
pengamatan kuantitatif menunjukkan bahwa persentasi tutupan karang
hidup di pulau Kaledupa sebesar 49,59%, pulau Tomia 42,71% dan atol
Kaledupa 37,57%. Kondisi terumbu karang di perairan Wakatobi tergolong
sedang sampai baik.
Kata kunci: jumlah jenis, karang keras, persen tutupan, Wakatobi
PENGARUH SUBSTRAT DAN KEDALAMAN AIR TERHADAP PERTUMBUHAN TIRAM Saccostrea cucculata
Petrus A. Wenno, Magdalena Latuihamallo dan Bethsy J. Pattiasina
E-mail : petrano_unpatti@yahoo.com
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan – Universitas Pattimura
Abstrak
Penelitian mengenai penempelan larva tiram Saccostrea cucculata pada
substrat untuk kepentingan budidaya telah dilakukan di Teluk Ambon
bagian Dalam (TAD). Kegiatan ini ditujukan sebagai upaya untuk memperoleh
benih tiram dalam bentuk spat yang tumbuh cepat, tetapi dalam jumlah
individu yang besar pada kedalaman optimal. Sejumlah kolektor yang
terdiri atas: batu hitam, campuran ijuk-semen dan potongan ban-dalam
ditempatkan secara acak dan bersama-sama pada rak kayu dengan ketinggian
50, 100 dan 150cm dari dasar laut pada saat air surut. Kondisi hidrologi
perairan selama penelitian ini berlangsung berada pada kisaran suhu
23-31 oC, salinitas 29-31‰, dan pH 6,7-8,3. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa campuran ijuk-semen lebih efektif sebagai substrat
untuk penempelan larva tiram dibandingkan kedua kolektor yang lain.
Sedangkan, penempelan larva pada kedalaman 50cm dari dasar laut lebih
efektif dibandingkan kedua kedalaman yang lain.
Kata-kata kunci : Saccostrea cucculata, spat, kolektor
PERSEPSI MASYARAKAT PERIKANAN TERHADAP PEMBENTUKAN DAN PENGORGANISASIAN
SISTEM PELELANGAN IKAN
Sastrawidjaja, Zahri Nasution dan Tajerin
Pusat Riset Pasca Panen dan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan
Abstrak
Ketangguhan dan kemampuan manusia untuk menjamin kelangsungan hidup
menuju kejayaan dan kesejahteraan dirinya ditentukan pula oleh perpaduan
dari seluruh kondisi dinamik dari semua segi kehidupan. Salah satu
faktor yang mempengaruhi hubungan manusia dengan lingkungan hidup
adalah bagaimana persepsi manusia (masyarakat) terhadap lingkungannya
termasuk lingkungan sosial (kebijakan dan atau pengaturan) yang berhubungan
dengan kehidupan mereka). Sistem pelelangan ikan sebagai suatu sistem
yang dicanangkan pemerintah guna meningkatkan pendapatan masyarakat
nelayan seharusnya dapat dimengerti oleh pengguna secara baik dan
utuh. Penelitian untuk mengetahui persepsi masyarakat perikanan terhadap
pembentukan dan pengorganisasian sistem pelelangan ikan telah dilakukan
di Jawa dan Sumatera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua
bangunan TPI tersebut dimanfaatkan optimal, bahkan ada yang terbengkalai.
Hal ini antara lain sebagai akibat belum adanya peran masyarakat dalam
memberdayakan sarana, prasarana dan infrastruktur yang telah dibangun
atau jika pun ada sangat kecil dan rendah. Disarankan bahwa dalam
menetapkan rancangan pengaturan pelelangan ikan seyogyanya masyarakat
nelayan atau organisasi masyarakat nelayan diikut-sertakan terutama
dalam perencanaan lokasi pembangunan TPI, penentuan besarnya retribusi
dan pembebanannya serta dalam pelaksanaan dan pengawasan pelelangan
ikan.
Kata kunci : persepsi, masyarakat perikanan, sistem pelelangan ikan
ANALISIS SPASIAL PENGELUARAN RUMAH TANGGA UNTUK PANGAN PRODUK PERIKANAN
TERHADAP PRODUK PANGAN DI INDONESIA DALAM RANGKA MENDUKUNG KETAHANAN
PANGAN DAERAH
Siti Hajar Suryawati dan Sonny Koeshendrajana
Peneliti pada Pusat Riset Pengolahan Produk dan Sosial Ekonomi Kelautan
dan Perikanan, BRKP-DKP
Jl. KS Tubun Petamburan VI Slipi Jakarta 10260. Telp : 021-53650157;
Fax : 53650158
e-mail: siti_suryawati@yahoo.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan mendapatkan data spasial pola pengeluaran
rumah tangga pada produk perikanan terhadap produk pangan di Indonesia
yang dilakukan pada tahun 2004. Metode yang digunakan adalah eksploratif-deskriptif
dan penelusuran literatur. Data SUSENAS tahun 1993, 1996, 1999 dan
2002 dianalisis secara deskriptif statistik. Hasil analisis menunjukkan
bahwa proporsi tingkat pengeluaran produk perikanan terendah terdapat
di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sedangkan tertinggi di Propinsi
Sulawesi Selatan. Hasil tersebut memberikan saran bahwa upaya peningkatan
produksi ikan perlu ditingkatkan di lokasi tersebut.
Kata kunci: analisis spasial, pangsa pengeluaran ikan, pangsa pengeluaran
pangan, Indonesia
KELAYAKAN USAHA PENANGKAPAN IKAN DI KUARU, SRANDAKAN, BANTUL
Sugeng Widodo dan Sinung Rustijarno
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta
Abstrak
Usaha penangkapan ikan merupakan andalan nelayan di Pantai Selatan
khususnya di Kuawu, Bantul. Dan merupakan salah satu penyumbang PAD
bagi Kab Bantul; Oleh sebab itu iklim kondusif dari pemerintah diperlukan
agar peningkatan produktivitas tangkapan, harga jual dan kemudahan
kredit untuk pengembangan usaha ini. Lokasi penelitian merupakan salah
satu daerah sentra penangkapan ikan yang potensial yaitu di Ds Kuaru,
Ds Poncosari Kec Srandakan Bantul. Penelitian dilakukan pada bulan
September s.d. Oktober 2004, dengan cara wawancara secara terbuka
dan kuisioner yang telah dipersiapkan sebelumnya. Penentuan lokasi
secara sengaja (purposive), dengan jumlah responden ditentukan secara
random adalah 15 nelayan yang tergabung dalam kelompok Fajar Arum.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) dari penangkapan ikan di musim
ikan sekitar 70% yaitu Rp 6,094,97/ tahun. Nilai Net Present Vaule
positif yaitu Rp 6,109,737 artinya bahwa usaha investasi dengan penangkapan
ikan dengan kapal yang dilakukan layak., (2) Pada musim ikan, bilamana
dilihat dari rasio B/C di lokasi penelitian layak dan menguntungkan
dengan nilai rasio B/C > 1, yaitu 1,45. Sedangkan terhadap tingkat
pengembalian modal (Internal Rate Return/IRR) juga memberikan nilai
IRR aktual > IRR estimate, yaitu 29% dari IRR estimate 6%. (3)
Pada musim paceklik, penangkapan ikan turun drastis, didapatkan Nilai
Net Present Vaule (NPV) bernilai negatif yaitu Rp 4,005,731 artinya
bahwa usaha investasi dengan penangkapan ikan dengan kapal yang dilakukan
tidak layak. Artinya bahwa selama investasi yang dilakukan akan menghasilkan
total kerugian sebesar Rp 4,005,731 menurut nilai sekarang. (4) Ditinjau
dari analisa rasio B/C di musim paceklik tidak layak dengan nilai
rasio B/C < 1, yaitu 0,72. Sedangkan terhadap tingkat pengembalian
modal (Internal Rate Return/IRR) juga memberikan nilai IRR aktual
< IRR estimate, yaitu – 5% dari IRR estimate 6% (sesuai bunga
yang berlaku saat penelitian).
Kata kunci: Usaha penangkapan ikan, Kelayakan, Musim Ikan, Musim
Paceklik
SUMBERDAYA IKAN HIAS BOTIA (Botia macracanthus) DI DAS BATANGHARI,
JAMBI
Syarifah Nurdawati
Balai Riset Perikanan Perairan Umum
Jalan Beringin 308 Mariana Palembang (30736) E-mail : syarifa9@yahoo.com
Abstrak
Ikan botia (Botia macracanthus) adalah salah satu ikan hias
ekonomis penting yang merupakan komoditi ekspor. Ikan hias botia berasal
dari beberapa DAS di Sumatera dan Kalimantan. Penyebaran benih ikan
botia di daerah banjiran sepanjang sungai Batanghari mulai dari terusan
sampai ke Londerang pada musim penghujan. Penyebaran induk ikan botia
mulai dari Muara Tembesi sampai Dusun Teluk Kayu Putih. Gonad ikan
botia terdiri dari 2 belahan yaitu bagian kiri dan kanan, telur berwarna
hijau dengan diameter berkisar antara 0,52-0,99 mm. jumlah telur/g
gonad berkisar antara 675-1.358 butir. Berdasarkan penyebaran diameter
telur, pola pemijahan ikan botia termasuk dalam total spawner. Ikan
botia termasuk dalam golongan ikan omnivora namun cenderung pemakan
hewan (karnivora). Penangkapan dilakukan dengan alat tangkap tabung
(trap pot), tangkul dan alat tangkap jala (lift net) dan pukat (gill
net) untuk penangkapan induk, alat tangkap yang digunakan tergantung
pada musim. Penangkapan ikan botia sudah sangat intensif sekali dimana
induk-induk ikan botia yang hidup dibagian hulu sungai banyak ditangkap
dan diperdagangkan sedangkan benih-benih di bagian hilir sungai ditangkap
untuk diperdagangkan sebagai ikan hias.
Kata kunci :sumberdaya, Botia macracanthus, habitat, aktifitas penangkapan