PROSIDING TAHUN 2004

Bidang Budidaya Manajemen Sumberdaya Perikanan

HUBUNGAN KOMPOSISI DAN BIOMASSA FITOPLANKTON DENGAN UNSUR HARA (N DAN P) DI LOKASI BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG DI WADUK IR. H. DJUANDA JATILUHUR JAWA BARAT

Chairulwan Umar dan Lies Setijaningsih

ABSTRAK
Pelaksanaan penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai Juli 2002 di sekitar lokasi budidaya ikan dalam Keramba Jaring Apung (KJA) di waduk Ir.H Djuanda Jatiluhur. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan komposisi dan biomassa fitoplankton dengan kandungan unsur hara (N dan P) di lokasi KJA dan di luar lokasi KJA. Pengambilan sampel air dan sampel fitoplankton dilakukan di sekitar lokasi KJA sebanyak 3 stasiun dan di luar KJA 2 stasiun pada kedalaman air 0.5, 1, 2, dan 4 m.. Pengukuran unsur hara, biomassa dan identifikasi fitoplankton dilakukan di laboratorium Loka Riset Pemacuan Stok Ikan Jatiluhur.
Hasil Penelitian menunjukkan bahwa ditemukan sebanyak 30 genera dari 4 kelas yaitu Chlorophyceae 11 genera dengan spesies dominannya adalah Staurastrum, Zygnema dan Scenedesmus; Cyanophyceae 9 genera dengan spesies dominan Oscillatoria, Merismopedia, Anabaena; Bacillariophyceae 8 genera dengan spesies dominan yaitu Synedra, Diatoma dan Fragillaria dan Dinophyceae 2 genera dengan spesies dominan Ceratium. Biomassa fitoplankton yang ditemukan berkisar antara 1.14 – 1786.20 mg/m3 dengan rata-rata biomassa tertinggi sebesar 378.35 mg/m3 terjadi di stasiun IV kedalaman 1 m. Sedangkan rata-rata terendah ditemukan pada stasiun II kedalaman 2 m yaitu sebesar 41.14 mg/m3. Rata-rata kandungan unsur hara yang ditemukan yaitu nitrat berkisar 0.357 – 0.626 mg/l, ammonium 0.331– 0.802 mg/l dan ortofosfat 0.490–0.799 mg/l.
Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan bahwa adanya keterkaitan yang kecil dan kurang signifikan antara unsur hara dan kandungan biomassa fitoplankton antar stasiun dan antar kedalaman di perairan waduk Ir.H. Djuanda dan Jatiluhur.

Kata kunci: biomassa fitoplankton, keramba jarring apung, nitrogen, phosphor, waduk Jatiluhur

 

BEBERAPA SIFAT KIMIA DAN FISIKA AIR LAUT DI EKOSISTEM KORAL (TERUMBU KARANG) DI PULAU NIAS BAGIAN TIMUR, SUMATERA UTARA

Edward
Balai Dinamika Laut P2O-LIPI Jakarta

ABSTRAK
Pengukuran beberapa sifat kimia dan fisika air laut di ekosistem koral Pulau Nias bagian timur telah dilakukan pada bulan Mei sampai Juni 2004. Sifat kimia air laut yang diukur adalah kadar garam (salinitas), kadar zat hara fosfat dan nitrat, nitrit, oksigen terlarut dan pH, sifat fisika adalah kecerahan, warna, bau, lapisan minyak, benda padat terapung dan zat padat tersuspensi. Pengambilan contoh air laut di masing-masing lokasi dilakukan pada 11 stasiun pengamatan. Penetapan posisi stasiun dilakukan dengan GPS secara purposive sesuai dengan tujuan penelitian. Kadar garam ditentukan dengan salinometer, kadar zat hara fosfat dan nitrat, nitrit secara spektrofotometri, oksigen terlarut secara titrimetri dan pH secara elektrometri, kecerahan, warna, lapisan minyak, benda padat terapung secara visual, bau secara organoleptik dan zat padat tersuspensi secara gravimetri. Hasilnya menunjukkan bahwa sifat kimia dan fisika air laut di perairan ini relatif masih baik untuk kepentingan biota, koral, dan wisata bahari. Kerusakan terumbu karang di ketiga daerah ini bukan disebabkan karena pengaruh sifat kimia dan fisika air laut, tetapi akibat penggunaan bahan peledak dan bahan kimia.

 

KONDISI HIDROLOGI DI TELUK KOTANIA DALAM KAITANNYA DENGAN TERUMBU KARANG

Fasmi Ahmad1, Muhajir2, dan Edward1
1) Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Jakarta
2) Fakultas Perikanan Universitas Khairun, Ternate

ABSTRAK
Pengamatan kondisi hidrologi telah dilakukan di Teluk Kotania pada selang waktu tahun 1982-1992. Hasilnya menunjukkan bahwa suhu berkisar antara 27.50-33.0 °C, salinitas antara 21.83-34.76 ppt, kecerahan antara 6 m sampai tampak dasar, nitrate antara 0.18-3.51 µg.at/l, fosfat antara 0.21-3.72 µg.at/l, oskigen terlarut antara 3.99-7.15 ppm, total zat padat tersuspensi antara 0.012-0.068 ppm, dan pH antara 8.11-8.40. Hasil pengamatan ini masih baik untuk pertumbuhan dan perkembangan terumbu karang, dan masih sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh KMNKLH (1988) untuk berbagai kepentingan. Kerusakan terumbu karang di perairan ini bukan disebabkan oleh variasi kondisi hidrologi, akan tetapi disebabkan oleh bahan peledak yang digunakan oleh nelayan untuk menangkap ikan dan sebagai bahan bangunan.

Kata kunci: hidrologi, Teluk Kotania, terumbu karang

 

KESUBURAN PERAIRAN TELUK BULI, HALMAHERA MALUKU UTARA DITINJAU DARI KANDUNGAN ZAT HARA FOSFAT

Fasmi Ahmad1, Muhajir2 dan Edward3
1) Stasiun Penelitian Lapangan, P2O-LIPI Ternate
2) Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Khairun, Ternate
3) Bidang Dinamika Laut P2O-LIPI, Jakarta

ABSTRAK
Pengamatan kandungan zat hara fosfat di perairan Teluk Buli, Pulau Halmahera Maluku Utara telah dilakukan pada bulan Oktober sampai November 1998. Hasil studi menunjukkan bahwa kandungan zat hara fosfat rerata di lapisan permukaan, 5 m, 10 m, 25 m, 50 m, 75 m, dan 100 m berturut-turut adalah 1,88; 1,92; 2,36; 2,38; 1,80; 1,98; dan 2,04 µg.at/l. Berdasarkan kandungan fosfat ini, perairan ini termasuk kategori subur dan dapat dimanfaatkan untuk kepentingan perikanan. Kandungan fosfat ini masih sesuai dengan kandungan fosfat yang dijumpai di perairan laut yang normal. Analisis korelasi menunjukkan ada korelasi positif antara kadar fosfat dengan kedalaman (r = 0,975).

Kata kunci: fosfat, kesuburan, Teluk Buli

 

PERIKANAN TANGKAP DI PERAIRAN WADUK DI JAWA TENGAH

Krismono
Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan.

ABSTRAK
Penangkapan ikan di perairan waduk adalah salah satu usaha masyarakat di sekitar waduk. Beberapa waduk di Jawa tengah yang berperan bagi masyarakat antara lain Waduk Wonogiri, Waduk Rawa Pening, Waduk Kedung Ombo. Penelitian dilakukan dengan metode survai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Waduk Wonogiri. produksi ikan tangkap 937,2 ton/tahun menggunakan jaring insang dengan jumlah nelayan: 584 orang; di Waduk Rawa pening produksi ikan tangkap tahun 1999 sebesar 1157 jumlah nelayan 500 orang ton dan tahun 2002 sebesar 1440 ton sebagian besar menggunakan anco/bagan; dan Waduk Kedung Ombo jumlah nelayan tahun 1992 produksi ikan tangkap 435,6 ton dengan 185 orang nelayan, tahun 1999 produksi ikan tangkap mencapai 2035 ton dengan jumlah nelayan 600 orang, tahun 2000 dan 2003 produksi ikan tangkap 2517,7 ton dan 2160 ton dengan nelayan sebanyak 749 orang sebagian besar menggunakan anco/bagan.

Kata kunci: Jawa Tengah, perikanan tangkap, waduk

 

STRUKTUR KOMUNITAS ZOOPLANKTON DAN HUBUNGANNYA DENGAN UNSUR HARA DI PERAIRAN WADUK JATILUHUR JAWA BARAT

Lies Setijaningsih dan Chairulwan Umar

ABSTRAK
Penelitian mengenai struktur komunitas zooplankton di perairan waduk Jatiluhur dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2003 dengan metode sampling, di empat stasiun penelitian pada kedalaman 0.5 m; 2 m; 4 m; dan 8 m. Analisa data meliputi biologi dan data penunjang kualitas air. Pada penelitian ini telah ditemukan 8 species zooplankton dari 3 kelas yaitu: 3 species dari kelas cladocera, 3 spesies dari kelas Copepoda dan 2 species dari kelas rotifera. Species Keratella mendominasi dari semua spesies yaitu sebesar 22%. Keaneka ragaman zooplankton rata-rata tertinggi terdapat pada daerah Warung jeruk yaitu 0,751. Kadar nitrat rata-rata tertinggi terdapat pada daerah Warung jeruk di kedalaman 2 m dan terendah pada daerah sekitar DAM.(0,086 mg/l). Kadar fosfat rata-rata tertinggi terdapat pada sekitar DAM (0,365 mg/l) Untuk kadar amonia tertinggi diperoleh pada daerah sekitar DAM (1,427 mg/l)

Kata kunci: unsur hara, waduk Jatiluhur, zooplankton

 

FLUKTUASI KANDUNGAN ZAT HARA FOSFAT DAN NITRAT DI PERAIRAN ESTUARI CISADANE

Muswerry Muchtar
Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI, Jl. Pasir Putih 1, Ancol Timur, Jakarta - 11048

ABSTRAK
Penelitian kandungan zat hara fosfat dan nitrat di perairan Estuari Cisadane telah dilakukan pada bulan Juni-Juli 2003 dan September 2003, masing-masingnya mewakili Musim Timur dan Musim Peralihan. Kandungan fosfat dan nitrat dalam kolom air dianalisis dengan menggunakan metoda Spektrofotometri. Secara keseluruhan terlihat bahwa kandungan kedua zat hara ini lebih tinggi bila dibandingkan dengan Selat Sunda dan Selat Malaka dan menunjukkan distribusi yang beraturan dengan semakin rendahnya ke arah laut lepas. Fluktuasi kandungan kedua zat hara ini bukan saja tergantung kepada kondisi perairan itu sendiri tapi juga dipengaruh oleh masa air dari daratan dan hutan mangrove sekitarnya.

Kata kunci : Estuari Cisadane, fluktuasi, kandungan zat hara fosfat, nitrat

 

PERTUMBUHAN TALUS MAKROALGA Sargassum crassifolium J. Agardh DAN Sargassum hystrix J. Agardh, DAN KORELASINYA TERHADAP FAKTOR LINGKUNGAN

Rina Sri Kasiam
Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada
Jl. Teknika Selatan Sekip Utara Yogyakarta 55281

ABSTRAK
Makroalga Sargassum spp. merupakan salah satu sumber daya alam laut yang banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan makanan, obat-obatan dan kosmetik. Pertumbuhan talusnya dipengaruhi oleh keadaan habitat dan faktor lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan habitat dan pengaruh faktor lingkungan (suhu, salinitas dan intensitas cahaya) terhadap pertumbuhan talus Sargassum crassifolium J. Agardh dan S. hystrix J. Agardh.
Pengambilan sampel dilakukan di pantai Drini DIY dengan membagi menjadi 2 daerah yaitu daerah yang berbatasan dengan muara sungai, selalu tergenang air laut dan terbuka, dan daerah yang berbatasan dengan laut lepas. Penentuan plot dilakukan dengan metode transek. Analisis statistik dilakukan dengan uji F dan DMRT untuk mengetahui ada tidaknya beda nyata dan uji korelasi untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara faktor lingkungan pada dua daerah yang berbeda tersebut dengan pertumbuhan talus (tinggi talus serta panjang dan lebar filoid).
Hasil penelitian menunjukkan terdapat beda nyata pertumbuhan talus pada kedua daerah penelitian pada saat talus membentuk cabang lateral primer. Terdapat korelasi antara suhu dengan tinggi talus dan lebar filoid, antara salinitas dengan tinggi talus, dan antara intensitas cahaya dengan tinggi talus, lebar dan panjang filoid.

Kata kunci: intensitas cahaya, salinitas, Sargassum, suhu, talus

 

KADAR NITROGEN DI PERAIRAN SEKITAR SUNGAI CISADANE

Tjutju Susana
Bidang Dinamika Laut, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta

ABSTRAK
Penelitian yang telah dilaksanakan di perairan sekitar Sungai Cisadane tahun 2003, menunjukkan terjadinya perbedaan kadar nitrogen yang mencolok antara di dalam dan luar Sungai Cisadane. Dalam Sungai Cisadane terjadi dominasi senyawa nitrat, kadarnya mencapai hampir 30 µgA/l, sedangkan di luar Sungai Cisadane yang terjadi adalah dominasi senyawa ammonia yang kadarnya mencapai 2 µgA/l. Faktor lingkungan lebih berpengaruh terhadap kondisi senyawa nitrogen baik di dalam maupun luar Sungai Cisadane.

Kata kunci: nitrogen, Sungai Cisadane

 

PENELITIAN PLANKTON DI PERAIRAN TELUK JAKARTA, MEI 2004

A.B. Sutomo
Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Jakarta

ABSTRAK
Penelitian fitoplankton dan zooplankton di perairan Teluk Jakarta telah dilakuikan pada bulan Mei 2004 yang merupakan akhir musim peralihan dari musim barat ke musim timur. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa konsentrasi fitoplankton terdapat pada titik 3 mil didepan pelabuhan Muara Baru dan didepan desa Kamal. Disamping itu juga terdapat konsentrasi zooplankton sebelah utara Pulau Rambut. Genera Diatomae yang ditemukan di hampir semua stasiun ialah Bacteriastrum, Chaetoceros Rhizosolenia dan dari dinoflagellata ditemukan Protoperidinium dan Ceratium. Untuk zooplankton konsentrasi tinggi terdapat di perairan pantai Tg Pasir. Kandungan zooplankton yang utama terdiri dari Luciferidae dan Cirripedia. Disamping itu kelompokyang sering dijumpai ialah Chaetognatha, Oikopleura, Siphonophore dan Evadne. Hubungan fitoplankton dan zooplankton dengan parameter lingkungan dibicarakan.
Kata kunci: Diatomae, dinoflagellata, fitoplankton, zooplankton

 

KUALITAS ZAT HARA PERAIRAN TELUK JAKARTA

Tjutju Susana
Bidang Dinamika Laut, Pusat Penelitian Oseanografi – LIPI. Jakarta

ABSTRAK
Pertumbuhan penduduk dan industri di kota besar seperti Jakarta dalam kurun waktu 20 tahun terakhir sangat pesat. Kondisi ini memberikan dampak negatif terhadap kualitas lingkungan, khususnya perairan Teluk Jakarta. Analisis zat hara fosfat, nitrat, nitrit, dan ammonia di perairan Teluk Jakarta telah dilakukan selama kurun waktu 1976 – 2003. Data dikumpulkan dari beberapa sumber penelitian, kecuali data tahun 2003 diperoleh dari penelitian langsung yang dilaksanakan pada bulan Juli 2003. Pada umumnya terjadi kecenderungan konsentrasi zat hara yang semakin tinggi seiring dengan bertambahnya tahun. Penelitian terakhir menunjukkan konsentrasi yang bervariasi, yaitu 0,90 – 14,57 µgA/l; 1,13 – 3,50 µgA/l; 0,96-2,43 µgA/l; dan 1,52 – 4,96 µgA/l masing-masing untuk fosfat, nitrat, nitrit dan ammonia.

Kata kunci: teluk Jakarta, zat hara

 

STRUKTUR DAN POTENSI REPRODUKSI POPULASI NILA (Oreochromis sp.) DI WADUK SERMO, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Eko Setyobudi1 dan Jusup Subagja2
1) Jurusan Perikanan Fak. Pertanian UGM
2) Fakultas Biologi UGM

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan potensi reproduksi populasi Nila (Oreochromis sp.) di Waduk Sermo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengambilan sampel dilakukan setiap bulan selama 10 bulan, dimulai bulan Desember 1998 sampai September 1999. Pengamatan sampel meliputi panjang, berat, jenis kelamin, tingkat kematangan gonade, berat gonade dan fekunditas. Analisis data meliputi distribusi panjang, distribusi berat, distribusi tingkat kematangan gonade, sex rasio, faktor kondisi (PI/NVC), hubungan panjang dan berat, indeks kematangan gonade, fekunditas dan hubungan fekunditasdengan panjang dan beratnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi Nila (Oreochromis sp.) di Waduk sermo, Yogyakarta didominasi oleh ikan muda, mengalami pertumbuhan secara isometris (Nilai b sekitar 3) dengan kondisi ikan yang baik/sehat (lebih dari 50% ikan mempunyai Nilai PI/NVC = 1,700). Fekunditas Nila mempunyai hubungan yang positif dengan panjang total dan berat. Reproduksi dapat berlangsung setiap bulan, walaupun proporsi ikan yang siap memijah mengalami fluktuasi (7-33%). Keberhasilan pemijahan tertinggi diperkirakan terjadi pada bulan Maret dan Agustus.

Kata kunci : populasi, potensi reproduksi, struktur, Waduk

 

TINGKAH LAKU IKAN SELAR (Selar crumenopthalmus) DI BAWAH CAHAYA LAMPU

Agustininus Tupamahu
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpatti, Ambon

ABSTRAK
Penelitian telah dilakukan untuk mengetahui tingkah laku ikan selar (Selar crumenopthalmus) di bawah cahaya lampu. Penelitian dilakukan selama proses penangkapan salah satu bagan apung di Teluk Pelabuhan Ratu yang meliputi: pola akumulasi di zona iluminasi, tingkah laku makan, dan tingkat adaptasi sebelum tengah malam dan sesudah tengah malam.
Ikan selar terakumulasi pada iluminasi antara 100 sampai 200 lux dengan pola pergerakan yang muncul ke permukaan secara aktif untuk memangsa makan. Kecenderungan ikan selar aktif untuk memangsa makanan di zone iluminasi pada jam 20:00 dan 21:00, jam 12:00, jam 01:00 serta jam 05:00, dengan komposisi makanan yang didominasi oleh teri nasi dan larva ikan. Selama berada di lingkungan cahaya, tingkat adaptasi penuh terjadi sesudah tengah malam.

Kata kunci: adaptasi, ikan selar, iluminasi cahaya

 

POLA HIDROGRAFI DI SEKITAR PERAIRAN BANTEN 2003

Nurhayati
Bagian Dinamika Laut, Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI,
Jl. Pasir Putih I, Ancol Timur, Jakarta.

ABSTRAK
Pengamatan hidrografi di sekitar perairan Banten telah dilakukan pada bulan Mei, Juli dan September 2003. Metode yang digunakan adalah pengukuran in situ air laut dengan menggunakan alat sistem sensor CTD dan direct reading CM-2 current meter. Kemudian data dianalisa untuk memahami gambaran hidrografi sekitar perairan tersebut. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa suhu air laut berkisar antara 28.491– 30.273°C; salinitas berkisar antara 31.68 psu – 33.16 psu. Kecepatan arus bwervariasi antara 5.0 cm/det – 48.2 cm/det dan arah arus dominant menuju ke arah tenggara. Secara keseluruhan keadan hidrografi di perairan sekitar Banten kurang bervariasi karena perairan relatif dangkal. Selanjutnya pola hidrografi dianalisa dan dibahas berhubungan dengan siklus musim.
Kata kunci: perairan Banten, pola hidrografi

 

SUMBERDAYA TERIPANG (Holothuroidea) DI PERAIRAN TELUK SALEH - SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT

Eddy Yusron
Balai Penelitian Sumberdaya Laut, Puslitbang Oseanologi – LIPI Jakarta

ABSTRAK
Pengamatan keanekaragaman jenis teripang telah dilakukan di perairan pesisir Pulau Santigi dan Pulau Batu di Perairan Teluk Saleh, Sumbawa - Nusa Tenggara Barat bulan Agustus 2000. Pengambilan contoh dikerjakan dengan menggunakan transek kuadran ukuran 1m x 1m. Sampling dan pengamatan mikrohabitatnya dilakukan dengan scuba diving. Analisis terhadap struktur komunitas berdasarkan pada analisis kehadiran, keanekaragaman, dan kepadatan.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa di dua lokasi tersebut terdapat 11 jenis teripang di mana jenis Holothuria edulis, H. atra, dan H. nobilis melimpah.

Kata kunci: sumberdaya teripang (Holothuroidea), teluk Saleh

 

TOTAL MINYAK DI PERAIRAN MERAK-ANYER TELUK BANTEN BAGIAN BARAT

Hamidah Razak
Puslitbang Oseanografi, LIPI Jl. Pasir Putih No. 1 Ancol Timur, Jakarta Utara

ABSTRAK
Pengamatan total minyak dalam air telah dilakukan di perairan Teluk Banten pada bulan April 2001. Total minyak diukur dengan alat Fluorimeter Turner 450 yang dilengkapi dengan filter NB360 sebagai filter eksitasi dengan panjang gelombang 360 nm, dan filter SC415 sebagai filter emisi dengan panjang gelombang 415 nm. Kadar minyak total dengan kisaran antara 3,58-9,86 ppm. Kadar rata-rata total minyak di lokasi antara Merak-Cilegon (8,638 ppm) lebih tinggi dibandingkan dengan kadar rata-rata total minyak di lokasi antara Cilegon dan Anyer 5,632 ppm). Kedua lokasi ini mengandung kadar total minyak yang telah melampaui ambang batas dalam Baku Mutu air laut yang ditetapkan oleh Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (1988), yaitu < 5 ppm. Kadar total minyak di perairan Teluk Banten ini masih lebih kecil apabila dibandingkan dengan kadarnya di perairan Kalimantan Timur (rata-rata = 14,93 ppm).

Kata kunci: perairan Merak-Anyer, total minyak

 

BEBERAPA INFORMASI AWAL MENGENAI KUALITAS AIR LAUT DAN SUMBERDAYA PERAIRAN KEPULAUAN DERAWAN, KALIMANTAN TIMUR

Edward1, Yanrizal2, dan Lestari1

1) Balai Dinamika Laut P2O-LIPI, Yogyakarta
2) Fak. Teknik Geologi ITB, Bandung

ABSTRAK
Pengamatan kualitas air laut di perairan Kepulauan Derawan dan sekitarnya telah dilakukan pada bulan Oktober 2003. Parameter kualitas air laut yang diamati adalah logam berat, pH, salinitas, dan suhu, sedangkan sumberdaya perairannya adalah lamun, rumput laut, biota. Hasilnya menunjukkan bahwa kualitas perairan ini relatif masih baik dan masih memenuhi Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan oleh Kep-02/MENKLH/I/1988 untuk berbagai kepentingan (perikanan, pariwisata, dan taman laut konservasi). Sumberdaya perairan ini relatif masih baik, hal ini ada kaitannya dengan kualitas perairannya yang relatrif masih alami dan belum tercemar.

Kata kunci: Derawan, kualitas air laut dan sumberdaya

 

MANFAAT PENGENDALIAN PERSEBARAN ECENG GONDOK MENGGUNAKAN “KLANTE” TERHADAP AKTIVITAS USAHA DI PERAIRAN BUKIT CINTA

Sarjana dan Rachman Jamal
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah

ABSTRAK
Terdapat pandangan positif dan negatif terhadap keberadaan eceng gondok di Rawapening yang memiliki implikasi yang berlawanan. Gulma air tersebut merupakan sumber penghasilan bagi masyarakat di sekitar Rawapening, utamanya pencari tangkai eceng gondok. Namun demikian, eceng gondok merupakan sarang tikus yang merugikan petani padi dan ekspansi koloni-koloni eceng gondok ke perairan Bukit Cinta mengganggu aktivitas usaha penangkapan dan budidaya ikan, serta wisata air di perairan tersebut. Tulisan ini menjelaskan hasil kajian efektifitas pengendalian persebaran eceng gondok menggunakan pagar bambu (klante) dalam mengurangi efek yang mengganggu aktivitas usaha di perairan Bukit Cinta. Kajian dimulai dengan pemasangan pagar bambu mengelilingi kawasan budidaya karamba dan wisata air Bukit Cinta yang dilakukan pada Juni tahun 2002. Wawancara tentang manfaat pemasangan pagar bambu tersebut dilakukan pada bulan Desember 2003. Responden terdiri dari petani karamba, nelayan, pencari eceng gondok dan pemandu wisata air yang ditentukan secara proporsif random sampling. Hasil studi menunjukkan bahwa metode pagar bambu efektif sebagai pengendali persebaran eceng gondok. Para pengguna sumber daya perairan Bukit Cinta memberi respon positif terhadap pengendalian eceng gondok menggunakan klante. Mereka telah mendapatkan beragam manfaat, antara lain adalah keamanan dan kenyamanan kerja, peningkatan mobilitas, efektifitas dan produktivitas kerja, penurunan kematian ikan dalam karamba, dan keamanan perkakas kerja (perahu, karamba dan alat tangkap). Implikasi dari hasil kajian ini antara lain adalah: eceng gondok mestinya tidak dibersihkan secara total dari Rawapening, tetapi dikendalikan persebaran dan perkembangbiakannya agar tidak mengganggu fungsi-fungsi Rawapening; dan pengembangan metode pagar bambu perlu mendapatkan prioritas dalam pengendalian persebaran dan pertumbuhan eceng gondok.
Kata kunci: aktivitas usaha, eceng gondok, manfaat, pengendalian

 

KONDISI KADAR SILIKAT DI PERAIRAN SULAWESI

Marojahan Simanjuntak
Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jl. Pasir Putih 1,Telp. 021-64713850, Jakarta 14430

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengamati kadar silikat di perairan Sulawesi Utara, telah dilakukan pada bulan November 2000. Hasil pengamatan kadar silikat menunjukkan bahwa pada lapisan permukaan (0 m), 25, 50, 75 dan 100 m masing-masing berkisar antara 1,22 – 14,14 µg/l dengan rata-rata 6,94 µg A/l; 1,41 – 20,97 µg/l dengan rata-rata 10,61µg A/l; 1,41 – 24,13 µg/l dengan rata-rata 12,46 µg A/l; 1,78 – 24,62 µg/l dengan rata-rata 14,75 µg A/l dan 2,91 – 32,30 µg/l dengan rata-rata 18,93 µg A/l. Pola sebaran horisontal silikat di lapisan permukaan menggambarkan kadar silikat yang lebih tinggi disekitar dekat pantai perairan Sulawesi Utara sedangkan nilai yang lebih rendah diperoleh di lepas pantai. Secara keseluruhan, kadar silikat pada kedalaman 100 m lebih tinggi bila dibandingkan dengan lapisan lainnya. Kadar silikat di lapisan permukaan pada bulan November 2000 lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadar silikat diperairan lainnya. Kadar silikat yang beragam pada lapisan permukaan sampai kedalaman 100 m menunjukkan bahwa pengaruh daratan Sulawesi Utara lebih dominan daripada pengaruh massa air Samudera Pasifik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan hasil kajian kadar silikat sebagai salah satu indikator kesuburan perairan dan sumber pembentukan cangkang (kerangka dinding sel) fitoplankton.

Kata kunci: perairan Sulawesi Utara, sebaran horizontal, silikat

 

VARIASI MUSIMAN OKSIGEN TERLARUT DAN APPARENT OXYGEN UTILIZATION DI PERAIRAN TELUK BANTEN

Marojahan Simanjuntak
Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI Jl. Pasir Putih 1, Telp. 021-64713850, Jakarta 14430

ABSTRAK
Pengamatan kadar oksigen terlarut dan AOU di perairan Teluk Banten telah dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali, yaitu pada bulan April mewakili musim peralihan I, Agustus mewakili musim timur dan Oktober 2001mewakili musim peralihan II. Contoh air laut diambil dengan menggunakan botol Nansen dari 20 stasiun pada 3 kedalaman (permukaan, tengah dan dasar). Hasil pengamatan menunjukkan rata-rata kadar oksigen terlarut tertinggi di lapisan permukaan diperoleh pada bulan April (musim peralihan I)(3,99 - 4,39 ml/l; 4,15 ± 0,08 ml/l). Bulan Agustus (musim timur) menunjukkan kadar oksigen terlarut di lapisan permukaan (3,92 - 4,21 ml/l; 4,10 ± 0,07 ml/l) dan terendah (3.16 - 4,18 ml/l; 4,05 ± 0,21 ml/l) diperoleh pada bulan Oktober (musim peralihan II). Kadar oksigen terlarut yang rendah diperoleh dekat muara Sungai Pontang dan yang tinggi diperoleh di lepas pantai. Variasi musim terhadap kadar oksigen terlarut tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok dan masih dalam batas ambang kehidupan biota laut. Pada lapisan permukaan, nilai AOU berkisar antara –0,99 sampai 0,43 ml/l. Nilai AOU yang tertinggi (0,43 ml/l) diperoleh pada Stasiun 4 (4,39 ml/l) pada bulan April dan terendah (-0,99 ml/l) pada bulan Oktober di Stasiun 15 (3,16 ml/l). Pada umumnya kadar oksigen terlarut di lapisan permukaan menunjukkan kadar oksigen terlarut yang lebih rendah di lokasi yang berdekatan dengan muara-muara sungai, sedangkan nilai yang tinggi ditemukan di lepas pantai. Variasi musim terhadap kadar oksigen terlarut tidak menunjukkan perbedaan yang mencolok dan masih dalam batas ambang kehidupan biota laut. Dilapisan permukaan nilai AOU yang positip diperoleh 99% pada bulan April, Agustus dan Oktober sedangkan nilai AOU yang negatip masing-masing 1% pada Stasiun 15. Pada lapisan tengah dan dasar nilai AOU-nya negatip hampir 100%. Pada kedalaman dekat dasar nilai negatipnya 100%. Dari hasil penelitian, diperoleh konsentrasi oksigen terlarut yang belum menunjukkan dampak negatif terhadap lingkungan perairan.

Kata kunci: apparent oxygen utilization, distribusi horizontal, oksigen terlarut, teluk Banten

 

MINIMASI POLUTAN SUNGAI YANG BERASAL DARI LIMBAH SERUM SKIM MELALUI DAUR ULANG

Arif Wibowo
Balai Riset Perikanan Perairan Umum (BRPPU)

ABSTRAK
Sungai memiliki bermacam fungsi, salah satu yang terpenting adalah sebagai pelabuhan berbagai keanekaragaman hayati seperti ikan, udang, remis, berbagai jenis insekta air dan hewan akuatik lainnya. Aktivitas industri karet berpotensi meracuni sungai melalui limbah yang dihasilkannya. Serum skim adalah limbah yang berasal dari hasil samping pengolahan lateks pekat melalui koagulasi. Serum skim memiliki BOD rata-rata sekitar 14.000 mg/l, amoniak 3400 mg/l, pH 4,8 dan COD diatas 25.000 ppm. Standar kualitas air limbah mengklasifikasikan air limbah dengan nilai Nitrogen amoniak 10 mg/l atau lebih sebagai limbah yang tercemar berat sekali. Selain itu limbah ini juga menimbulkan bau busuk yang mengganggu. Daur ulang adalah pilihan yang paling sesuai dalam upaya minimasi limbah dan pengendalian pencemaran. Penelitian ini di laksanakan secara eksperimental, bertujuan untuk minimasi limbah serum skim yang dihasilkan melalui upaya daur ulang dengan cara digunakan sebagai bahan perekat dalam pembuatan papan partikel, dengan campuran serbuk gergaji dan serat batang pisang. Papan partikel yang dihasilkan selanjutnya akan diuji sesuai dengan standar SII/SNI Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Hasil penelitian menunjukkan papan partikel yang dihasilkan memenuhi standar SII/SNI untuk kandungan air, kerapatan, pengembangan tebal and internal bond pada kode perlakuan K3 dimana komposisi serum skim 66,66%. Secara lingkungan dapat meminimasi dampak lingkungan, berupa penurunan nilai BOD, COD, amoniak, minimasi bau dan kesesuaian pH.

Kata kunci: limbah serum skim, minimasi limbah, sungai

 

KAJIAN SUSPENSI DI PERAIRAN MERAK SAMPAI LABUAN BANTEN

Ricky Rositasari
Bidang Dinamika Laut, Puslit Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia

ABSTRACT
The observation on suspended material in Merak coast was conducted three times on May, July and September 2002. The similar observation was conducted in Anyer – Labuan coast on similar period in 2003. The study result, show that there were less material in the water collum of Merak than in Anyer – Labuan coast.

 

DAMPAK PENEBARAN IKAN DI WADUK KEDUNG OMBO

Krismono
Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan

ABSTRAK
Waduk Kedung Ombo mempunyai luas luas 4.950 ha, kedalaman rata-rata 15,7 m terletak di tiga kabupaten yaitu Sragen, Boyolali dan Grobogan, Jawa Tengah. Produksi ikan tangkap mulai tahun 2003 mengalami penurunan diduga disebabkan antara lain oleh adanya; pendangkalan, penangkapan atau pengelolaan yang belum optimal. Untuk mengatasi masalah penurunan produksi ikan yang disebabkan oleh penangkapan ikan telah dilakukan langkah – langkah penanggulangan antara lain dengan penebaran ikan Betutu (Oxyeletris marmorata), Nila (Oreochromis niloticus), Tawes (Puntius goneonotus) dll., yang dilakukan oleh Pemerintah daerah setempat (Dinas Perikanan). Untuk mengetahui dampak kebijaksanaan penebaran ikan di waduk Kedung Ombo dilakukan penelitian dengan metode survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penebaran ikan belum menggunakan protokol penebaran, maka monitoring hasil penebaran belum dilakukan secara baik. Dampak hasil penebaran belum atau sulit diketahui baik terhadap populasi ikan maupun pada hasil tangkapan nelayan setempat. Saran penebaran selanjutnya perlu menggunakan protokol penebaran, sehingga dapat diketahui hasilnya baik terhadap kelestarian populasi ikan dan hasil tangkapan nelayan.
Kata kunci: dampak, ikan, penebaran, Kedung Ombo, waduk.