PROSIDING TAHUN 2004

Bidang Budidaya Akuakultur

UJI TOKSISITAS EKSTRAK GORGONIAN Isis hippuris TERHADAP NAUPLIUS Artemia salina

Yan Yan HAS, Agus Trianto, dan Ambariyanto
Lab. Bioteknologi Kelautan, Jurusan Ilmu Kelautan, FPIK,
Universitas Diponegoro Semarang. Telp. / Fax. 024 7474 698

ABSTRAK
Beberapa jenis organisme laut merupakan sumber alam yang potensial untuk bahan obat. Salah satu sumber daya laut yang cukup potensial untuk dapat dimanfaatkan adalah gorgonian Isis hippuris. Hewan ini hidup di ekosistem terumbu karang tersebar di perairan dangkal dan jernih terutama di pertengahan dasar karang.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas toksisitas ekstrak gorgonian Isis hippuris terhadap nauplius Artemia salina, mengetahui LC50-24 jam fraksi toksik dan mengidentifikasi senyawa yang berperan dalam toksisitas. Penelitian dilaksanakan di laboratorium Ekplorasi dan Bioteknologi Ilmu Kelautan UNDIP, Teluk Awur Jepara.
Hasil penelitian menunjukan perlakuan ekstrak gorgonian I. hippuris fraksi etil asetat terhadap nauplius A. salina dari 12 fraksi Kromatografi Kolom Terbuka (KKT) diperoleh 5 fraksi KKT yang toksik. Berdasarkan analisa probit diketahui fraksi KKT 9 memiliki aktivitas toksik terbaik dengan nilai LC50-24 jam sebesar 16,98 ppm. Hasil identifikasi dengan GC/MS diperoleh golongan senyawa-senyawa Hidrokarbon dan Asam lemak yaitu Naphthalene, Xylane, Phenylacetonitrile, 1,2 Benzenedicarboxylic dan senyawa turunan phenol.
Kata kunci : Artemia salina, Isis hippuris, toksisitas

 

TEKNOLOGI PEMBENIHAN KUDA LAUT (Hippocampus kuda) DI BALAI BUDIDAYA LAUT, LAMPUNG

Anindiastuti, M. Thariq, dan Ali Hafiz Al Qodri
Balai Budidaya Laut, Lampung

ABSTRAK
Kuda laut dikenal sebagai ikan hias yang unik sebab mempunyai bentuk morfologis yang specifik dibanding ikan hias lain. Disamping sebagai ikan hias, fungsi lain dari kuda laut sebagai bahan obat tradisionil. Kenyataan ini membuat kuda laut mempunyai nilai ekonomis tinggi dalam perdagangan. Dengan semakin meningkatnya permintaan kuda laut maka hal ini mempengaruhi populasi di alam maka usaha budidaya kuda laut perlu segera dilakukan. Induk kuda laut yang digunakan berasal dari alam maupun dari hasil budidaya dengan ukuran berat minimal 7 g dan panjang 10 -15 cm. Calon induk dipelihara dalam bak semen dengan kapasitas 5 m3 dengan kedalaman air minimal 50 cm. Selama pemeliharaan pakan yang digunakan adalah rebon (Mesodopsis) dan cacahan ikan. Penggantian air media pemeliharaan adalah 50 – 80% per hari dan sebaiknya tidak menggunakan sistim air mengalir selama pemeliharaan. Pada pemeliharaan juvenil dapat digunakan berbagai bentuk dan ukuran bak. Kepadatan awal yang digunakan adalah 1000 – 1500 ekor per m3. Kopepoda dan artemia adalah pakan yang sesuai un tuk juvenil hingga umur 80 hari, setelah itu pakan dapat diganti dengan rebon dan ikan segar. Tingkat kelulushidupan hingga umur 30 hari (D.30) adalah 35 – 45% sedangkan pada pendederan adalah 50 – 80%.
Kata kunci: induk, juvenil, kuda laut

 

TEKNOLOGI PEMBENIHAN KERAPU DI BALAI BUDIDAYA LAUT LAMPUNG

Anindiastuti, Silfester Basi Dhoe, dan Sudjiharno
Balai Budidaya Laut, Lampung

ABSTRAK
Ketersediaan benih secara berkesinambungan baik jumlah maupun mutu merupakan kunci utama keberhasilan pengembangan usaha budidaya. Secara umum usaha pembenihan ikan kerapu meliputi beberapa kegiatan yaitu pemeliharaan induk untuk menghasilkan telur, pemeliharaan larva hingga mencapai ikan muda, dan kultur pakan hidup. Pemeliharaan induk bertujuan untuk mendapatkan induk matang kelamin yang siap dipijahkan untuk menghasilkan telur yang berkulitas. Pemeliharaan larva menggunakan pakan hidup rotifer (Brachionus plicatilis), nauplii artemia (Artemia salina), copepod, dan pakan buatan. Penggantian air media pemeliharaan adalah 10 – 50% per hari dengan menggunakan sistim air mengalir. Teknologi produksi massal pembenihan ikan kerapu di Balai Budidaya Laut Lampung menghasilkan sintasan benih berkisar antara 10 - 20% dengan panjang berkisar antara 5 – 7 cm.

Kata kunci : induk, juvenile, kerapu, pakan alami

 

USAHA DIVERSIFIKASI BUDIDAYA Artemia DAN GARAM DI TAMBAK

Akhmad Fairus Mai Soni
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara

ABSTRAK
Budidaya Artemia secara terintegrasi telah dilakukan di Desa Surodadi, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.. Tiga puluh persen dari total unit tambak garam digunakaan sebagai petak pemeliharaan Artemia, dimana budidaya Artemia dimulai saat bersamaan masa pembuatan garam. Petakan tadon juga dipelihara: ikan bandeng, ikan Kerapu, dan kerang Anadara granosa. Sedikitnya dihasilkan: 50 kg kista kering tiris; 70 ton garam krosok; 300 kg ikan bandeng ukuran konsumsi; 1.200 kg kerang; dan 300 kg ikan kerapu. Musim penghujan meghasilkan udang windu sebanyak 300 kg dengan pakan berupa biomass Artemia.

Kata kunci: Artemia, tambak, garam

 

PENGARUH LAMA PENGKAYAAN TERHADAP KADAR ASAM LEMAK ESSENSIAL PADA ROTIFER, Brachionus rotundiformis

Regina Melianawati, Ketut Suwirya, dan B. Candra Pratiwi
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol Bali

ABSTRAK
Rotifer merupakan jenis pakan alami yang banyak digunakan sebagai pakan awal bagi larva ikan laut sehingga harus memiliki kualitas nutrisi yang baik. Pengkayaan merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan nutrisi rotifer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama pengkayaan dengan menggunakan bahan pengkaya komersial dan pengaruh lama pemuasaan rotifer hasil pengkayaan itu terhadap kadar asam lemak esensial dalam rotifer tersebut. Lama pengkayaan yang diujikan adalah (A) 1 jam; (B) 2 jam; (C) 3 jam dan (D) 4 jam. Sedangkan lama pemuasaan terhadap masing-masing waktu pengkayaan dilakukan selama (A) 1 jam; (B) 2 jam dan (C) 4 jam. Pengambilan sampel dilakukan pada masing-masing waktu tersebut dan pada saat pemanenan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengkayaan berpengaruh terhadap peningkatan asam lemak essensial yaitu EPA dan DHA. Pengkayaan selama 2 jam (B) memberikan hasil yang tertinggi, yaitu 1,33% EPA dan 1,78% DHA, dibandingkan dengan lama waktu pengkayaan lainnya 0,59% EPA dan 0,69% DHA (A); 1,13% EPA dan 1,38% DHA (C) serta 1,07% dan 1,29% DHA (D). Kualitas rotifer yang diperkaya tersebut akan mengalami penurunan akibat pemuasaan.
Kata kunci : asam lemak esensial, pengkayaan, rotifers

 

PENGAMATAN PEMIJAHAN, PERKEMBANGAN TELUR DAN LARVA IKAN KERAPU LUMPUR (Epinephelus coioides) YANG DIPELIHARA SECARA TERKONTROL

Agus Priyono, Tony Setiadharma, dan Titiek Aslianti
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol PO BOX 140 Singaraja, Bali

ABSTRAK
Pemijahan kerapu lumpur (Epinephelus coioides) secara alami di bak-bak terkontrol umumnya terjadi 5 hari menjelang gelap bulan terkadang 2-5 hari sesudah gelap bulan. Induk kerapu lumpur dipelihara dalam bak beton berkapasitas 100 m3. Kepadatan ikan 15 ekor dengan perbandingan jantan dan betina yaitu 1 : 4. Pakan induk berupa pelet basah (moist pellet) dengan kandungan protein 40% yang diberikan sebanyak 1-2% dari bobot tubuh dan tambahan cumi, ikan segar yang diberikan 2-3% dari bobot total ikan perhari. Induk dipelihara dengan sistim air mengalir dengan pergantian air sebanyak 200%. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa induk kerapu mulai bertelur dari bulan Agustus sampai November 2001 dengan frekuensi pemijahan bulanan yaitu 8 kali, 5 kali, 4 kali dan 7 kali. Jumlah telur terbanyak dihasilkan pada bulan Agustus mencapai 4.724.000 butir dan terendah pada bulan Oktober sebanyak 763.000 butir. Diameter telur yang dihasilkan berkisar antara 800-900 µm dengan tingkat pembuahan 15-99,2%. Telur menetas pada suhu 27oC setelah 20 jam 45 menit masa inkubasi dengan tingkat penetasan 10-98%. Pertumbuhan panjang benih pada umur 45 hari berkisar 12.5 – 13.4 mm dan berat antara 0.050-0.075 mg.
Kata kunci: kerapu lumpur (Epinephelus coioides), pemijahan, perkembangan telur dan larva

 

PENELITIAN LAMA WAKTU PERENDAMAN LARUTAN HORMON METILTESTOSTERON TERHADAP PENGALIHAN KELAMIN JANTAN IKAN NILA GIFT (Oreochromis niloticus)

Ani Widiyati, Encep Heryani, Winarlin, dan Sidi Asih
Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar

ABSTRAK
Pemeliharaan ikan nila tunggal kelamin jantan lebih menguntungkan dibandingkan dengan pemeliharaan campur kelamin, karena ikan nila jantan mempunyai laju pertumbuhan dua kali lebih cepat dibandingkan ikan nila betina. Salah satu metode untuk menghasilkan populasi ikan tunggal kelamin jantan adalah dengan perendaman larva ikan dalam larutan hormon metil testosteron. Penelitian tentang lama waktu perendaman larutan hormon metiltestosteron terhadap pengalihan kelamin jantan ikan nila GIFT (Oreochromis niloticus) bertujuan untuk mengetahui lama waktu perendaman larutan hormon metil testosteron yang efisien terhadap pengalihan kelamin ikan nila GIFT. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan, ikan uji larva nila GIFT umur 7 hari dan hormon yang digunakan adalah 17a-metiltestosteron. Rancangan percobaan adalah rancangan acak lengkap, dengan 5 perlakuan yaitu A (tanpa perendaman hormon), B (perendaman 6 jam), C (perendaman 12 jam), D (perendaman 18 jam), E (perendaman 24 jam). Parameter yang diamati adalah persentase ikan kelamin jantan dan betina, laju pertumbuhan spesifik, derajat kelangsungan hidup dan pengukuran kualitas air secara fisika dan kimia. Hasil penelitian menunjukkan persentase jantan tertinggi pada perlakuan lama waktu perendaman 6 jam yaitu 94%. Perlakuan yang lain diperoleh persentase ikan jantan di bawah 94% dengan ikan hemaprodit. Uji BNT menunjukan perlakuan dengan perendaman 6 jam, 12 jam, 18 jam dan 24 jam memberikan perbedaan yang sangat nyata terhadap perlakuan tanpa perendaman hormon Uji polinomial ortogonal diperoleh persamaan regresi kuadratik yaitu, Y = - 0.0527 X2 + 1.142 X + 17. 829.

Kata kunci: hormon metil testosteron, nila GIFT, pengalihan kelamin

 

STRATEGI BUDIDAYA UDANG WINDU PADA SALINITAS RENDAH DI TAMBAK PETANI SIDOARJO

Arief Taslihan, Supito, dan Zaenal Arifin
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara

ABSTRAK
Budidaya udang windu pada saat ini dikenal sebagai usaha budidaya yang dilakukan pada kondisi lingkungan dengan salinitas air laut berkisar antara 15-25 ppt, sehingga hanya dapat dilakukan pada kawasan tambak dekat pantai. Namun demikian kenyataan menunjukkann bahwa budidaya udang windu ternyata dapat dilakukan pada salinitas air yang rendah, yaitu dibawah 10 ppt. Melalui pendekatan pengelolaan tambak secara baik, dengan penekanan pada aspek managemen terpadu yang berwawasan pada prinsip better management practices, maka budidaya udang pada salinitas rendah mampu memberikan hasil produksi yang baik. Pengelolaan meliputi persiapan tambak secara baik, penebaran benih dengan benih SPF (Specific Pathogen Free), pengelolaan kualitas air secara baik, pengelolaan pakan secara tepat, serta pengelolaan limbah tambak dilakukan dengan baik melalui penerapan sistem resirkulasi. Kegiatan ujicoba dilakukan pada tambak di wilayah kabupaten Sidoarjo, kecamatan Candi pada tahun 2003 – 2004. Dari 4 petak uji coba yang dilakukan pada musim yang berbeda didapatkan hasil pada periode I didapatkan hasil rerata 1.8 ton/ha, sedangkan pada periode ke II didapatkan hasil produksi 2.7 ton/ha.

Kata kunci: salinitas rendah, tambak udang windu

 

PENGARUH PERENDAMAN TELUR DALAM FORMALIN DENGAN KONSENTRASI BERBEDA TERHADAP DAYA TETAS DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA MENJADI POST LARVA IKAN JAMBAL SIAM (Pangasius hypophthalmus)

Azwar Said
Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman telur dalam formalin dengan konsentrasi berbeda terhadap daya tetas dan kelangsungan hidup larva ikan jambal siam. Metode penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan 3 ulangan. Perlakuan yang diuji adalah perendaman telur dalam formalin dengan konsentrasi 5 ppm, 10 ppm, 15 ppm, dan kontrol (tanpa perendaman). Perendaman dilakukan selama 15 menit. Sedangkan parameter yang diamati adalah persentase daya tetas telur dan kelangsungan hidup larva menjadi benih berumur 21 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, perendaman telur dalam formalin dengan dosis berbeda berpengaruh sangat nyata terhadap daya tetas telur ikan jambal siam. Daya tetas telur tertinggi terdapat pada perlakuan perendaman telur dalam formalin 15 ppm yaitu 74,25%. Sedangkan yang terendah terdapat pada perlakuan kontrol yaitu 65,03%, tetapi berpengaruh tidak nyata pada kelangsungan hidup. Kelangsungan hidup larva tertinggi terdapat pada perlakuan perendaman telur dalam formalin 15 ppm yaitu 71,69% dan terendah terdapat pada kontrol yaitu 63,14%.

Kata kunci: formalin, jambal siam, kelangsungan hidup, larva, post larva, telur

 

PENGARUH FORMULASI PAKAN TAMBAHAN TERHADAP KOMPOSISI NUTRISI DAGING DAN PERTUMBUHAN NILA YANG DIPELIHARA DALAM JARING DI KOLAM YANG DIPUPUK

Bambang Gunadi
Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar
Jl. Raya 2 Sukamandi SUBANG 41256 Tlp/Fax. 0260-520500
E-mail: bgunadi@telkom.net

ABSTRAK
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengevaluasi pengaruh pakan buatan tambahan (supplementary feed) terhadap komposisi nutrisi daging dan pertumbuhan nila yang dipelihara di dalam jaring di kolam yang dipupuk. Pakan tambahan yang diberikan berupa pakan buatan yang terdiri dari 3 jenis formulasi pakan. Pakan-1 menggambarkan penambahan energi, Pakan-2 menggambarkan penambahan energi, dan zat pembangun sedangkan Pakan-3 menggambarkan penambahan energi, zat pembangun dan katalis. Penelitian dirancang berdasarkan Rancangan Acak Lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan.
Nila dipelihara di karamba jaring berukuran 2 x 2 x 1.2 m yang dipasang pada kolam yang sebelumnya telah dipupuk. Ikan yang ditebar berukuran 122,12 (± 4,56) gram per ekor dengan kepadatan 50 ekor per karamba. Pakan diberikan dengan tingkat pemberian 3% bobot biomassa per hari dan diberikan dua kali sehari. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 6 minggu.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penggunaan formulasi pakan tambahan yang berbeda pada pemeliharaan nila tidak berpengaruh nyata terhadap komposisi nutrisi daging, rasio efisiensi protein (protein efficiency ratio, PER) dan pemanfaatan protein (apparent net protein utilization, ANPU) (P>0.05), namun berpengaruh nyata pada pada kadar serat daging, pertumbuhan harian (daily weight gain, DWG) dan konversi pakan (feed conversion ratio, FCR) (P<0.05).

Kata kunci: komposisi nutrisi daging, nila, pakan tambahan

 

PENGAMATAN UKURAN KEDEWASAAN PADA IKAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis), KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus), KERAPU LUMPUR (E. coioides), KERAPU BATIK (E. microdon) DAN KERAPU KARET (E. ongus)

Bejo Slamet, Tridjoko, N.A.Asmaragiri, Agus Prijono, dan Toni Setiadarma
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Bali

ABSTRAK
Pengamatan ukuran minimal kedewasaan beberapa jenis ikan kerapu telah dilakukan terhadap kerapu bebek (Cromileptes altivelis), kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), kerapu lumpur (E. coioides), kerapu batik (E. microdon) dan kerapu karet (E. ongus) yang dipelihara pada bak terkontrol bertujuan untuk mendapatkan data tingkat kematangan gonad dan ukuran minimal kedewasaan yang merupakan data dasar untuk mendukung perbenihannya. Hasil pengamatan menunjukan bahwa pada ikan kerapu bebek induk betina mulai matang gonad pada ukuran panjang total 42 cm atau berat 1,0 kg, sedangkan jantan mulai ukuran panjang total 48 cm atau berat 1,8 kg. Pada ikan kerapu macan betina mulai matang pada ukuran panjang total 51 cm atau berat 3 kg sedangkan jantan mulai matang pada ukuran panjang total 60 cm atau berat 7,0 kg. Pada kerapu lumpur betina mulai matang pada panjang total 55 cm atau berat 4,0 kg, sedangkan jantan mulai panjang total 72 cm atau berat 10,0 kg. Pada kerapu batik betina mulai matang pada ukuran panjang total 38 cm (berat 1,5 kg), sedangkan jantan mulai 42 cm (berat 2 kg). Pada kerapu karet matang pada betina mulai 26 cm (berat 0,3 kg) dan jantan mulai 35 cm (berat 0,8 kg).

Kata kunci : kerapu, induk, ukuran minimal kedewasaan.


METODA UNTUK PEMELIHARAAN LARVA TERIPANG PASIR (Holothuria scabra, JAEGER) BERDASARKAN CARA PEMBERIAN PAKAN

Eddy Yusron
Balai Penelitian Sumberdaya Laut, Puslit Oseanografi – LIPI Jakarta

ABSTRAK
Keberhasiolan pemeliharaan larva teripang pasir (Holothuria scabra, JAEGER) sangat tergantung pada kualitas makanan yang tinggi, jadwal pemberiaan pakan dan kualitas airnya. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium basah Balitbang Sumberdaya Laut, September sampai Oktober 1998. Larva teripang dipelihara dalam 10 akuarium yang setiap akuarium diisi dengan 60 liter air laut dan diberikan makanan yang berbeda. Diamati salinitas, pH dan suhu air laut.
Kelulusan hidup tertinggi (24,03%) dijumpai pada larva yang dipelihara dengan pemberian pakan campuran empat algae, diikuti oleh kelulusan hidup 8,01% dengan Phaeodactylum sp., 2,96% dengan Dunaliela sp., 0,80% dengan Chaetoceros sp., dan 0,64% dengan Isochrysis sp.

Kata kunci: cara pemberian pakan, larva Holothuria scabra

 

PERKEMBANGAN BUKAAN MULUT DAN AKTIVITAS MAKAN LARVA KERAPU BATIK (Epinephelus microdon)

Jayadi1, Iqbal Djawad2, Natsir Nessa2, dan Achmar Mallawa2
1) Jurusan Budidaya Perikanan Politeknik Pertanian Negeri Pangkep
2) Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin

ABSTRAK
Jenis kerapu (grouper) yang diminta dipasaran lokal dan internasional baik dalam keadaan hidup maupun mati adalah kerapu batik (Epinephelus microdon). Untuk memenuhi permintaan kerapu batik dilakukan usaha penangkapan dan usaha marikultur. Dalam usaha marikultur penyediaan benih sangat dibutuhkan, namun kendala utama dalam memproduksi benih dari pembenihan adalah pemeliharan larva. Dalam perkembangan fase larva kerapu batik terjadi perubahan bukaan mulut dan kemampuan larva memanfaatkan pakan dari luar merupakan masalah sehingga sintasan larva rendah. Tujuan penelitian untuk mengetahui perkembangan bukaan mulut, jenis makanan dan feeding periodicity larva kerapu batik.
Perkembangan bukaan mulut diamati setiap hari mulai umur 1 sampai 35 hari. Jenis pakan yang diuji cobakan adalah rotifer, kopepoda, artemia dan rebon. Feeding periodicity diamati setiap jam pada umur 3,5,10,15,20,25,30 dan 35hari.
Mulut larva mulai terbuka pada jam ke 49 setelah menetas dan mulai mencari makanan 50-52 jam setelah menetas. Lebar bukaan mulut selama 35 hari dengan persamaan Y= 0,2335e0,1089x. Makanan yang paling banyak dikonsumsi pada umur 3 sampai 15 hari larva adalah rotifer (74,19%), setelah umur 20 hari adalah kopepoda (40%), artemia (37,89%), setelah umur 25 hari adalah artemia (35,56%), kopepoda (24,44%), dan rebon (24,44%), dan umur 30 – 35 hari adalah rebon (46,87-65,74%), feeding periodicity larva kerapu batik umur 3 sampai 15 hari adalah pukul 10.00 sampai pukul 20.00, sedangkan umur 20 sampai 35 hari terjadi pada pukul 08.00 dan pukul 22.00.

 

PENGAMATAN LAJU PENYERAPAN OKSIGEN PADA KAKAP MERAH (Lutjanus ergentimaculatus) DALAM MENUNJANG KEGIATAN BUDIDAYA

Kasprijo
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol Bali PO BOX 140 Singaraja Bali

ABSTRAK
Kakap merah (L. argentimaculatus) merupakan salah satu komoditas perikanan laut yang mulai banyak dibudidayakan . Dalam budidaya ini kendala yang sering muncul antara lain laju pertumbuhan yang lambat. Kelarutan oksigen dalam media pemeliharaan adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hal tersebut. Oleh sebab itu sebelum melakukan kegiatan budidaya harus terlebih dahulu diketahui kebutuhan oksigen ikan yang mau dibudidayakan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kebutuhan oksigen pada kakap merah pada ukuran yang berbeda. Kegiatan ini dilakukan di laboratorium Balai Besar Riset Perikananan Budidaya laut Gondol Bali. Ikan yang digunakan adalah kakap merah dengan ukuran berat rata rata 50 dan 100 g. Dengan ulangan 3 kali. Wadah yang digunakan adalah hasil rekayasa tenaga teknis di Instalasi BBRPBL gondol Bali.Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kakap merah pada ukuran 50 dan 100 g menunjukkan laju konsumsi oksigennya masing masing adalah 1,75 dan 2,2 mg 02/jam. Dari hasil tersebut memperlihatkan bahwa kakap merah dengan ukuran 100 g laju konsumsi oksigennya lebih besar dari ukuran 50 g, tetapi kalau dilihat konsumsi oksigen perkilogam berat ikan perjamnya ikan berukuran kecil akan lebih tinggi dibandingkan ikan ukuran besar. Pada data kualitas air terjadi kenaikan suhu media antara 0,1-0,20C dan terjadi penurunan pH air antara 0,2-0,3

Kata kunci : kakap merah, laju penyerapan oksigen.

 

REKAYASA SET KROMOSOM DENGAN RADIASI SPERMA DAN KEJUTAN PANAS PADA PRODUKSI DIPLOID GINOGENETIK IKAN SUMATRA Puntius tetrazona

Soelistyowati, D.T. dan Sumantadinata, K.
Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Bogor.

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan rekayasa set kromosom pada ikan Sumatra (Puntius tetrazona) menggunakan sperma donor dari tawes (P. javanicus BLKR) yang diradiasi serta memberikan perlakuan kejutan panas dengan perbedaan waktu dan lama inisiasi setelah pembuahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama waktu kejutan panas yang optimal untuk menghasilkan persentase kelangsungan hidup larva tertinggi adalah 90 detik, yaitu sebesar 15%. Tingkat keberhasilan diploidisasi dengan inisiasi kejutan panas pada fase meiosis II lebih tinggi dari pada fase mitosis I, dimana rerata persentase larva hidup yang dapat dihasilkan adalah 18% (G2N-meiotik) dan 3% (G2N-mitotik).

Kata kunci: diploidisasi, ginogenesis, ikan Sumatra (Puntius tetrazona), tawes (P. javanicus BLKR).

 

BUDIDAYA LOBSTER (Panulirus homarus) DI TELUK EKAS DENGAN SISTEM BUDIDAYA BERBEDA

Titiek Aslianti, Bejo Slamet, dan Anak Agung Alit
Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol-Bali

ABSTRAK
Lobster, Panulirus homarus termasuk satu jenis udang komoditas ekspor yang mem-punyai pangsa pasar tinggi di Asia. Teluk Ekas sangat potensial untuk pengembangan budidaya lobster karena selain tersedia benih alam dalam jumlah yang cukup juga pakan yang memadai berupa ikan rucah hasil tangkapan nelayan bagan. Mengingat sifat kanibal yang tinggi maka budidaya lobster di KJA dengan sistem budidaya berbeda dicoba dilakukan di Teluk Ekas dengan tujuan untuk mengetahui sistem budidaya yang efektif dan efisien. Penelitian menggunakan wadah berupa 4 petak jaring apung ukuran 2x2x2 m, masing-masing diisi benih lobster sebanyak 50 ekor dengan ukuran berat awal 20-50 g. Dua jenis sistem budidaya merupakan perlakuan penelitian yaitu 2 petak jaring diisi benih lobster dengan pemeliharaan sistem bateray dan 2 petak jaring yang lain diisi lobster dengan pemeliharaan sistem masal dengan pelindung rumput laut. Pengamatan pertumbuhan dilakukan setiap 2 minggu dan kelangsungan hidup dilakukan setiap bulan, sedangkan mortalitas diamati setiap hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pemeliharaan sistem bateray memberikan kelangsungan hidup lebih tinggi (100%) dibanding dengan pemeliharaan sistem masal (92,5-95,75%), namun pertumbuhan panjang karapaks dan berat tubuh diantara kedua perlakuan tidak berbeda.

Kata kunci: keramba jaring apung, pembesaran, sistem pemeliharaan, udang lobster

 

PRODUKSI MASSAL IKAN KERAPU DI KARAMBA JARING APUNG DI BALAI BUDIDAYA LAUT LAMPUNG

Herno Minjoyo, Budi Kurnia, dan Sudjiharno
Balai Budidaya Laut Lampung

ABSTRAK
Budidaya Kerapu Tikus (Cromileptes altivelis) dan Kerapu Macan (Epinephelus fuscoguttatus) di Karmba Jaring Apung (KJA) sudah berkembang di Balai Budidaya Laut (BBL) Lampung dan Perairan Teluk Lampung. Media pemeliharaan ikan phase pendederan menggunakan waring dengan ukuran mata waring 4 mm serta penggelondongan menggunakan jarring bermata jaring 0,75 inchi dan benang ukuran D 12 yang masing-masing berukuran 1 X 1 X 1,5 meter. Sedangkan untuk phase pembesaran menggunakan jarring berukuran 3 X 3 X 3 meter dengan mata jarring 1 – 1,5 inchi dan ukuran benang D21 – D24. Padat tebar ikan ukuran hingga 9-12 cm (15-25 g/ekor) sebanyak 150-200 ekor/m2; ukuran 15-17 cm (50-75 g/ekor) sebanyak 75-100 ekor/m2, hingga panen (500 g/ekor) sebanyak 40-50 ekor/m2. Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan ikan segar dan atau pellet secara ad libitum dengan frekwensi 2-3 kali/hari untuk ikan ukuran 15 sampai dengan 200 g, serta 1-2 kali/hari untuk ikan ukuran 200 g ke atas. Untuk pakan pellet kadar protein pakan 44-50%. Disamping pemberian pakan, dilakukan penambahan vitamin C dan multivitamin dengan frekwensi 2-3 kali seminggu dengan dosis 2-3 g/kg pakan. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 10-12 bulan untuk Kerapu Macan dan 18 bulan untuk Kerapu Tikus. Sintasan yang dicapai sampai panen 60-80% untuk Kerapu Macan dan 40-90% untuk Kerapu Tikus. Berdasarkan analisa ekonomi, budidaya kerapu cukup menjanjikan, khususnya kerapu tikus.

Kata kunci: Kerapu Macan, Kerapu Tikus, menguntungkan, produksi massal.